Roemah Eyang Heritage House

 

Oleh Silvia Galikano

 

Roemah Eyang Heritage House di Jalan Kemetiran Kidul GT II no 726, Yogyakarta.
Jaraknya 200 meter dari Jalan Malioboro. Bolehlah naik becak dari/ke Malioboro biar kaffah merasakan suasana Jogja.

Penginapan ini bukan hanya “bernuansa” tempo doeloe, melainkan sebenar-benarnya rumah eyang yang tidak lagi ditempati anak-cucunya.

 

 

Menurut keterangan yang ditempel di dinding luar kamar, rumah ini dibangun pada 1907 oleh eyang buyut RM Kromodirdjo, kemudian direnovasi eyang R Prodjomartono pada 1957.

Dikembalikan lagi ke bentuk aslinya pada 2005 untuk difungsikan sebagai rumah tamu setahun kemudian.

Ibu Marcella, pengelola Roemah Eyang, adalah keturunan dua eyang tersebut.

Roemah Eyang memiliki 14 kamar yang dibagi menjadi tiga bagian, yakni Pendopo, Gedong Kiwo, dan Pringgonkusuman.

Pendopo hanya ada dua kamar, saling berhadapan. Di belakang Pendopo, yang dibatasi kolam ikan, berderet kamar Pringgonkusuman. Sedangkan Gedong Kiwo ada deret kiri begitu kita memasuki halaman Roemah Eyang.

 

 

Karena hanya Pendopo yang bangunan lama, saya memilih menginap di sini.

Roemah Eyang tak menyediakan sarapan. Tapi tiap jam 6 pagi, ada satu pedagang makanan yang masuk meneriakkan dagangannya: nasi goreng hangat dan kue-kue. Ih, Jogja banget. Kirain “alarm” ini cuma dirasakan waktu nginep di losmen di Jalan Sosrowijayan.

 

Kamar di hadapan saya dihuni sepasang senior, mungkin berusia 60-an, dari Suriname. Mereka berbahasa Jawa kepada karyawan hotel, sedangkan jika bicara berdua dalam bahasa Belanda.

Bahasa Jawanya ngoko Jawa Timuran, bukan Suroboyoan. Jomplang banget dibanding bahasa Jawa-Jogja yang halus. Itu sebabnya saya sempat mendelik sewaktu seorang karyawan, yang notabene masih muda, menyapa si Opa dalam bahasa yang sama kasarnya, “Tekan ngendhi, Pakde?”

Buset!!! Ngga sopan!

Ketika saya tanya, apakah bisa bahasa Indonesia? Si Opa menjawab, “Tidak. Saya orang Belanda toch?”

 

Pasangan ini tinggal selama sebulan di Roemah Eyang. Ini kedatangan yang ke-dua kalinya. Sebelumnya malah tinggal di sini tiga bulan, kalau tak silap.

Sebelumnya lagi, mereka tinggal di hotel Ibis. Tapi karena tak merasakan atmosfer Jogja di dalam bangunan kaca dan sikap “seragam” karyawannya, mereka minta dicarikan guest house yang tidak benar-benar guest house. Antara guest house dan hotel. Diantarlah ke sini. Dan ternyata betah.

Mungkin mereka dapat merasakan kehangatan sebuah keluarga besar di sini, serasa pulang ke rumah eyang. Karyawan seperti teman atau seperti sepupu. Mereka pun leluasa meminjam kipas angin untuk diletakkan di teras kamar untuk berangin-angin sambil membuka tablet, melihat foto-foto liburan di Jogja.

PhotoGrid_1458898391542
Sepeda sewaan diparkir bebas saja di depan bangunan. Seperti umumnya orang Belanda, keduanya hobi keliling kota naik sepeda.

Seorang perempuan muda yang mereka kenal sewaktu di Ibis selalu datang tiap kali keduanya ada di Jogja. Perempuan ini memanggil keduanya “mbah”. Selain mendapat “cucu”, simbah mendapat pemandu mumpuni tentang Jogja.

Video ada di: https://www.youtube.com/watch?v=NdJoSNUh2iE

***

Dari perjalanan ke Yogyakarta, 12-13 Maret 2016.

8 Comments

  1. Benar, tempat ini sangat menyenangkan, saya beberapa kali mengajak kakek nenek menginap di sini, mereka juga sangat suka karena atmosfer Jogja banget, dulu ada 2 tukang becak yang selalu ada di situ,siap mengantar keliling kota dengan ramah. 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s