Pidi Baiq:Tanpa Aksi Nyata, Agama Jadi Omong Kosong

IMG_2057
Pidi Baiq. Foto: Silvia Galikano

Lanjutan dari Pidi Baiq: Lebih Nyaman jadi Ikan di Empang

Pemahaman agama, yang sebetulnya dianut secara universal, dia tuangkan di sana-sini, dapat kita lihat hampir di semua karyanya. Bedanya, Pidi Baiq “berdakwah” tanpa mendakwahi. Semua nyaman, semua aman, tanpa jadi tertuduh.

Pertengahan Mei lalu, CNNIndonesia.com menemui Pidi Baiq di Rumah The Panasdalam di Bandung. Dia bercerita banyak hal, dari tema lagu hingga soal keagamaan. Perbincangan tersebut kami bagi menjadi dua bagian, berikut bagian ke-dua:

Bagaimana Anda mendefinisikan Pidi Baiq dalam berkarya?

spbu
S.P.B.U: Dongeng Sebelum Bangun. Foto: Goodreads

Dunia luas, saya tidak mau ada di wilayah tertentu. Saya dikutuk untuk tidak mau menyandang status-status tertentu. Saya ingin bebas dari hal ribet macam itu.

Saya bukan penulis, saya bukan pemusik, pelukis, penyair, seniman, atau apapun, saya adalah manusia seutuhnya, yang makan nasi bakar karena lagi ingin, saya manusia yang main skateboard kalau lagi ingin main skateboard. Begitu saja.

Tapi skateboard juga bisa jadi media dakwah. Saya main skateboard bersama kawan-kawan, terus saya bilang ke mereka: Eh, main skateboardnya di sana saja yuk, jangan main skateboard di sembarang tempat. Itu lebih baik, daripada saya datang sebagai orang lain yang membentak, mengusir mereka. Itu buruk. Jadi seteru.

Dakwah tidak harus selalu di podium yang sudah disediakan untuk dakwah. Tidak harus selalu di program dakwah yang ada di teve itu. Tidak terbayang bagaimana rasanya saya kalau harus naik panggung untuk berdakwah. Itu bagus, tidak salah, tapi saya pasti tidak akan bisa.

Saya pasti akan takut merasa diri sudah benar. Ah pokoknya begitu lah. Kebayang juga bagaimana sebelum naik panggung itu, saya pilih-pilih pakaian dulu untuk bisa tampil menawan dilihat banyak orang di sana. Tidak salah pilih pakaian terbagus. Tapi pokoknya saya tidak mau saja.

Jadi bagaimana idealnya mengajak kebaikan?

Ya berbuat baiklah, menjadi teladan bagi orang lain. Tidak usah nyuruh-nyuruh, itu hanya akan menjadi berisik bagi orang lain. Orang yang mabuk sudah tahu bahwa mabuk itu dilarang, makanya kenapa kalau mabuk mereka pada sembunyi? Karena sudah tahu. Iya, terus aku datang ke mereka nasihati jangan mabuk karena dilarang? Sudah tahu, Maaasss!!

Kebanyakan orang tuh ya macam saya, dulu malas sekolah, pas sudah jadi orangtua sok iye nyuruh anaknya untuk rajin sekolah. Enak aja! Sok iye melarang siswanya menyontek, dirinya sendiri waktu kuliah dulu juga menyontek. Banyak yang sok iye.

Bagaimana saya ini, kalau ngomong agamis, tahu-tahu buang sampah sembarangan. Bagaimana saya ini kalau puasa sok paling afdol, tapi berebut makanan di jalan dan di cafe dengan sesama muslim pada waktu buka puasa.

Maka agama itu akan menjadi omong kosong kalau tidak diaplikasikan dalam sikap dan perbuatan. Meskipun kamu sudah khatam membaca buku ramuan pengobatan tidak akan menyembuhkan lukamu, kecuali kamu baca satu halaman sesuai lukamu lalu kau praktikkan.

Pokoknya saya sih malu kalau nyuruh-nyuruh membaca, saya sendiri tidak pernah baca. Saya malu, kalau menyuruh-nyuruh orang bersabar, tahu-tahu pas macet saya ini orang yang paling keras klaksonnya.

