Lintang: Tawa Ibu Paling Saya Rindukan

 

Tulisan ke-8 (habis) dari 80 Tahun Nh Dini setelah Dini, Sepupu yang Keras Hati

Oleh Silvia Galikano

Pembaca karya-karya Nh Dini mengenal dua anak Dini dengan nama Lintang dan Padang, dua anak lincah yang juga jadi teman diskusi sang ibu. Semasa kecil, keduanya ikut berpindah-pindah seturut kepindahan ayah mereka yang Diplomat Prancis, Yves Coffin.

Marie-Claire Lintang, 55 tahun, lahir saat keluarga ini bermukim di Kobe, Jepang, sedangkan Pierre-Louis Padang, 49 tahun, lahir sewaktu Yves dan Dini di Paris, Prancis.

Kini, Padang adalah sutradara terkenal Hollywood, lebih dikenal dengan nama Pierre Coffin. Sedangkan Lintang, penyandang gelar PhD di bidang komunikasi dan media dari Wayne State University di Detroit, AS, adalah guru di Conseil Scolaire Catholique Providence di Ontario, Kanada.

Baca juga Pertemuan yang Tertunda

Berikut tanya-jawab Marie-Claire Lintang Simonetti dan CNNIndonesia.com lewat surat elektronik:

Kompas 12 Agustus 1976
Lintang, Padang, dan Dini di Paris, Prancis. (Dok. Kompas, 12 Agustus 1976)

Anda pernah baca karya-karya ibu Anda?

Saya baca beberapa cerita pendek yang diterjemahkan ke dalam bahasa Prancis atau bahasa Inggris. Selain itu, ibu pernah menceritakan kisah Pada Sebuah Kapal, La Barka, dan Namaku Hiroko.

Anda paham bahasa Indonesia?

Cukup untuk bisa membaca menu di restoran dan menyapa orang dengan sopan.

Kapan pertama kali menyadari bahwa ibu punya nama besar di Indonesia

Saya menyadari bahwa ibu saya terkenal adalah sewaktu pertama kali saya menemaninya ke KBRI di Paris. Belakangan, saya senang pergi ke sana karena ada kafetaria di basement yang menyediakan masakan Indonesia yang lezat. Semua orang sepertinya kenal ibu saya.

Dalam bukunya, ibu menulis kesamaan karakter antara Anda dan ayah, yakni keras kepala. Anda setuju?

Yang pasti saya gigih, sisi positif dari keras kepala. Karena itulah saya berprofesi sebagai guru. Namun demikian, saya menyadari ada hal-hal yang tak dapat saya kendalikan, maka saya terima apa adanya.

Bali 2014 with Jessie, my husband and Gabriel
Lintang, Gabriel, Jessie Simonetti (baju putih), dan Dini di Bali, 2014. (Dok. Lintang)

Kapan terakhir kali Anda bertemu ibu?

Terakhir kali ibu dan saya bertemu pada Desember 2014. (Bersama) suami dan salah satu putra saya pergi ke Bali. Ibu bergabung bersama kami di sana.

Saya ingin putra-putra saya bertemu ibu, karena ibu sudah beberapa tahun tidak bertemu mereka. Sayangnya, putra bungsu saya ternyata harus kerja selama hari libur dan terpaksa membatalkan perjalanannya.

Pasti ibu senang kalau bisa bertemu mereka berdua, cucu-cucunya. Kini mereka sudah dewasa. Lain kali, jika semua memungkinkan.

Bagaimana Anda sekarang berkomunikasi dengan ibu?

Saya mengirim surat elektronik, bukan menelepon. Surat elektronik tampaknya lebih dapat diandalkan, dan saya yakin pesannya akan sampai kepadanya.

Lintang dan Nh Dini di Bali, 2014. (Dok. Lintang)
Lintang dan Dini di Bali, 2014. (Dok. Lintang)

Seberapa dekat Anda dan ibu saat Anda kecil dan remaja?

Ibu dan saya sangat dekat ketika saya kecil dan remaja. Tertawa adalah ikatan kami.

Apa yang paling Anda ingat saat ibu masih tinggal bersama Anda, adik, dan ayah?

Ingatan pertama saya kembali ke kehidupan kami di Phnom Penh. Ibu dan saya bermain dengan kucing kami. Kucing jantan ini suka sekali mencakar. Kami bermain, bersembunyi di bawah selimut, lalu si kucing akan menerkam.

Saya kegirangan, takut, sekaligus terkejut, rasanya seperti naik roller coaster. Ibu menikmati saat-saat itu juga.

