Hotel Majapahit

Keinginan yang sudah lama sekali untuk bisa melihat bagian dalam hotel Majapahit. Semasa tinggal di Surabaya dulu, hotel ini cuma saya lihat dari atas becak bersama mama atau dari boncengan sepeda motor papa atau dari bus kota jurusan Tanjung Perak-Tunjungan.

Yang ada di kepala kala itu hanyalah di sini pernah ada perobekan bendera merah-putih-biru jadi merah-putih. Peristiwa heroik perobekan bendera Belanda di Hotel Oranje adalah kisah yang dihafal luar kepala oleh mereka yang pernah tinggal di Surabaya, setidaknya pada masa saya bersekolah.

Lalu saya ketahui, Hotel Majapahit bukan saja bersejarah, tapi juga berarsitektur indah dan bertaman cantik … dan banyak hantunya … katanya.

Rencana pun dibuat. Cari waktu yang pas untuk ke Surabaya. Dipilih sesudah Lebaran. Agustus. Inginnya tanggal 16 malam ada di hotel ini karena saya asumsikan ada peringatan atau apalah di sini atau di sekitar hotel menyambut 17 Agustus.

Maka saya atur waktu dengan Monalisa Primasari (Lisa), sahabat masa kecil yang akan jadi teman sekamar. Dia, karena kesibukannya sebagai ibu dari dua anak sekolah, bisa meninggalkan keluarga pada Sabtu, 15 Agustus 2015.

Sepakat. Tak mengapa.

Dimulailah seru-seruan di Hotel Majapahit. Kami berfoto hampir di tiap sudutnya. Dari taman satu ke taman lain karena ternyata tamannya bukan cuma satu, tapi tiga.

Berfoto di tangga, di atap, tepi kolam renang, halaman depan, kafe, selasar, berfoto versi malam, berfoto lagi versi pagi, dan tak ketinggalan, berfoto di toilet.

Semakin berkesan ketika malamnya, ada pasangan yang menggelar resepsi pernikahan di tepi kolam renang, menyalakan kembang api di langit Surabaya. Kami yang hanya berdaster, segera ke balkon dan menonton pertunjukan yang berlangsung satu-dua menit itu.

 

 

 

Perihal hantu, kata Lisa yang punya kemampuan yang tak saya punyai, di kamar kami ada penghuni lain, yakni bapak-bapak mirip orang Pakistan. Dia rebahan di bathtub dengan wajah tertekan. “Tapi bukan bunuh diri,” kata Lisa. Ketika kami datang, dia keluar.

Di taman juga banyak, bergerombol-gerombol. Di ruang kecil antara lobi dan toko roti, bergerombol juga. Di tiap kelokan pasti ada deh. Tapi ngga horror kok. Ngga tau juga kalo nginepnya sendirian ya hehehe….

Yang tak henti saya sesali, kenapa saat itu ngga bawa baju rapian dikit gitu biar pas dengan latar belakang. Ini mah baju buat ngebakso di ujung kompleks dipakai buat pepotoan di tempat sebagus ini.

 

Riwayat Hotel Majapahit

Berikut uraian tentang Hotel Majapahit di Jalan Tunjungan 65, Surabaya yang saya ambil dari website resmi Hotel Majapahit (hotel-majapahit dotcom) dan plakat di depan hotel:

Sarkies Bersaudara

Sarkies Bersaudara adalah pebisnis asal Iran yang membangun kerajaan perhotelan di Asia Tenggara pada akhir abad ke-19.

Mereka adalah Martin, Tigran, Aviet, dan Arshak. Keempatnya membangun Eastern & Oriental Hotel di Penang, Malaysia pada 1880, Raffles Hotel di Singapura pada 1887, dan Strand di Burma pada 1901.

Lucas Martin Sarkies, putra Martin Sarkies, melanjutkan tradisi keluarga dengan membuka Hotel Oranje di Surabaya pada 1911.

Lucas lahir di New Jaya, Teheran, Iran pada 1876. Saat usianya 11 tahun, Lucas pindah ke Jawa Timur, Hindia Belanda. Dia menikah dengan sosialita Belgia, Charlotte Heyligers, pada 1896.

Lucas wafat di Lawang, Jawa Timur pada 1941. Istrinya wafat di kamp Jepang di Jawa Tengah pada 1945.

