Situs Warisan Dunia dan Antrean yang Panjang

IMG_1408
Gedung OLVEH (cat putih) di Jalan Jembatan Batu, Pinangsia, Jakarta Barat. (Foto: Silvia Galikano)

Tulisan ke-tiga setelah Kota Tua sebagai Sebuah Ruang dalam rangkaian tulisan Kota Tua Jakarta Jelang Diakui Dunia

 

Oleh Silvia Galikano

Dapat masuk dalam Daftar Warisan Dunia UNESCO 2017 adalah perkara pengakuan dunia terhadap Indonesia, Jakarta khususnya, mampu mengelola warisan budaya, Kota Tua Jakarta. Ke-dua, menambah signifikansi kawasan ini.

Dan kalau dunia memberi pengakuan bahwa ini signifikan dari sisi sejarah, misalnya, maka bertambah pula bobot kawasan ini untuk dikomunikasikan ke banyak pihak.

Hal tersebut disampaikan Dirjen Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Hilmar Farid saat peresmian rampungnya konservasi dua situs pilot project UNESCO di Historia Food and Bar, Jakarta, Kamis (31/3).  Dua situs itu adalah Historia Food and Bar serta Kedai Seni Djakarte di Jalan Pintu Besar Utara, Jakarta Barat.

Dirjen Kebudayaan Kemdikbud RI Hilmar Farid dan Cultural Unit Head UNESCO Bernard Allens Zako
Dirjen Kebudayaan Kemdikbud RI Hilmar Farid dan Cultural Unit Head UNESCO Bernard Allens Zako. (Foto: Silvia Galikano)

“Dengan masuk dalam Daftar Warisan Dunia UNESCO, tempat ini jadi dikenal, orang jadi banyak datang. Karena sudah dikenal luas, pemeliharaan jadi lebih mudah,” ujar Hilmar.

“Kalau dulu, orang ragu-ragu melestarikan karena tak ada keuntungannya. Setelah melihat ini, terlihat kan ada daya tarik. Itu yang paling konkrit.”

Kota Tua dan empat pulau luarnya (Onrust, Kelor, Cipir dan Bidadari) sudah masuk dalam Daftar Sementara (Tentative List) Situs Warisan Dunia UNESCO bersama 17 situs lain, di antaranya Kota Lama Semarang, Kota Tambang Batubara Sawahlunto, Permukiman Tradisional Nagari Sijunjung, dan Lanskap Sejarah dan Maritim Kepulauan Banda.

Nomination dossier, dokumen komprehensif pengajuan Kota Tua sebagai Situs Warisan Dunia, telah rampung dan dikirimkan pemerintah RI dan Jakarta Old Town Revitalization Corporation (JOTRC) ke World Heritage Committee UNESCO pada 25 September 2015. Di dalamnya memuat nilai Kota Tua sebagai situs historis berikut upaya pelestariannya ke depan.

Setiap tahun ada antrean panjang untuk dinominasikan sebagai Situs Warisan Dunia UNESCO.  Indonesia punya 900-an cagar budaya nasional, sementara yang diajukan untuk jadi Situs Warisan Dunia hanya satu situs per tahun.

Memilih satu dari 900-an cagar budaya itu butuh proses panjang melalui beragam kajian dan pembicaraan hingga menghasilkan satu keputusan. Bahan evaluasi pun mesti cukup dan kawasannya dapat dipelajari.

Pasalnya tak semua kawasan dapat dipelajari dengan baik. Beruntung Kota Tua Jakarta relatif lebih mudah karena pemiliknya diketahui dan bisa diajak bicara.

“Kota Lama Semarang, pemiliknya tidak diketahui, jadi tidak bisa dilacak. Jangankan pemanfaatan, pemugaran saja tidak bisa,” ujar Hilmar.

“Kondisi cagar budaya di Indonesia seperti itu, kesulitan mencari informasi mengenai cagar budaya itu sendiri. Apalagi kalau bicara tentang pendaftaran, panjang lagi ceritanya.”

Sumber dana untuk konservasi dan revitalisasi didapat dari banyak sumber, salah satunya Fund-in-Trust yang dananya dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan “dititipkan” ke UNESCO dan dikelola UNESCO. Selain itu, dana dari swasta dan dari luar negeri ada juga.

Tahun depan, Dirjen Kebudayaan akan mengajukan Kota Sawahlunto sebagai Situs Warisan Dunia. Sawahlunto yang digolongkan dalam warisan industri (industrial heritage), adalah pusat pertambangan batubara pada zaman Belanda.

“Hampir seluruhnya utuh dari zaman itu sampai sekarang. Kami akan fokus ke sana untuk menyiapkan pendaftarannya sebagai salah satu Warisan Dunia UNESCO,” kata Hilmar.

Persiapan berupa riset dan kelengkapan informasi sudah mulai dari tahun 2015. “Karena tuntutan UNESCO juga sangat tinggi untuk bisa ditetapkan sebagai warisan dunia,” ujar Hilmar.

“Mereka menuntut informasi yang jelas kenapa itu signifikan bagi dunia, bukan hanya bagi Indonesia dan Sumatera Barat.”

Analisis risiko pun dilakukan untuk mengetahui, kalau jadi ditetapkan, akan utuhkah? Jangan sampai setelah ditetapkan, tak ada sisanya lagi.

Bersambung ke Dari Data, Bicara Sejarah

***
Dimuat di CNNIndonesia.com, 2 April 2016

1 Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s