Kampung Kauman Bangil

kauman bangil
Rumah Kuning di Kampung Kauman, Bangil. (Foto: Silvia Galikano, 2015)

RUMAH KUNING

Oleh Silvia Galikano

Bu Henria yang membukakan pintu, tak lama setelah kami memencet bel, pagi itu, 18 Agustus 2015. Dia menantu pemilik rumah. Ibu mertuanya, Hj. Masna Rutiun, 71 tahun, kemudian menyusul keluar, ikut menemani ngobrol.

Baca juga Kanal yang Mengalirkan Zaman Emas

Ada cermin besar berbingkai kayu tebal (dan sepertinya berat) terpasang di ruang tamu. Juga pohon silsilah keluarga H. Masud Fadil (1932-1998), suami Bu Masna, yang ditulis dalam huruf pegon.

Pak Masud dulu punya usaha berdagang mamas, emas imitasi, yang dibeli di Yogyakarta lalu dijual di Bangil.

Tak banyak yang bisa diceritakan Bu Masna tentang rumah ini, kecuali mulai ditempati setelah lahir anak ke-4. Dia tak ingat tahunnya, jadi mari kita saja yang mengira-ngira.

Bu Masna yang berasal dari Surabaya lahir pada tahun 1944. Menikah dengan Pak Masud yang asli Bangil pada 1959 dan beroleh 10 anak.

Baca juga Ashadi, Artisan Pisau dari Parakan

Saat menikah, usia Bu Masna 15 tahun dan Pak Masud 27 tahun. Usai menikah, keduanya tinggal di rumah orangtua Pak Masud di Kampung Kauman, Bangil. Anak pertama lahir dua tahun kemudian.

Setelah lahir anak ke-4, keluarga Masud mulai menempati rumah nomor 73 ini. Taruhlah selisih tiap anak 1-1,5 tahun.

Maka anak ke-4 lahir waktu Bu Masna berusia 20-22 tahun. Artinya rumah ini mulai ditempati keluarga Pak Masud sekitar tahun 1964-1966.

Baca juga Hotel Sidji dan Anggunnya Rumah Letnan Tionghoa

Pemilik sebelumnya adalah orang Jawa, satu dari tiga suku dominan di Kampung Kauman selain Arab dan Banjar.

kauman bangil
“Laa ilaaha illallah” di deret atas dan “bismillahirrahmanirrahim” di deret bawah. (Foto Silvia Galikano, 2015)

Sejak dibeli, kata Bu Masna, tak dilakukan perubahan pada fisik bangunan, kecuali pengecatan dan penambahan kamar di samping ruang tamu, itu pun dengan dinding papan.

Semua masih sama seperti keadaan saat dibeli, termasuk adanya keramik pelapis pilar yang saya duga berasal dari masa yang lebih baru dibanding usia pilar. Pemasangan tiang kanopi telah merusak keramik hingga terkuaklah kulit asli pilar.

Baca juga Makam Raden Saleh dan Jejak Sukarno di Tanah Bangsawan Sunda

Di atas pintu terdapat dua deret ukiran huruf Arab. Deret atas bertuliskan “Laa ilaaha illallah, Muhammadur rasulullah” (Tak ada sesembahan selain Allah, Muhammad adalah utusan Allah) dan “Bismillahirrahmanirrahim” (dengan nama Allah yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang) di deret bawah.

***

***

RUMAH BACHROENI

kauman bangil
Rumah Moh. Bachroeni dengan teras setengah lingkaran. (Silvia Galikano, 2015)

Yang menarik dari satu rumah di Kampung Kauman, Bangil, ini adalah bentuk terasnya yang setengah lingkaran.

DIbangun pada tahun 1923 oleh Moh. Bachroeni asal Bangkalan, Madura. Sekarang, dihuni putranya, M. Adib Buchori, yang menjual bensin eceran berlabel Pertamini, ditempatkan di luar pagar.

Baca juga Mama di SD Fransiskus Padangpanjang

Unsur-unsur asli rumah ini masih dipertahankan, kecuali pintu dan jendela yang awalnya dua pasang (sepasang membuka ke luar, sepasang membuka ke dalam), sekarang tinggal sepasang saja. Namun, bagian yang dicopot itu, kata Pak Adib, masih disimpan.

Dari Pak Adib juga kami dapat cerita, setiap bulan Safar, Kampung Kauman ramai didatangi peziarah untuk memperingati Haul Kiai Syarwani. Rumah penduduk pun penuh disewa, dari yang hitungan sewa per orang hingga sewa per rumah.

Baca juga Dua Keraton Cirebon di Impitan Dua Budaya Besar

Kiai Syarwani atau Syekh Muhammad Syarwani Abdan (Martapura 1915 – Bangil 1959) adalah pendiri Pondok Pesantren Datu Kalampaian di Bangil. Kepribadiannya dikenal sederhana tapi ilmu agamanya luas dan mata batinnya kuat. Kiai Syarwani juga mendapat sebutan “Guru Bangil” atau “Kiai Bangil”.

***
Dari perjalanan ke Surabaya, Bangil, Pasuruan, Kudus, dan Semarang, 15-21 Agustus 2015.

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.