 

Majapahit, kamar paling mahal dan cuma satu (terdiri dari dua lantai). Hari itu disewa pasangan pengantin yang menggelar resepsi di sini. (Foto: Silvia Galikano)
Taman di depan Presidential Suit Hotel Majapahit, kamar paling mahal dan cuma satu (terdiri dari dua lantai). Hari itu disewa pasangan pengantin yang menggelar resepsi di sini. (Foto: Silvia Galikano)

 

 

1900
Lucas Martin Sarkies membeli 1.000 meter persegi tanah di Jalan Tunjungan untuk mengikuti jejak ayahnya membangun hotel mewah. Dia menyewa desainer terkenal Alfred Bidwell untuk membangun hotel bergaya art nouveau kolonial. Proyek tersebut menghabiskan 500.000 gulden.

1910 – HOTEL ORANJE
Batu pertama Hotel Oranje diletakkan putra Lucas, Eugene. Pembukaan hotel dibuat dengan acara meriah pada 1911.

1923-1926
Pelebaran dua sayap hotel rampung.

1936
Lobi bergaya art deco diperluas dan diresmikan Pangeran Leopold III dan Putri Astrid dari Belgia serta bintang film terkenal Charlie Chaplin ditemani istrinya, aktris Paulette Goddard, serta novelis Inggris-Polandia Joseph Conrad.

 

 

1942 – HOTEL YAMATO
Pasukan Kekaisaran Jepang mengambil alih Hotel Oranje, mengubah namanya jadi Hotel Yamato, dan menjadikannya markas Jepang di Jawa Timur.

1945 – HOTEL MERDEKA
Kemarahan rakyat dan pemuda memuncak pada 19 September 1945, melihat bendera merah-putih-biru berkibar kembali di Hotel Oranje/ Hotel Yamato.

Pemuda S. Kasman bersama pemimpin Pemuda Republik Indonesia (PRI), yaitu Roeslan Abdoelgani dan Sumarsono, mendatangi kamar 33 yang dijadikan markas sementara Belanda untuk meminta penjelasan mengapa mengibarkan bendera Belanda di atap hotel. Mereka kemudian menggerakkan massa untuk datang ke Jalan Tunjungan hingga jadi lautan manusia.

Pemuda Kusno (pegawai kantor Kabupaten Surabaya), di tengah ancaman Belanda dan serdadu Jepang, naik ke atap. Dia merobek strip biru di Bendera Belanda, tinggallah merah dan putih, menunjukkan warna bendera Indonesia, Merah Putih. Kusno menaikkan kembali Merah Putih dalam perbandingan yang tak seimbang.

Nama hotel diganti jadi Hotel Merdeka.

1946 – L.M.S. HOTEL
Sarkies Bersaudara kembali menguasai hotel ini setelah lepas dari tahanan Jepang dan mengganti namanya jadi L.M.S. Hotel untuk mengenang sang pendiri, Lucas Martin Sarkies.

 

 

1969 – HOTEL MAJAPAHIT
Mantrust Holdings Co. menjadi pemilik baru dan mengganti nama hotel dengan nama kerajaan yang pernah lama ada di masa sebelum Indonesia terbentuk, Majapahit.

1993
Mandarin Oriental Group, yang bergabung dengan Sekar Group, membeli hotel ini dan menganggarkan US$35 juta untuk renovasi selama tiga tahun hingga selesai.

1996 – MANDARIN ORIENTAL HOTEL MAJAPAHIT
Hotel diluncurkan ulang di bawah bendera Mandarin Oriental dan menerima penghargaan pelestarian arsitektur dan menjadi National Heritage Landmark of Indonesia.

1998
Roeslan Abdoel Gani memasang plakat di teras hotel untuk mengenang peristiwa Perobekan Bendera 19 September 1945.

2006 – HOTEL MAJAPAHIT
CCM Group, salah satu perusahaan besar Indonesia, mengambil alih hotel dan menamakannya Hotel Majapahit.

2009 – 2013
Hotel mengalami renovasi agar sesuai dengan kebutuhan modern.

Hotel Majapahit mendapat sejumlah penghargaan, yakni National Geographic Traveler Award dalam bidang arsitektur dan desain pada 2009, top 50 World Best Hotels oleh majalah Maxx-M pada 2010, Golden Circle Award dari Agoda pada 2011, Certificate of Excellence dari Trip Advisor pada 2012 dan 2013, dan Penghargaan Hotel Favorit di Indonesia pada 2012 oleh Tourism Awards of Indonesia.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s