Kapitan Tionghoa dan Cerita Seruas Jalan

Oleh Silvia Galikano

Hidup sezaman dengan Letnan Hoo Tong Koey, yang kediamannya kini jadi The Sidji Hotel Pekalongan, adalah Kapitan Tituler Lie Tek Lok (1890-1955). Rumahnya berada di antara deretan toko di Jalan Hasanuddin, kawasan Pecinan Pekalongan.

Terdiri dari dua lantai dan delapan kamar tidur di lahan seluas 1000 meter persegi. Memiliki courtyard di tengah rumah, balustrade balkon dari besi tuang, lisplang balkon dari kayu berukir, dan kolom-kolom langsing di dalam rumah.

Tek Lok adalah pemilik awal rumah ini, tapi yang membangun adalah ayahnya, Lie Tjie Siang, untuk sang putra. Lie Tek Lok punya dua anak laki-laki dan empat anak perempuan.

Usai melahirkan anak pertama, sang istri, Liem Giok Lian Nio, meninggal setelah terkena ledakan kompor dan sempat dirawat beberapa bulan. Dua tahun kemudian, Tek Lok menikahi adik mendiang istrinya, Lian See Nio, dan beroleh lima anak.

Keenam anaknya adalah Lie Swie King (Santoso Mulyadi, 1910-1984), Lie Lan Tin (Fransisca Kartini), Lie Swie Liam, Lie Lan Tjoe (Andayani Soediro), Lie Lan Hiang, dan Lie Lan Yan (Sri Muliani, 1928-2011). Dari dua anak laki-laki, hanya si sulung yang punya anak, sedangkan anak ke-3 wafat tanpa anak.

Lie Tek Lok adalah pedagang, namun belum diketahui apa persisnya usaha Tek Lok hingga sempat menjadi Kapitan Tituler.

 

Widyawati Santoso, 69 tahun, anak dari Lie Swie King (Santoso Mulyadi), sempat mengenal sang kakek walau kenangannya tak banyak. Wid masih bocah 8 tahun saat Tek Lok wafat, sedangkan sang kakek, baginya, sosok yang galak dan tak dekat dengan cucu.

Saat dijumpai di kediamannya di Jakarta, akhir Desember 2016, Wid menceritakan kakeknya senang bermain keplekan (judi kartu) dari pagi sampai petang bersama kawan-kawannya sesama warga sepuh. Sang kakek bahkan punya meja khusus untuk menyimpan uang untuk/hasil keplekan.

“Oma saya sering ‘ngomel karena opa lupa waktu kalau sudah main keplekan. Jalan Hasanuddin itu dulu namanya Jalan Keplekan karena di sepanjang jalan itu orang main keplekan,” ujar Wid.

 

Rumah Kapitan Tionghoa Pekalongan
Tanda bayar Pajak rumah tangga Lie Tek Lok, (Foto: delcampe,net)

Sang oma mengelola toko roti Ratna di rumah. Roti manis isi cokelat dan selai nanas serta roti tawar, setelah matang dipanggang, sebagian ditata di toko di bagian depan rumah. Sebagian lain dijajakan keliling dengan cara dipikul oleh pedagang laki-laki dan dijunjung dalam tenong oleh pedagang perempuan. Jika pedagang laki-laki ke arah timur, pedagang perempuan menyebar ke selatan.

Roti-roti ini, seperti umumnya roti pada masa itu, tanpa pengawet dan tanpa pelembut, karenanya hanya tahan semalam dan akan alot keesokannya. Pengelolaan toko roti Ratna kemudian diteruskan ibunda Wid, Kurniasih (1915-1989).

Wid tinggal di rumah itu hingga tamat SMA, untuk kemudian melanjutkan kuliah di Jakarta. Sepenuturannya, ada 10 orang yang tinggal di sana, di antaranya lima pekerja rumah tangga.

 

Rumah itu dibangun tidak sekaligus, melainkan bagian per bagian. Lantai atas tak digunakan sebagai kamar tidur, hanya sebagai gudang sebab lantainya yang dari kayu goyah saat diinjak.

Sekarang, yang menghuni adalah Bambang Wijaya, 51 tahun, dan istri. Bambang adalah anak sulung dari Lie Lan Yan (Sri Muliani) dan Susanto Widjaja (1924-1972).

Dari cerita Bambang ketika dijumpai pada awal November 2016, setelah usaha Lie Tek Lok tutup, kakeknya pernah bekerja di perusahaan milik Oei Tiong Ham, raja gula Asia Tenggara. Tek Lok berkawan dengan Oei Tjong Hauw (lahir 1904), salah satu anak Tiong Ham.

 

Rumah Keplekan, demikian keluarga besar Lie Tek Lok memberi julukan, pernah ramai tiap Imlek. Keturunan Tek Lok pulang, berbincang sampai jauh malam. Namun kebiasaan itu bertahan hanya sampai generasi ketiga dan tidak diteruskan oleh generasi cicit Tek Lok.

Pernah juga anak cucu Tek Lok mengadakan reuni di rumah ini pada 1966. Belakangan, reuni malah diadakan di The Sidji Hotel dengan pertimbangan kepraktisan.

“Tapi bagaimanapun, itulah rumah tempat kami pulang,” kata Wid, “Saya ingin rumah itu tetap terjaga. Semoga Tuhan izinkan.”

Bambang Wijaya, Pekalongan
Bersama Bambang Wijaya. Foto: Safitri.

***

Dimuat di majalah SARASVATI edisi Januari 2017

cover_edisi_38

7 Comments

  1. Saya tahunya rumah letnan dan seangkatannya hanya tersisa di rumah yang sekarang jadi bagian dari Hotel Sidji, ternyata masih ada bekas rumah kapitan yang masih terawat gini. Keren, mbak Silvi. Jadi tahu tentang Lie Tek Lok dan huniannya yang hingga kini masih terawat. 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s