Mbak Dini yang Saya Kenal

Tulisan ke-6 dari 80 Tahun Nh Dini setelah Nh Dini tentang Nh Dini

Oleh Bondan Winarno*

Bahkan sebelum saya mengenal Nh. Dini secara langsung, saya selalu mendengar namanya disebut-sebut dengan penuh kekaguman. Sebetulnya, kami bertetangga. Semasa kecil hingga remaja, Mbak Dini tinggal di Gg. Sekayu, Semarang. Keluarga kami tinggal dalam radius 500 meter dari rumah masa lalu Mbak Dini. Kebetulan, kakaknya Mbak Dini adalah teman arisan ibu saya. Setiap pulang arisan, Ibu sering bercerita tentang Mbak Dini, pengarang terkenal yang bermukim di Paris.

Baca juga Sekayu Sekali Lagi

Sebagai seorang remaja, bayangan tentang seorang pengarang Indonesia yang tinggal di Paris adalah sesuatu yang bahkan tidak terjangkau dalam angan-angan. Pada waktu itu, setelah memenangi sayembara mengarang di majalah kanak-kanak Si Kuncung, saya memang telah mulai membangun cita-cita untuk kelak menjadi seorang pengarang. Tetapi, tinggal di Paris? Duh, jauh sekali jangkauan itu…..

Fast forward! Pada tahun 1984, saya sudah menjadi redaktur pelaksana Dwimingguan Mutiara, anak usaha Harian Sinar Harapan. Ketika mendengar bahwa Nh. Dini sedang berlibur di Jakarta, saya segera mengutus seorang wartawan perempuan untuk menemui dan mewawancarai pengarang tersohor itu.

Seminggu kemudian, dalam rapat redaksi, si wartawan yang saya tugasi melaporkan bahwa ia tidak berhasil menghubungi Nh. Dini.

“Sudah dua kali saya datangi alamatnya, dan sudah berkali-kali juga saya telepon. Pokoknya, sulit sekali,” katanya menjelaskan.

Saya senang menghadapi tantangan. Biarlah yang sulit ini saya kerjakan.

Esoknya, saya datang berkunjung ke Jl. Lembang, sebuah rumah asri di sisi Situ Lembang, di daerah Menteng. Di situlah Nh. Dini tinggal di rumah sepupunya. Singkat kata, pertemuan itu terjadi.

“Saya mohon maaf bila Bu Dini terganggu dengan komunikasi kami sebelumnya untuk mengatur waktu guna mewawancarai Ibu. Tetapi, seandainya Ibu berkenan, bolehkah kami diberi sedikit waktu? Mungkin sekitar dua jam?” begitu permohonan saya setelah memperkenalkan diri.

Nh. Dini memandangi saya. “Nanti siapa yang akan mewawancarai saya?” tanyanya langsung.

“Bila diizinkan, saya sendiri yang mewawancarai Ibu. Mungkin akan ditemani seorang jurupotret untuk mengambil gambar,” jawab saya.

Kembali ia memandangi saya. Lalu memberikan persetujuannya untuk diwawancarai pada hari yang ditentukannya. Ah, akhirnya saya dapatkan kesempatan itu.

Beberapa hari kemudian, saya datang lagi untuk mewawancarainya. Suasananya sudah berubah total. Di teras rumah bergaya masa lalu itu, saya dijamu teh dan kue-kue yang disajikan dengan penuh citarasa. Gaya Prancis, begitu pikir saya.

IMG_1329a
Dari “Pondok Baca: Kembali ke Semarang” (2011). (Foto: Silvia Galikano)

Ketika berpamitan pulang, tiba-tiba saya dikejutkan oleh pernyataannya. “Mulai sekarang, Anda tidak perlu menyebut saya Ibu. Panggil saya Mbak saja. Atau Yu Dini, seperti teman-teman dekat dan saudara memanggil saya,” katanya.

Saya mengangguk, menyalaminya, dan segera masuk ke mobil. Mbak Dini mungkin tidak pernah tahu bahwa ucapannya itu sangat dalam artinya bagi saya. Saya sampai tidak mampu berkata-kata untuk merespon ucapannya itu. Kok tiba-tiba saya dianggap teman – bahkan setara dengan saudara?

Persahabatan kami memang bermula dari pertemuan itu. Mbak Dini bukan hanya sekadar narasumber yang “selesai” setelah wawancara berakhir dan berita dipublikasikan. Hingga sekarang saya belum “sampai” memanggilnya Yu Dini. Terlalu sok akrab, begitu pikir saya. Karena itu saya tetap dan selalu memanggilnya dengan sebutan Mbak Dini. Sejak saya memanggilnya Mbak Dini, saya selalu dipanggil Dimas atau Bondan saja.

Harus saya akui, bahwa dalam “merawat” persahabatan dengan Mbak Dini, saya lebih bersikap melayani. Tetapi, memang itulah sikap saya terhadap semua orang yang lebih tua dan lebih tinggi stature-nya dibanding saya. Seberapapun jauhnya saya melangkah, saya tetap orang Jawa yang dibesarkan dengan nilai-nilai kebajikan seperti itu. Mbak Dini bukanlah satu-satunya orang yang saya “layani”. Banyak orang lain dalam hidup saya yang saya tempatkan pada kedudukan itu.

Saya setuju dengan pendapat banyak orang, bahwa Mbak Dini adalah pribadi yang sulit. Kenapa tidak? Boleh dong menjadi orang yang tidak gampangan? Saya pun dianggap orang yang sulit bagi banyak orang yang tidak mengenali saya.

Ini sekadar satu contoh. Satu hari saya berkunjung ke rumah Mbak Dini di Ngesrep, Ungaran. Karena lupa membeli keju kegemaran Mbak Dini di Jakarta, saya singgah ke Gelael di Candi dan membeli keju Gouda dan Edam sebagai buah tangan. Maklum, hanya itu keju artisanal yang ada. Tidak ada roquefort maupun brie.

“Lain kali, jangan belikan keju yang asin, ya, Dimas? Sudah beberapa lama ini saya mengurangi garam karena tekanan darah saya tidak beraturan,” katanya setelah mengucapkan terima kasih.

Duh, barangkali inilah contoh yang oleh orang lain dipakai untuk menunjukkan “sulit”-nya Nh. Dini. Bagi saya, justru saya anggap wajar – bahkan penting – bila saya diberi tahu bahwa ada perubahan dalam dirinya yang membuat saya pun harus menyesuaikan diri.

Mbak Dini juga membawa persahabatan kami menjangkau anak-anaknya. Ketika Lintang, putrinya, berlibur ke Indonesia, saya ikut mengantarnya ke beberapa tempat. Sebaliknya, ketika saya berada di Detroit, Lintang menyeberangi tapal batas negara untuk menraktir saya minum. Begitu juga ketika Padang, putranya, berkunjung ke Jakarta bersama pacarnya (ketika itu!), Mbak Dini pun memperkenalkannya kepada saya.

Sejak tahun lalu saya tinggal di Bali. Jauh dari tempat tinggal Mbak Dini. Saya pun sudah jarang bepergian, sehingga tidak dapat sering bertemu dengan Mbak Dini. Kami hanya saling mendoakan dari jauh. Selamat ulang tahun, Mbak Dini. Semoga damai bahagia.

Bersambung ke Dini, Sepupu yang Keras Hati

***
Dimuat di CNNIndonesia, 27 Februari 2016

* Bondan Winarno adalah seorang penulis dan mantan wartawan investigatif. Sekarang bermukim di Ubud, Bali.

2 Comments

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s