Daroessalam, Rumah Gula di Pasuruan

Rumah Daroessalam Pasuruan

Oleh Silvia Galikano

Berdiri di Jalan Raya Soekarno-Hatta, Pasuruan, berseberangan dengan SMAN 1 Pasuruan, rumah ini tak menonjol jika dilihat dari jalan. Harus melangkah masuk ke halaman untuk mengamati detail keindahannya.

Pasuruan adalah kota di ujung timur Pulau Jawa, berjarak 60 kilometer selatan Surabaya, berbatasan dengan Selat Madura.

Gaya arsitektur rumah ini menggabungkan elemen-elemen Indische dan Tionghoa. 

Ada langit-langit tinggi, teras luas disangga pilar, pergola ditutup tanaman rambat, koridor sepanjang rusuk rumah, pintu dan jendela besar, marmer dan ubin yang indah, langit-langit dari metal embos, serta ruang dalam yang luas dan saling terhubung.

Ciri khas Tionghoa tampak dari struktur atap pelana. Permukaannya segitiga dan trapesium dengan sudut kemiringan tajam. Dilihat dari halaman samping, tampak bahwa tinggi atapnya dua kali tinggi dinding.

Di ruang dalam terdapat altar sembahyang leluhur dari batu berukir cantik. Sebuah fakta unik mengingat rumah ini telah beberapa dekade dimiliki keluarga Arab-Yaman.

Baca juga Cerita Gemilang Industri Gula Pasuruan

Rumah ini didirikan Kwee Sik Poo (1847-1930), pengusaha gula pada awal abad ke-20 dan pernah jadi Mayor Tionghoa Pasuruan. Dia hidup sezaman dengan sang raja gula Asia Tenggara, Oei Tiong Ham (1866-1924).Di tengah jayanya, keluarga Kwee membangun banyak rumah megah di Pasuruan, dan beberapa masih berdiri hingga kini.

Ronald G. Knapp dalam buku Chinese Houses of Southeast Asia (2010) menyebut sejarah perkembangan Pasuruan bukan hanya gabungan petani Jawa dan Madura dengan kolonial Belanda, melainkan juga Peranakan Tionghoa dan muslim Hadramaut (sekarang Yaman) dari Semenanjung Arab.

Pelabuhan Pasuruan sejak abad ke-16 disinggahi pedagang asal Tiongkok dan Arab yang kemudian banyak yang menikahi perempuan setempat.

Dalam buku yang diedit Claudine Salmon dan Anthony K.K. Siu, Chinese Epigraphic Materials in Indonesia (1997), orang-orang Tionghoa menetap di Pasuruan (Basuluan/Yanwang) setidaknya sudah sejak akhir abad ke-17, ketika Surapati mendirikan kerajaan di sana.

Tombe, pengelana asal Prancis, yang mendatangi kota ini pada 1803 mengatakan kawasan Pecinan sangat luas dan penduduknya sepertiga dari jumlah penduduk seluruh kota.

Baca juga Menapak Sejarah di Hotel Kuno

Sepanjang paruh kedua abad ke-18, bupati demi bupati Pasuruan menyewakan tanah ke orang-orang Tionghoa yang menjalankan penggilingan tebu. Di antara mereka adalah Han dari Surabaya dan Kwee (Guo) dari Semarang yang menjadi pengusaha terkemuka di Jawa Timur.

Budidaya tebu dan industri gula menjadikan Pasuruan sebagai salah satu wilayah paling kaya di Jawa pada abad ke-19 dan membawa penduduknya pada kesejahteraan. Orang-orang Tionghoa kaya di Pasuruan membangun rumah-rumah megah dengan memasukkan elemen Tionghoa dan gaya Indische modern yang saat itu sedang tren.

Masa kejayaan Pasuruan mulai memudar seiring dibukanya jalur kereta api dari pelabuhan besar di Surabaya ke Malang pada 1879. Akibatnya, Pasuruan bukan wilayah penting lagi. Orang-orang kaya Eropa lebih suka ke Malang ketimbang ke Pasuruan, karena letaknya di ketinggian dan cuacanya lebih sejuk.

Baca juga Rumah Singa di Pasuruan

Seabad setelah eksploitasi produksi gula, datanglah periode panjang gonjang-ganjing ekonomi, sosial, diikuti terancamnya kesejahteraan kawasan Tapal Kuda (The Eastern Salient dalam bahasa Inggris atau De Oosthoek dalam istilah Belanda) akibat goyahnya harga gula dunia.

