Identitas Indonesia Kental di Karya Nyoman Nuarta

IMG_1972
Gerbang NuArt Sculputre Park di Sarijadi, Bandung. Foto: Silvia Galikano

 

Lanjutan dari Menghitung Hari Menuju Karya Besar Nyoman Nuarta

Oleh Silvia Galikano

Jalan kekerasan tak pernah jadi pilihan Nyoman, sedangkan berdiskusi bukan gaya kelompok si penghancur patung. Ditambah lagi aparat tak memberi jaminan keamanan.

Berkarya secara profesional sejak 1970-an, baru beberapa tahun belakangan karya-karya patung Nyoman Nuarta jadi sasaran ketidaksukaan kelompok yang mengatasnamakan agama.

tiga mojang - namihani@panoramio,com
Patung “Tiga Mojang”. Foto: namihani@panoramio(dot)com

Tiga Mojang di Perumahan Harapan Indah Bekasi didemo dan dibongkar pada September 2010 karena dituduh mengusung Trinitas. Padahal patung yang menggambarkan tiga mojang Priangan mengenakan kemben itu sudah berdiri tiga tahun dan sebelumnya aman-aman saja.

Lain lagi cerita patung Borobudur di perumahan Kota Legenda, Purwakarta. Tanpa demo atau peringatan apapun, tahu-tahu saja patung seluas 20 meter persegi dan tinggi 15 meter itu pada akhir 1990-an hanya tersisa stupa utamanya.

“Saya tidak tahu bagaimana. Ada wartawan yang kirim foto, memberi tahu patung saya tinggal stupa saja,” ujar pematung Nyoman Nuarta saat menerima kedatangan CNNIndonesia.com di NuArt Sculpture Park, Bandung, pertengahan Mei 2016.

Dari miniatur Borobudur yang dipajang di galeri NuArt, patung ini menggambarkan candi Borobudur berikut juntaian “akarnya” yang kokoh dan solid, terangkat dari permukaan bumi.

IMG_2003
Miniatur “Borobudur” karya Nyoman Nuarta. Foto: Silvia Galikano

“Padahal patung itu dilingkari parit seperti penjara Alcatraz. Bagaimana bisa sampai hilang? Selidik punya selidik, ternyata (diambilnya, red.) pakai crane.”

Di Riau, baru sampai ide untuk membuat patung Zapin di depan kantor Walikota, Nyoman urung setelah didemo.

Di Tabanan, yang notabene kampung halamannya sendiri, patung Bung Karno setinggi 5 meter yang pendiriannya atas permintaan Bupati Tabanan, diprotes masyarakat pada Juli 2014. Alasannya karena dulu di sana berdiri patung sakral masyarakat Bali, Wisnu Murti.

“Kantor saya pernah juga dilempari, saya diteror tengah malam, digarong, di DPR dimaki-maki dibilang menghamburkan uang negara, sudah biasa, saya happy-happy saja. Pengalaman saya macam-macam.”

Jalan kekerasan tak pernah jadi pilihan Nyoman, sedangkan berdiskusi bukan gaya kelompok si penghancur patung. Ditambah lagi aparat tak memberi jaminan keamanan.

“Kita bisa diskusi kalau sepemikiran, kan? Mereka tidak pernah sendiri, selalu ramai-ramai. Sedangkan lingkungan kami adalah lingkungan intelektual.”

IMG_1992
Miniatur “Garuda Wisnu Kencana” karya Nyoman Nuarta. Foto: Silvia Galikano

Repotnya lagi, lanjut Nyoman, protes kelompok tersebut berangkat dari anggapan bahwa patung sama dengan berhala, diidentikkan dengan sesembahan umat Hindu Bali, padahal sudah sejak “zaman kadal” orang Bali tidak menganggap patung sebagai berhala.

“Sedih saya. Kok bisa orang seperti itu hidup di zaman seperti ini.”

Lewat Tiga Mojang, Borobudur, dan Garuda Wisnu Kencana, karya akbar yang ditargetkan rampung tahun depan, Nyoman hendak mengedapankan identitas bangsa Indonesia, modal utama kedaulatan dan kewibawaan. Dan identitas hanya dapat dibentuk dari budaya yang orisinal.

Nyoman mencontohkan Bali. Walau Hindu, agama mayoritas di Bali, berasal dari India, ujar Nyoman, “Apakah ada secuil saja budaya India di Bali? Tidak ada. Entah itu makanan atau bahasa. Malah yang saya lihat ada pola ukiran di Bali ditemukan juga di Mesir dan China.”

Tak ada kewibawaan, maka tak akan ada kedaulatan. Hanya dengan membuat diri terhormat maka penghormatan akan didapat.

“Sekarang ada perubahan drastis di orang-orang Indonesia. Budaya Arab ditelan saja. Saat ini, karena budaya kita sudah begitu lunturnya, kita harus memulihkan, menyadarkan bahwa ini bukan budaya kita.”

IMG_1938
Karya patung di halaman NuArt Sculputre Park di Sarijadi, Bandung. Foto: Silvia Galikano

Nyoman Nuarta lahir di Tabanan, Bali, 14 November 1951. Selulus SMA, dia melanjutkan kuliah di Jurusan Seni Lukis, Institut Teknologi Bandung tahun 1972. Dua tahun kemudian dia pindah ke Seni Patung karena di seni patunglah dia dapat menuangkan ekspresi keseniannya secara penuh.

