Komodo dan Legenda Si Gerong

Oleh Silvia Galikano

Pulau Komodo di Nusa Tenggara Timur bukan hanya dihuni komodo. Ada penduduk yang, umumnya berprofesi sebagai nelayan, tinggal di kampung bernama Kampung Komodo, berada di sebuah teluk di bagian timur. Kampung Komodo punya dermaga sendiri, bukan dari Loh Liang.

100_2286 copy
Kampung Komodo tahun 2009. Foto: Silvia Galikano

Penduduk lokal punya sebutan sendiri untuk Pulau Komodo, yakni Orah. Sedangkan komodo adalah nama hewan yang mendiami Pulau Orah. Dulu, penduduk tersebar di Pulau Komodo atau Pulau Orah sampai pulau ini ditetapkan sebagai taman nasional pada 6 Maret 1980 dan masyarakat bersedia dipindahkan dari zona inti.

Jejaknya dapat dilihat di dermaga Loh Liang, masih berjajar rapi pohon kedondo yang dulu digunakan sebagai pagar atau batas tanah penduduk. Kulit pohon kedondo juga digunakan masyarakat sebagai obat luka.

Pohon kedondo berjajar rapi di Loh Liang
Pohon kedondo berjajar di Dermaga Loh Liang. Foto: SIlvia Galikano

Pohon gebang (Corypha utan) yang banyak tumbuh di Pulau Komodo, dulu adalah sumber makanan pokok masyarakat Komodo sebelum digantikan nasi. Gebang adalah keluarga palma yang tumbuh di dataran rendah. Penduduk Komodo mengambil isi pokok pohon gebang yang berusia 15 tahun untuk diolah menjadi tepung, seperti sagu, lalu dimasak seperti membuat papeda.

Namun penduduk Komodo bukanlah orang asli Komodo. Bahkan, menurut ranger Tasrif, orang asli Komodo sudah tak ada lagi. Sudah punah. Penduduk Pulau Komodo sekarang adalah campuran orang Bugis, Bima, dan Larantuka.

Tasrif, contohnya, yang berayah Bima dan beribu Larantuka. Ranger lain di Pulau Komodo, Kamal, berasal dari Larantuka.

Baca juga Ketika Komodo Berkumpul di Kolong Dapur

Keberadaan orang asli Komodo tak dapat dilepaskan dari legenda Putri Naga yang diyakini masyarakat.

Pohon gebang yang pernah jadi sumber makanan pokok penduduk Pulau Komodo
Pohon gebang pernah jadi sumber makanan pokok penduduk Pulau Komodo. Foto: SIlvia Galikano

Kisahnya, Putri Naga menikah dengan pria bernama Majo. Dia melahirkan anak kembar, yaitu anak laki-laki bernama Si Gerong dan seekor naga betina bernama Orah. Si Gerong dibesarkan di tengah-tengah masyarakat, sedangkan Orah dilepaskan di hutan. Keduanya tidak saling kenal.

Bertahun-tahun kemudian, Si Gerong yang sudah dewasa, memanah seekor rusa saat berburu di hutan. Namun sewaktu dia melangkah maju untuk mengambil buruannya, seekor kadal besar muncul dari semak-semak dan seketika mencaplok rusa tersebut.

Si Gerong berusaha mengambil, tapi sia-sia. Si kadal besar diam di sisi bangkai rusa, sambil menunjukkan gigi-giginya dia memperingatkan Si Gerong untuk pergi.

Si Gerong mengangkat tombak hendak membunuh kadal itu. Namun tiba-tiba muncul perempuan berwajah cantik, Putri Naga, yang segera memisahkan dua musuh tersebut.

Ranger Tasrif dan komodo yang sedang kamuflase
Ranger Tasrif. Foto: Silvia Galikano

Dia katakan pada Si Gerong, “Jangan bunuh hewan ini. Dia saudarimu, Orah. Saya melahirkan kalian bersamaan. Anggaplah dia sama denganmu karena kalian kembar.”

Sejak itu, penduduk memperlakukan komodo dengan baik. Hewan tersebut berkeliaran bebas di hutan, makan babi hutan, rusa, dan hewan lain. Komodo tua yang tak dapat lagi melawan, dimakan saudaranya, manusia.

Si Gerong adalah manusia asli terakhir Pulau Orah. Dia tak punya keturunan. Sepenuturan Tasrif, orang-orang zaman dulu yang sempat bertemu Si Gerong, mengatakan ciri-ciri si Gerong berkulit putih dan berdaun telinga lebar. “Penampilannya seperti orang Dayak,” katanya.

***
Dimuat di cnnindonesia.com, 1 Desember 2015

1 Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s