Pekerjaan Besar untuk Puri Cikini

penampakan raden saleh 1b
Raden Saleh tampak berdiri berkacak pinggang di balkon. (Dok. PDA)

Tulisan ke-empat (habis) dari rangkaian tulisan tentang Raden Saleh setelah Langkah Awal Konservasi Rumah Raden Saleh di Cikini

Oleh Silvia Galikano

Rumah di Jalan Raden Saleh Raya 40 Cikini, Jakarta adalah satu-satunya rumah di Indonesia yang didesain Raden Saleh (1814-1880). Seumur hidupnya, maestro lukis Indonesia itu hanya mendesain dua rumah tinggal. Satu rumah di Jerman, satu lagi di Cikini.

Raden Saleh membangun rumah ini tak lama setelah dia pulang ke Hindia Belanda dari perantauan 20 tahun di Eropa dan mencapai keharuman nama sebagai pelukis. Dia tinggal di puri Cikini bersama istrinya, perempuan Belanda kaya raya, Constancia von Mansfeldt (nama gadis), juga dikenal dengan Constancia Winckelhagen.

jembatan, jl raden saleh batavia, 1910an - kol bintoro hoepoedio
Jembatan Jalan Raden Saleh dari Jalan Salemba, kira-kira tahun 1910. (Istimewa)

Cerita tentang istri Raden Saleh ini terbilang menarik karena tak banyak literatur yang memuat. Dr. Werner Kraus, penulis buku Raden Saleh: Awal Seni Lukis Indonesia (2013), dalam sebuah diskusi online, menjelaskan bahwa Nyonya Winckelhagen adalah janda kaya pemilik estate Gemolak, dekat Semarang.

Dia juragan batik dengan banyak karyawan, punya pabrik parfum yang mengolah kembang gambir dan melati, dan punya pabrik pembuatan perhiasan emas dengan lebih dari 30 perajin orang Jawa.
Lebih lanjut Kraus menjelaskan, “Dia bertemu Raden Saleh kemungkinan pada 1853/1854 di Semarang dan mereka mulai punya hubungan. Di Batavia, Raden Saleh pindah ke rumah Constancia di Kampung Gunung Sa(ha)ri sebelum membangun rumah besar di Cikini pada 1857/1858.”

kebun binatang cikini - kol ali alatas
Halaman rumah Raden Saleh yang dijadikan Kebun Binatang Cikini. (Dok. Ali Alatas)

Pada 1862, sebagian besar halaman puri Cikini dihibahkan untuk kebun binatang pertama di Batavia dan taman umum, yang sekarang jadi Taman Ismail Marzuki.

Sedangkan rumahnya yang hanya ditempati hingga 1862  itu kemudian dilelang istrinya pada 1867 dan dibeli oleh tuan tanah Sayid Abdullah bin Alwi Alatas. Rumah itu kembali dijual pada 1897 kepada Dominee Cornelis de Graaf dan istrinya, Ny. Adriana J. de Graaf yang sedang membutuhkan tempat untuk memberikan pelayanan kesehatan.

Pasangan de Graaf mendapat bantuan dana dari Ratu Emma untuk membeli rumah tersebut, karena itu rumah sakitnya dinamakan Koningin Emma Ziekenhuis (Rumah Sakit Ratu Emma).

Pada masa pendudukan Jepang di Indonesia, rumah sakit ini difungsikan khusus bagi tentara. Setelah Indonesia merdeka, pengelolaannya dikembalikan kepada yayasan lama, yang kemudian memberikannya kepada Dewan Gereja Indonesia (sekarang Persatuan Gereja Indonesia, PGI).

IMG_1658
Rumah Sakit Diakones Cikini, 1909. Kepala Perawatan, Zr. Zuber Buhl, tengah, berbaju hitam. (Dok. PGI Cikini)

Adalah Pusat Dokumentasi Arsitektur (PDA) bersama Wardiman Djojonegoro yang pada 2014 mulai mengupayakan eks rumah Raden Saleh itu dilestarikan dan dikonservasi sesuai kaidah yang benar.

Dana sejumlah US$20 ribu atau setara Rp264 juta dari program Ambassador Funds for Cultural Preservation oleh Kedutaan Besar Amerika Serikat di Jakarta pun dicairkan. Pada akhir 2015, PDA melakukan dokumentasi, penelitian, dan inventarisasi kerusakan bangunan Rumah Raden Saleh.

Ini merupakan langkah pertama sebelum konservasi dan restorasi dilaksanakan secara tepat.

Pengumpulan data awal ditempuh. Riset sejarah dari foto, buku, dokumen, dan peta tua wilayah ini; dokumentasi foto, termasuk dari drone; serta pengukuran ulang dengan cara scan 3D oleh Balai Konservasi Borobudur. Hasilnya digunakan untuk menggambar denah detail.

