Refleksi Indonesia di 100 Tahun Otto Djaya

jaka-tarub-dan-tujuh-bidadari-1995
“Jaka Tarub dan Tujuh Bidadari” karya Otto Djaya (1995). (Foto: Silvia Galikano)

Jika Otto Djaya masih hidup, tahun ini usianya genap 100 tahun. Dia dikenal lewat tema lukisan yang menyentil melalui karakter lucu dan tak menyinggung.

Oleh Silvia Galikano

Untuk menandai tahun istimewa tersebut, digelar pameran bertajuk “100 Tahun Otto Djaya” di Gedung A dan C Galeri Nasional Indonesia, Jakarta, 30 September hingga 9 Oktober 2016. Pameran ini diinisiasi Inge-Marie Holst dan Hans Peter Holst, pencinta seni sekaligus kolektor lukisan Otto Djaya yang sejak 10 tahun terakhir membuat penelitian tentang pelukis ini.

Dari 200 karya lukis yang dibawa pasangan asal Denmark tersebut ke Galeri Nasional, 172 karya yang dipamerkan, dengan dikurasi Rizki A. Zaelani dan Inge-Marie Holst. Ini adalah pameran kedua karya Otto Djaya setelah pameran pertama pada 1995.

“Kami menemukan keindahan karya seni Otto Djaya pada tahun 2007 di Jakarta. Lukisan Otto Djaya yang pertama kami lihat adalah Pertunjukan Seni Sunda, sebuah lukisan cat minyak yang dibuat pada tahun 1988,” ujar Inge-Marie saat pembukaan pameran, 30 September 2016.

Pertunjukan Seni Sunda memperlihatkan penari berikut pemain musik pengiring serta penonton, yang digambarkan secara elok, anggun, dan sensual. “Energi dari para penari ini begitu gamblang terpancar dalam sapuan kuas Otto. Tentu ini menunjukkan pesona kepiawaian sang pelukis,” kata Inge-Marie.

Otto Djaya (1916-2002) adalah salah satu master dalam sejarah seni rupa Indonesia. Dia pernah menjadi pejuang kemerdekaan; mengalami masa kolonial Belanda, masa Perang Dunia II, masa revolusi, masa pemerintahan Sukarno dan Soeharto, hingga masa demokrasi.

Bersama abangnya, Agus Djaya, mereka pernah pergi untuk belajar dan bekerja sebagai seniman di negeri Belanda pada 1947-1950 dan beberapa kali berpameran di Eropa.

master-landscape
Otto Djaya

Otto seorang pelukis sekaligus pendongeng cerita, bohemian, non-konformis yang tidak pernah mengikuti arus tren seni mana pun. Dia memiliki gaya estetika dan reflektif khas; sangat analitik terhadap kemanusiaan, termasuk dirinya sendiri; serta mampu mensintesis keindahan alam, mitos, cerita rakyat, dan sindiran.

Kecenderungan visualnya dapat dikenali, yakni mengeksplorasi dan mengekspresikan jiwa rakyat Indonesia, khususnya orang Jawa, dengan selalu berkarikatur, tak pernah mengolok-olok.  Alam dan lingkungan Banten telah menghidupkan pokok penggambaran Otto yang bersifat kultural ketimbang tema renungan yang menyuruk pada persoalan-persoalan yang bersifat personal.

“Dia menunjukkan berbagai kejadian sehari-hari yang umum dikenal masyarakat di Indonesia, khususnya di pulau Jawa,” Rizki A. Zaelani, merinci. “Seperti tema tentang pasar, warung, pedagang asong, perayaan perkawinan, pertunjukan kesenian tradisi, perjalanan dengan kendaraan bermotor, sepeda, hingga kereta kuda.”

