Pidi Baiq: Lebih Nyaman Jadi Ikan di Empang

IMG_2057
Pidi Baiq. Foto: Silvia Galikano

Nama Pidi Baiq dikenal bersamaan band bentukannya tahun 1995, The Panasdalam, dengan lirik dan tema yang tak biasa. Tentang cinta sepihak (Sudah Jangan Ke Jatinangor), kepala sekolah meninggal (Kepala Sekolah Is Death), hingga bertanya kabar penyanyi cilik tahun 1970-an, Chicha Koeswoyo (Chicha In Nostalgia).

Karyanya berlanjut lewat buku-buku yang, sekali lagi, tak biasa. Dari seri Drunken (2008) sampai Dilan: Dia Adalah Dilanku Tahun 1990 (2014) dan Dilan Bagian Kedua: Dia Adalah Dilanku Tahun 1991 (2015).

Film pertama besutan Pidi, Baracas (Barisan Anti Cinta Asmara) kini tengah proses editing. Dan film ke-dua, Dilan, bersiap di belakangnya.

Pertengahan Mei 2016, CNNIndonesia.com menemui Pidi Baiq di Rumah The Panasdalam di Bandung. Dia bercerita banyak hal, dari tema lagu hingga soal keagamaan. Perbincangan tersebut kami bagi menjadi dua bagian, berikut bagian pertama:

Anda sadar, pesan dalam karya-karya Anda menginspirasi banyak orang?

drunken
Drunken Monster. Foto: Istimewa

Ah, pesan apa? Saya kan asal ngomong.  Perasaan, saya tidak kasih pesan apa-apa. Orangnya saja yang sensitif, yang dengarnya saja ge-er merasa sedang dinasihati. Itu sama dengan misalnya, sekarang saya sedang bicara membahas animal planet, ambil contoh tentang monyet, ternyata ada orang yang tersinggung. Dia itu ge-er, merasa saya lagi ngomongin dia. Enak aja! Padahal saya murni sedang bicara tentang monyet. Ngapain ngomongin dia. Gak rame!

Bisa jadi itu berkah dari orang yang melebih-lebihkan. Kata-kata biasa, pakai dimaknai segala. Jangan-jangan biasa juga hidup ini, permainan belaka, orang saja yang mengemasnya jadi sok iye. Jadi ilmiah karena diilmiah-ilmiahkan. Seperti buku Dilan itu. Orang bilang itu novel, jangan-jangan bukan, tapi waktu saya menulisnya gak kepikiran mau bikin novel.

Anda, sebagai Imam Besar The Panasdalam, membubarkan The Panasdalam Fans Club tahun 2011. Mengapa tindakan ini Anda ambil? Tidak takut kehilangan penggemar?

Buat saya, tidak perlu lagi ada batasan bahwa saya sesuatu yang lain yang lebih baik dari mereka. Kalau penggemar adalah yang pada berdiri di trotoar, teriak-teriak bawa bendera, mengelu-elukan idolanya yang sedang berjalan sambil melakukan sun jauh untuk mereka, saya ingin mereka ikut ke jalan bareng-bareng bersama The Panasdalam.

Ketika saya merasa kalian istimewa dan kalian menganggap saya ini istimewa, itu artinya sama, mengapa harus ada batas itu? Terus mereka marah karena The Panasdalam Fans Clubnya saya bubarkann.  Ya sudah. Gara-gara itu kalau saya dijauhi, ya tak apa-apa, daripada saya jadi idola tapi malah membuat batas.

Atau jangan-jangan, pada dasarnya, kenapa saya bubarin, lebih karena saya merasa tidak punya mental jadi idola, saya suka merasa geli kalau diidolakan. Saya juga merasa tidak punya mental untuk siap jadi pemusik, makanya suka gimana gitu rasanya kalau ada yang bilang saya pemusik.

Saya juga tidak punya mental untuk siap disebut sebagai penulis.  Saya juga merasa gak siap dan gak pantas disebut seniman. Saya sih hamba Allah.

Apakah sejak awal tak disadari bahwa konsekuensi bermusik, menulis, dan punya komunitas adalah jadi terkenal?

al asbun
Al-Asbun: Manfaatulngawur. Foto: Goodreads

Semua orang ingin diketahui. Setiap orang berkembang sesuai waktu, setiap orang mengalami tahapan-tahapan perkembangan. Saat muda dulu, waktu kuliah tahun pertama dan ke-dua, saya merasa jadi orang yang…ingin diketahui oleh orang banyak.

