Dini, Sepupu yang Keras Hati

Tulisan ke-7 dari 80 Tahun Nh Dini setelah Mbak Dini yang Saya Kenal

Oleh Silvia Galikano

Dalam seri Cerita Kenangan, berkali-kali Nh Dini menuliskan kedekatan keluarganya dengan Iman Sudjahri, adik sang ibu. Kedekatan itu mengakrabkan dua anak Iman Sudjahri, Edi Sedyawati dan Asti, dengan Dini.

Iman Sudjahri pula yang banyak membantu keuangan keluarga ketika ayah Dini berhenti bekerja tanpa uang pensiun dari PJKA, yang memaksa ibu Dini jadi buruh batik dan menyewakan kamar untuk anak kost.

Edi dan Asti mengapit ayahnya, Iman Sudjahri
Edi (kiri) dan Asti mengapit ayahnya, Iman Sudjahri. (Dok. Edi Sedyawati)

Iman Sudjahri memiliki kelonggaran secara ekonomi dibanding saudara-saudaranya. Dia walikota Semarang pada masa pendudukan Jepang.

Sewaktu ibukota berpindah ke Yogyakarta (1947-1949), Iman Sudjahri jadi pejabat Kementerian Dalam Negeri. Ketika ibukota Republik Indonesia Serikat (RIS) di Jakarta, dia menjabat Sekjen Kementerian Sosial.

“Tempat tinggal kami dekat. Mbak Puk di Sekayu, saya di Pendrikan. Jaraknya kira-kira 1 kilometer, dulu biasa jalan kaki saja,” kata Edi Sedyawati, 78 tahun, saat ditemui di kediamannya di Jalan Lembang, Menteng, Jakarta, dua pekan lalu.

Edi sering main dan menginap di Sekayu. Usia Dini yang hanya terpaut dua tahun lebih tua dari Edi, membuat keduanya bisa nyambung sebagai teman bermain. Seperti anak-anak pada masa itu, keduanya bermain pasaran, menggunakan daun dan kerikil.

ortu dini
Kusaminah & Salyowijoyo, orangtua Nh Dini. (Dok. Nh Dini)

Ada tempat bermain favorit Edi saat main ke rumah Dini, yakni kamar ibu Dini, yang dia panggil Bude Cilo (dari “Salyo”, nama ayah Dini, RM Salyowijoyo). Di kamar itu ada ranjang besi kuno yang besar dan tiga sisinya dibatasi tepian setinggi satu meter.

“Saya naik ke pinggiran tempat tidur, lalu ‘terbang’ turun ke kasur sambil membayangkan jadi Gatotkaca. Biasanya Bude Cilo teriak dari luar kamar, ‘Wah, iku kasurku jebol.’”

Bayangan tentang Gatotkaca didapat Edi dari seringnya dia dan Dini dibawa keluarga menonton pertunjukan wayang wong Ngesti Pandowo sejak kecil. Karenanya, meski belum belajar menari, Edi kecil yang baru berumur 5 tahun sudah ada keinginan mengekspresikan diri.

Dini, menurut Edi, juga suka menari, “Kami jogetan sakerepe (menari semaunya, red.), tapi saya lebih pencilakan (banyak gaya).”

Keduanya sempat lama tak bertemu pada zaman Jepang. Waktu itu, Edi bersama adiknya yang masih bayi dan ibu mengungsi ke rumah kawan ayahnya di Desa Puguh, dekat Kendal bersama keluarga-keluarga lain dari Pendrikan.

Bapak-bapak mereka tak diketahui keberadaannya. Konon sengaja menghilangkan diri. Mereka adalah para tokoh penggerak perlawanan nasional yang sedang dicari Jepang.

Tiga yang masih Edi ingat adalah Sudjono Djuned Pusponegoro, Sudjarwo,dan Kuntjoro. Sudjono Pusponegoro, yang belakangan jadi Menteri Urusan Research Nasional pada Kabinet Kerja III (1962), adalah teman sekelas ayahnya.