Perbincangan kami berlangsung sambil makan siang di kafe di dalam kawasan NuArt Sculpture Park. Selain galeri dan taman, NuArt Sculputure Park juga punya ruang audiovisual, butik kerajinan tangan, dan kafe yang sama-sama menunjang kegiatan berkesenian.

Di kawasan seluas 3 hektare ini dipamerkan 300-an karya patung Nyoman Nuarta, sejak awal berkarier hingga karya terbaru. Di sana ada karya patung pertamanya, Torso (1975), yang sudah menampakkan ciri ingin menggambarkan angin (berwujud patung “sobek-sobek”) di antara bentuk solid sesuai pakem diajarkan di kampus.

IMG_1941
“Devi Zolim” (2015) karya Nyoman Nuarta. Foto: Silvia Galikano

Tepat di tentangan pintu masuk utama galeri, terpasang patung Devi Zolim (2015). Devi Zolim adalah “dewi keadilan” dengan mata tertutup, memegang timbangan, tapi berwajah bolong seperti hantu dan menginjak rakyat.

Nyoman mempertanyakan keadilan di negeri ini sekaligus menggambarkan inilah hukum sekarang, hukum uang. “Tak ada yang tidak bayar, bayar pun memakai uang lawan. Bangsa ini sedang membela kejahatan. Para penjahat itu pegang uang.”

Lewat patung Api Borneo (2016) dia menyuarakan keprihatinan terhadap masalah lingkungan. Patung berbahan tembaga dan kuningan ini berbentuk enam pokok pohon yang diletakkan di antara pepohonan betulan, hampir serupa jika tak diperhatikan benar. Di tengah-tengah, seekor induk orangutan mendekap anaknya dengan wajah ketakutan.

Saat malam, patung-patung pohon ini “dibakar”, api keluar dari tengah pokok-pokok pohon, langit memerah menyuguhkan pemandangan mengerikan.

Di Jakarta ada beberapa karya Nyoman yang menarik perhatian, seperti patung Arjuna Wijaya (masyarakat kerap menyebutnya “Patung Kuda”) di dekat bundaran Indosat yang diresmikan Presiden Soeharto pada 16 Agustus 1987.

Ide pembuatan patung ini didapat sepulang Soeharto dari kunjungan ke Turki. Di sana, sepanjang jalan protokol ada patung masa lalu Turki, dan presiden Turki kala itu lancar bercerita tentang sejarah dan legenda Turki yang berkaitan dengan patung tersebut.

arjuna @kompas
Patung “Arjuna Wijaya” karya Nyoman Nuarta. Foto: Kompas

Maka Nyoman ditanya Soeharto tentang cerita masa lalu Nusantara yang bisa diterima semua orang. “Saya pusing. Saya ini pematung modern, harus bikin patung tentang masa lalu. Pak Harto mau tidak dibikinkan patung sobek-sobek?”

Maka diputuskan membuat patung yang mengutip adegan perang dalam epos Mahabharata. Arjuna menggenggam busur panah, sementara Batara Kresna mengendalikan kereta perang yang ditarik delapan ekor kuda.

Tak banyak yang tahu, patung ini tidak diongkosi pemerintah. Dana dari sponsor, yakni keramik Diamond, hanya Rp300 juta ditambah kocek Nyoman pribadi Rp25 juta.

Untuk mengakali keterbatasan uang, patung itu dibuat dari polyester resin terlebih dahulu. Baru kemudian, setelah dana cukup, Arjuna Wijaya diganti dari bahan tembaga. Sekarang, tanggung jawab pemeliharaan oleh dana CSR Bank OCBC.

Lantas, apa yang mendorongnya sampai mau merogoh kocek sendiri?

“Ini negara kita,” kata Nyoman penuh semangat. “Patung saya dipasang, saya bangga juga. Jangan semua kesempatan Anda pikir akan menghasilkan uang. Kalau punya uang, saya bikin.”

Selain Arjuna Wijaya, patung lain yang dipasang di jalan protokol Jakarta adalah patung di halaman hotel Grand Hyatt Jakarta dan patung Ku Yakin Sampai di Sana di depan Museum Nasional (Museum Gajah).

Sedangkan proyek besar yang sekarang sedang dikerjakan adalah patung Garuda di jalan menuju Bandara Soekarno-Hatta, Cengkareng, pengganti gapura Bali. Patung setinggi 18 meter (termasuk pedestal 3 meter) dan berat lebih dari 20 ton itu hampir 50 persen jadi

Setelah sekitar 40 tahun berkarya, Nyoman telah menghasilkan tak kurang 300-an patung asli dan 100-an patung publik. Bandung sudah jadi rumahnya dan akan terus berkarya di Bandung, bukan di Bali, tanah kelahirannya. Keputusan ini ada sebabnya.

“Kalau semua orang Bali tinggal di Bali, bisa berkelahi sesama Bali. Rebutan. Karena itu ada istilah ‘Orang Bali itu hidupnya seperti ayam Bali. Kalau dikasih makan, bukan makanannya dulu yang dipatuk, tapi kepala temannya,’” sekali lagi Nyoman terkekeh.

***
Dimuat di CNNIndonesia.com, 6 Juni 2016

IMG_1955
Nyoman Nuarta, Ranny, dan saya. Foto: Ratih
Advertisements

1 Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s