Politik, Konsumerisme, dan Sincia yang Berubah

dekorasi imlek, sincia, glodok

Oleh Sutrisno Murtiyoso (*)

Sincia adalah perayaan memasuki musim semi, musim yang tidak dikenal di Indonesia. Di bagian bumi empat musim, perubahan itu signifikan sekali. Tadinya hanya putih dan tidak enak dilihat, ketika muncul warna, secara emosional pun terasa beda, hawa berubah.

Musim semi jadi awal terjadinya sesuatu yang baru. Sebuah janji akan memasuki musim yang hangat dan dimulainya kehidupan

Pemaknaan tanggal 1 bulan 1 penanggalan China di Indonesia jadi beda, bukan lagi awal musim semi, melainkan sekadar tahun baru, sekadar hari raya. Orang Hokkian menyebutnya “Sincia” (tarikh baru), sedangkan “Imlek” adalah tarikh bulan. Orang China tak akan menyebut “Tahun baru Imlek”. Pasti orang bukan China yang menyebut demikian.

Baca juga Siapakah Orang “China?”

Saya masih mengalami Sincia 50 tahun lalu.  Yang saya ingat, pada dasarnya Sincia adalah pesta keluarga. Nomor satu yang diberi penghormatan adalah leluhur, baru kemudian orangtua, lalu ke sesama, baru ke orang lain.

Karena saya tinggal di kota kecil, Parakan, di Temanggung, Jawa Tengah, saya dan saudara-saudara cukup berjalan kaki mendatangi orang-orang yang lebih tua dari orangtua. Sambil mengepalkan dua tangan di depan dada, kami mengucapkan kalimat keramat, “Sincun Kionghie Thiam Hok Thiam Siu (Musim Semi yang Baru Tambah Banyak Rezeki, Tambah Panjang Umur),” lalu turunlah uang dari “atas”. Kadang beramplop merah, namun lebih sering “mentahan” saja.

Saya ingat sekali, dua minggu sebelum Tahun Baru, saya dan adik-adik dibuatkan baju oleh ibu dan saudara-saudara perempuan bapak (koh) yang belum menikah dan tinggal di rumah kami. Jadi sejak awal kami tahu itu baju kami, tahu proses dibuatnya, sangat ditunggu-tunggu rampungnya, hingga akhirnya bisa dipakai saat Sincia.

Baca juga Eksotiknya Kuliner Semarangan

Pada malam tahun baru, sekeluarga berkumpul di rumah engkong, anggota keluarga tertua. Tepat tengah malam, engkong memimpin sembahyang Tuhan Allah. Kalau orang China sekarang menyebutnya “Thian Khong”, tapi buat saya, Tuhan Allah ya Tuhan Allah.

Sebelum engkong memimpin sembahyang, anak-anak dibangunkan. Sembahyang ini adalah bentuk penghormatan kepada Tuhan Allah, menyampaikan terima kasih atas penciptaan-Nya. Semua serbasederhana.

Sekarang, Sincia hanya hura hura, tidak ada rasa apa-apa lagi. Sekadar, “Wah Hari Raya, hore, hore, angpau, angpau.” Dulu, tidak ada yang bicarakan angpau. Orang tua memang memberi angpau kepada yang lebih muda, tapi tidak ada yang minta, “Mana angpaunya?”

Sincia adalah ritual yang sarat makna. Sakral. Hari peringatan. Angpau hanyalah sampingan.

Baca juga Daroessalam, Rumah Gula di Pasuruan

Di rumah-rumah orang China dulu pasti ada Chao Kun Kong (Dewa Dapur), penguasa rumah tangga, penjamin dapur tetap ngebul, dan menjadi mata bagi Tuhan Allah yang mencatat perilaku seisi rumah. Tiap tanggal 24, Dewa Dapur naik ke langit untuk melaporkan perilaku penghuni rumah. Karena itu, tiap tanggal 23, Dewa Dapur ini disembahyangi dan bibirnya diberi gula agar memberi laporan manis pada Tuhan Allah.

Seperti halnya Sincia bukanlah hari ke klenteng, sembahyang Dewa Dapur juga diadakan di rumah masing-masing. Dua peristiwa ini adalah peristiwa keluarga yang diadakan di rumah. Barulah pada hari penutupan, tanggal 15 yang disebut Capgomeh, diadakan di klenteng secara meriah.

Sejak tahun 1966, ketika ada larangan semua kegiatan berbau China, istilah “Tionghoa” jadi “China”, huruf China tidak boleh digunakan, dan semua ekspresi kebudayaan China tidak boleh. Ada ancaman yang diberlakukan bagi yang melanggar. Pada saat itu urusannya nyawa.

Baca juga Tentang Cokek dan Geolnya

Orang China harus memilih agama yang hanya lima itu. Altar sembahyang (kongpo) menghilang dari rumah-rumah orang China, dibuang, dibakar, diloak. Habis sudah. Memang sekarang altar jadi barang antik, tapi dulu, tekanan yang kami alami sangat tidak mengenakkan.

Sedemikian efektifnya aturan tersebut hingga orang China tidak mau kembali jadi China. Mereka ganti nama dan tidak mau dikenal dengan nama Chinanya. Yang masih bertahan hanya benar-benar yang hardcore. Biasanya berlatar belakang China baru (bukan Singkek dan Peranakan), yakni yang datang sesudah 1930, umumnya dari Kwangchow (Guangzhou atau Canton) di China Selatan.

Baca juga Untuk Tanah Lasem

Setelah zaman berubah dan orang China mulai bebas beribadah, kekeliruan demi kekeliruan pun dimulai karena banyak yang sudah tidak tahu lagi cara “menjadi China”.

Semua hari besar dirayakan di klenteng. Menghormati leluhur tiap tanggal 1 dan 15 pun dilakukan di klenteng. Hal demikian dapat dipahami karena, selain tiga puluhan tahun vakum, juga nyaris tak ada lagi rumah yang masih menyimpan altar sembahyang.

Hanya sebagian kecil yang menghidupkan lagi ibadah di rumah, sedangkan sebagian besar tidak, karena pertimbangan kepraktisan. Pasalnya, kalau benar-benar hendak meletakkan altar sembahyang, satu ruangan hanya berisi altar, sebagai ruang pamer, tempat leluhur menyambut tamu. Alternatif kini adalah menggunakan altar kecil, altar portabel yang berisi satu foto leluhur, dua tempat lilin, tempat teh, dan rak kecil.

Belum lagi kalau kita bicara nilai-nilai kekerabatan yang ikut berubah, panjang lagi ceritanya. Apa boleh buat, yang ada di depan lebih penting daripada menoleh terus ke belakang. Kita tidak bisa lari dari konsumerisme liberal. Memuja leluhur dengan penghormatan sepenuh dahulu tak mungkin bisa lagi. Pada akhirnya hal-hal demikian tinggal jadi kuriositas antroplogi. Semoga saya salah.

***
Dimuat di CNNIndonesia, 10 Februari 2016

 

(*) Sutrisno Murtiyoso, Ketua Lembaga Sejarah Arsitektur Indonesia dan pendiri LSM Nata Para’an Luwes, organisasi lokal untuk memajukan kesejahteraan masyarakat Parakan. Sejak tahun 2010 mengerjakan dokumentasi kelenteng se-Jawa-Bali.

Dapat dihubungi di sumur@yahoo.com. ID Facebook: Su Mur

Advertisements

2 Comments

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s