Dua Rumah Ibadah di Satu Masa

Masjid Agung Sang Cipta Rasa dan Klenteng Tio Kok Sie didirikan pada selang waktu yang tidak terlalu jauh. Dua rumah ibadah yang bersama menjadi penanda penting sebuah kota.

Oleh Silvia Galikano

Masjid Agung Sang Cipta Rasa Cirebon yang lebih dikenal dengan sebutan Masjid Agung Kasepuhan didirikan para wali tahun 1498 atas prakarsa Sunan Gunungjati. Terletak di sebelah barat Alun-alun Kasepuhan, merupakan masjid tertua di Cirebon.

masjid agung sang cipta rasa cirebon (3)
Gerbang utama masjid. (Foto: Silvia Galikano)

Arti nama  Sang Cipta Rasa adalah Sang berarti keagungan, Cipta artinya dibangun, dan Rasa artinya digunakan. Masyarakat Cirebon menyebutnya Masjid Agung atau Masjid Pakungwati, karena pendiriannya diperuntukkan sebagai masjid Keraton Pakungwati.

Baca juga Dua Keraton di Impitan Dua Budaya Besar

Arsiteknya adalah Sunan Kalijaga dan dua orang arsitek dari Majapahit yang beragama Islam, yaitu Raden Sepat dan Raden Trepas. Keduanya adalah tawanan perang Demak-Majapahit yang dibawa Sunan Gunungjati yang juga senopati Demak.

Tenaga kerja yang dikerahkan mencapai 500 orang berasal dari Cirebon dan Demak, sisa punggawa Majapahit.

Untuk memasuki bagian-bagian dalam masjid, terdapat sembilan pintu (lambang Wali Songo) berukuran kecil yang hanya dapat dimasuki dengan merunduk, lambang kerendahan hati. Pintu utama di timur dipergunakan khusus untuk para wali dan raja, sedangkan pintu lainnya di sebelah utara dan selatan.

Secara umum, masjid yang berukuran 28 x 28 meter ini terbagi menjadi lima ruang, yaitu ruang utama, tiga serambi, dan ruang belakang. Ruang utama adalah bangunan masjid yang asli dengan atap rendah, namun ditinggikan pada masa Gubernur Yogi S Memet di tahun 1980-an.

 

Di dalamnya terdapat empat tiang yang disebut sokoguru. Di sebelah tenggara terdapat satu buah tiang yang dibuat dari potongan-potongan kayu setinggi 6 meter, disebut sokotatal yang konon dibuat oleh Sunan Kalijaga.

Ada pula mihrab yang terbuat dari batu pualam muda warna putih. Di atas mihrab terdapat tonjolan berbentuk jantung dengan ukiran bunga teratai yang dibuat Sunan Kalijaga.

Ada pun mimbarnya—disebut Sang Renggokoso—terbuat dari kayu dan berkelambu. Ruangan yang berpagar kayu di utara mimbar dipakai untuk shalat Sultan Kasepuhan.

Serambi bagian selatan disebut Bangsal Prabayaksa yang berarti ruang pertemuan. Sedangkan di ruang belakang mukim pengurus masjid serta ada ruang terbuka tempat menyimpan Alquran dan buku-buku pelajaran agama.

 

 

Sebagaimana umumnya masjid-masjid kuno, di bagian belakang Masjid Agung Kasepuhan juga terdapat barisan makam tua dengan nisan terbuat dari batu berukir. Menurut salah seorang pengurus masjid, makam terbesar dibanding makam-makam yang lain adalah makam Syeh Hanafi, imam Masjid Agung Kasepuhan.

Baca juga Mencari Air di Taman Air Sunyaragi

masjid agung sang cipta rasa cirebon (8)
Makam tua. (Foto: Silvia Galikano)

Kemungkinan yang dimaksud Syeh Hanafi oleh petugas masjid ini adalah Haji Tan Eng Hoat alias Maulana Ifdil Hanafi, ulama besar yang mendorong Sunan Gunungjati mendirikan kerajaan di Cirebon karena prihatin akan kemunduran Demak.

Salah satu kekhasan Masjid Agung Kasepuhan adalah azan pitu (pitu berarti tujuh), yakni azan yang dilantunkan oleh tujuh muazin. Keberadaan azan pitu tidak dapat dilepaskan dari kepercayaan bahwa dulunya ada mestaka/ mustaka/ memolo di atap masjid, namun kini “pindah” ke atap Masjid Agung Banten.

Baca juga Ziarah Sang Menteri

Pada saat masjid dibangun, masyarakat setempat belum memeluk agama Islam. Karenanya, tak heran, pembangunan masjid mendapat reaksi penolakan dari masyarakat. Saat itu, terjadi kematian tiga muazin secara berturut-turut, diduga terkena guna-guna. Setelah para wali berdoa kepada Allah, Sunan Kalijaga meminta dilakukan azan yang sekaligus dikumandangkan oleh tujuh muazin.

Maka, saat tujuh muazin mengumandangkan azan di waktu subuh, terdengar ledakan dari atap masjid, penanda hancurnya kekuatan gaib. Ketika terjadinya ledakan, demikian diyakini masyarakat Cirebon, ketika itulah mestaka Masjid Agung Kasepuhan terbang terpental hingga Banten, karenanya Masjid Agung Banten memiliki dua mestaka.

