Pertarungan Budaya Leluhur & Kepraktisan di Dusun Sade

Oleh Silvia Galikano

Sade jadi destinasi utama jika ke Lombok untuk menyaksikan arsitektur asli rumah Lombok serta sistem adat yang masih dipertahankan. Dusun ini bukanlah museum hidup yang orang-orangnya membuat “atraksi” hanya ketika wisatawan datang, melainkan mereka hidup dengan sistem yang dianut turun temurun.

Atap rumah di Dusun Sade
Atap-atap rumah Dusun Sade. Foto: Silvia Galikano

Berada di Desa Rambitan, Kecamatan Pujut, Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat, tepat di tepi Jalan Raya Kuta Lombok. Sade adalah dusun utama suku Sasak, masyarakat asli Lombok. Di sini berdiri 150 rumah dari 150 kepala keluarga dengan jumlah penduduk lebih dari 700 jiwa.

Rumah tinggal di Dusun Sade disebut bale tani (rumah petani), dengan ukuran, bentuk, dan material yang sama antara rumah satu dengan lainnya.

Rumah-rumah di Dusun Sade memiliki ukuran, bentuk, dan material seragam
Rumah-rumah di Dusun Sade memiliki ukuran, bentuk, dan material seragam. Foto: SiIvia Galikano

Lantainya tanah, dindingnya anyaman bambu, kaso dan reng dari bambu utuh, daun pintu dari kayu, atapnya rumbia, tanpa jendela, dan hanya ada satu pintu masuk-keluar.

Bale tani terdiri dari tiga ruang. Ruang paling depan, yang mengambil setengah luas rumah, disebut sesangkok, digunakan untuk menerima tamu dan menyemayamkan jenazah. Orangtua tidur di sini, dan baru ketika tamu datang, tikar pandan diturunkan dan digelar.

Sesangkok dan bale dalam dihubungkan tiga undakan (1)
Sesangkok dan bale dalam dihubungkan tiga undakan. Foto: Silvia Galikano

Setengah lagi bagian rumah dibagi dua, yakni bale dalam untuk tidur anak gadis dan dapur, serta dalam bale, ruang kecil tempat melahirkan. Saat tidak dipakai untuk tempat melahirkan, dalam bale digunakan sebagai ruang ibadah.

Jika anak perempuan tidur di bale dalam, bagaimana dengan anak laki-laki? Adat Sasak tidak menyediakan bilik khusus untuk anak laki-laki. “Mereka bisa tidur di mana saja, bisa di sesangkok atau malah di berugaq. Tidak harus di dalam rumah,” ujar Ameq Kurnia Sanghaji, penduduk Sade.

IMG_6157
Anak-anak Dusun Sade bermain kelereng di halaman rumah. Foto: Silvia Galikano

Sesangkok lebih tinggi setengah meter dari tinggi jalan. Ada satu undakan di pintu bale tani. Bale dalam dan dalam bale lebih tinggi satu meter dari sesangkok dihubungkan dengan tiga undakan dan dibatasi sepasang pintu geser.

Lantai rumah di Sade adalah campuran tanah liat, sekam padi, dan kotoran kerbau. Adonan ini diratakan lalu dipadatkan, termasuk untuk membuat undak-undak. Sekali sepekan, lantai rumah diolesi campuran air dan kotoran kerbau/sapi yang masih segar untuk mengurangi debu dan mencegah nyamuk.

Berugaq Sekenam disangga enam tiang
Berugaq Sekenam disangga enam tiang. Foto: Silvia Galikano

Suku Sasak, yang kini mencapai 15 generasi, tersebar di sembilan dusun di Lombok. Tiap dusun punya satu berugaq sekenam, yakni bale besar milik dusun yang disangga enam tiang, digunakan warga untuk acara-acara besar, seperti pernikahan dan khitanan.

Di Sade, berugaq sekenam yang berukuran 8×3 meter berada di kiri pintu masuk dusun. Beberapa warga duduk di sini, berangin-angin di siang yang terik, bercengkerama dengan tetangga dan wisatawan yang baru datang.

Berugaq sekepat disangga empat tiang
Berugaq sekepat disangga empat tiang. Foto: Silvia Galikano

Selain berugaq sekenam, ada lagi berugaq berukuran lebih kecil, yakni berugaq sekepat yang disangga empat tiang, dan jejinjit yang lebih kecil dari berugaq sekepat.

Berugaq sekepat digunakan untuk menerima tamu. Mendirikannya pun musti menyembelih kambing. Sedangkan jejinjit berfungsi sekadar tempat istirahat, tempat menenun, dan pembangunannya tanpa diikuti upacara.

Jejinjit yang berukuran lebih kecil dari berugaq sekepat
Jejinjit berukuran lebih kecil dari berugaq sekepat. Foto: Silvia Galikano

Ketika saya dan peserta Social Media Trip mengunjungi Sade beberapa waktu lalu, Ameq Kurnia sedang menikmati makan siang di berugaq sekenam sambil mengawasi pembangunan rumahnya yang berada di samping berugaq.

Rumah baru itu menggantikan rumah lama yang setelah 35 tahun jadi lapuk. Semua harus diganti, kecuali daun pintu yang masih kuat.

Pondasi, tiang, dan rangka atap sudah berdiri. Menyusul tahap berikutnya melapisi pondasi dengan campuran kotoran kerbau, memasang daun pintu, memasang dinding bambu, dan memasang atap rumbia.

Pembangunan rumah milik Ameq Kurnia menggantikan rumah lama yang sudah lapuk
Pembangunan rumah milik Ameq Kurnia menggantikan rumah lama yang sudah lapuk. Foto: Silvia Galikano

Acara syukuran sawur motuseong kemudian digelar sebagai penutup proses pembangunan rumah. Beras sangrai yang dicampur gula jawa dan irisan kelapa dimantrai pemangku adat, lalu di-sawur (dilempar-sebar ke atas) ke rumah sebagai penolak bala.

Ameq Kurnia tidak meneruskan tradisi leluhur yang menggunakan pondasi hanya dari campuran tanah liat, sekam padi, dan kotoran kerbau yang dipadatkan. Dia menggunakan bata sebagai pondasi, baru kemudian campuran tanah liat, sekam padi, dan kotoran kerbau sebagai pelapisnya. Seperti kerap terjadi, pelestarian budaya akhirnya kalah dengan alasan kepraktisan. Entah dengan rumah-rumah baru lainnya di Dusun Sade.

***
Dimuat di cnnindonesia.com, 24 November 2015

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s