Purjito Mengeja Ibu Kehidupan

 

Sembah
Patung “Sembah” karya Purjito. Foto: Silvia Galikano

Oleh Silvia Galikano

Lima belas perempuan berbaris empat saf. Satu paling depan, berturut-turut ke belakang dua orang, lima, dan tujuh.

Sikap perempuan di dua saf depan dalam posisi berlutut satu kaki. Dua tangan mereka menengadah setinggi pelipis. Saf ke-3 dalam sikap berdiri, dua tangan saling tertangkup di depan dada, dan kepala tertunduk. Perempuan di tiga saf ini mengenakan kemben.

Pemandangan paling berbeda di saf terbelakang. Tujuh perempuan mengenakan rukuh dan dalam posisi berdiri tegak seperti sikap sedang bersembahyang. Wajah mereka samar nyaris rata.

Orkestrasi patung berjuluk Sembah (2014) ini diletakkan di tentangan pintu utama, merampas perhatian pengunjung begitu memasuki ruang utama pameran. Patung yang membuka kemungkinan pada beragam tafsir.

Bertepatan dengan Hari Ibu, hari kebangkitan perempuan Indonesia, Purjito mengadakan Pameran Tunggal Memorandum pada 22 Desember 2015 – 8 Januari 2015 di Galeri Nasional Indonesia, Jakarta. Pameran tunggalnya yang ke-5 ini menampilkan 70-an patung dalam 44 judul karya relief dan patung berbahan perunggu, aluminium, dan fiber. Suwarno Wisetrotomo bertindak sebagai kurator.

Memorandum merupakan momen pengukuhan jalan hidup Purjito dalam merawat kearifan, semangat, dan ketajaman batin agar peka terhadap berbagai persoalan hidup.

Purjito adalah orang Jawa yang dekat dengan gaya hidup penuh laku dan peka membaca tanda-tanda, antara lain lewat mimpi-mimpi dalam tidur yang dia anggap sebagai perlambang atau isyarat. Dia juga membaca dan mempelajari wayang kulit purwa. Latar budaya semacam itulah yang membentuk habitusnya dan jadi sumber penggerak tindakan kreatif, pemikiran, dan representasinya.

Sosok terdepan di Sembah mengenakan giwang emas
Sosok terdepan di “Sembah” mengenakan giwang emas asli. Foto: Silvia Galikano

Pematung kelahiran 14 Juli 1961, di Sleman, DI Yogyakarta ini memiliki kemampuan teknik dan bentuk realistik di atas rata-rata. Dia bertumpu pada ketajaman batin, menjelajahi tema dan olah laku yang menajamkan aspek spiritualistas dan sensitivitasnya. Sehingga seolah-olah karyanya spontan padahal sudah mengendap lama di dunia ide dan hatinya.

Berkaitan dengan aspek spiritualitas, ada kisah menyentuh di balik penciptaan Sembah, kisah yang tak sepenuhnya bisa dimengerti dengan pendekatan rasional. Sosok perempuan di saf terdepan Sembah, yang hanya satu orang, sepasang telinganya bersemat giwang emas asli.

Pada suatu malam, saat patung Sembah masih dalam proses, Purjito mimpi didatangi ibunya yang sudah berpulang beberapa tahun sebelumnya. Tanpa kata, sang ibu menyodorkan giwang emas dan meminta agar giwang itu dipasangkan ke salah satu patung yang dipilih untuk pameran dan akan ditempatkan paling depan.

Begitu bangun esok paginya, Purjito pergi ke toko perhiasan dan membeli sepasang giwang yang dia lihat dalam mimpinya itu.

Nutu
Sosok ibu pula yang jadi inspirasi hingga sebagian besar patung perempuan mengenakan kemben, seperti di patung “Nutu” ini. Foto: Silvia Galikano

“Saya merasa seperti mendapat perintah ibu. Ibu juga mengisyaratkan akan terus memberi dukungan penuh pada pilihan profesi ini,” ujar Purjito menjelang pembukaan pameran, Selasa (22/12).

Sosok ibu pula yang jadi inspirasi hingga sebagian besar patung perempuan karya lulusan Institut Seni Indonesia, Yogyakarta ini mengenakan kemben. Bukan gambaran sensualitas, melainkan itulah pemandangan sehari-hari yang Purjito temui saat kanak-kanak dan kini dia tuangkan kembali.

Bahwa ibunya, yang buruh tani, setiap hari berkemben, bahkan kadang hanya mengenakan jarik melilit pinggang ke bawah dan membiarkan dada telanjang.

Hubungan emosional yang lekat dengan dua perempuan istimewa, ibu dan istrinya jadi titik berangkat yang demikian kuat selama penciptaan karya-karya Purjito.

Purjito di samping karyanya - Biola
Purjito di samping karyanya, “Biola”. Foto: Silvia Galikano

Seperti suatu ketika dia ingin membuat patung sosok Sirtihana, istrinya, yang dia panggil dengan sebutan “Nok” (dari kata Dhenok, sebutan sayang pada perempuan Jawa). Setelah sekian lama proses membentuk, Purjito nyaris putus asa karena merasa tak kunjung mendapatkan karakter yang diinginkan.

Langkah di luar prosedur teknik patung pun ditempuh. Dia menyampaikan permintaan kepada istrinya, “Nok, tulung tak jaluk kowe iklas yo tak gawe patung iki. Tulung, sing ikhlas (Nok, tolong saya minta dirimu ikhlas ya saya bikin patung ini. Tolong, yang ikhlas.” Istrinya menjawab, “Ikhlas.”

Setelah itu, mulailah Purjito bekerja. Seperti menemukan energi baru, dan dalam waktu yang relatif cepat, karakter sang istri yang tengah duduk termenung, tertangkap dengan baik. Karya berbahan perunggu itu dia juduli Termenung (2013).

Purjito adalah pematung yang impulsif, namun disertai penghayatan dan ketajaman batin sebagai upaya menarik persoalan kehidupan hingga pada inti terdalam. Dia menempatkan sosok, kehadiran, dan peran “ibu” sebagai jangkar, sumber kehidupan yang sering diabaikan.

***
Dimuat di CNNIndonesia.com, 23 Desember 2015

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s