Begitu Great Depression (krisis ekonomi besar) mencapai Hindia-Belanda, setelah 1929, harga ekspor gula pun ambruk. Petani tebu dan pekerja pabrik gula jatuh miskin. Tak terkecuali orang-orang Tionghoa dan Eropa yang sebelumnya mendapat kekayaan dari industri yang tadinya manis ini.

Pasuruan semakin ditinggalkan penduduknya karena tak cukup jika hanya mengandalkan hasil sawah skala kecil. Jumlah penduduk jadi berkurang drastis. Selama beberapa dekade kemudian kekayaan Pasuruan nyaris lenyap.

Salmon memaparkan angka pembandingnya sebagai berikut. Pada 1880, populasi orang Tionghoa 2.340, pada 1890 menurun jadi 1960, dan pada 1900 mencapai 2.500.

Kota ini mulai mengalami penurunan pada 1923 dan Great Depression yang menyusul kemudian. Pasuruan jadi kota yang diabaikan.

Rumah-rumah indah pun beralih kepemilikan. Salah satunya adalah rumah besar yang dulu didirikan Kwee Sik Poo. Pada 1938, rumah ini dibeli Muhammad bin Thalib, seorang Arab-Yaman.

Ketika CNNIndonesia mendatangi rumah ini, beberapa waktu lalu, sang pemilik rumah, Hanif Thalib mengatakan generasi ke-tiga Kweek Si Bo-lah yang menjual rumah tersebut ke Muhammad bin Thalib.

Muhammad bin Thalib saat itu adalah agen mobil Datsun serta pemilik banyak properti, seperti hotel, rumah, dan toko yang tersebar di mana-mana. Di Arab Street, Singapura, saja dia punya 15 toko. Muhammad bin Thalib memiliki empat istri dan 20 anak.

Baca juga Langgam Eklektik Hotel Trio Solo

Dalam kepemilikan Muhammad bin Thalib, di atas teras rumah diberi tambahan tulisan “Darussalam” dalam huruf Arab, dan di bawahnya dalam huruf Latin, “Daroessalam” (bahasa Arab, rumah/tempat yang aman).

Sepeninggal Muhammad bin Thalib, ada 13 orang yang mendapat warisan rumah ini, salah satunya Fachir Thalib, anak dari istri ke-empat. Bagian milik saudara-saudaranya kemudian dibeli Fachir, sehingga Fachir jadi pemilik tunggal harta warisan rumah tersebut.

Fachir Thalib (1939-2015) adalah ayah Hanif.

Hanif sekarang sedang dalam proses mengembangkan fungsi rumah ini sebagai boutique hotel berkonsep syariah. Diperkirakan, setahun lagi rampung.

Rumah induk akan jadi lobi, tiga presidential suite, dan satu ruang pertemuan. Paviliun kiri jadi enam kamar, serta paviliun kanan akan jadi ruang makan dan ruang pertemuan.

Selain itu, sedang dibangun gedung baru yang memuat 24 kamar. Sehingga, total akan jadi 33 kamar dan dua ruang pertemuan.

Nama “Daroessalam”, ujar Hanif, akan digunakan sebagai nama hotel, sebuah upaya mengenang sang kakek yang dulu membuka rumah ini selama 24 jam.

“Kakek saya dulu menerima tamu siapa saja, dari mana saja. Paviliun kiri itu dulu tempat tamu menginap. Tiap hari, kakek menyembelih satu ekor kambing untuk menjamu tamu,” ujar Hanif.

Baca juga Hotel Damai Residence dan Kisah Rumah Bersalin

Untuk proses renovasi, ujar Hanif, sebisa mungkin dia tak mengganti elemen-elemen yang sudah ada, malah mengembalikan ke kemegahan semula. Kayu atau ukiran yang dulu sempat dicopot, dipasang kembali.

Pengecualian adalah pada lantai. Paviliun kanan dan kiri yang sebelumnya beralas kayu, sekarang diganti teraso.

“Saya cari teraso lama. Saya tidak pakai keramik sama sekali, karena sebagus apapun, kalau itu keramik, malah membuat rumah jadi jelek,” ucapnya.

Selama ini, Hanif meneruskan tradisi kakeknya membuka pintu rumah bagi siapa saja, terutama bagi yang tertarik pada bangunan bersejarah. Wisatawan dari Jepang, Belanda, dan dari dalam negeri kerap singgah ke sini, menikmati sudut-sudut indah rumah Daroessalam dan membaca jejak industri gula di Pasuruan.

Dari para pencinta bangunan tua inilah Hanif banyak mendapat masukan untuk merawat rumah yang merupakan tinggalan bersejarah. Merupakan pelajaran berharga seiring misi sucinya menjaga amanat leluhur.

***
Dimuat di CNNIndonesia.com, 7 Maret 2016

 

5 Comments

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s