Belakangan, ketika adik agak besar, orangtua saya sering mengajak pergi piknik di tepi sungai atau di hutan di Fontainebleau, Paris pada hari Minggu. Saat-saat yang indah, makan di udara terbuka, lalu menjelajahi alam.

Ibu selalu punya hidangan piknik yang lezat, seperti rice salad dengan beragam-ragam sayuran.

Sinar Harapan 24 Januari 1970
Dini, Padang, Lintang, dan Yves Coffin. (Dok. Sinar Harapan 24 Januari 1970)

 

Kapan pertama kali terpisah dari ibu?

Pertama kali yang saya ingat ditinggalkan bersama beberapa teman di Yogyakarta, mungkin saat itu saya berusia 3 atau 4 tahun. Seperti anak-anak pada umumnya, saya sedih, tapi tidak lama.

Apa yang paling Anda rindukan dari ibu?

Yang paling saya rindukan adalah tawanya. Dia dan saya, juga sepupunya, Asti, banyak tertawa ketika kami berkumpul sewaktu saya berkunjung ke Jakarta beberapa tahun lalu.

dini dan asti
Dini dan sepupunya, Asti. (Dok. Edi Sedyawati)

 

Pembaca karya Nh Dini mengenal nama anak-anak Nh Dini sebagai “Lintang” dan “Padang”. Namun sejak di bangku sekolah, Anda menggunakan “Claire” sebagai nama panggilan, dan adik Anda “Pierre”. Mengapa?

Alasan mengunakan nama Prancis adalah sederhana saja: untuk memudahkan. Saya tak perlu menjelaskan pada orang lain bagaimana pengucapan yang benar nama Indonesia saya itu. Saya kira alasan yang sama adik saya memilih nama Prancisnya.

Kami berdua (suami) berhati-hati memilih nama internasional, atau setidaknya bilingual, bagi anak-anak kami. Saya juga mempertimbangkan jika mungkin anak-anak ingin menyingkat nama mereka.

Bagaimana Anda menggambarkan ibu Anda dan apa ajarannya yang tetap tinggal di kepala Anda sampai sekarang?

Sebagai manusia, ibu saya kuat dan mandiri, sekaligus penuh kasih dan peduli.

Kedua orangtua saya sangat suka membaca. Kami dibesarkan bersama buku-buku. Akibatnya, adik dan saya juga banyak baca hingga kini.

Sebagai tambahan, ibu mengajarkan saya untuk menjadi pengamat orang. Terakhir, dia mengajarkan saya untuk makan makanan sehat dan bagaimana memasak. Pelajaran ini tak ternilai harganya.

Saya suka sekali soto. Berkat ibu, saya suka sayur-sayuran. Dia mengajarkan pentingnya makanan dalam kehidupan, dan bahwa kita adalah apa yang kita makan (you are what you eat).

summer of 1992 with Gabriel
Dini, Lintang, dan Gabriel, 1992. (Dok. Lintang)

 

Anda kini menyandang gelar PhD dan adik Anda seorang sutradara terkenal Hollywood. Apa peran ibu dalam keberhasilan kalian?

Adik saya sudah pasti mewarisi bakat seni luar biasa dari ibu. Ibu menulis, selain juga melukis.

Ibu menanamkan etika kerja keras pada kami. Dia membantu pekerjaan rumah saat kami masih kecil dan menekankan pentingnya belajar. Lalu terserah kami bagaimana menggunakan bekal luar biasa ini agar berhasil dalam hidup.

***

Catatan redaksi:

Marie-Claire Lintang Simonetti lahir di Kobe, Jepang, 16 Februari 1961. Pernah bekerja di kantor public relation selama beberapa tahun di Paris. Lalu jadi wartawan selama lebih dari 20 tahun di majalah perdagangan di Toronto dan harian The Windsor Star, keduanya di Kanada.

Bersamaan dengan itu, sebagai dosen tidak tetap selama 10 tahun di University of Windsor di Ontario, Kanada.

Mengubah arah karier 12 tahun lalu untuk jadi guru SMA. Lima tahun terakhir, menjadi instruktur yoga/pilates dan cycling. Menikah dengan Jessie Simonetti selama lebih dari 30 tahun. Keduanya memiliki dua putera, Gabriel, 24 tahun, dan Sébastien, 21 tahun.

Gabriel and Sébastien
Gabriel dan Sébastien. (Dok. Lintang)

***
Dimuat di CNNIndonesia.com, 27 Februari 2016

1 Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s