Anggunnya Rumah Letnan Cina Pekalongan

Pekalongan berjaya sebagai kota pelabuhan dan salah satu pusat industri batik pada awal abad ke-20. Rumah-rumah cantik pejabatnya masih ada.

Oleh Silvia Galikano 

Tak jauh dari Alun-alun dan perkampungan batik Kauman, Kota Pekalongan, berdiri hotel dengan bangunan utamanya bergaya kolonial dengan napas Tionghoa yang kental. Bernama Hotel Sidji dengan logo bunga lotus.

Halaman depan sekaligus berfungsi sebagai area parkir. Teras depan dihiasi kolom-kolom tembok dan perabot kuno. Daun jendela dan daun pintu dari kaca patri yang makin cantik saat lampu-lampu mulai dinyalakan.

teras-depan-the-sidji-hotel-2
Teras depan The Sidji Hotel. (Foto: Silvia Galikano)

Di belakang bangunan lama berdiri bangunan baru, modern, tinggi menjulang segalibnya hotel bintang tiga. Keduanya dipisahkan kolam renang dan sebuah restoran terbuka.

Bangunan yang berada di Jalan dr. Cipto no 66 Pekalongan ini asalnya rumah tinggal dengan empat kamar tidur, milik pasangan Hoo Tong Koey (1885-1964) dan Tan Seng Nio. Didirikan pada 1918, di atas lahan seluas hampir 2000 meter persegi.

Hoo Tong Koey yang lahir di Pekalongan merupakan generasi ke-4 Hoo yang datang dari Amoy (sekarang Xiamen), Provinsi Fujian, Tiongkok pada abad ke-18. Leluhur Hoo ini kemudian menikahi gadis setempat.

Pada usia 18 tahun, Tong Koey memulai usaha di industri tembakau. Dia menikahi Tan Seng Nio, sesama generasi ke-4 Cina Peranakan, pada awal 1900-an. Keduanya beroleh enam anak.

Seng Nio-lah yang mendorong berdirinya rumah ini berikut ide arsitektur dan pengawasan selama pembangunannya. Selain bangunan utama, ada lagi bangunan memanjang ke belakang di kiri dari arah masuk (sekarang di seberang restoran).

Bangunan memanjang itu terbagi menjadi delapan ruangan, yakni paviliun bagi tamu yang menginap, ruang keluarga, gudang, ruang makan, dua kamar mandi, dan dua WC. Sumur dan area cuci ada di halaman belakang.

img_20161104_135940-kecil
Motif buket batik Eliza van Zuylen, koleksi Museum Batik, Pekalongan. (Foto: Silvia Galikano)

Batik mulai naik pamor bersamaan dengan ramainya Pekalongan sebagai kota pelabuhan pada akhir 1800-an. Kota ini berada dalam rute perdagangan Tiongkok, India, Timur Tengah, dan kolonialis Eropa, tak heran terkena pengaruh luar negeri yang sedang gencar-gencarnya mengenalkan hal baru, seperti zat pewarna batik dan desain yang berbeda dari pakem. Salah satunya dari pembatik tersohor, perempuan Belanda di Pekalongan, Eliza van Zuylen (1863-1947).

Batik van Zuylen terkenal dengan cirinya berwarna cerah dan corak bunga buketan, yang kemudian dikenal dengan sebutan batik Belanda. Batik Belanda sangat populer di kalangan Cina Peranakan dan Indo-Eropa di daerah pesisir.

Baca juga Seikat Bunga dalam Batik Belanda

Bersamaan dengan itu, industri tekstil India mulai melemah seiring berkembangnya industri tekstil cap di Eropa. Peluang ini dimanfaatkan penduduk Pekalongan untuk mengembangkan industri batik rumahan.

master-landscape
Kain batik kuno peninggalan Hoo Tong Koey dan Tan Seng Nio sekarang disimpan sang cicit, Felicia Nugroho. (Foto Silvia Galikano)

Tong Koey dan Seng Nio termasuk yang menangkap peluang ini. Tan Seng Nio memutar haluan usaha dari produksi jamu dan balsam ke industri batik bersama suaminya yang saat itu sudah menjalani bisnis obat batik yang cukup sukses. Halaman belakang rumah digunakan sebagai tempat produksi batik.

Seng Nio terjun langsung, mulai dari pengembangan desain, produksi, sampai pemasaran batiknya. Dalam waktu singkat bisnis batik Hoo Tong Koey dan Tan Seng Nio berkembang dan jadi salah satu usaha batik yang sukses di Pekalongan.

Selain pengusaha, Hoo Tong Koey juga berjiwa seni dan punya apresiasi tinggi terhadap gamelan. Dia mempelajari gamelan dengan serius dan membentuk perkumpulan gamelan di lingkungannya. Sering juga Tong Koey mengadakan pertunjukan cokek (sekarang lebih dikenal dengan gambang kromong) di rumahnya yang dihadiri tamu-tamu dari kalangan Belanda dan Cina Peranakan.

