Caci, Beladiri Artistik dari Manggarai

Caci, seni bela diri khas Manggarai, dipertunjukkan di Kampung Melo, Desa Liang Ndara, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur (9)
Caci, seni bela diri khas Manggarai, dipertunjukkan di Kampung Melo, Desa Liang Ndara, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur. Foto: Silvia Galikano

Oleh Silvia Galikano

Satu pukulan diberikan seorang perwakilan tamu ke seorang pemain caci. Permainan pun dimulai.

Diiringi tetabuhan tradisional Manggarai, dua pemain bersiaga. Mereka menggenggam perisai di tangan kiri.

Caci, seni bela diri khas Manggarai, dipertunjukkan di Kampung Melo, Desa Liang Ndara, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur (12)
Penari caci membebat wajah dengan sappu. Foto: Silvia Galikano

Satu pemain membebat kepalanya dengan sappu (kain destar), menyisakan sedikit saja untuk mata. Koret (bambu-bambu kecil sepanjang 2 meter diikat jadi satu) yang berfungsi sebagai penangkis ada di tangan kanan. Dia siap diserang.

Pemain di hadapannya mengayun-ayunkan wadoq (pecut) dan menggerak-gerakkan badan seirama gendang dan gong yang dipukul para mama. Giring-giring di pinggangnya mengeluarkan bunyi yang memecahkan suara musik monoton yang menyihir. Posisinya sebagai penyerang.

Caci, seni bela diri khas Manggarai, dipertunjukkan di Kampung Melo, Desa Liang Ndara, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur (6)
Sang penyerang melompat tinggi, lalu memukulkan pecut kuat-kuat ke perisai lawan. Foto: Silvia Galikano

Setelah dua kali melompat kecil sambil memutar pecut, lalu wuzzz… sang penyerang melompat tinggi, mengangkat pecut tinggi-tinggi, lalu memukulkannya kuat-kuat ke perisai lawan. Praaakkk!!!

Sekali saja. Setelah itu kembali keduanya menari bersama tetabuhan. Formasi pun bertukar.

Tak ada yang menang atau kalah dalam permainan barusan. Caci atau larik adalah permainan gembira yang menyenangkan dan menghibur, bukan pertarungan maut. Inilah seni beladiri yang dijumpai hampir di seluruh kawasan di Kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur.

Caci berasal dari kata “ca” (satu) dan “ci” (satu) dalam bahasa Manggarai, sehingga arti caci adalah “satu lawan satu”. Sebagai atraksi, caci menggabungkan tarian, nyanyian, dan kemampuan teknis khusus dalam menyerang lawan secara artistik.

Caci, seni bela diri khas Manggarai, dipertunjukkan di Kampung Melo, Desa Liang Ndara, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur (7)
Para penari caci. Foto: Silvia Galikano

Atraksi ini selalu dimulai dengan penjelasan dari seorang tetua tentang sportivitas, pengorbanan, dan solidaritas yang jadi filosofi caci, disusul menyerahkan wadoq ke perwakilan tamu.

Ada dua pemain caci, penyerang dan penantang. Penyerang hanya boleh memukul tubuh lawan di bagian pinggang ke atas, termasuk muka. Itu sebabnya penantang membebat kepalanya hingga menyisakan segaris untuk mata, mencegah luka yang berbahaya. Kalau sampai kena muka artinya si pemain mendapat sial besar.

Dulu sekali, caci dimainkan saat membuka lahan berpindah. Jika pemain terluka akibat pecut, tandanya tanah yang dipijak subur dan akan memberi panen melimpah. Seiring waktu, caci dimainkan kapan saja untuk keriaan apa saja, mulai dari menyambut tamu, pesta panen, pemberkatan rumah baru, hingga perayaan Kemerdekaan RI.

Para mama memainkan musik pengiring atraksi caci
Para mama memainkan musik pengiring atraksi caci. Foto: Silvia Galikano

Beberapa waktu lalu, caci ditampilkan di Kampung Cecer, Desa Liang Ndara, Kecamatan Mbeliling, Kabupaten Manggarai Barat, NTT, kira-kira 20 kilometer ke arah timur dari Labuan Bajo. Desa ini berada di ketinggian 900 meter di atas permukaan laut, berudara sejuk dan pemandangan indah. Panggungnya tanah datar di tepi tebing dengan latar belakang birunya langit dan hijau perbukitan.

Selesai tampil, salah seorang pemain, Markus Ferianto, 28 tahun, menjelaskan tentang filosofi di balik atribut pemain caci. Tiga atribut utama, yakni perisai melambangkan ibu, penangkis melambangkan ayah, dan pecut lambang percobaan hidup.