Atau jam tiga ngomong di speaker, mari tahajud. Iya bagus itu, tapi saya pasti tidak mau, malu saya, karena orang-orang jadi pada tahu saya tahajud. Saya setuju, yang penting niatnya, tapi kan siapa yang bisa menahan orang kalau sudah bebas menafsirkan?

Apa karena takut terpeleset jadi riya’?

IMG_2076
Dilan: Dia adalah Dilanku tahun 1990. Foto: Silvia Galikano

Tidak juga, atau iya juga bisa. Tapi kalau saya dikenal sebagai orang brengsek di masa muda, kok dulu saya malah nyaman ya? Nyaman karena saya merasa itu cuma tuduhan, aslinya sih tidak. Aslinya sayang ke ibu, solid ke teman.

Anehnya kalau saya dikenal sebagai orang baik, malah tidak nyaman, maksudnya, saya tidak nyaman karena itu cuma tuduhan, aslinya sih tidak. Aslinya sih suka mencuri jambu.

Malahan kalau saya dibilang brengsek, terus sayanya brengsek, orang harusnya sudah bisa maklum dong, tapi kalau saya yang brengsek ini berbuat baik, orang akan bilang, “Ngga nyangka ya, bisa baik juga.”

Kalau dikenal, atau menunjuk-nunjukkan diri saya ini orang baik, itu malah bikin cemas, soalnya pas ketahuan saya ini brengsek, orang-orang akan bilang:”Sialan, gua ketipu”. Maksudnya, bukan berarti kamu harus brengsek, tapi jangan menunjuk-nunjuk bahwa kamu itu baik juga.

Apa kenangan khusus Anda di bulan Ramadan?

Waktu kecil membangunkan orang sahur bersama kawan-kawan. Saking semangatnya, jalan sampai jauh, tahu-tahu sudah imsak, saya sendiri akhirnya tidak sahur. Kesal.

Jangan-jangan kalau saya berdakwah saya akan begitu juga, menyerukan kebaikan tapi lupa melakukannya. Jangan-jangan tanpa bisa saya sadari kejadian itu sudah di-setting oleh Allah untuk mengingatkan jangan sampai kau mengajak kebaikan tapi kau sendiri lupa melaksanakannya.

Anda meyakini tak ada yang kebetulan, atau sebaliknya, semesta adalah rangkaian kebetulan demi kebetulan?

Untitled
Pidi Baiq & yours truly. Foto: Ranny.

Saya  percaya dengan adanya kebetulan. Setiap unsur di alam semesta ini, dari bakteri sampai matahari, kan berseliweran, jika kemudian bertabrakan maka itu kebetulan. Kebetulan saja waktunya sama, pas dia datang yang lain juga datang. Selama ini jangan-jangan kita ini selalu mencari adanya kebetulan, yaitu kebetulan yang akan baik buat kita dan semuanya. Tapi kayaknya iya deh.

Saya menyebut yang sedang seliweran itu adalah kesempatan. Tinggal tergantung kita mau bagaimana dengan itu. Atau jangan-jangan kesempatan itu adalah apa yang dimaksud dengan rizki. Rizki itu bukan cuma uang menurut saya, tapi kesempatan.

Bagaimana usahamu meraih kesempatan itu akan berpengaruh besar dengan apa yang kau dapatkan. Kamu pernah dengar, kalau bangun siang nanti rizkinya dipatok ayam. Maksudnya dengan kamu tidur itu, maka kamu tidak punya kesempatan untuk mendapat banyak hal yang baik. Tapi buat saya sih, kalau misalnya saya bangun siang terus rizkinya dipatok ayam, tidak apa-apa, nanti ayamnya saya makan!

Semua yang terjadi, yaitu yang kita dapatkan, tentunya disebabkan adanya usaha. Kalau saya berusaha bertemu kamu tapi kamunya malas, tidak akan bertemu karena usahanya cuma sepihak. Mungkin itu sebabnya ada orang rajin yang meminta orang malas untuk rajin, biar sinergi dengan dirinya.

Munculnya angka 9 di monitor. Angka 9-nya kan sudah tertulis di dalam sistem kalkulator. Hanya akan muncul kalau kita mengikuti mekanismenya, yaitu dengan menekan tombol 5 + 4, atau berapa yang kalau dijumlahkan hasilnya 9. Ah, soal ini, saya jadi ingat dengan apa yang disebut dengan Lauhul Mahfuz.

***
Dimuat di CNNIndonesia, 30 Juni 2016

 

1 Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s