Tapi lama-lama, oleh itu, saya merasa jijik sendiri, rasanya kok kampungan ya? Entah apa kata-kata yang tepat untuk itu, pokoknya saya tidak merasa menjadi orang yang nyaman dengan menjadi kayak gitu.

Waktu SMA saya selalu memilih jalur sunyi. Saya tidak mau berada “di sana”, di “wilayah mereka”.  Tidak mau berada di sana ikutan horai-horai di acara Porseni. Saya ingin berada di wilayah sendiri, yang sunyi, bersama orang-orang tertentu yang mau bersama saya.

Jangan-jangan, itu dia awal mengapa sekarang saya jadi gini. Ketika pernah terjebak oleh situasi ingin terkenal, tiba-tiba otak saya langsung memanggil untuk kembali ke basic pemikiran saya waktu SMA, ke karakter saya yang sebenarnya. Saya juga sebenarnya, kalau harus jujur, gak suka diwawancara, kecuali bukan untuk dipublish.

Kenikmatan apa yang Anda cari dengan memilih jalur nonmainstream begini?

Lautan itu indah, ikannya warna warni, dan banyak bikini di pantainya. Tapi saya tahu diri, saya ikan air tawar, jika ke sana nanti mati. Saya memilih empang, betapapun itu kecil, tapi itu tempat yang nyaman. Cocoknya buat saya.

Ini soal tahu diri sih sebenarnya. Bukan membenarkan diri saya yang memilih empang dan bukan mau menyalahkan cumi-cumi yang ada di lautan.  Tapi akan menyalahkan saya kalau saya yang ikan air tawar memaksakan diri masuk ke laut.

Lautan bisa nikmat buat hiu, bisa nikmat buat paus dan anjing laut. Empang juga bisa nikmat buat lele, gabus, dan ikan sepat. Tiap tempat ada risikonya sendiri. Kalau sudah memilih empang, harus siap kalau ada yang memasukkan portas, mudah-mudahan tak ada.

Kalau sudah memilih empang harus siap dengan semua kenyataan yang bersangkut paut dengan dunia keempangan. The Panasdalam atau saya, malah tidak memilih muncul ke permukaan, jadi oleh itu saya bisa bilang The Panasdalam tidak akan pernah cemas tenggelam, karena memang selama ini selalu ada di bawah.

Kapan Anda dapatkan ungkapan-ungkapan barusan?

at twitter
At-Twitter: Google Menjawab Semuanya, PidiBaiq Menjawab Semaunya. Foto: Goodreads

Tidak tahu, jadi saja. Asal ucap. Tapi ngomong soal ungkapan,  iseng-iseng saya pernah buka Google, di situ ada quote Pidi Baiq. Saya kaget, Wah, saya pernah meng-upload ini 5 tahun yang lalu. Saya lupa. Ngapain ya saya upload ini? Bingung.

Terus, ada rekaman twit saya yang berisi quote saya. Eh ini kata-kata saya ya? Oh benar. Iya! Saya lupa! Jadi segera saya salin, saya simpan untuk dikumpulkan. Saya senang ada akun twitter @pidibaiquotes, itu punya kawan, khusus mendokumentasikan ungkapan-ungkapan saya.

Sebetulnya saya sendiri heran dengan saya, yang suka memikirkan banyak hal yang tak perlu, terutama di lingkungan terdekat saya. Itu betul-betul saya merenung hal-hal yang tidak perlu, soalnya orang lain mah tak akan mau, tak ada untungnya.

Anak saya pernah bertanya, mengapa nyamuk  suka bunyi di kuping dan menggigit? Saya jawab, mereka lagi demo, nuntut minta obat. Coba kasih, mereka pasti langsung diam. Saya suka analogi-analogi macam itu.  Saya suka metafora-metaforaan buat perbandingan analogis. Ya sudah, tiap orang punya kesenangan, dan kesenangan saya ya itu.

Bagaimana terciptanya Dilan? Sebelumnya Anda tahu teori menulis novel?

Tidak. Kalau tahu teorinya, saya yakin buku itu tidak akan jadi. Orang macam saya kalau mengikuti teori malah jadi bingung. Kalau saya mengikuti teori maka saya akan jadi tawanan teori itu.

