Membaca Jejak Nh Dini

Novel, Cerita Kenangan, dan karya terjemahan Nh Dini (2)
Karya-karya Nh Dini. (Foto: Silvia Galikano)

Tulisan ke-3 dari 80 Tahun Nh Dini setelah Selamat Ulang Tahun, Nh Dini

Oleh Silvia Galikano

Perselingkuhan jadi identik dengan karya Nh Dini. Karakter perempuan rekaannya berselingkuh dari ikatan sakral perkawinan.

IMG_0106
“Namaku Hiroko” terbitan Pustaka Jaya. (Foto: Silvia Galikano)

Mereka, di antaranya Rina di La Barka, Hilda di cerpen Istri Konsul, dan Sri di Pada Sebuah Kapal. Sedangkan Hiroko di Namaku Hiroko, lain lagi. Perempuan mandiri dan sukses dalam karier ini bukan berselingkuh dari perkawinan, melainkan memutuskan tidak menikah dan bahagia jadi perempuan simpanan dari suami sahabatnya.

Untuk menyegarkan ingatan, berikut garis besar cerita-ceritanya.

Di La Barka, Rina yang sedang dalam proses perceraian dengan suaminya, jadi tamu Monique di La Barka, rumah peristirahatan di Prancis Selatan. Rina membawa putri kecilnya.

Datang juga kawan mereka, Christine bersama anaknya yang mahasiswa, Robert. Rina dan Robert, dua orang dengan usia terpaut jauh, terlibat asmara di La Barka.

IMG_0108
“La Barka” terbitan Pustaka Jaya. (Foto: Silvia Galikano)

Tokoh Hilda di Istri Konsul adalah istri dari konsul Prancis di China yang punya hobi baru, madat. Hari-hari luangnya digunakan untuk bergumul dengan gumpalan-gumpalan asap candu. Kedatangan Bruno, anak suaminya dari perkawinan terdahulu, yang kini menjadi pemuda tegap, menghadirkan kecerahan kembali dalam hari-hari Hilda.

Kini ke tokoh Sri dalam Pada Sebuah Kapal yang bersuamikan diplomat Prancis berkarakter kasar. Setelah memperoleh seorang putri, perkawinan mereka hambar.

Sri menemukan kelembutan dan kehangatan dari Michel, kapten kapal yang dikenalnya sewaktu bersama putrinya berlayar dari Saigon ke Marseille. Rumah tangga Michel dan Nicole juga sedang bermasalah.

Jelas, sikap mereka tak bersesuai dengan norma manapun. Dini, sang pengarang, pun menganggap berselingkuh itu ya berselingkuh. Perbuatan cela. Dia tak berusaha membuat pembelaan atas karakter rekaannya, melainkan sekadar memaparkan latar belakang agar pembaca paham bahwa keputusan si perempuan bukan bertolak dari ruang kosong.

IMG_0131
“Pada Sebuah Kapal” terbitan Gramedia Pustaka Utama. (Foto: Silvia Galikano)

Karena berselingkuh dengan Michel, Dini menyebut Sri, yang notabene orang Jawa, sudah melangkah melewati pagar ayu, yakni peraturan Jawa (angger-angger) yang tak boleh dilanggar.

“Kalau sekarang, pagar ayu dikira perempuan penerima tamu di acara pernikahan. Wong ayu-ayu dijadikan pagar. Itu salah, salah sama sekali,” kata Dini saat dijumpai di kediaman sepupunya, Edi Sedyawati, di Menteng, Jakarta, Oktober 2015.

Tema sosial

Tapi apa iya karya Dini hanya bercerita tentang perselingkuhan? Pastinya tidak. Dari puluhan buku fiksi karyanya, terdiri dari novel dan kumpulan cerpen, yang memuat perselingkuhan hanya segelintir, bahkan mungkin sudah disebutkan semua tadi.

Sedangkan sebagian besar bercerita tentang hal lain, utamanya persoalan sosial kemanusiaan, seperti Orang-orang Tran (1983) yang belakangan diterbitkan ulang dengan judul Tanah Baru, Tanah Air Kedua (1997), tentang kehidupan transmigran asal Jawa di tanah garapan baru di Kalimantan. Mereka membuka lahan, mengakali tanah yang keras, mencari tanaman yang pas, dan harus selalu siaga dengan serangan binatang buas.

IMG_0104
Kumpulan cerpen “Istri Konsul” terbitan Pustaka Jaya. (Foto: Silvia Galikano)

Membaca Tirai Menurun (1993) kita diajak ke belakang panggung pementasan wayang wong Kridopangarso, pada keseharian pemainnya yang bersahaja, dan menyelami keprihatinan dunia kesenian tradisional akibat makin sepinya penonton. Kita bahkan ikut dibikin remuk hati ketika pada akhirnya Kridopangarso terpaksa berhenti manggung, peralatan gamelan dilego, dan anak-anak wayang berpencaran mencari makan.

