Observatorium Bosscha

 

Sehari sebelum ke konser “December We’ll Remember” di Ruang Putih, saya singgah ke Lembang pada 17 Desember 2016 untuk melihat Observatorium Bosscha untuk yang pertama kali.
Berikut tulisan yang disalin dari website dan dari pamflet yang ditempel di Observatorium Bosscha.

===

220px-collectie_tropenmuseum_studioportret_van_de_heer_k-a-r-_bosscha_tmnr_10018605
K.A.R. Bosscha. (Koleksi Troppenmuseum)

Observatorium Bosscha (dahulu bernama Bosscha Sterrenwacht) di Lembang, Kabupaten Bandung dibangun Nederlandsch-Indische Sterrenkundige Vereeniging (NISV) atau Perhimpunan Bintang Hindia Belanda.

Pada rapat pertama NISV, diputuskan akan dibangun sebuah observatorium di Indonesia demi memajukan Ilmu Astronomi di Hindia Belanda. Dalam rapat itulah, Karel Albert Rudolf Bosscha, seorang tuan tanah di perkebunan teh Malabar, bersedia menjadi penyandang dana utama dan memberikan bantuan pembelian teropong bintang.

Sebagai penghargaan atas jasa K.A.R. Bosscha dalam pembangunan observatorium ini, nama Bosscha diabadikan sebagai nama observatorium ini. Pembangunan observatorium ini menghabiskan waktu kurang lebih lima tahun sejak 1923 hingga 1928.

Publikasi internasional pertama Observatorium Bosscha dilakukan pada 1933. Namun kemudian observasi terpaksa dihentikan akibat berkecamuknya Perang Dunia II.

sterrenwacht_te_lembang_
Bangunan berkubah rancangan Wolff Schoemaker, 1925. (Koleksi KITLV)

Setelah perang usai, observatorium direnovasi besar-besaran karena kerusakan akibat perang, hingga akhirnya observatorium dapat beroperasi dengan normal kembali.

Pada 17 Oktober 1951, NISV menyerahkan observatorium kepada pemerintah RI. Setelah Institut Teknologi Bandung (ITB) berdiri pada 1959, Observatorium Bosscha menjadi bagian dari ITB. Dan sejak saat itu, Bosscha difungsikan sebagai lembaga penelitian dan pendidikan formal Astronomi di Indonesia.

Teleskop

Observatorium Bosscha merupakan kawasan yang luasnya mencapai 7 hektare. Dalam kompleks observatorium ini terdapat 22 teleskop yang masih aktif digunakan untuk penelitian maupun kegiatan pengabdian masyarakat.

teropongbintangboscha1
Observatorium Bosscha dari udara. (Foto: istimewa)

Teleskop terbesar di Observatorium Bosscha adalah teleskop ganda Zeiss. Teleskop ini merupakan jenis refraktor berdiameter 60 cm dan merupakan teleskop satu-satunya yang memiliki gedung berbentuk kubah. Bangunan kubah ini telah menjadi landmark Bandung Utara selama lebih dari 85 tahun.

Bangunan teropong ini dirancang arsitek C.P. Wolff Schoemaker yang juga guru Presiden Sukarno. Teleskop dan gedung kubah ini merupakan sumbangan K.A.R. Bosscha yang secara resmi diserahkan kepada NISV/ Perhimpunan Bintang Hindia-Belanda pada Juni 1928. Kubah gedung memiliki bobot 56 ton dengan diameter 14,5 meter, terbuat dari baja setebal 2 mm.

Penelitian

img_0844
Teleskop ganda Zeiss, satu-satunya yang memiliki gedung berkubah. (Foto: Silvia Galikano)

Pada era 1930-an, topik utama penelitian Observatorium Bosscha adalah penentuan garis bujur internasional, pengamatan bintang ganda, dan bintang variabel. Seiring perkembangan dan kemajuan astronomi di dunia, topik penelitian di Observatorium Bosscha pun turut berkembang.

Dimulai dengan kehadiran teleskop Schmidt Bima Sakti pada 1961, Observatorium Bosscha mengembangkan kiprahnya dengan melakukan survei dan pemetaan bintang di sekitar bidang galaksi Bima Sakti serta pengamatan komet.

Pada 1980-an, Observatorium Bosscha memiliki teleskop GOTO yang dapat dikendalikan sepenuhnya oleh komputer. Pada 1990-an, kamera digital CCD mulai digunakan sebagai pengganti plat fotografi.

Memasuki abad ke-21, Observatorium Bosscha mengembangkan teleskop yang dapat dikendalikan jarak jauh (remote telescope) dan saat ini pengembangannya telah sampai pada tahap teleskop robotik.

Perkembangan instrumen ini memungkinkan Observatorium Bosscha melakukan penelitian yang lebih maju, seperti pengamatan bintang ganda dengan metode speckle interferometry, penentuan waktu minimal bintang ganda, survei keberadaan planet di luar tata surya, spektroskopi bintang-bintang eksotik dan transien, pengamatan bintang variabel di gugus bintang, pengamatan bulan sabit muda, pengamatan matahari, serta pengukuran kecerahan langit.

 

 

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s