“Ketika kita akan menerima cobaan, ayah dan ibu selalu siap menjaga. Karenanya dikenal ungkapan ‘siang hari dijaga ayah, malam dilindungi ibu.’ Ketika ibu dan ayah tidak menjaga, bisa saja percobaan akan menculik kita,” ujar Feri.

Caci, seni bela diri khas Manggarai, dipertunjukkan di Kampung Melo, Desa Liang Ndara, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur (14)
Pemain caci dalam posisi sebagai penantang. Foto: Silvia Galikano

Merupakan pemandangan biasa melihat banyak bekas luka di tubuh pemain caci. Feri menunjukkan codet-codet sepanjang 3-5 centimeter bekas terkena pecut di punggung, pinggang, bahu, hingga lengannya. Luka-luka demikian, kata Feri, termasuk ringan, tak perlu diobati karena akan sembuh sendiri dalam sepekan. Luka parah adalah jika mengenai mata karena bisa mengakibatkan kebutaan.

Ada pantangan utama bagi pemain caci, yakni semalam sebelum tampil dilarang menyentuh istri. Jika aturan ini dilarang, dipercaya si pemain akan mengalami sial dalam bentuk mendapat luka berat di badan atau malah di muka.

Dua bersaudara juga dilarang berpasangan dalam satu permainan caci dengan tujuan mencegah hubungan persaudaraan mereka rusak.

Selain di Kampung Cecer, caci ditampilkan juga di Kampung Melo, Desa Liang Ndara, Manggarai Barat; Desa Tado, Manggarai Barat; Ruteng, Kabupaten Manggarai; dan di Kecamatan Riung, Kabupaten Ngada. Di Riung, caci dimainkan pada bulan September hingga Desember, sedangkan di tempat-tempat lain, atraksi ini dimainkan tanpa ada waktu khusus.

Atribut pemain caci

Caci, seni bela diri khas Manggarai, dipertunjukkan di Kampung Melo, Desa Liang Ndara, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur (1)
Todah dan koret,, dua atribut penari caci di posisi penantang. Foto: Silvia Galikano

Selain indah dilihat, atribut pemain caci sarat akan nilai filosofis, mulai dari kekuatan untuk diri sendiri hingga penghormatan pada alam. Berikut atribut pemain caci, seni bela diri khas Manggarai:

1.    Todah, perisai dari kulit kerbau yang dilingkari rotan, melambangkan ibu.

2.    Koret, penangkis dari beberapa bambu kecil sepanjang 2 meter yang diikat jadi satu, melambangkan ayah.

3.    Wadoq, pecut dari rotan dan kulit kerbau, lambang percobaan dalam hidup.

Caci, seni bela diri khas Manggarai, dipertunjukkan di Kampung Melo, Desa Liang Ndara, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur (8)
Penari caci dan atributnya. Foto: Silvia Galikano

4.    Panggal, semacam topeng dari kulit kerbau, melambangkan lima dasar kepercayaan orang Manggarai yang tercakup dalam sudut-sudutnya.
Lima dasar itu adalah pah (pintu gerbang) yang menandakan tamu diterima dengan baik, rumah sebagai tempat perlindungan, air sebagai sumber kehidupan, compang (altar) sebagai pusat persatuan, dan uma (kebun) sebagai tempat kesejahteraan.

5.    Sappu, destar batik Jawa yang dirancang khusus untuk Manggarai. Segiempat putih di pucuk kepala bermakna masih ada di atas kita yang harus dihormati.

6.    Tugerapah yang menjuntai di dagu bermakna masih ada di sekitar kita yang harus dijaga, dipelihara, dan dilindungi. Makhluk hidup di dalam maupun di atas tanah punya hak yang sama untuk hidup.

7.    Lalong Ndeki, terbuat dari rotan, diselipkan di pinggang belakang,melambangkan kekuatan seorang pemain caci. Sebagai pemain caci dia harus punya keyakinan kalau dia kuat.

8.    Pejojong, seperti buntut topi, adalah pusat kesabaran pemain caci.

9.    Nggorong, giring-giring yang berbunyi kala pemain menggerakkan kakinya.

10.    Kain songke yang mengandung beberapa warna, termasuk tiga warna dasar khas Manggarai: putih lambang keikhlasan dan ketulusan, merah lambang keberanian, dan hitam lambang kerja keras.

***
Dimuat di cnnindonesia.com, 25 November 2015

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s