Kumpulan cerpen lebih beragam lagi temanya. Tentang bayi yang sakaw akibat dulu ibunya tetap madat saat hamil, tentang masyarakat yang tak tahu bagaimana menggunakan kakus yang sehat, hingga tentang keuletan perempuan desa mengelola warung pecel di kota.

Mengenal Kapten

Kembali lagi, mengapa Dini menulis tentang perselingkuhan, akhirnya terjawab dalam Cerita Kenangan, serial autobiografi yang memiliki elemen novel, tanpa mencantumkan tanggal, bulan, dan tahun kecuali diperlukan. Kadang kala beberapa nama disamarkan karena orangnya masih hidup.

Sinar Harapan 24 Januari 1970
Dini, Yves Coffin, Lintang, Padang. (Dok. Sinar Harapan, 24 Januari 1970)

Dalam Cerita Kenangan, Dini membuka kehidupan rumah tangganya. Hanya beberapa bulan sesudah menikah, Dini ketahui Yves ternyata suami yang kasar bin pelit. Diplomat Prancis ini sok mesra ke Dini, memuji masakan Dini, hanya saat menjamu kolega.

Selebihnya, Yves kerap berkata-kata kasar dan meremehkan pekerjaan Dini sebagai penulis yang disebutnya tak berkontribusi apapun pada anggaran rumah tangga.

Dini bahkan tak pernah tahu berapa gaji Yves. Selama bertahun-tahun, dia hanya menerima uang belanja bulanan sebesar 50 francs, sepertiga uang saku Lintang yang saat itu siswi SMP. Bahkan untuk pulang ke Indonesia menengok ibunya yang sakit pun Yves tak mengizinkan. Tak memberi uang, lebih tepatnya.

IMG_0109
“Dari Parangakik ke Kampuchea” terbitan Gramedia Pustaka Utama. (Foto: Silvia Galikano)

Tabiat yang tak pernah bisa dikira, ditambah dengan perselingkuhan suaminya dengan perempuan lain membuat Dini tak lagi punya kedekatan batin dengan Yves.

Di tengah kekeringan hati inilah dia berkenalan Maurice, kapten kapal yang dikenalnya dalam perjalanan laut selama dua pekan dari Marseille ke Saigon berdua Lintang di masa prasekolah. Maurice juga sedang bermasalah dengan rumah tangganya. Cerita ini termuat di Dari Parangakik ke Kampuchea (2003).

Maurice punya panggilan sayang “Ayou” (dari kata “ayu” atau cantik, bahasa Jawa) ke Dini, dan Dini memanggil kaptennya itu “Bagus” (tampan). Perkenalan yang dilanjutkan dengan pertemuan-pertemuan rahasia mereka, jadi penguat Dini melangkahkan satu kaki di depan kaki lainnya.

Mudah kita simpulkan, penggalan kisah hidup inilah yang jadi inspirasi utama novel Pada Sebuah Kapal.

Mulai tahun keempat pernikahan Dini dan Yves, hubungan mereka tak lebih dari hubungan perkongsian, agar Yves tak jatuh namanya sebagai konsul dan Dini dapat leluasa bepergian ke luar kota dan luar negeri, termasuk menjenguk ibunya.

Sementara itu, Maurice juga merancang masa depan bersama Dini. Permohonan sudah diajukan ke kantor tempatnya bekerja agar bisa bekerja di darat.

Sebegitu keuangan mapan karena sebelumnya terkuras akibat mengurus perceraian, Maurice akan memboyong Dini dan anak-anak untuk tinggal bersamanya. Namun rencana itu tinggal rencana.

Maurice mengalami kecelakaan lalu lintas dan meninggal sebulan kemudian (Argenteuil: Hidup Memisahkan Diri, 2008). Kakak Maurice, Angèle, sempat mengundang Dini menginap di rumah masa kecil mereka dan selama beberapa hari tidur di kamar Maurice.

Sejak itu, Dini “menamatkan” lembar asmaranya dan meyakinkan diri Maurice adalah pelabuhan terakhir, pelabuhan tenang dan kokoh tempat kapalnya sandar hingga nanti.

Bersambung ke Istilah Jawa jadi Ciri Karya Dini

***
Dimuat di CNNIndonesia.com, 27 Februari 2016

7 Comments

  1. Kereeennn…Mbaaa…jadi semakin suka aku dengan karya beliau. Belum sebanyak Mba punya buku sih…hehe

  2. karya nh. dini memang bagus terutama 5 seri cerita kenangan yg pertama, makasih ulasannya,

  3. ulasannya cukup bagus, sayang saya belum punya yg seri dongeng galia, semoga ada menerbitkan ulang.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s