Langkah Awal Konservasi Rumah Raden Saleh di Cikini

IMG_1662
RS PGI Cikini, dahulu rumah tinggal Raden Saleh. (Foto: Silvia Galikano)

Tulisan ke-tiga dari rangkaian tulisan tentang Raden Saleh setelah Arti Bogor bagi Raden Saleh.

Oleh Silvia Galikano

Penelitian tentang Eks Rumah Raden Saleh di Jalan Raden Saleh Raya 40 Cikini, Jakarta akhirnya rampung. Dokumentasinya diserahkan Duta Besar Amerika Serikat Robert O’Blake Jr. dan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) kepada Ketua Pengurus Yayasan Kesehatan PGI Cikini Kol. dr. Alexander K. Ginting., SpP, FCCP, di Hall Utama Eks Rumah Raden Saleh, Selasa (26/4).

Rumah Raden Saleh sekarang difungsikan sebagai Rumah Sakit PGI Cikini.

Ini merupakan buah kerja selama setahun. Berawal pada 2014, Pusat Dokumentasi Arsitektur (PDA) bersama Wardiman Djojonegoro, mulai mengupayakan eks rumah Raden Saleh itu dilestarikan dan dikonservasi sesuai kaidah yang benar.

IMG_1655
Pintu masuk aula utama. (Foto: Silvia Galikano)

Dari dana program Ambassador Funds for Cultural Preservation oleh Kedutaan Besar Amerika Serikat di Jakarta, PDA melakukan kegiatan dokumentasi, penelitian, dan inventarisasi kerusakan bangunan Rumah Raden Saleh pada akhir tahun 2015. Ini merupakan langkah pertama sebelum konservasi dan restorasi dilaksanakan secara tepat.

Kemendikbud juga ikut berperan dalam pendanaan melalui bantuan penelitian ekskavasi pondasi oleh Balai Pelestari Cagar Budaya (BPCB) Serang, serta 3D laser scan dan penelitian material bangunan oleh Balai Konservasi Borobudur. Sedangkan investigasi struktur bangunan dilaksanakan PT Risen Engineering Consultant.

Duta Besar Amerika Serikat Robert O’Blake Jr. menyebut situs eks rumah Raden Saleh memberi kontribusi pada budaya Indonesia. Karena itu, lanjutnya, dukungan tersebut diterapkan dalam bentuk hibah dan kerja sama dengan pemerintah Indonesia, para ahli, dan LSM di Indonesia.

IMG_1750
Aula utama dilihat dari lantai 2. (Foto: Silvia Galikano)

“Raden Saleh dikenal secara internasional dan karya-karyanya menyertakan simbol-simbol rakyat melawan kolonialisme. Rumah ini, yang beliau rancang sendiri, adalah simbol kesetaraaan,” ujar O’Blake.

Selain dikenal sebagai pelukis, Raden Saleh juga mendapat pengakuan sebagai pelopor arkeologi dan paleoantropologi Indonesia. Direktur Pelestarian Cagar Budaya dan Permuseuman Kemendikbud Hari Widianto menyebut Raden Saleh sudah melakukan ekskavasi secara sistematis di Kedungbrubus, Ngawi pada 1880-an.

Inilah penggalian sistematis pertama fosil-fosil hewan dan manusia. Hasil penggalian sampai sekarang masih ada.

“Dalam lingkungan ilmu purbakala, Raden Saleh pelopor paleoantropologi Indonesia, jauh sebelum Dubois menemukan Pithecanthropus Erectus di Trinil, pada 1891,” ujar Hari.

batavia exhibition
Rumah Raden Saleh saat jadi lokasi Batavia Tentoonstelling 1893, dikunjungi Pangeran Franz Ferdinand dalam perjalanannya keliling dunia. Perhatikan ada kolom besi penopang balkon. (Dok. PDA)

Rumah Sakit PGI Cikini merupakan salah satu rumah sakit tertua di Indonesia. Rumah sakit ini milik Yayasan PGI dan dikelola oleh Yayasan Kesehatan PGI Cikini.

Bangunan ini memiliki nilai sejarah dan arsitektur yang istimewa. Bukan hanya karena Raden Saleh turut merencanakan desain bangunan serta menempatinya, tapi juga karena pernah dikunjungi beberapa orang ternama.

