Istilah Jawa Jadi Ciri Karya Dini

IMG_20160127_133656
Widya Kirana, Editor Senior Gramedia Pustaka Utama. (Foto: Silvia Galikano)

Tulisan ke-4 dari 80 Tahun Nh Dini setelah Membaca Jejak Nh Dini

Oleh Silvia Galikano

Hubungan antara pengarang dan editor pada dasarnya adalah hubungan saling membutuhkan, yang – seperti umumnya hubungan antarmanusia – ada pasang surutnya. Hubungan itu dijaga baik-baik dengan sikap akrab dan hormat, tanpa saling mengorek sisi pribadi satu sama lain.

Widya Kirana, Editor Senior Gramedia Pustaka Utama, memegang erat prinsip ini selama lebih dari 20 tahun mengerjakan penyuntingan naskah-naskah Nh Dini.

IMG_1326
“Kemayoran” terbitan Gramedia Pustaka Utama. (Foto: Silvia Galikano

Widid, sapaan Widya Kirana, bergabung di Gramedia Pustaka Utama (GPU) pada Agustus 1985 sebagai asisten editor cerita anak-anak, kemudian ke cerita fiksi populer (terjemahan dan karya asli). Naskah Dini yang pertama kali disunting Lulusan S1 Sastra Indonesia UGM ini adalah – seingat dia – Kemayoran (2000), yang merupakan bagian dari Seri Cerita Kenangan.

Setelah menyelesaikan studi MA di bidang Applied Linguistics di Australian National University, Canberra, Australia pada akhir tahun 1993; Widid melanjutkan bekerja di GPU, dan mulai tahun 1994 (sampai dengan tahun 2010) ditugaskan menangani naskah-naskah sastra, menggantikan Pamusuk Eneste yang sudah lebih dahulu pindah ke Penerbit Gramedia Widya Sarana. Sejak itulah Widid mulai intens berurusan dengan naskah-naskah Dini.

Pada masa itu, komputer sudah digunakan. Naskah yang masuk ke Penerbit dalam bentuk print-out yang dikirim lewat jasa pos/kurir atau soft-copy yang dikirim lewat surat elektronik. Demikian pula naskah-naskah Dini.

Koleksi PDS HB Jassin (5)a
“Pada Sebuah Kapal” terbitan Pustaka Jaya. (Foto: Silvia Galikano)

Selain menyunting naskah karya Dini yang baru, Widid juga mengurusi cetak ulang karya-karya pengarang ini yang sebelumnya pernah diterbitkan oleh penerbit lain namun kemudian hak penerbitannya oleh pengarang diserahkan kepada GPU. Karya itu antara lain Sekayu (sebelumnya oleh Pustaka Jaya, 1981), Namaku Hiroko (Pustaka Jaya, 1977), Langit dan Bumi Sahabat Kami (Pustaka Jaya, 1979), dan Pada Sebuah Kapal (Pustaka Jaya, 1972).

Karya yang akan diterbitkan ulang itu dipindai dari buku lama. Tak jarang karya itu harus diketik ulang karena pada umumnya hasil pindaian tidak memuaskan atau bahkan sangat buruk saking banyaknya huruf yang tak terbaca atau keliru terbaca oleh mesin pemindai alias jadi banyak “salah ketik”.

Naskah terbaru Dini yang terakhir Widid sunting adalah Dari Ngalian ke Sendowo (2015).

Naskah Dini, menurut Widid, terbilang “bersih”, salah ketik sangat sedikit ditemui. Andaipun ada yang perlu mendapat perhatian adalah kadang dijumpai penulisan yang tidak konsisten.

“Misalnya di depan tertulis ‘kerjasama’, tapi di halaman belakang ‘kerja sama’. Jadi kami tanyakan ke Bu Dini mau pilih yang mana, kalau mau disambung, ya disambung semua,” ujar Widid saat dijumpai di kantornya di kawasan Palmerah, Jakarta Barat, akhir Januari lalu.

IMG_1328
“Dari Ngalian ke Sendowo” terbitan Gramedia Pustaka Utama. (Foto: Silvia Galikano)

“Penulis kan kepalanya penuh ide untuk dituangkan. Jadi wajar saja kalau ada kata yang terlewat, atau ada bagian-bagian yang tidak masuk akal. Misalnya, di paragraf awal tokoh-tokohnya ketemu di taman, di paragraf berikutnya kok ketemu di tempat lain. Tapi yang seperti ini tidak ada dalam karya Bu Dini.”

Selebihnya, jika ada kalimat atau pilihan kata yang khas, yang menurutnya tidak umum, Widid selalu berkonsultasi kepada pengarang atau kadang-kadang mengusulkan perubahan. Namun jika pengarang berargumen bahwa memang “keunikan” tersebut disengaja dan penjelasannya bisa diterima, Widid akan menganggap itu sebagai hak pengarang untuk menentukan apa dan bagaimana ia menuliskan isi pikirannya, semacam licentia poetica.

