Rumah Kuning di Kampung Kauman, Bangil

Sengaja mengambil cuti untuk melihat jejak masa lalu saya dan masa lalu kota-kota yang punya banyak cerita. Semua serbasedikit dan serbasingkat, tapi cukup sebagai pembuka jika suatu hari nanti berkunjung lagi.

Surabaya, Bangil, Pasuruan, Kudus, dan Semarang, 15-21 Agustus 2015.
===
IMG_3806
Rumah Kuning di Kampung Kauman, Bangil. Foto: Silvia Galikano

Bu Henria yang membukakan pintu, tak lama setelah kami memencet bel, pagi itu, 18 Agustus 2015. Dia menantu pemilik rumah. Ibu mertuanya, Hj. Masna Rutiun, 71 tahun, kemudian menyusul keluar, ikut menemani ngobrol.

Ada cermin besar berbingkai kayu tebal (dan sepertinya berat) terpasang di ruang tamu. Juga pohon silsilah keluarga H. Masud Fadil (1932-1998), suami Bu Masna, yang ditulis dalam huruf pegon.

Pak Masud dulu punya usaha berdagang mamas, emas imitasi, yang dibeli di Yogyakarta lalu dijual di Bangil.

Tak banyak yang bisa diceritakan Bu Masna tentang rumah ini, kecuali mulai ditempati setelah lahir anak ke-4. Dia tak ingat tahunnya, jadi mari kita saja yang mengira-ngira.

Bu Masna yang berasal dari Surabaya lahir pada tahun 1944. Menikah dengan Pak Masud yang asli Bangil pada 1959 dan beroleh 10 anak.

Saat menikah, usia Bu Masna 15 tahun dan Pak Masud 27 tahun. Usai menikah, keduanya tinggal di rumah orangtua Pak Masud di Kampung Kauman, Bangil. Anak pertama lahir dua tahun kemudian.

Setelah lahir anak ke-4, keluarga Masud mulai menempati rumah nomor 73 ini. Taruhlah selisih tiap anak 1-1,5 tahun.

Maka anak ke-4 lahir waktu Bu Masna berusia 20-22 tahun. Artinya rumah ini mulai ditempati keluarga Pak Masud sekitar tahun 1964-1966.

Pemilik sebelumnya adalah orang Jawa, satu dari tiga suku dominan di Kampung Kauman selain Arab dan Banjar.

Sejak dibeli, kata Bu Masna, tak dilakukan perubahan pada fisik bangunan, kecuali pengecatan dan penambahan kamar di samping ruang tamu, itu pun dengan dinding papan.

Semua masih sama seperti keadaan saat dibeli, termasuk adanya keramik pelapis pilar yang saya duga berasal dari masa yang lebih baru dibanding usia pilar. Pemasangan tiang kanopi telah merusak keramik hingga terkuaklah kulit asli pilar.

Di atas pintu terdapat dua deret ukiran huruf Arab. Deret atas bertuliskan “Laa ilaaha illallah, Muhammadur rasulullah” (Tak ada sesembahan selain Allah, Muhammad adalah utusan Allah) dan “Bismillahirrahmanirrahim (dengan nama Allah yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang” di deret bawah.

***

 

 

IMG_3817
Cermin besar berbingkai tebal di ruang tamu. Foto: Silvia Galikano

 

IMG_3809
Pilar yang sejak ditempati sudah berlapis keramik. Foto: Silvia Galikano
IMG_3810
Pintu dengan bukaan dua arah dan berventilasi ukir. Foto: Silvia Galikano
IMG_3815
“Laa ilaaha illallah, Muhammadur rasulullah” di deret atas dan “bismillahirrahmanirrahim” di deret bawah. Foto Silvia Galikano
IMG_3820
Hj. Masna Rutiun (kiri) dan menantunya, Henria. Foto: Silvia Galikano
IMG_3818
H. Masud Fadil (1932-1998) sepulang haji. Repro: Silvia Galikano

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s