Tercatat Albert S. Bickmore pernah datang ke sini. Bickmore adalah salah satu pendiri American Museum of Natural History di New York City, AS. Dalam bukunya, Travels in the East Indian Archipelago (1868), Bickmore membuat deskripsi Rumah Raden Saleh sebagai berikut:

“Istana itu memiliki dua bangunan utama dan dua sayap, semuanya dikelilingi gallery (balkon). Ketika kita memasuki gedung, kita akan dapati aula yang luas. Di aula itu ada pintu-pintu menuju ruang lain di sisi kanan dan kiri.

“Aula itu dilapisi karpet Belgia dan perabotan antik. Halaman depan dihias dengan tanaman indah yang selaras. Tak ada bangsawan lokal yang punya istana seindah istana Raden Saleh.”

Tokoh lain yang juga pernah datang adalah Franz Ferdinand, seorang Pangeran Austria-Hungaria yang berkeliling dunia, pada 1893 singgah di Batavia. Dia datang untuk mengunjungi Batavia Tentoonstelling (Pameran Batavia), pameran berskala internasional, bertempat di bangunan ini.

IMG_1698
Aula utama, balkon, dan langit-langit tinggi Rumah Raden Saleh. (Foto: Silvia Galikano)

Ferdinand dan istrinya, Sophie, dibunuh saat berkunjung ke Sarajevo pada 1914, yang memicu Perang Dunia I.

Rumah Raden Saleh berlanggam eklektik, campuran neo-klasik, pseudo-gotik, vernakular, dan ornamen Tionghoa. Nilainya penting, tidak hanya secara arsitektural, tapi juga sejarah, sosial, dan budaya, sehingga telah ditetapkan sebagai cagar budaya tingkat nasional.

Bangunan ini juga memiliki nilai sosial karena fungsinya sebagai rumah sakit hingga saat ini.

Rumah tinggal hingga rumah sakit

Raden Saleh membangun rumah ini tak lama setelah dia pulang ke Hindia Belanda dari perantauan 20 tahun di Eropa dan mencapai keharuman nama sebagai pelukis. Dia tinggal di puri Cikini bersama istrinya, perempuan Belanda kaya raya, Constancia von Mansfeldt (nama gadis), juga dikenal dengan Constancia Winckelhagen.

Rumah yang hanya ditempati hingga 1862  itu kemudian dilelang istrinya pada 1867 dan dibeli oleh tuan tanah Sayid Abdullah bin Alwi Alatas.

IMG_1657
Keluarga Cornelis de Graaf. (ki-ka) Adriana Josina de Graaf – Kooman, Kats (menantu), Johana Maria Kats – de Graaf (anak sulung), Jeane de Graaf (kemudian menikah dengan Scherp), dan Pendeta Cornelis de Graaf. (Dok. RS PGI Cikini)

Rumah itu kembali dijual pada 1897 kepada Dominee Cornelis de Graaf dan istrinya, Ny. Adriana J. de Graaf yang sedang membutuhkan tempat untuk memberikan pelayanan kesehatan.

Pasangan de Graaf mendapat bantuan dana dari Ratu Emma untuk membeli rumah tersebut. Karena itu rumah sakitnya dinamakan Koningin Emma Ziekenhuis (Rumah Sakit Ratu Emma).

Seiring dengan perkembangan rumah sakit dan kebutuhan ruang, di sekitar bangunan rumah didirikan beberapa bangunan tambahan, termasuk kapel di belakang bangunan induk.

Pada masa kependudukan Jepang di Indonesia, rumah sakit ini difungsikan khusus bagi tentara. Setelah Indonesia merdeka, pengelolaannya dikembalikan kepada yayasan lama, yang kemudian memberikannya kepada Dewan Gereja Indonesia (sekarang Persatuan Gereja Indonesia, PGI).

Saat ini, sebagian rumah Raden Saleh masih digunakan sebagai kantor rumah sakit.

Bersambung ke Pekerjaan Besar untuk Puri Cikini

***
Dimuat di CNNIndonesia, 26 April 2016

2 Comments

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s