Karena aktivitasnya di komunitas Peranakan Pekalongan diakui pemerintah Belanda, Tong Koey diangkat menjadi Letnan Cina (Lieutenant der Chinezen), pangkat ke-3 tertinggi Peranakan dalam hierarki kolonial Belanda setelah Mayor Cina dan Kapiten Cina.

 

sebelum-menjadi-the-sidji-hotel-masih-berfungsi-sebagai-rumah-tinggal-foto-dokpri-felicia-nugroho-1
Sebelum menjadi The Sidji Hotel, masih berfungsi sebagai rumah tinggal, (Dokpri Felicia Nugroho)

 

Munculnya batik printing yang prosesnya cepat dan murah perlahan-lahan mematikan bisnis batik Tong Koey dan Seng Nio.

“Waktu saya kecil pada akhir 1970-an, masih produksi batik walau sudah jauh menurun jumlahnya dibanding sebelumnya. Permintaan berkurang hingga akhirnya produksi batik dihentikan sama sekali,” ujar Felicia Nugroho saat dijumpai di Jakarta, awal Desember 2016. Felicia adalah generasi ke-4, cicit dari Hoo Tong Koey, yang kini mengelola The Sidji Hotel.

Praktis tiga generasi yang tinggal di rumah bersejarah itu, sampai generasi ayah Felicia, Sukyatno Nugroho (Hoo Tjioe Kiat, 1948-2007) yang juga pendiri Es Teler 77. Felicia lahir di Jakarta pada 25 November 1972.

denah
Denah saat jadi rumah tinggal

Boutique hotel

Sebelum Sukyatno meninggal, pengusaha ini pernah membicarakan agar rumah leluhur itu dijadikan guest house jika memang tak ada lagi yang menempati. Akhirnya disepakati untuk membuat boutique hotel, bukan hotel bisnis, berkapasitas 76 kamar dan tiga suite.

“Bukan semata-mata untuk tujuan komersial, melainkan nostalgia, karena ada nilai-nilai yang ingin dipertahankan. Kami juga tidak mengubah bentuk bangunan depan,” kata Felicia.

Pada 2012, renovasi dimulai untuk mengubah peruntukan dari rumah tinggal menjadi hotel. Proses ini rampung pada 2015. Ruang tamu rumah dijadikan area lobi, dan empat kamar tidur jadi ruang pertemuan. Teras belakang diubah jadi kafe dan area duduk santai. Konstruksinya tak ada yang diubah. Kusen dan kaca patri masih asli.

Peninggalan Hoo Tong Koey masih digunakan, seperti perabot di ruang perpustakaan, gantungan topi di lobi, dan perabot di teras depan kecuali mengganti kulit jok lama yang sudah sobek.

Elemen bangunan yang rusak dan lapuk, seperti kerangka dan penutup atap, diganti dengan material baru. Tegel bercorak dan marmer di teras depan dan belakang adalah lantai baru karena lantai lama banyak yang sudah pecah.

Bangunan memanjang di belakang juga sudah tak ada lagi, dengan alasan bangunannya tak sekokoh dan seindah bangunan utama. “Dari segi arsitektur sangat dasar, kotak-kotak, jadi tidak bisa dipertahankan,” kata Felicia.

Semua kamar hotel berada di bangunan baru, di belakang, dipisahkan kolam renang yang dahulu sumur dan area cuci. Bangunan baru sengaja didesain simpel agar tidak mengalahkan citra rumah tua di depannya.

 

Agar seluruh ruang mendapat sinar matahari, bangunan hotel dibuat berbentuk huruf U, restorannya terbuka, koridor terletak di samping, bukan di tengah-tengah.

Fengshui pun masuk jadi pertimbangan untuk menutup pintu utama yang aslinya memiliki garis lurus dengan pintu belakang, lalu memfungsikan pintu di sebelahnya sebagai pintu utama. Pintu ini sebelumnya mengarah ke kamar tidur tamu yang sekarang dijadikan lobi.

Nama “Sidji” dipilih, selain agar mudah diingat, juga kata ini sangat Jawa. Penulisan “dj” untuk memberi kesan kuno. Sehingga secara keseluruhan Sidji diartikan sebagai hotel heritage pertama di Pekalongan yang memberi pengalaman kejayaan Pekalongan sebagai kota pelabuhan dan salah satu pusat industri batik.

the-sidji-hotel-di-jalan-dr-cipto-no-66-pekalongan-2
The Sidji Hotel di Jalan dr Cipto no 66 Pekalongan. (Foto: Silvia Galikano)

 

Bersambung ke Kapiten Cina dan Cerita Seruas Jalan

***
Dimuat di majalah SARASVATI edisi Januari 2016

cover_edisi_38

3 Comments

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s