Alasan di Balik Bata Telanjang Gedung OLVEH

IMG_9393
Dinding bagian dalam gedung OLVEH dibiarkan telanjang tanpa plester. (Dok. JOTRC)

Tulisan ke-enam (habis) setelah OLVEH dan Jeniusnya Schoemaker dalam rangkaian tulisan Kota Tua Jakarta Jelang Diakui Dunia.

Oleh Silvia Galikano

Hal utama yang menarik perhatian begitu memasuki Gedung OLVEH adalah dinding dalamnya yang dibiarkan telanjang tanpa plester. Padahal bangunan aslinya berplester.

Gedung Onderlinge Levensverzekering Maatschappij Eigen Hulp (OLVEH) di Jalan Jembatan Batu no. 50 Pinangsia, Jakarta Barat didirikan pada 1921. Gedung yang setelah dinasionalisasi jadi milik perusahaan asuransi Jiwasraya ini selama bertahun-tahun terbengkalai ditinggalkan.

OLVEH sebelum revitalisasi
Gedung OLVEH sebelum dikonservasi. (Dok. JOTRC)

Cat dindingnya kusam, terkelupas, bahkan ditumbuhi lumut.  Atap dan kubah menara bocor. Dinding sisi timur terkena limpahan air hujan bangunan di sebelahnya yang berjarak sekitar 10 cm.

Jakarta Old Town Revitalization Corporation (JOTRC) dan Jakarta Endowment for Arts and Heritage (JEFORAH)  kemudian mengkonservasi gedung tersebut sejak akhir 2014. Peresmian rampungnya konservasi diadakan pada 17 Maret 2016 oleh Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti.

Arsitek yang mengkonservasi Gedung OLVEH, Boy Bhirawa, menjelaskan kepada CNNIndonesia.com usai diskusi Tourism Development Plan di Gedung OLVEH, akhir Maret lalu. Sesuai proses konservasi, dinding bangunan dirontokkan terlebih dahulu karena sudah rapuh. Walau tampaknya menempel, sekali ketuk saja, biasanya dinding akan rontok.

Setelah bata telanjang, dilakukan studi plester guna mencari campuran plester yang paling tepat, yang bisa menjiwai bata.

“Tak bisa menggunakan semen yang ada sekarang, selain tidak bernapas, juga akan copot,” ujar Boy.

IMG_5281
Proses konservasi. (Dok. JOTRC)

Agar bisa bernapas, lanjutnya, campurannya adalah pasir silika, kapur yang dominan, dan sedikit sekali (15 persen) semen. Kapur bersifat mengikat. Walau rapuh, tapi renggang, sehingga dinding bisa bernapas. Karena bisa bernapas, umurnya lebih panjang karena kelembapan tidak terjebak di dalam.

Akan tetapi cerita jadi lain ketika dipraktikkan. Ternyata harga semen mahal sekali.  Akhirnya pendekatan estetis diambil, yakni dengan membiarkan dinding telanjang.

Untuk “membuktikan” bahwa yang diambil adalah pendekatan estetis, bukan karena tidak punya uang untuk membuat plester, Boy menutup bagian lain, seperti pilar, dengan plester yang sempurna. Sedangkan dinding bagian luar diplester seluruhnya karena kena debu, sinar matahari, dan hujan secara langsung.

“Kita punya uang dan bisa bikin bagus, tapi kita ingin dianggap bahwa ini penundaan, atau estetika untuk memberi karakter. Pada akhirnya bisa saja nanti diplester karena plester juga untuk melindungi bata,” ujar Boy.

IMG_1349
Bata impor, ditandai merek yang menonjol (embos). (Foto: Silvia Galikano)

Saat merontokkan plester itulah ditemukan tiga merek bata yang digunakan. Ketiganya impor, ditandai merek yang menonjol ke luar (embos), di antaranya CK 8 co. Saat itu, penulisan merk bata lokal menjorok ke dalam.

Belum diketahui bata-bata berukuran tebal 8 sentimeter tersebut diimpor dari mana. Bisa saja dari Belanda atau India atau dari Tiongkok karena teknologi pembakaran di Tiongkok sangat bagus. Bata ini dibakar dengan derajat pembakaran yang tinggi sehingga hasilnya keras seperti tembikar, lebih keras dari bata sekarang.

Yang menarik, lanjut Boy, arsitek perancang gedung ini, Schoemaker, mengulang bentuk ionik, gelung di kiri dan kanan pilar seperti lazim di kolom Yunani, tapi diterjemahkan seperti huruf M secara geometrik, menjadi kotak-kotak. Gaya yang sama dia gunakan juga di Gedung Merdeka, Bandung.

IMG_9354
Lantai dasar Gedung Olveh 92 cm di bawah permukaan jalan. (Dok. JOTRC)

Kondisi bangunan yang lebih rendah sekitar 92 sentimeter dari permukaan jalan akibat proyek peninggian jalan yang berlapis-lapis dari tahun ke tahun, mengharuskan tim konservasi membuat penyesuaian jalan masuk. Itu sebabnya ada empat anak tangga turun sebelum memasuki pintu gedung.

Parit untuk sistem pembuangan pun dibuat di sekeliling bangunan sehingga air hujan mengalir ke parit, lalu akan disedot lagi dengan pompa untuk dibuang ke saluran kota. Sistem ini diharapkan dapat mencegah gedung terendam banjir.

***
Dimuat di CNNIndonesia.com, 4 April 2016

1 Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s