Untuk konteks Dilan, awalnya saya cuma mau cerita tentang ada dua anak SMA, dulu, di Bandung tahun 1990. Keduanya pacaran. Ketika itu jadi buku, orang-orang menyebut itu novel, saya terkejut karena saya merasa tidak tahu kaidah-kaidah menulis novel .

Ini bisa sama dengan, awalnya saya cuma ingin menulis sesuatu yang banyak tapi dengan kata-kata sedikit. Tahu-tahu ketika itu jadi, orang menyebutnya puisi. Lho? Padahal saya tidak tahu kaidah-kaidah menulis puisi.

Saya ini tidak tahu apa-apa dan saya berterima kasih kepada saya yang tidak tahu apa-apa jadi saya bisa seenaknya. Jadi kalau disalahkan, saya punya alasan, kan saya tidak tahu apa-apa.

Jadi jangan harap saya akan mengaku saya ini adalah penulis. Karena saya tidak tahu kaidah-kaidah menulis. Atau jangan-jangan saya tidak mau mengaku sebagai penulis lebih karena kuatir kalau tulisan saya jelek nanti malu.

Apakah Anda menulis untuk mengungkapkan sesuatu, keresahan misalnya?

IMG_2076
Dilan: Dia adalah Dilanku tahun 1990. Foto: Silvia Galikano

Orang bilang menulis untuk mengungkapkan kata hati. Mungkin mereka benar, berarti saya salah, karena saya menulis untuk mendengarkan kata hati.

Saya sedang mendengar perasaan saya ketika sedang menulis kisah Dilan dan Milea. Saya sedang mendengarkan perasaan saya ketika sedang menulis tentang hantu. Ketika perasaan saya jadi tidak enak, saya berhenti menulisnya.

Jadi, kalau misal tulisan saya tidak dianggap ya tidak apa-apa karena tujuan awal saya menulis juga untuk mendengar kata hati saya, bukan untuk mendengar ocehan hati orang yang di luar diri saya. Bahwa kemudian saya tulis, itu karena saya merasa bahwa waktu akan membuat saya lupa, tapi yang saya tulis akan membantu mengingatnya. 

Apa bacaan Anda waktu SD dan SMP?

Koran.  Ayah saya langganan semua majalah dan koran. Ibu dan kakak sering bawa novel dari sekolah ke rumah. Mungkin biar gagah ya, ternyata tidak mereka baca, malah saya yang baca.

Yang pertama saya baca adalah Layar Terkembang. Saya juga baca Kooong karya Iwan Simatupang, karya-karya Idrus, Robohnya Surau Kami – A.A. Navis, Atheis – Achdiat Karta Mihardja.

Kelas 3 SMP saya baca Tiga Menguak Takdir. Ini tentang kasus Sutan Takdir Alisjahbana, masalah kubu sastra Indonesia waktu itu. Saya pusing baca itu, tapi menarik karena jadi tahu sastra ternyata bisa menyebabkan orang saling berseteru.

Bacaan itu sangat mempengaruhi saya. Waktu itu masih mesin tik, saya sampai menulis mengikuti gaya Sutan Takdir. Sama persis. Itu, SMP kelas tiga.

Kelas 2 SMP saya sudah bikin kumpulan puisi, dibagi-bagi ke teman-teman. Jangan lihat kualitas puisinya tapi motivasi dan minat saya terhadap sastra sangat besar walaupun akhirnya tidak menjadi seorang sastrawan, yang penting kan minatnya.

Kalau zaman saya muda, saya senangnya baca Nietzche, Jean-Paul Sartre, Karl Marx, Buya Hamka, oh, saya sangat senang membaca terjemahan Al-Quran. Itu setiap mau tidur.

Lantas mulai kapan Anda memilih jalan nyeleneh begini?

dilan
Dilan. Dia adalah Dilanku Tahun 1991. Foto: Goodreads.

Sesungguhnya kehidupan ini  hanyalah permainan dan senda gurau, kata Quran . Saya setuju, tapi kenapa sekolah serius ya? Saya kaget. Akhirnya lahirlah quote “Sesungguhnya hidup ini senda gurau. Sekolahlah yang telah menyebabkan kita jadi serius.”

Dulu, ratusan tahun yang lalu anak-anak pada pergi ke luar rumah, menyambut bulan purnama bermain di halaman, pakai sarung, menari-nari. Mereka cuma ingin bersenang-senang. Mereka melakukan hal itu lebih karena adanya dorongan bermain. Tapi ratusan tahun kemudian kebiasan anak-anak itu dimasukan ke dalam kategori sebagai seni tari.

