Cihampelas, Seruas yang Berbenah

Dari ide menata PKL, Jalan Cihampelas punya magnit baru yang akan menarik banyak orang datang. Trotoar “di udara” bernama Teras Cihampelas.

 

Oleh Silvia Galikano

Kalau tak ada lagi aral melintang, awal Februari 2017 ini rampung pengerjaan skywalk di Jalan Cihampelas Bandung. Pembangunannya sejak awal September 2016 telah mengundang banyak kontroversi, dari yang mempertanyakan dasar hukumnya, apa urgensinya, hingga mengeluhkan pengunjung toko dan restoran di sepanjang Jalan Cihampelas merosot lebih dari setengah. Ada pula yang menanyakan apa jaminan skywalk ini akan hidup terus dan bukan malah jadi sampah kota jika Ridwan Kamil tak lagi jadi Wali Kota Bandung.

Rencana awal, proyek yang dikerjakan PT Likatama Graha Mandiri dan PT Maratama Cipta Mandiri itu rampung pada 29 Desember 2016, tapi hingga pertengahan Januari 2017, saat Sarasvati melihat lokasi, skywalk belum difungsikan, masih ada pekerjaan di atas dan di bawah. Proyek senilai Rp45 miliar yang didanai APBD Kota Bandung ini baru 99 persen rampung.

Teras Cihampelas, nama resmi skywalk, terentang sepanjang 500 meter, dari RS Advent hingga Hotel Promenade, berdiri setinggi 5,2 meter di atas Jalan Cihampelas. Terbagi menjadi tiga area, yakni taman di ujung utara dan ujung selatan, kios souvenir, dan kios kuliner.

Tersedia fasilitas toilet umum dan toilet untuk difabel, serta alur landai untuk difabel di sisi undakan yang menyesuaikan Jalan Cihampelas yang menurun ke arah selatan. Ada satu lift dan enam tangga untuk naik ke sini, yakni dua di ujung utara, dua di ujung selatan, dan dua di tengah. Juga ada fasilitas untuk wisata berupa sistem tanda (sign-system), bangku taman, dan giant frame untuk berfoto.

Pengerjaan Teras Cihampelas berkonsep design and built, yakni perencanaan dibarengkan dengan pembangunan. (Foto: Silvia Galikano)
Pengerjaan Teras Cihampelas berkonsep design and built, yakni perencanaan dibarengkan dengan pembangunan. (Foto: Silvia Galikano)

Teras Cihampelas terinspirasi High Line New York, taman linier sepanjang 2,3 kilometer di bekas jalur kereta api di Manhattan. Ide ini yang coba diterapkan di Cihampelas yang kondisinya berbeda.

Adalah Wali Kota Bandung Ridwan Kamil yang mencetuskan ide untuk menata pedagang kaki lima (PKL) di sepanjang Jalan Cihampelas yang selama ini menempati trotoar, umumnya penjaja makanan dan baju kaus. Pejalan kaki tidak nyaman karena harus berjalan zigzag di trotoar yang hanya selebar 1-1,5 meter, bahkan tak jarang terpaksa turun ke jalur mobil. Para PKL ini nantinya akan dipindahkan ke atas sehingga trotoar hanya untuk pejalan kaki.

“Sudah ada ketetapan, yang di atas hanya PKL yang sebelumnya di Jalan Cihampelas, jadi bukan PKL baru atau pindahan dari tempat lain,” ujar Sigit Wisnuadji, arsitek dari PT Likatama Graha Mandiri dan tergabung dalam tim perancang Teras Cihampelas, saat saya jumpai di Bandung, pertengahan Januari 2017.

Akan ada 192 kios souvenir dan kuliner, masing-masing berukuran 1,2×1,5 meter. Satu atap terdiri dari empat kios. Untuk kios kuliner, sebagian penutup kios berfungsi pula sebagai meja makan, walau bisa juga pengunjung memilih makan di bangku taman.

Mengaktivasi ruang agar kelak orang mau ke atas sehingga fasilitas ini bisa hidup, menurut Sigit, adalah tantang terberat. Namun karena segmennya adalah pengunjung Cihampelas yang datang untuk jalan-jalan santai dan melihat-lihat, dia yakin segmen ini akan terdorong untuk naik.

Kios souvenir di ujung selatan Teras Cihampelas. (Foto: Silvia Galikano)
Kios souvenir di ujung selatan Teras Cihampelas. (Foto: Silvia Galikano)

 

Pada era 1980-an dan 1990-an, Jalan Cihampelas berjaya sebagai pusat jeans. Sekarang, walau pamor Cihampelas sebagai pusat jeans tak semoncer dahulu, toko-toko jeans yang dulu mengalami masa keemasan itu masih berdiri, berdampingan dengan factory outlet, toko oleh-oleh, dan Cihampelas Walk, pusat perbelanjaan yang jadi simpul utama keramaian. Wisatawan Cihampelas kini umumnya rombongan dari luar kota menggunakan bus-bus besar.

Teras Cihampelas adalah tahap pertama dari agenda besar menghubungkan dua bukit yang mengapit Sungai Cikapundung, yakni kawasan Cikapundung – Jalan Taman Sari – Jalan Cihampelas, dengan satu fasilitas pejalan kaki berbentuk  skywalk.

Untuk mendukung rencana tersebut, akan dibangun gedung parkir di lahan milik PDAM di Taman Sari. Dari sana, pengguna jalan bisa melanjutkan perjalanan ke Cihampelas atau ke Jalan Dago sejauh 2-3 kilometer dengan berjalan kaki di skywalk.