“Karena kadang pertimbangan memilih sebuah kata/frasa/kalimat adalah karena pilihan tersebut lebih puitis ketimbang bentuk lain walau yang terakhir ini ‘benar’ menurut aturan berbahasa.”

Sebagai contoh, Dini kerap menggunakan kata-kata atau istilah dari bahasa Prancis, atau menempatkan kata depan “pada” alih-alih “di”, juga menyelipkan kata-kata dan ungkapan-ungkapan bahasa Jawa walau ada padanannya dalam bahasa Indonesia.

Penggunaan ungkapan-ungkapan Jawa ini, menurut Widid, jadi ciri khas Dini yang sangat menghayati ungkapan-ungkapan itu sejak kecil. “Gusti Allah ora sare” dan “Bismillah niat ingsun” adalah dua ungkapan yang sering ditemukan dalam karya-karyanya dan umum digunakan oleh masyarakat Jawa.

Penggunaan catatan kaki pun sepenuhnya keputusan Dini, yakni untuk bagian-bagian cerita yang memerlukan penjelasan lebih lanjut. Lebih sering, catatan kaki itu berupa penjelasan atas istilah asing atau istilah Jawa, atau judul buku yang pernah terbit yang memuat penggalan cerita tertentu. Namun pernah juga Dini khusus memberi catatan kaki yang berisi resep membuat sambal bajak.

IMG_0112
“Dari Rue Saint Simon ke Jalan Lembang” terbitan Gramedia Pustaka Utama. (Foto: Silvia Galikano)

Yang juga atas sepersetujuan pengarang adalah pemilihan cover buku. Dalam Cerita Kenangan berjudul Dari Rue Saint Simon ke Jalan Lembang (2012), diceritakan Dini ikut menggiring gajah di Lampung.

Untuk buku itu, Dini mengusulkan cover yang menggambarkan kegiatan menggiring gajah. GPU kemudian mencarikan ilustrator dan menyiapkan tiga ilustrasi cover untuk dipilih oleh Dini. Untuk cover buku Dari Parangakik ke Kampuchea (2003), malah Dini menggunakan lukisan karyanya sendiri, yakni lukisan Candi Bayon di Kamboja.

Dini juga memilih cover untuk karya-karyanya yang dicetak ulang, baik yang sejak pertama kali diterbitkan oleh GPU maupun yang hak penerbitannya sudah dialihkan ke GPU.

Di luar komunikasi urusan pekerjaan, pertemuan Widid dan Dini terbilang sering, terutama saat Dini tinggal di Graha Wredha Mulya, perumahan untuk kaum lansia mandiri di Sendowo, Yogyakarta. Setiap kali Widid, yang berasal dari Yogyakarta, pulang kampung menemui ibunya dan anak-anaknya yang kuliah di kota itu, ia selalu menyempatkan diri menemui Dini di rumahnya. Namun ketika Dini memutuskan pindah ke Wisma Lansia Langen Werdhasih di Lerep, Ungaran, Widid belum sempat datang ke Ungaran.

Kini Dini tinggal di Wisma Lansia Harapan Asri, di Banyumanik, Semarang. Sudah beberapa kali Widid menemuinya. Kalau Dini ke Jakarta dan bermalam di rumah sepupunya, Edi Sedyawati, di kawasan Menteng, Widid datang ke Menteng. Walau yang terakhir ini terbilang jarang, yakni hanya kalau ada yang perlu dikonsultasikan terkait naskah yang sedang Widid garap.

“Kalau datang, saya membawa sekadar buah kesukaan Bu Dini, hal biasa dan wajar dalam adat sopan santun orang bertamu,” kata Widid. Dini pun demikian, tak jarang ia membawakan oleh-oleh hasil kunjungannya ke suatu tempat, seperti membawa sabun sereh hasil kreasi ibu-ibu rumah tangga.

Dini, menurut Widid, adalah pribadi yang apa adanya. Zakelijk. Saking zakelijk-nya sampai pernah terjadi kesalahpahaman yang sempat membuat hubungan keduanya agak tawar; yakni sewaktu Dini menulis “kakus”, lalu Widid menggantinya dengan “toilet”. Setelah berdiskusi, akhirnya dikembalikan lagi ke “kakus”.

Kata itu sengaja Dini pilih karena ada perbedaan arti antara kakus dan toilet. Masalah ini pun sudah dianggap selesai.

“Beliau ke saya baik. Kami, para editor di GPU, berusaha menjalin hubungan sebaik mungkin dengan semua pengarang. Buat saya, beliau sepuh, pengarang senior, jadi tinggal menyesuaikan ‘gelombang’-nya. Dengan Bu Dini gunakan gelombang ini, dengan yang lain gelombang lain,” ujar Widid.

Bersambung ke Nh Dini tentang Nh Dini

***
Dimuat di CNNIndonesia.com, 28 Februari 2016

 

2 Comments

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s