Sitor Situmorang, Antara Sumatera dan Pasar Senen

IMG_20160120_205951
Pementasan Pasar Senen, Sitor, dan Harimau Tua yang menandai satu tahun wafatnya Sitor Situmorang. (Foto: Silvia Galikano)

Oleh Silvia Galikano

Dua cerita mewakili identitas Sitor Situmorang dipentaskan. Harimau Tua mewakili kesumateraannya, dan Pasar Senen yang jadi tempat lahir karya-karyanya.

Lewat foto-foto hitam putih Pasar Senen sebagai backdrop panggung, penonton dibawa ke masa ketika Pasar Senen adalah pasar tradisional dengan kios-kios sederhana. Pasar yang di sekelilingnya juga hidup kelompok-kelompok lain.

Panggung Teater Kecil Taman Ismail Marzuki, Rabu (20/1) malam lalu sejenak menggemakan lagi keriuhan Pasar Senen usai Kemerdekaan dalam tajuk Pasar Senen, Sitor, dan Harimau Tua, acara yang menandai satu tahun wafatnya Sitor Situmorang (2 Oktober 1924 – 20 Desember 2014).

Di antara riuhnya seruan “Mesin tik bekas!” “Kebaya!” “Batik!” dan “Buku tulis!” terselip suara manja merayu, “Mari, Mas… monggo… kehangatan….”

sitor
Sitor Situmorang. (Dokpri)

Di tengah sahut-sahutan itu pula diskusi politik, ekonomi, dan kebudayaan berjalan panas. Bioskop Grand yang pasti ramai pada bulan muda, restoran Setia yang hanya berjarak 10 meter dari bioskop kecipratan ramai ketika Grand memutar film Melayu. Gedung-gedung pertunjukan kesenian tradisional pun yang terang pamornya. Semua hidup dan saling menghidupi.

Hingga Gubernur DKI Jakarta Ali Sadikin mengusung ide membangun Jakarta. Pasar Senen digusur untuk dibangun Proyek Senen. Peradaban Pasar Senen hilang seketika.

Kini Senen sudah lain suaranya. Tak ada lagi riuhya penjual kopi, singkong goreng, kusir, tukang delman, juga tak ada lagi teman seiring.

Pasar Senen tadinya satu ekosistem yang dibiarkan tumbuh dan mengalir, tiba-tiba diubah paksa. Sejak itu, berkali-kali Proyek Senen dibakar dan terbakar melewati pergantian demi pergantian penguasa.

“Apa sih pengetahuan kita untuk mengubah?” ujar perangkai teks pementasan ini, Afrizal Malna, usai pementasan.

“Kalau tidak punya pengetahuan untuk mengubah, ya jangan lakukan. Apalagi yang diubah itu suatu titik penting. Senen itu bukan diubah, tapi dihancurkan.”

Pementasan ke-dua, Harimau Tua, tak lepas dari mitos masyarakat Sumatera bahwa harimau, juga buaya, adalah nenek moyang mereka, karenanya masyarakat menyebut harimau adalah “nenek”. Harimau menimbulkan macam-macam imaji antara hayalan dan kenyataaan, dan aspek inilah yang dijadikan titik berat pertunjukan.

Selain dua pertunjukan itu, diputar juga rekaman video terakhir: Alpeldoorn, 2 November 2014. Video ini diambil Afrizal Malna saat berkunjung ke kediaman Sitor di Alpeldoorn, Belanda, satu setengah bulan sebelum Sitor tutup usia. Dalam video itu, Sitor yang menderita Alzheimer, sudah tak jelas lagi bicaranya.

IMG_20160120_203915
Barbara Brouwer (ke-2 dari kiri), Hilmar Farid, Ajip Rosidi, Sukmawati Soekarnoputri. Paling kiri, paling kanan, dan ke-2 dari kanan adalah putra-putra Sitor. (Foto: Silvia Galikano)

Hari meninggalnya Sitor Situmorang, 20 Januari, akan dijadikan hari pesta rakyat tahunan di kampung halaman Sitor di Harianboho, Sumatera Utara. Rencana ini diungkapkan istri Sitor, Barbara Brouwer, yang ingin membangkitkan budaya lokal Harianboho dengah melibatkan kelompok-kelompok kreatif kampung ini dalam pesta rakyat.

Barbara, perempuan Belanda yang fasih berbahasa Indonesia, memberi contoh, “Selama tiga hari ada workshop menulis, musik, dan teater untuk anak-anak, yang dilatih mahasiswa. Malam harinya mereka mempertunjukkannya di atas panggung, di depan umum.

Keluarga Sitor juga tengah merencanakan membangun Rumah Budaya Sitor Situmorang di Harianbo. Di sana akan dijadikan tempat berlatih kesenian, diskusi budaya, perpustakaan, juga museum.

“Rumah Budaya ini dibuka untuk umum, bagi siapa saja yang ingin mengenal budaya agar diskusi budaya bisa seramai dan sebersemangat dulu di zaman Sukarno,” kata Barbara. Sekadar informasi, Sitor adalah penasihat kebudayaan Sukarno.

Dirjen Kebudayaan Hilmar Farid yang malam itu hadir menyatakan Sitor Situmorang tidak perlu pengakuan dan penghargaan karena justru masyarakat yang membutuhkannya.

“Namun ada bentuk penghargaan lain, yaitu dalam mengembalikan Sitor Situmorang dan sastra Indonesia ke sekolah,” ujar Hilmar.

Bersambung ke Pasar Senen, Rumah Besar Sitor Situmorang

***
Dimuat di CNNIndonesia.com, 21 Januari 2016

1 Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s