Nh Dini tentang Nh Dini

Tulisan ke-5 dari 80 Tahun Nh Dini setelah Istilah Jawa jadi Ciri Karya Dini

Oleh Silvia Galikano

Catatan redaksi:

Tulisan berikut kami jumpai dalam map dokumen Nh Dini di Pusat Dokumentasi Sastra HB Jassin, Jakarta, ditulis menggunakan mesin tik.

Tak tercantum kapan dibuat. Namun dari penggunaan ejaan, yakni ejaan Soewandi, dan dituliskan Pada Sebuah Kapal belum terbit, serta penggunaan kata ganti orang pertama “saya”, disimpulkan bahwa tulisan ini dibuat sendiri oleh Nh Dini sebelum tahun 1972.

Tulisan tersebut kemudian disalin seperti aslinya, kecuali mengubah ejaan jadi ejaan yang disempurnakan. Penulisan Hati jang Damai dipertahankan, mengikuti penulisan novel aslinya.

 ***

tuileries
Nh Dini.

Riwayat Hidup Nh Dini

Nama lengkap: Nurhayati Sri Hardini

Lahir di: Semarang, tanggal 29 Februari 1939.

Pendidikan: Sekolah Dasar, Sekolah Menengah Pertama, Sekolah Menengah Atas.

Tahun 1956 lulus SMA, bekerja di Garuda Indonesia Airways (GIA) Kemayoran sambil mengikuti kuliah B-1 Sejarah, dan Bahasa Prancis yang diadakan oleh Atase Kebudayaan Kedutaan Prancis di Jakarta.

 

Lapangan seni dan sastra

Umur 9 tahun mulai menulis syair atau sajak yang ditujukan kepada kakak saya. Sedikit demi sedikit tujuan menjadi lebih luas mengenai keadaan sekeliling di rumah serta di lingkungan pergaulan.

ortu dini
Kusaminah & Salyowijoyo, orangtua Nh Dini. (Dok. Nh Dini)

Sekembali kakak saya dari daerah pedalaman, ayah saya menunjukkan sajak-sajak tersebut kepada kakak saya serta saudara-saudara dan keluarga yang lain.

Baru pada waktu itulah saya menginsyafi kesanggupan saya dalam kesusastraan. Semula saya kira membuat sajak atau prosa berirama adalah pelajaran yang dapat dikerjakan oleh siapapun.

Selama Clash II, saya tidak ke sekolah, ayah saya meminjamkan buku-bukunya yang dikiranya dapat menolong dalam perkembangan bakat saya.

Dan pada waktu itulah saya membaca kumpulan hasil karya Rabindranath Tagore, di antaranya yang hingga sekarang mengesan pada diri saya adalah Surat dari Raja, buku-buku terbitan Balai Pustaka karya pengarang-pengarang kita seperti Suman Hs, Marah Rusli, Selasih, Amir Hamzah, bahkan kemudian pengarang-pengarang lain yang muncul pada zaman mendekati pendudukan Jepang.

Majalah Siasat yang lebar dan berhuruf besar-besar juga telah menjadi bacaan saya. Ayah saya juga meminjamkan majalah daerah Panjebar Semangat yang menguatkan dasar pengetahuan saya mengenai hal-hal ke-Jawa-an.

Dia juga menganjurkan saya untuk belajar menari dan memukul gamelan serta menyanyi tembang. Kesemuanya itu hingga sekarang merupakan dasar kekayaan pendidikan yang dengan terus terang saya merasa bangga olehnya pada waktu-waktu berhadapan dengan orang asing dari negeri lain.

Di Sekolah Menengah Pertama saya semakin mengerti akan kesanggupan saya buat menulis dengan dibacanya karangan saya sebagai contoh terbaik oleh guru bahasa. Saya juga mulai mengisi majalah dinding di sekolah.

Naik kelas 3, dengan tiada ragu-ragu saya memilih bagian sastra. Waktu itu ayah saya sudah meninggal (dia meninggal beberapa waktu sebelum saya menempuh ujian penghabisan Sekolah Dasar untuk masuk ke SMP). Ibu saya dengan bijaksana mengusulkan saya untuk memilih sendiri bagian yang sesuai dengan bakat saya.

Di kelas 3 SMP saya mulai mempunyai perkumpulan penggemar seni bersama kawan-kawan sekolah lain dan kakak saya sendiri, Teguh Asmar. Dengan mereka kami membentuk “Kuncup Sari” yang pada hakekatnya adalah nama yang kami pakai pada siaran-siaran sandiwara radio.

Berdua dengan kakak saya, saya mulai menulis cerita-cerita sandiwara atau mengadaptasi cerita-cerita lain ke dalam bentuk sandiwara radio tanpa melupakan nama pengarang aslinya. Kakak saya juga mulai mengisi siaran-siaran kebudayaan lain, yang kadang-kadang membutuhkan bantuan kumpulan kawan-kawan kami Kuncup Sari.

Pada waktu masuk Sekolah Menengah Atas saya mulai menulis cerpen. Yang pertama-tama saya kirimkan ke Kisah adalah “Pendurhakaan” yang dimuat dengan diubah oleh Sdr. HB Jassin. Cerpen ke-dua “Membenari Jalan Sendiri” tidak pernah dimengerti oleh pembaca.

Sementara itu kakak saya, Teguh Asmar, pindah ke kota lain dan Kuncup Sari diserahkan kepada kami, Bambang Malana, Sutarma, Roostiati, Winarti, dan saya sendiri. Kami tetap menghidupi kumpulan itu dengan sebaik-baiknya.