Pasalnya tak ada gambar desain rumah ini, desain A sampai Z.

IMG_1704
Arya Abieta, Ketua Tim Revitalisasi. (Foto: Silvia Galikano)

“Gedung ini betul-betul gedung ketukangan (craftsmanship). Saya tidak yakin Raden Saleh membuat gambar detail sebelum membangun. Dia hanya menggambar bentuk-bentuk yang prinsipil,” ujar Ketua Tim Revitalisasi dari Pusat Dokumentasi Arsitektur (PDA), Arya Abieta usai penyerahan dokumentasi penelitian Eks Rumah Raden Saleh di Jakarta, Selasa (26/4).

Cara kerja demikian membuat banyak hal yang dipecahkan “di atas”, karena masalah baru ditemukan saat tukang sedang bekerja, bukan diantisipasi saat proses merancang.

Arya memberi contoh adanya pertemuan tiga atap yang berbeda, yang secara arsitektural nyaris mustahil karena sulit sekali digambar, tapi di tangan tukang, bisa-bisa saja, walau akhirnya banyak talang air di dalam bangunan karena bocor.

batavia exhibition
Rumah Raden Saleh saat jadi lokasi Batavia Tentoonstelling 1893, dikunjungi Pangeran Franz Ferdinand dalam perjalanannya keliling dunia. Perhatikan ada kolom besi penopang balkon. (Dok. PDA)

 

Contoh lain, dinding-dinding di sini tak benar-benar siku-siku. Pembagian empat kamar di tiap sisi pun tidak persis sama.

“Terasa sekali kesenimanannya, seperti pilihan bentuk atap yang runcing dan bukaan yang lengkung-lengkung (seperti siluet kubah) bukanlah gaya yang umum di Nusantara, bahkan jika dibandingkan dengan bangunan kolonial pada masanya,” ujar Arya.

Latar belakang budaya para tukang, yang umumnya dari Batavia dan dari Tiongkok, juga ikut memberi kekhasan bentuk rumah ini.

Tim PDA mendapat temuan menarik saat membuat riset foto lama. Ternyata dulu ada kolom-kolom dari besi yang menyokong balkon dalam, ujar Arya, “Mungkin dulu ada sesuatu yang berat di atas sampai harus didukung kolom.”

Selain itu, walau ada banyak foto lama yang menangkap rumah ini, nyaris tak ada sosok Raden Saleh sedang difoto di depan rumah.

Tim PDA menemukan dua foto yang menampilkan Raden Saleh, walau sangat kecil dan tidak menjadi pusat perhatian foto. Satu foto, Raden Saleh berdiri di balkon rumah sedang berkacak pinggang; satu lagi, Raden Saleh duduk di kursi di teras rumah, di hadapannya lima laki-laki muda duduk bersila di lantai.

IMG_1733
Balkon dalam lantai 2. (Foto: Silvia Galikano))

Dari penelitian material bangunan oleh Balai Konservasi Borobudur, ditemukan kerusakan serius di dinding dan kayu atap yang berjamur akibat atap bocor. Kebocoran juga membuat lantai kayu di lantai 2 lapuk sehingga kini tak boleh dipakai.

Kondisi lantai 2 diperparah karena lantai aslinya yang dari kayu, oleh rumah sakit dilapisi lagi dengan multipleks, dan ditutup karpet. Karpet dan kayu lapis adalah kombinasi buruk karena menyimpan air, membuat kayu busuk, dan jadi sarang rayap.

Sedangkan struktur dan daya dukung bangunan masih kuat. Material pondasinya dari batu karang yang dilapisi bata rolak (batu bata yang dipasang vertikal untuk menopang beban di atasnya). Dan jika diperhatikan benar, tanah di sini berkontur, cenderung menurun ke kanan bangunan (arah utara).

IMG_1735
Skylight di tengah langit-langit. (Foto: Silvia Galikano)

Selama proses kegiatan dokumentasi, penelitian, dan inventarisasi, tim juga melakukan perbaikan atap dan dinding bangunan lantai 2 bagian muka.

Secara garis besar, rekomendasi yang diberikan tim PDA ke RS PGI Cikini adalah agar daerah ini, yang berada dalam lokasi pelestarian daerah, tetap baik, asli seperti adanya. Selain itu, tim PDA merekomendasikan pekerjaan lanjutan pada atap, teras, ruang-ruang utama, dan ruang-ruang penunjang di belakang yang tidak seluruhnya asli.

***
Dimuat di CNNIndonesia.com, 27 April 2016

1 Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s