Buton dan Budaya Tua yang Memikat

tari-kolosal-di-festival-budaya-tua-buton-foto-silvia-galikano-7
Tari kolosal di Festival Budaya Tua Buton. (Foto SIlvia Galikano)

Festival Budaya Tua Buton adalah pesta rakyat yang mengajak untuk menengok kembali ke akar. Ketika Buton kerajaan kuat di tengah lalu lintas laut, tujuh abad lampau.

Oleh Silvia Galikano

Lumense ditarikan. Diiringi tetabuhan yang menyalakan semangat, ribuan penari merentakkan kaki sambil bergerak dari kanan podium ke kiri. Warna kostum mereka tegas. Celana dan kain panjang merah, baju hitam, sabuk kuning.

Hari itu adalah hari penutup Festival Tua Buton yang berlangsung 19-24 Agustus 2016. Memasuki tahun keempat, festival kali ini mengambil tema “Melestarikan Budaya Masa Lampau, Membangun Masa Depan”.

Festival bertempat di alun-alun Takawa Desa Dongkala, Kecamatan Pasarwajo, Kabupaten Buton yang berada tepat di depan kantor Pemerintahan Kabupaten Buton, Sulawesi Tenggara. Penutupan yang terbilang paling meriah dibanding hari-hari lain sepanjang festival sekaligus dijadikan hari peresmian gedung baru kantor pemerintahan Kabupaten Buton yang sebelumnya berada di Kota Baubau.

tari-kolosal-di-festival-budaya-tua-buton-foto-silvia-galikano-8
Tari kolosal di Festival Budaya Tua Buton. (Foto SIlvia Galikano)

Di latar belakang adalah Teluk Pasarwajo yang tenang. Matahari sudah tiga jam lalu ada di ubun-ubun. Masyarakat memenuhi tribune, menyemut di tepi lapangan.

Beberapa penari memisahkan diri, membentuk barisan paling dekat ke penonton. Mereka menari berpasang-pasangan, menghadap sebatang pohon pisang. Pedang ada di tangan penari laki-laki. Tetabuhan makin kencang, gerakan pun makin cepat.

Pedang berkelebat tanpa penonton sadari bahwa itu bukan sekadar aksesori penari. Saat tetabuhan membunyikan nada terakhirnya, tinggi, bersamaan pula terpisahnya pucuk dari pokok pohon pisang oleh sekali sabetan pedang, penanda roh jahat telah terusir. Sorak sorai penonton tak terelakkan melihat kejutan barusan.

tari-kolosal-di-festival-budaya-tua-buton-foto-silvia-galikano-6
Tari kolosal di Festival Budaya Tua Buton. (Foto SIlvia Galikano)

Tari lumense yang riuh itu berakhir. Tari penutup dari empat tari kolosal sesudah ponare, potimbe, dan bosu. Festival Budaya Tua Buton sudah mencapai puncaknya.

Tetabuhan berlanjut lagi. Kini semua penari, 10 ribu seluruhnya, turun, memenuhi alun-alun. Mereka menari bersama dengan satu aba-aba.

Lalu satu tandu merah diusung prajurit Buton menyibak lautan penari. Tandu berisi Putri Wa Kaa Kaa menghampiri tribune kehormatan, menjemput Bupati Buton Samsu Umar Abdul Samiun dan tamu ke panggung untuk secara resmi menutup Festival Budaya Tua Buton.

putri-wa-kaa-kaa-diiringi-prajurit-buton-2
Putri Wa Kaa Kaa diiringi prajurit Buton. (Foto: Silvia Galikano)

Festival Budaya Tua Buton yang digelar sejak 2013 bertujuan mengangkat kembali budaya lama Buton, budaya yang hidup sejak zaman kerajaan, tujuh abad lampau.

“Buton mengalami era kerajaan dan kesultanan sejak abad ke-14. Adat dan budaya walau ada yang bergeser, berubah seiring zaman, mengekstrak, banyak yang masih dijalankan,” ujar Bupati Samsu Umar di kantor Pemerintahan Kabupaten Buton usai pementasan tari kolosal, 24 Agustus 2016.

pikande-kandea-foto-silvia-galikano-12
Pikande-kandea. (Foto: Silvia Galikano)

Pagi hari sebelum tari kolosal, tandaki (sunat) dan pikande-kandea (makan bersama) telah menyuguhkan pemandangan meriah di Pasarwajo. Perempuan anggun dalam balutan busana kaboroko, serta parabela (tokoh adat) dengan jubah merah tenun Buton hilir mudik di luar tenda acara.

Perangkat Masjid Agung Keraton Buton di Baubau mendapat tempat tersendiri di acara ini. Mereka duduk melingkar di area kiri begitu memasuki tenda. Di sana ada lakina agama (raja agama), imam, khatib, moji (pemuka agama), mokimo (petugas yang mengaji dan menyambut petinggi masjid saat shalat Jumat), dan tungguna ganda (pemukul gendang tiap masuk waktu shalat).

perangkat-agama-dari-masjid-agung-keraton-buton-foto-silvia-galikano-6
Perangkat agama dari Masjid Agung Keraton Buton. (Foto Silvia Galikano)

Jubah mereka hitam, bersarung, bersorban putih, dan ada selembar kain yang ujungnya diselipkan di sorban, menjuntai menutupi wajah bagian kiri. Jika pengunjung lain tertawa-tawa lepas menunggu acara dimulai, perangkat masjid berekspresi tenang dan berbicara dalam nada rendah dengan orang di kiri-kanannya, yang juga sesama perangkat masjid.

