Kota Tua sebagai Sebuah Ruang

IMG_1483
Kedai Seni Djakarte. (Foto: Silvia Galikano)

Tulisan ke-dua setelah Menghidupkan Kembali Kota Tua dalam seri Kota Tua Jakarta Jelang Diakui Dunia.

 

Oleh Silvia Galikano

Bangkit kembalinya Kota Tua sebagai kawasan juga membangkitkan kehidupan sosial budaya yang selama ini sempat tertidur lama. Perubahan signifikan tampak dalam beberapa tahun terakhir seiring makin besarnya perhatian masyarakat terhadap tempat bersejarah ini.

Dua bangunan yang sebelumnya mengenaskan, diubah jadi kedai makan, yakni Historia Food and Bar serta Kedai Seni Djakarte yang berdiri bersisian di samping Museum Sejarah Jakarta. UNESCO pun kemudian turun tangan bersama arsitek konservasi Ir. Arya Abieta mengkonservasi lantai atas keduanya, termasuk atap, dari Agustus 2015 hingga Februari 2016.

100_1740
Bangunan yang sekarang jadi Kedai Seni Djakarte, kondisi tahun 2008. (Foto: Silvia Galikano)

Saat itulah ditemui ternyata kuda-kuda besi penyokong atap banyak yang hilang dan kuda-kuda kayunya rusak. Atap dua bangunan ini sebelumnya bisa rubuh kapan saja.

Atap kanopinya sudah lapuk karena berfungsi juga sebagai talang. Railing tangga yang berbahan kuningan juga sudah lenyap sehingga diganti railing kayu.

Kamis (31/3) lalu, dilakukan peresmian rampungnya konservasi UNESCO, bertempat di Historia Food and Bar.

Dirjen Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Hilmar Farid yang hadir pada malam itu menyampaikan bahwa kawasan ini sebenarnya luar biasa tapi potensinya belum bisa diidentifikasi secara penuh.

“Kebanyakan studi dibuat di dalam ruang, armchairs studies. Sementara kita punya pengalaman konkrit berinteraksi dengan sebuah kawasan berikut isinya: pelukis pointilisme, penjual kopi, pencopet, penjual makanan. Kita dapat pengalaman yang cukup lengkap di sebuah kawasan, sebuah lanskap,” ujar Hilmar.

IMG_1476
Historia Food and Bar. (Foto: Silvia Galikano)

Pelestarian cagar budaya, lanjut Hilmar, bukan cuma memperhatikan bangunan fisik, tapi juga ruang  tempat bangunan itu. Ruang sosial inilah yang jadi perhatian karena di sana ada manusia yang hidup, berinteraksi dengan fisik bangunan.

Pendekatan konkrit seperti ini, menurutnya, yang lebih kena ketimbang rencana yang dibuat berdasar studi yang kaku. Terlebih lagi, proyek-proyek demikian kebanyakan kandas di tengah jalan karena butuh energi yang jauh besar dari yang dimiliki.

“Saya sering ke Kota Tua pada akhir pekan. Dulu lebih sering daripada sekarang karena dulu lebih santai. Naik kereta sampai mentok di Jakarta Kota, lalu jalan kaki ke sini,” ujar Hilmar.

“Kalau akhir pekan, orang dari Bogor, Citayam, Depok berakhir pekannya di sini. Jadi Kota Tua bukan hanya milik Jakarta tapi juga Jabodetabek, juga pelancong luar kota dan luar negeri ke sini.”

Komunitas memberi banyak andil dalam hidupnya Kota Tua, seperti komunitas pencinta bangunan tua, komunitas pemerhati sejarah, komunitas fotografi, dan komunitas sketsa. Maka energi baik diharapkan lebih banyak datang dan menghidupkan tempat ini.

Gaya Neoklasik

Historia Food and Bar milik Tania Siregar asalnya adalah kantor perusahaan dagang Matschappij voor Uitvoer en Comisiehandel (MUCH). Gedung yang didesain arsitek Eduard Cuypers n Hulswit ini dibangun pada Mei 1914 dan rampung pada Februari 1915. Walau dibangun pada era modern, pengaruh Neo Klasik masihlah kuat.

historia @unesco
Kedai Seni Djakarte. (Foto: Silvia Galikano)

Kantor MUCH terdiri dari dua gedung yang dipisahkan sebuah courtyard (halaman tengah). Gedung utama menghadap Jalan Kali Besar Timur, dan dua lantai di belakang yang berukuran lebih kecil menghadap Jalan Pintu Besar Utara.

Berdimensi 16 meter x 18 meter, bangunan ini asalnya didesain sebagai gudang dan toko, sementara lantai atas untuk dua kantor berukuran kecil, masing-masing dengan kamar arsip. Bangunan belakangnya pernah dijadikan kantor N.V. Borneo Sumatra Handelmaatschappij (Borsumij).

Sekarang, Perusahaan Perdagangan Indonesia (Persero, PPI) adalah pemilik kompleks bangunan ex MUCH dan Borsumij. PPI menyewakan bangunan belakang, yang menghadap Jalan Pinu Besar Utara, ke Historia Food and Bar.

Perbaikan utama gedung ini adalah memperbaiki struktur atap dan dinding bata yang keropos agar kuat dan tahan lama melalui water-proofing (proses melapisi agar tahan air/antibocor).

kedai seni @unesco
Kedai Seni Djakarte. (Foto: Silvia Galikano)

Sedangkan Kedai Seni Djakarte milik Susi Ratnawati asalnya adalah kompleks bangunan kantor Batavia Zee en Brand Assurantie Mij. Gedungnya dibangun pada awal abad ke-20 oleh arsitek PAJ Moojen.

Fasad utamanya, yang terdiri dari tiga lantai menghadap Jalan Kali Besar, terpengaruh gaya Neo Klasik. Sementara bagian belakang yang terdiri dari dua lantai menghadap Jalan Pintu Besar, strukturnya lebih sederhana khas bangunan Eropa di kawasan itu.

Perbaikan utama bangunan ini adalah pada struktur atapnya yang kurang lebih senasib dengan atap Historia. Hal ini juga strategi meningkatkan keutuhan fasad bangunan dengan memperbaiki dan mengembalikan ke bentuk aslinya.

Batavia pada masanya adalah bagian dari jalur rempah, salah satu pusat berlangsungnya perdagangan. Di Kota Tua dapat dijumpai Jalan Lada dan Jalan Kopi yang dulu berisi gudang-gudang tempat hasil bumi disimpan sementara sebelum dikapalkan ke Eropa sana.

Menghidupkan lagi Kota Tua sama pentingnya dengan menghidupkan ingatan dan pengetahuan bahwa kita hidup di jalur rempah. Agar marwah Kota Tua kembali, bukan hanya sebagai pusat ekonomi, tapi juga pusat sosial budaya.

Bersambung ke Situs Warisan Dunia dan Antrean yang Panjang

***
Dimuat di CNNIndonesia.com, 2 April 2016

2 Comments

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s