Lantunan Elok Lagu Puisi AriReda

IMG_8916 kecil
Ari Malibu, Reda Gaudiamo, dan Jubing Kristianto. Foto: Bunga Yuridespita.

Oleh Silvia Galikano

Setelah 33 tahun bersama, akhirnya duet AriReda punya album ke-dua, Menyanyikan Puisi. Pun akhirnya manggung memakai nama mereka: AriReda. AriReda: Menyanyikan Puisi. Acaranya dihelat di Teater Kecil Taman Ismail Marzuki, 26 & 27 Januari 2016, dengan penampilan pembuka oleh Tetangga Pak Gesang.

Teater Kecil berkapasitas 200 orang penuh. Tiket seharga Rp100 ribu dinyatakan terjual habis via online untuk dua hari, sampai-sampai tak ada penjualan tiket di tempat pertunjukan. Tampak penonton dari beragam usia datang.

Reda Gaudiamo dalam balutan kain tenun biru dan blouse abu-abu duduk di kanan, Ari Malibu yang berkemeja longgar dan bercelana jeans ada di kiri. Ari memangku satu gitar. Satu gitar lagi tersandar di sampingnya.

Pada Suatu Pagi Hari jadi pembuka, berlanjut ke Kartu Pos Bergambar Jembatan Golden Gate San Fransisco, dua musikalisasi puisi Sapardi Djoko Damono yang lagunya masing-masing dibuat Budiman Hakim dan Umar Muslim.

Kabut yang likat/ dan kabut yang pupuh/ lekat dan gerimis pada tiang-tiang jembatan// matahari menggeliat dan kembali gugur/ tak lagi di langit berpusing/ di perih lautan///

Setelah Bunga-bunga di Halaman yang diambil dari album ke-dua, Reda menyapa penonton. Menceritakan inilah akhirnya, jadi juga album ke-dua.

Menyanyikan Puisi, yang keluar pada akhir 2015 lalu, menggunakan cover tampak belakang patung karya Sri Astari, Drupadi. Album ini harus menunggu delapan tahun setelah album pertama AriReda, Becoming Dew, keluar pada 2007.

Album ke-dua duet ini berisi sembilan musikalisasi puisi karya penyair ternama Indonesia, seperti Abdul Hadi WM, Goenawan Mohammad, Mozasa, Sapardi Djoko Damono, dan Toto Sudarto Bachtiar. Dua yang baru saja dinyanyikan, Bunga-bunga di Halaman dan Lanskap, musiknya dikerjakan Umar Muslim.

Tak berlebihan ketika Dharmawan Handonowarih, penulis dan sahabat yang sudah mengenal AriReda sejak mereka sama-sama di bangku kuliah, menyebut duet ini semakin matang dari cara menghitung setiap tekanan dan tarikan suara serta petikan gitar.

Kesederhanaan AriReda bisa jadi ditafsirkan beragam di hati tiap orang.

Dalam kalimat pengantar sebelum duet ini tampil, Dharmawan sampaikan, “Bagi saya, kesederhanaan AriReda adalah pada pilihan mereka, bahwa ketika bernyanyi, mengembalikan suara dan penghayatan pada hal yang mendasar, justru di tengah kekaburan akan hal itu yang terjadi belakangan ini. Mereka seakan kokoh berada di sana selama puluhan tahun.”

Baca juga Serenada Indah AriReda

Lalu meluncurlah musikalisasi puisi yang sudah sangat akrab di telinga penggemar, seperti Pada Suatu Hari Nanti, Di Beranda Ini Angin Tak Kedengaran Lagi, Ketika Kau Tak Ada, Di Restoran, Nokturno, dan Hujan Bulan Juni.

Keduanya kemudian menghilang ke belakang panggung, berganti dengan kemunculan gitaris Jubing Kristianto yang memainkan Naik-naik ke Puncak Gunung dan Hujan Fantasy yang menghadirkan keceriaan tersendiri.

Kini bertiga, Ari-Reda-Jubing, membawakan Gadis Kecil, Kuhentikan Hujan, dan Sajak-sajak Kecil tentang Cinta. Encore, sesi bonus setelah penonton berseru-seru “lagiii”, AriReda membawakan Ketika Kau… dan Aku Ingin.

Konser AriReda adalah awal dari rangkaian Bermain di Cikini, sebuah tradisi merayakan kembalinya akses yang mudah (dan murah) untuk menggunakan berbagai sarana gedung pertunjukan di Jakarta.

Alasannya, menurut Felix Dass, produser Bermain di Cikini, tampil di gedung pertunjukan masih menjadi pengalaman yang jarang mampir ke banyak band bagus. Padahal bermain di gedung pertunjukan bukanlah sebuah hal yang spesial.

“AriReda adalah pionir yang punya kemampuan mengawali perjalanan mewujudkan misi ini,” kata Felix.

Ari dan Reda berkenalan pada 1982. Saat itu Reda yang mahasiswa Sastra Prancis UI semester 3 diajak Ferrasta Soebardi (Pepeng) menyanyi, mengisi perayaan ulang tahun Ikatan Kekerabatan Antropologi UI.