Di dekat perangkat masjid duduk melingkar pria berjubah hitam tanpa sorban. Mereka adalah mantan perangkat masjid, antara lain Jaati (bergelar Mahazanu) yang jadi moji pada 1997-2006, serta Zudin (bergelar Maazulihu) yang jadi moji pada 2005-2012.

Jika perangkat masjid mengenakan sorban, para mantan perangkat masjid ini “hanya” mengenakan kampurui, ikat kepala yang digunakan laki-laki Buton.

Para perangkat masjid berkedudukan sakral dalam pikande-kandea dan tandaki. Doa mereka dianggap tak terhalang sampai ke langit, memohonkan kelancaran acara ini.

pikande-kandea-foto-silvia-galikano-8
Hidangan di atas talang di acara Pikande-kandea. (Foto: Silvia Galikano)

Pikande-kandea adalah tradisi makan bersama masyarakat Buton. Untuk gelaran ini, disajikan tak kurang 2000 talang (dulang bundar berkaki terbuat dari kuningan) yang berisi macam-macam makanan khas Buton.

Di antara makanan yang disajikan itu ada jenis-jenis yang merupakan hidangan wajib. Waode Samuna, peserta pikande-kandea, menunjukkan satu demi satu isi talangnya, yakni lapa-lapa (sejenis lontong dari pulut, nasi putih, nasi merah, dan santan), nasi merah, dan telur dadar.

Ada pula ikan dole  yang dibuat dari ikan cakalang kukus ditumbuk, dicampur kelapa serta bumbu lada dan bawang merah. Adonan ini dicetak berbentuk segitiga dalam daun pisang lalu dicelupkan ke dalam telur sebelum  digoreng.

pikande-kandea-foto-silvia-galikano-7
Hidangan di atas talang di acara Pikande-kandea. (Foto: Silvia Galikano)

Jenis lauk lain adalah nasu wolio, yakni ayam dan kelapa sangrai yang dimasak bersama santan dan asam belimbing wuluh. Sedangkan jenis kue-kuenya adalah onde-onde (klepon, di Jawa), bolu, ubi goreng, cucur, kue putu, serta pisang goreng (tanpa tepung).

“Makanan itu yang wajib ada dalam talang. Kalau mau ditambah yang lain, boleh, seperti buah dan puding,” ujar Waode Samuna sambil menunjuk talang lain yang memuat puding dalam mangkok-mangkok kecil serta buah anggur.

Setiap talang ditutup dengan tudung saji terbuat dari rotan (ada juga berlapis kain beludru warna-warni) yang disebut panamba.

lapa-lapa-sejenis-lontong-foto-silvia-galikano
Lapa-lapa, sejenis lontong dari pulut, nasi putih, nasi merah, dan santan. (Foto: Silvia Galikano)

Talang-talang itu dibawa masyarakat dari hampir semua kecamatan di Kabupaten Buton, termasuk perwakilan sekolah dan instansi pemerintah. Tiap instansi membawa 15 talang.

Umumnya, hidangan satu talang dimakan dua orang yang duduk berhadapan. Namun khusus untuk tamu kehormatan, satu talang hanya dihadapi satu orang. Pikande-kandea dirayakan masyarakat Buton dalam setiap siklus kehidupan; dari pernikahan, khitanan, peringatan kedukaan, pesta panen, hingga hari besar keagamaan.

Bersamaan dengan pikande-kandea adalah tandaki yang tak kalah memikatnya. Anak-anak yang sepekan sebelumnya disunat secara medis, hari itu dikumpulkan lagi. Ada 500 anak sekabupaten Buton, mengenakan ikat kepala khas bernama kampurui tandaki dan baju yang didominasi warna hitam dan keemasan.

tandaki-foto-silvia-galikano-2
Anak-anak peserta tandaki. (Foto: Silvia Galikano)

“Warna baju itu melambangkan semangat hidup dan kerja keras. Setelah disunat, diharapkan semangat untuk berubah jadi lebih besar. Mereka diberi nasihat agar tidak boleh lagi nakal, tidak boleh lagi mandi telanjang di luar,” ujar Rusdi, panitia dari Dinas Pariwisata Kabupaten Buton.

Pada zaman dahulu, lanjut Rusdi, sunat menggunakan sebilah bambu tajam. Sedangkan untuk mengeringkan luka sunat digunakanlah abu dapur.

Anak yang akan disunat memasuki bilik sunat didampingi laki-laki dewasa (ayah atau abang). Dan ketika sudah selesai dan keluar dari bilik, pendamping akan membiarkan sultaru, rangkaian bunga kertas yang digantungi biskuit dan mainan, diperebutkan anak-anak lain sebagai simbol kegembiraan.

Itu pula sebabnya tandaki masuk dalam rangkaian Festival Budaya Tua Buton. Sebagai pengingat bahwa kebahagiaan dan soliditas menyumbang pembentukan karakter anak-anak. Bahwa festival bukan sekadar hore-hore yang ekstravagan.

img-20160825-wa0038-kecil
Wefie oleh Elfa Hermawan

 

Bersambung ke Bermula dari Nanas Penangkal Bajak Laut

***
cover_edisi_35_sarasvati-kecilDimuat di majalah Sarasvati edisi Oktober 2016

Advertisements

3 Comments

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s