Lalu naik ke kelas 3, saya menjadi ketua Bagian Kesenian di sekolah. Saya mulai mengumpulkan beberapa kawan untuk membentuk sebuah kumpulan drama SMA Sastra Semarang dengan nama “Pura Bakti”. Dengan sendirinya Kuncup Sari dan Pura Bakti berjalan berdampingan.

Koleksi PDS HB Jassin (3)
“Dua Dunia” terbitan N.V. Nusantara. (Foto: Silvia Galikano)

Kuncup Sari terdiri dari penggemar seni dari segala sudut dan sekolah. Sedangkan Pura Bakti adalah melulu dari SMA Sastra. Sekali dalam suatu perlombaan siaran di RRI, cerita saya mendapat hadiah pertama sebagai cerita sandiwara terbaik di antara Yogya-Solo-Semarang.

Hadiahnya yang berupa sebuah patung dari Jepara, kasar buatannya, saya kembalikan kepada panitia siaran Tritunggal. Saya akan lebih menghargai kertas tanda ijazah hadiah tersebut daripada sebuah patung yang kasar buatannya. Tetapi RRI Semarang tidak mau memberi surat tanda Hadiah I, melainkan mengganti hadiah dengan sebuah piala dengan tulisan “Kota” (nama cerita yang mendapat hadiah).

Lulus dari SMA Sastra saja mengikuti kursus pramugari di Jakarta. Sayang saya juga ingin mengikuti kursus B-1, Sejarah, serta satu dari bahasa-bahasa asing. Saya kemudian menjadi pramugari darat dengan tanda kesanggupan kesehatan serta kepandaian untuk sewaktu-waktu melakukan tugas di udara.

Dengan susah payah saya membagi waktu antara tugas mencari uang dan kursus buat menambah pengetahuan (catatan kaki: pramugari-pramugari darat/udara yang lama adalah bekas-bekas pramugari KLM yang ke-Belanda-Belanda-an yang tidak suka kepada orang-orang seperti saya yang mau bekerja sambil sekolah).

Koleksi PDS HB Jassin (4)
“Hati jang Damai” terbitan NV Nusantara. (Foto: Silvia Galikano)

Tetapi kawan-kawan yang saya temukan di GIA kemudian berangsur berganti angkatan sebaya dengan saya, hal yang memudahkan tanggapan serta pergaulan kami. Kenalan saya bertambah, persoalan kehidupan yang beragam semakin mengayakan perbendaharaan saya.

Dengan sendirinya kami para pramugari banyak keluar dengan penerbang-penerbang Angkatan Udara. Di antara mereka saya lebih merasa kerasan daripada bersama kawan-kawan yang lain. Dari sinilah kemudian saya menulis Hati jang Damai, juga sebuah kenangan mesra untuk dunia penerbangan, lebih-lebih lagi penerbangan kemiliteran.

Buku kumpulan (cerpen, red.) saya Dua Dunia diterbitkan oleh NV Nusantara. Pada waktu itu Motinggo Boesje yang mengusahakannya. Sedangkan Hati jang Damai saya berikan kepada Sdr HB Jassin, yang kemudian dibuat bersambung dalam Mimbar Indonesia.

Tahun 1960 saya meninggalkan Indonesia ke Kobe, Jepang, untuk kawin dengan seorang diplomat Prancis, Yves Coffin, yang saya kenal di Jakarta pada tahun 1956.

Kabar perkawinan Dini
Guntingan koran iklan pengumuman perkawinan Nh Dini dan Yves Coffin. (Dok. PDS HB Jassin)

Saya sedang dalam surat-menyurat dengan Ajip Rosidi yang meminta persetujuan saya untuk penerbitan Hati jang Damai ketika saya menerima surat dari Motinggo Boesje yang isinya mengatakan bahwa buku saya Hati jang Damai sudah selesai dan akan keluar dalam beberapa hari.

Dengan terus terang saya mengutarakan ketidaksenangan hati saya mengenai kelancangan tersebut. Bersama suami saya, saya mempelajari serta menghubungi kawan-kawan yang mengerti undang-undang penerbitan. Suami saya mengusulkan untuk menjadikan perkara.

Pada kesempatan berikut saya dapat kembali ke Indonesia untuk menyelesaikan hal Hati jang Damai. Saya memutuskan untuk membiarkan penerbit Nusantara dengan kelancangannya dan menandatangani kontrak dan menerima honorarium yang tidak besar.

Saya sejak waktu itu tidak lagi merasa berkenalan dengan Motinggo Boesje ataupun orang-orang dari penerbit tersebut. Saya ada rencana untuk mengubah serta menambah Hati jang Damai dan mengusahakan penerbitannya pada penerbit yang lain, yang tertarik akan hasil karya saya.

Waktu ini sudah saya selesaikan Pada Sebuah Kapal dan kumpulan cerpen Segi-segi Bersentuhan. Sedang dalam pengerjaan adalah La Barka, cerita panjang seperti juga halnya dengan Pada Sebuah Kapal.

Saya juga tertarik akan pengerjaan tulisan-tulisan dalam bahasa Inggris mengenai dongeng-dongeng dan cerita-cerita rakyat dari Indonesia. Tetapi kewajiban saya sebagai seorang istri dan ibu rumah tangga tidak memberi keluarga waktu buat diri saya sendiri.

Bersambung ke Mbak Dini yang Saya Kenal

***
Dimuat di CNNIndonesia.com, 27 Februari 2016

2 Comments

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s