Pepeng menyandingkan Reda dengan Ari, mahasiswa Akademi Pimpinan Perusahaan tapi sering dikira mahasiswa UI karena hampir selalu ikut acara seni mahasiswa UI. Berlatar belakang referensi musik yang berbeda, Reda pun punya banyak PR mempelajari lagu-lagu John Denver, yang bahkan namanya baru dia ketahui hari itu.

Baru pada 1987, Reda bekerja sama dengan Ags. Arya Dipayana menggarap proyek musikalisasi puisi. Ari bergabung setahun kemudian.

Hingga 33 tahun kemudian, duet ini kian kokoh walau sempat ada kegamangan dalam proses waktu, “istirahat” sejenak dan menempuh jalan masing-masing. Namun keduanya kembali lagi ke rumah AriReda, menekuni sembari mensyukuri.

Dimuat di CNNIndonesia.com, 27 Januari 2016

***

Sapardi: Bikin Puisi Dilarang Marah

IMG_8876 kecil
Sapardi Djoko Damono. Foto: Bunga Yuridespita

Oleh Silvia Galikano

Sapardi Djoko Damono adalah mata air, bermula mengalirnya dendang indah AriReda. Berkat para penulis lagu berbakat Ags. Dipayana, Umar Muslim, dan lainnya, puisi-puisi Sapardi jadi punya napas lain begitu dilagukan

Saat perhelatan AriReda: Menyanyikan Puisi di Teater Kecil Taman Ismail Marzuki, Rabu (27/1), Sapardi tampil membacakan tiga karya puisinya, Tentang Mahasiswa yang Mati, 1996; Dongeng Marsinah; dan Pour Tom.

Sempat dia berseloroh begitu naik panggung, “Saya grogi. Nyanyi bagus-bagus begitu kok saya disuruh baca puisi. Kalau kencang-kencang takut gigi palsu saya copot,” yang langsung disambut gelak penonton.

Sapardi mengenakan kemeja merah dilapisi jaket biru, celana hitam, topi pet yang jadi ciri khasnya, dan memegang tongkat. Namun kemudian tongkat dia sandarkan di belakang kursi Reda.

Sebenarnya bisa jalan tanpa tongkat, kata Sapardi, mahasiswalah yang memintanya agar membawa tongkat supaya tampak benar-benar profesor. Walau sudah pensiun, dia tetap mengajar, meski tak sesering dulu.

Puisi yang pertama dibacakan, Tentang Mahasiswa yang Mati, 1996; diambil dari buku Melipat Jarak yang disebut Sapardi “saudara kembar Hujan Bulan Juni.” Puisi ini dibuat pada tahun 1996 saat sedang ramai demonstrasi mahasiswa.

Aku mencintainya sebab ia mati ketika ikut rame-rame hari itu/ Aku tak mengenalnya/ hanya dari koran/ tidak begitu jelas memang/ kenapanya atau bagaimana (bukankah semuanya demikian juga?)/ tetapi rasanya cukup alasan untuk mencintainya///

Untuk puisi kedua, Sapardi sebenarnya dipesan untuk membacakan Hujan Bulan Juni. “Tapi baca saja novelnya. Kata penerbitnya best-seller dan moga-moga saja bulan Juni nanti Anda sudah bisa menonton filmnya.”

Sebagai ganti, dia bacakan Dongeng Marsinah, puisi tentang Marsinah (1969-1993), buruh pabrik di Sidoarjo yang diculik dan ditemukan tewas setelah berunjuk rasa menuntut kenaikan upah. Kisah Marsinah ini membuatnya marah, padahal marah sangat menghambat berkreasi. Tak heran jika satu puisi ini baru rampung setelah tiga tahun.

“Saya ‘nulis, marah, ‘nulis, marah. Sampai hari ini saya masih marah, tapi karena sudah jadi puisi, jadi tidak marah. Menurut saya, orang marah tidak usah menulis, demo saja deh.”

Seperti ini penggalan Dongeng Marsinah:

Marsinah, kita tahu, tak bersenjata/ ia hanya suka merebus kata sampai mendidih/ lalu meluap ke mana-mana// “Ia suka berpikir,” kata Siapa/ “itu sangat berbahaya.”// Marsinah tak ingin menyulut api/ ia hanya memutar jarum arloji/ agar sesuai dengan matahari/ “Ia tahu hakikat waktu,” kata Siapa/ “dan harus dikembalikan ke asalnya/ debu.”///

Selesai membacakan puisi ke-tiga dan terbaru, Pour Tom, Sapardi menyampaikan terima kasih kepada mahasiswa-mahasiswanya pada tahun 1980-an, yakni Reda dan kawan-kawan. “Yang semuanya sontoloyo, sudah ambil puisi-puisi saya,” namun segera disahut Reda, “Dikasih kok, Pak.”

“Puisi saya jadi dikenal. Tanpa ada lagu itu, siapa sih yang mau baca puisi?”

Dimuat di CNNIndonesia.com, 28 Januari 2016

2 Comments

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s