Baca juga Plang Salon di Suatu Masa

IMG_20160611_203719
Banyu Cis Sang Cipta Rasa, dua kolam tempat wudu Sunan Kalijaga dan Sunan Gunung Jati. Diambil pada 11 Juni 2016. (Foto: Silvia Galikano)

Hingga kini, azan pitu tetap dikumandangkan setiap Jumat. Tujuh muazin menempati lajur tepat di tengah masjid yang berhadapan langsung dengan imam. Satu per satu mereka memasuki masjid dari pintu utara disambut jabat tangan jamaah.

Tujuh muazin itu bersorban putih, berjubah hijau, dan berjanggut. Setelah bersimpuh, sesekali mereka berzikir bersama jamaah, menunggu waktu shalat tiba. Ketika waktu shalat hampir tiba, mereka itu berdiri, lantas serempak melantunkan azan.

***

 

Klenteng Tio Kok Sie

 

klenteng tio kok sie cirebon (4)
Klenteng Tio Kok Sie. (Foto: Silvia Galikano)

 

Klenteng tua ini berada Kamiran, Panjunan, Lemahwungkuk, Cirebon, Jawa Barat. Di sinilah setiap tahun dipusatkan perayaan Imlek dan Cap Go Meh, dua keriaan masyarakat Tionghoa dengan pawai barongsai dan liong. Dimulai dari klenteng Tio Kok Sie menelusuri beberapa ruas jalan besar kota Cirebon. Kesenian yang sempat dilarang dipertunjukkan semasa Orde Baru.

Istimewanya, perkumpulan barongsai di tempat yang dikenal juga dengan nama Vihara Dewi Welas Asih ini anggotanya bukan hanya masyarakat Tionghoa, malah 90 persennya adalah pribumi muslim. Setiap Selasa, Rabu, dan Jumat petang anak-anak usia SD, SMP, dan SMA itu berlatih di halaman klenteng.

klenteng tio kok sie cirebon (2)
Gerbang klenteng. (Foto: Silvia Galikano)

Klenteng Tio Kok Sie dibangun pada tahun 1595 di tempat yang pada masa itu masih berupa laut. Karenanya, dulu, untuk mencapai tempat ini harus menggunakan perahu. Tidak diketahui siapa yang membangun klenteng ini.

Informasi yang tersedia berupa prasasti di ruang utama klenteng yang menyebutkan bahwa Taan Kok Liong, Khang Li, dan Liem Tsiok pada tahun 1658 memberi sumbangan. Di prasasti itu dijelaskan bahwa Khang Li adalah seorang maharaja di Tiongkok yang memerintah semasa Lodewijk XIV di Belanda (1638—1715). Tertulis pula bahwa klenteng mengalami tiga kali pemugaran di bagian ruang utama, yaitu tahun 1791, 1829, dan 1889.

Klenteng yang menghadap selatan ini berdiri di atas tanah seluas 1.857 meter persegi dengan luas bangunan 1.600 meter persegi. Atapnya berbentuk pelana, khas atap rumah Tiongkok. Pintu gerbang klenteng berupa candi bentar yang terbuat dari batu andesit, sedangkan pintu bangunan klenteng terbuat dari kayu kokoh bercat merah.

Di masing-masing daun pintu terdapat gambar Dewa Perang dan Dewa Penjaga Pintu. Keistimewaan klenteng ini adalah tidak ada satu pun paku sebagai penghubung kayu-kayunya.

Di halaman klenteng tumbuh pohon lengkeng yang usianya sudah ratusan tahun. Pohon ini dipercaya sebagai mata liong. Ada pula hiasan dinding berupa fragmen-fragmen cerita Sam Kok dalam bentuk lukisan menarik.

klenteng tio kok sie cirebon (6)
Salah satu dewa di dalam klenteng. (Foto: Silvia Galikano)

Di dalam klenteng, berdiri Dewa Penguasa Laut (Seng Hong Yah) dan Dewa Bumi (Hok Tek Tjeng Sin). Dua dewa sembahan ini tak lepas dari posisi Cirebon yang terletak di tepi Laut Jawa, sehingga dewa yang disembah adalah Dewa Penguasa Laut.

Selain dua dewa itu, tentu saja ada sang dewi utama, Kwan Im Pou Sat atau Dewi Welas Asih. Dari nama sang dewi lah nama vihara ini berasal, dan kepadanya pula setiap hari orang datang menanyakan peruntungan serta meminta bimbingan melalui sepasang Sio Pe dan bilah-bilah Ciam Sie.

Sio Pe adalah dua kayu sama sebangun berdiameter 5 cm, satu sisinya datar dan satu sisi lagi berbentuk kubah. Sio Pe digunakan untuk mengetahui restu dari Kwan Im, yakni jika setelah dilemparkan, Sio Pe harus berada pada posisi satu tertelungkup dan satu telentang. Sebelum melempar Sio Pe, kita “memperkenalkan diri” dulu pada Mak Kwan Im dengan menyebut nama, kediaman, dan apa yang akan ditanyakan.

Ciam Sie adalah 60 bilah sepanjang 40 cm bertuliskan nomor 1 hingga 60. Bilah yang diletakkan dalam tabung bambu setinggi 30 sentimeter itu harus dikocok dalam posisi miring hingga satu bilah keluar dari tabung dan terjatuh. Jika Kwan Im memberi restu pada nomor yang ditunjukkan bilah, maka penjelasannya tertulis di selembar kertas yang bertuliskan ramalan harian.

Maka dengan mengucap “Bismillah” dan iringan rasa hormat mendalam pada dewi sesembahan umat Buddha Mahayana ini, saya memperkenalkan diri sambil menangkup Sio Pe. “Mak Kwan Im, saya Silvia Galikano….”

 ***
Dimuat di Jurnal Nasional dan Tabloid Koktail, Minggu I Sept 2007

6 Comments

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s