Karya-karya tipikal Otto Djaya itu dijajarkan di ruang depan Gedung A, antara lain Rumah Judi (1995), Bercengkrama di Warung (1989), Kerokan (1998), Waktu Demonstrasi (1999), dan Pasar Rakyat (1999) hingga membentuk narasi yang mengalir.

waktu-demonstrasi-1999
“Waktu Demonstrasi” (1999) karya Otto Djaya. (Foto: Silvia Galikano)

Banyak lukisan Otto yang menjadi khusus karena dia memasukkan karakter Punakawan, yakni Petruk dan Gareng, dalam situasi hidup keseharian. Ambil contoh lukisan Waktu Demonstrasi yang menggambarkan para perempuan berkebaya memanggul bakul berisi botol jamu, menyunggi bakul berisi buah, menggendong bayi, dan memanggul buntelan kain bertuliskan “Dana bantuan alias utang”.

Lalu di mana Petruk? Dia duduk nyaman gendongan seorang perempuan muda, di dalam barisan itu, dengan ekspresi wajah girang. Di Pasar Rakyat, Petruk ditampilkan seperti sedang menggoda perempuan di tengah ramainya pasar namun sepertinya sang perempuan tak mengindahkan.

Alih-alih bagian dari solusi, Petruk malah jadi “beban” bagi perempuan (-perempuan) ini. Dan Otto menempatkan perempuan sebagai subjek, bukan objek, lukisan-lukisannya. “Petruk itulah Otto. Satu lagi (Gareng, red.) mungkin Agus Djaya,” ujar Rizki.

Dunia pewayangan dan mitologi tradisi menjadi salah satu gagasan sentral yang dia munculkan secara khas, spontan, dan alamiah, seakan-akan kita memang hidup dalam bentangan kisah pewayangan dan mitologi. Misalnya penggambaran Arjuna, Ramayana, Dewi Kwan Im, Dewi Sri, Roro Kidul, dan Jaka Tarub.

otto-djaya-1944
Otto Djaya, 1944. (Foto: Istimewa)

Namun uniknya, Otto tak selalu menggambar tujuh bidadari seperti yang diceritakan dalam mitologi Jaka Tarub, terkadang hanya lima bidadari. Lima bidadari ini, menurut Rizki, kemungkinan simbol molimo, lima perbuatan yang terlarang dilakukan, yakni madat (narkoba), madon (main perempuan), minum (mabuk-mabukan), main (berjudi), dan maling (mencuri).

Ketertarikan Otto pada tema mitologi, menurut Rizki, tak lepas dari pengaruh zaman pendudukan Jepang di Indonesia. “Seniman yang mengalami pendudukan Jepang umumnya tertarik pada identitas Timur. Itu yang membuat Agus Djaya dan Otto Djaya dikenal.”

Pada malam pembukaan pameran, disajikan juga buku berjudul The World of Otto Djaya (1916–2002) yang ditulis Inge-Marie Holst. Buku yang juga tersedia versi digitalnya ini menceritakan Otto Djaya sebagai salah satu pelukis Indonesia yang karyanya dikoleksi Presiden Sukarno.

Walau menonjol dibandingkan dengan rekan-rekan sejawatnya yang telah terkenal  dan  memiliki  karya-karya  yang   lebih  terekspos  dan  terpublikasikan, namun informasi tentang Otto Djaya terbilang minim. Biografi tentangnya tidak pernah dituliskan.

Pencarian Inge-Marie dan Hans Peter Holst berlanjut ke investigasi arsip di Belanda dan pertemuan dengan para sejarawan seni di sana. Inge-Marie pun mengunjungi rumah tempat Otto dan Agus Djaya tinggal di Belanda. Pada masa itu Otto sempat membuat pameran yang terbilang besar tapi tak banyak diketahui di Indonesia karena perhatian masyarakat sedang tertuju pada kemerdekaan RI.

Pada 1950 Otto Djaya kembali ke Indonesia dan menjadi pelukis penuh waktu. Sempat tinggal di Semarang, dia kemudian pindah ke Depok hingga meninggal pada 2002. Otto  punya empat anak, tiga putri dan satu putra.

“Otto Djaya tidak lagi terlalu merupakan sebuah enigma sekarang, tapi kami masih tetap merasa tertantang atas keindahan makna yang lebih lagi dari banyak karyanya,” ujar Inge-Marie.

***
Dimuat di majalah Sarasvati edisi November 2016

cover_edisi_36

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s