Menjauh dari ibukota jadi strategi melawan Jepang. Keluarga pun diungsikan dulu ke pedesaan dengan pertimbangan keamanan.

Demikianlah, pertemuan keduanya pada masa kecil praktis hanya ketika Edi main ke Sekayu atau Dini main ke Pendrikan. Mereka bersekolah di sekolah yang berbeda. Apalagi, begitu Indonesia merdeka, Iman Sudjahri dan keluarga tak lagi tinggal di Semarang.

dini dan asti
Dini dan Asti. (Dok. Edi Sedyawati)

Karenanya Edi tak mengikuti kegiatan Dini di bidang tulis menulis pada waktu SMP. Edi baru menyadari sepupunya ini punya bakat besar di bidang sastra adalah saat SMA, sewaktu keduanya rajin berkorespondensi.

Edi semakin yakin bahwa Dini sudah mengembangkan minat di bidang menulis sewaktu sepupunya itu mengikuti kursus pramugari di Jakarta, tahun 1960-an, dan tinggal bersama keluarganya di Jalan Jawa 73, Menteng, Jakarta. Rumah tersebut adalah rumah dinas Iman Sudjahri yang menjabat Sekjen Kementerian Sosial untuk kemudian diperbantukan ke Sekretariat Negara.

Saat tinggal di rumah ini Edi memperhatikan Dini sering menulis puisi, cerpen, dan dia menyukai cara sepupunya mendeskripsikan sesuatu, alam, atau orang-orang saat bergaul. Semangat kontroversialnya pun Edi tangkap. Dini memberontak terhadap kemapanan.

“Kok berani perempuan bercerita perkara perselingkuhannya sendiri. Dalam etika yang mapan, selingkuh tidak dibenarkan. Tapi itu memang jiwa dia, pemberontak. Walau di keseharian biasa saja, di karya tulis dia ungkapkan,” kata Edi.

Dalam masa tinggal di Jalan Jawa ini Dini berkawan dengan Superbo, laki-laki yang pandai main gitar. Superbo, yang tinggal di Jalan Sumbawa, Menteng, dulunya pernah satu sekolah dengan Dini di Semarang. Namun perkawanan itu tak banyak membekas di ingatan Edi, karena dia tak melihat ada yang istimewa di antara mereka.

nh dini dan padang
Dini dan Padang (kanan, berkacamata). (Dok. Edi Sedyawati)

Setelah Iman Sudjahri pensiun, keluarga ini pindah ke rumah pribadi yang sudah dicicil sejak beberapa tahun sebelumnya, di Jalan Lembang, Menteng. Ke rumah inilah Dini pernah membawa Yves Coffin dan dua anak mereka, Lintang dan Padang, menginap. Padang mendapat teman sebaya, anak ke-dua Edi, Bima Sinung yang sama-sama berusia 4 tahun.

“Yves hobi fotografi. Dia banyak mengambil foto candi. Dia juga bisa bahasa Indonesia,” kata Edi tentang Yves yang dahulu suami Dini.

Ketika keduanya bercerai, Dini mengabarkan Edi bahwa mereka “tidak cocok” tanpa menjelaskan lebih lanjut.

“Kami dekat tapi tak sampai mengungkapkan isi hati. Hal yang sangat pribadi biar buat diri sendiri. Tidak semua yang dirasakan harus diumbar. Jangan bebani orang lain dengan beban kita,” kata Edi.

Dini dan Edi tetap saling dukung hingga kini saat usia keduanya tak lagi muda. Edi memahami pilihan Dini untuk tinggal sendiri, sesuai dengan jiwanya yang mandiri dan keras hati untuk melakukan hal yang dianggap baik, antara lain dengan cara menulis.

“Pergaulannya dengan orang lain bagus. Dia punya kriteria nilai-nilai yang tetap ketimuran walau lama di Eropa, tidak berubah jadi sangat individualistis. Perhatiannya pada sesama masih hidup.”

Bersambung ke Lintang: Tawa Ibu Paling Saya Rindukan

***
Dimuat di CNNIndonesia, 28 Februari 2016

2 Comments

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s