“Ini kan jalan santai, tidak terburu-buru, jadi jarak tiga kilometer tidak akan terasa jauh,” kata Sigit.

Kelak, toko-toko pun dapat terhubung ke skywalk. Itu sebabnya pagar skywalk tidak dilas mati, melainkan menggunakan baut yang dapat dibuka. Saat ini sudah ada beberapa toko yang membangun pondasi di depan tokonya.

Teras Cihampelas didesain tanpa atap. Pohon-pohon mahoni yang tumbuh di tepi Jalan Cihampelas-lah yang akan jadi penaungnya. Juga ada seni instalasi Big Tree berbentuk tiga payung besar dari jalinan bambu karya Joko Avianto di ujung selatan, dapat digunakan pengunjung untuk berteduh.

Alasan tidak digunakannya atap, atau sekadar shelter, adalah selain akan mengubah suasana, angin kencang menciptakan lorong angin di Jalan Cihampelas, terlebih jika ada angin yang punya daya angkat, dipastikan bakal dapat menerbangkan atap.

Sigit Wisnuadji, arsitek dari PT Likatama Graha Mandiri dan tergabung dalam tim perancang Teras Cihampelas. (Foto: Silvia Galikano)
Sigit Wisnuadji, arsitek dari PT Likatama Graha Mandiri dan tergabung dalam tim perancang Teras Cihampelas. (Foto: Silvia Galikano)

 

Kontroversi paling besar datang dari pemilik usaha di sepanjang Cihampelas selama masa pemasangan pondasi dan tiang-tiang. Proses ini melibatkan aktivitas penggalian dan pengecoran, serta banyak kendaraan besar pengangkut baja dan beton yang geraknya sangat lamban yang menyebabkan macet dan bising.

Seruas jalan pun ditutup dari pukul 20.00 hingga pukul 05.00 keesokannya, padahal pukul 20 adalah jam mulai ramainya restoran dan kafe di sana. Kondisi ini diharapkan kembali normal setelah Teras Cihampelas beroperasi.

“Bekerja pada malam hari juga tidak seefektif siang hari. Itu ikut menyebabkan mundurnya pengerjaan skywalk dari jadwal yang awal ditetapkan,” tutur Sigit.

Selain itu, jika umumnya urut-urutan proyek pemerintah adalah perencanaan dahulu, baru tahun berikutnya dibangun sesuai perencanaan, pengerjaan Teras Cihampelas berkonsep design and built, yakni perencanaan dibarengkan dengan pembangunan. Akibatnya tim desain tak punya waktu leluasa karena 95 persen komponen, seperti pagar, lampu, pot adalah pabrikasi yang harus fixed di awal.

Belum lagi desain di atas kertas tak semua dapat diterapkan di lapangan. Seperti tiang yang terpaksa dipindahkan karena ternyata berada tepat di depan toko, yang berbuntut berubah pula sistem di atasnya, panjang balok-balok yang melintang, sehingga musti didesain ulang dan dipesan ulang balok-balok dengan ukuran baru.

Ada kasus lain yang lumayan menggelikan. Letak toilet difabel menurut desain awal ternyata berhadap-hadapan dengan hotel di seberangnya. Setelah hotel mengajukan keberatan, toilet pun dipindah ke tempat sekarang berdiri, di tempat yang janggal, berdesakan dengan undakan.

Bangku taman disediakan di beberapa titik di Teras Cihampelas. (Foto: Silvia Galikano)
Bangku taman disediakan di beberapa titik di Teras Cihampelas. (Foto: Silvia Galikano)

 

Pedestrianisasi Cihampelas

Seiring menciptakan jalur pejalan kaki “di udara”, di Teras Cihampelas, dalam proyek yang berbeda adalah melebarkan trotoar di sepanjang Jalan Cihampelas menjadi 2 hingga 30 meter. Bentuknya plaza-plaza atau ruang terbuka yang matahari dan udara mengalir tak terhalang,  terutama tidak sempit. Plaza ini tidak tertutup bangunan, kendaraan, apalagi tempat parkir karena gedung khusus parkir bakal tersedia.

Tahun depan baru dimulai konstruksi pedestrianisasi Cihampelas, begitu skywalk rampung terhubung. Sekarang sedang dalam tahap desain/perencanaan sambil membuat pendekatan dengan para pemilik bangunan di sepanjang Cihampelas agar mau membuka pagarnya.

“Masalah terbesar adalah lahan-lahan ini milik privat, dipagari, ditutup, tidak mau berbagi dengan sebelahnya. Jadi kami mengajak privat ini ini menggabungkan lahan di depannya untuk kepentingan publik dengan sistem berbagi, shared plaza,” ujar Aryani Murcahyani, Founder/ Chief Executive Officer PT U-Lab yang akan mengerjakan jalur pedestrian di Jalan Cihampelas (bawah).

Menurut Aryani, sedang digodok kompensasi bagi pemilik lahan yang merelakan halamannya dijadikan trotoar, misal pajak lebih ringan, perizinan dipermudah, atau diberikan izin menambah tinggi bangunan satu lantai lagi menjadi tiga lantai.

Aryani telah mengawal sembilan koridor pedestrianisasi di Bandung, di antaranya Jalan Asia-Afrika dan Jalan Sudirman Bandung. Tahun depan dia akan mengawal 13 koridor. “Intinya orang harus dibuat nyaman untuk berjalan kaki. Memang harus ada yang dikorbankan, di antaranya tidak boleh membawa kendaraan pribadi. Karenanya sangat lucu ketika pedestrian diperbesar tapi masih bicara soal parkir.”

***
Dimuat di majalah SARASVATI edisi Februari 2017

Cover_Edisi_39 (1)

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s