Bayangkan, apakah anak-anak itu, sebelum keluar untuk nari-nari di halaman rumah itu, mereka berkumpul untuk membuat tulisan “Maksud dan Tujuannya” dulu? Saya sih yakin tidak. Ah kebayang mereka menulis: “Kami berkumpul di bawah sinar bulan purnama untuk menciptakan tari serimpi agar Indonesia memiliki kebudayaan tinggi yang, karena dungu, kelak kemudian hari diklaim oleh Malaysia.” Saya yakin tidak!

Pada dasarnya saat saya melukis, atau pada saat saya bikin lagu, ini kalau saya, saya tidak pernah berpikir bahwa itu untuk tujuan membuat karya seni atau untuk menjunjung tinggi seni dan budaya . Saya tidak mau pusing soal itu. Bukan urusan saya. Saya tidak tahu kaidah seni, itu urusan kurator.

Saya melukis karena saya mau menorehkan cat di atas kanvas atas dasar adanya dorongan bermain, dan ada waktu juga, dan ada mau juga. Malahan saya pernah bilang ke orang: Jangan-jangan saya menulis karena saya tidak tahu apa yang harus saya lakukan.

Saya merasa motivasi saya melukis adalah karena dorongan bermain, ya betul sih main-mainin cat, karena ada waktu, karena ada mau, karena ada nyawa. Benar.

Tidak sama sekali pernah terpikir, saya mau melukis demi perkembangan seni lukis di Indonesia, atau ah, saya mau melukis yang kanvasnya dimiringkan, biar jadi seni, biar nyeni. Piguranya dibengkokkan biar kreatif karena beda dari yang lain. Demi Tuhan, kalau saya sampai berpikir begitu, maka saya akan merasa termasuk ke dalam orang-orang yang lebay.

Mungkin orang yang bilang seseorang itu nyeleneh karena didasari oleh dirinya yang sudah terjebak dalam kehidupan yang terlalu formil, hidupnya itu sudah tersita oleh norma-norma masyarakat yang beku dan kaku sehingga dia tidak bisa menerima lagi kalau ada orang yang bermain-main.

Anda nyaman menjadi nyeleneh karena orang-orang besar di dunia juga nyeleneh?

Thomas Alva Edison, Jean-Paul Sartre juga pada masanya adalah orang-orang yang dianggap nyeleneh, saya yakin mereka tidak ada maksud ingin dibilang nyeleneh. Tapi memang begitu, ada yang bilang katanya: orang jenius itu pada masanya dianggap gila.

Nabi Muhammad SAW juga oleh orang quraisy, dulu disebut nyeleneh, bahkan orang-orang jahiliyah itu menyebut nabi Muhammad itu gila. Semua nabi rasanya emang nyeleneh, makanya pasti diusir oleh masyarakatnya di waktu itu.

Nabi Adam diusir oleh Allah karena melanggar apa yang dilarangnya. Kita sih tidak mau diusir masyarakat ya? Maka kita harus penuh basa-basi, harus penuh kamuflase, biar aman ya?

Dulu saya sempet terpikir, kalau pemilihan nabi pada masa Rasulullah dilakukan dengan cara Pemilu, gawat, ini gawat, saya yakin Rasulullah pasti kalah, yang menang pasti Abu Jahal, karena pengikut Rasulullah pada saat itu baru sedikit.

Kalau saya bawa CD Kangen Band dan CD Rolling Stones ke ibu-ibu di daerah, maka 7 juta ibu-ibu akan memilih CD Kangen Band. Tapi oleh itu, tidak berarti kualitas Rolling Stones bisa diruntuhkan oleh Kangen Band.

Ini pendapat saya, jangan marah ke saya, saya juga tidak akan marah ke orang yang berbeda pendapat dengan saya. Mudah-mudahan kita semua sumbunya tidak pendek, mudah-mudahan kita semua ini adalah orang-orang yang mau dialog, bukan orang-orang yang asal marah bahkan sampai membakar tempat ibadah.

Bersambung ke Pidi Baiq: Tanpa Aksi Nyata, Agama Jadi Omong Kosong

***
Dimuat di CNNIndonesia.com, 30 Juni 2016

Untitled
Pidi Baiq & yours truly. Foto: Ranny.

1 Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s