Istana Bale Kambang, Lakon Tragis Raja Gula

Seabad lampau, kompleks ini adalah landmark Semarang. Sekarang, bahkan sulit untuk meraba gambaran utuhnya.

Oleh Silvia Galikano

Sekira empat tahun lalu, Oei Tjong Bo, 89 tahun, dan kakak perempuannya yang berusia 91 tahun, datang dari Thailand menemui Jongkie Tio, tokoh Tionghoa Semarang. Keduanya minta diantar napak tilas ke estate milik ayah mereka, Oei Tiong Ham di Semarang. Keduanya adalah anak Tiong Ham dari istri ke-7.

Oei Tiong Ham pada awal abad ke-20 adalah pemilik kebun tebu, pabrik gula, perbankan, dan asuransi, hingga mendapat julukan “Raja Gula”. Hartanya mencapai 200 juta Gulden (sekarang setara Rp15,37 triliun) hingga gelarnya bertambah jadi “Pria 200 Juta”.

Salah satu tempat yang Jongkie tunjukkan ke Oei Tjong Bo dan kakaknya adalah Istana Gergaji di Jalan Kyai Saleh, Semarang, kediaman Oei Tiong Ham pada awal 1900-an. Jongkie sudah akrab dengan rumah itu sejak 1967, sebab orangtuanya berteman dengan keluarga sang konglomerat.

Jongkie sempat melihat karakter Cina terpasang besar-besar di dinding dalam bangunan utama Istana Gergaji, pemandangan yang tak lagi dia jumpai saat mengantar dua anak Tiong Ham. Jongkie juga memperkenalkan mereka ke perempuan penghuni rumah besar di seberang Istana Gergaji, yang dulu adalah  karyawan Oei Tiong Ham.

Kompleks ini setidaknya punya empat sebutan, yakni Gedong Gergaji, Istana Oei Tiong Ham, Kebon Rojo, dan Bale Kambang. Nama terakhir hingga kini masih dipakai sebagai nama perkampungan di bekas lahan milik Oei Tiong Ham.

Bermula dari perusahaan dagang Kian Gwan di Semarang yang didirikan sang ayah, Oei Tjie Sien, pada 1 Maret 1863. Oei Tiong Ham (1866-1924) mengembangkannya jadi kerajaan bisnis Oei Tiong Ham – Concern dengan bisnis utama ekspor gula pasir dan pemegang hak monopoli perdagangan candu (opium pachter) dari pemerintah kolonial Belanda.

Baca juga Sarang Garuda, Epos Keluarga Oei

Bukan Oei Tiong Ham yang membangun Gedong Gergaji. Pemilik semula adalah Hoo Yam Loo, pedagang yang mendapat hak monopoli perdagangan candu. Tak ada catatan atau pun plakat yang menerangkan tahun berapa gedung itu dibangun, tapi diperkirakan pada awal abad ke-19.

Ketika Hoo Yam Loo mengalami kerugian besar sehingga dinyatakan bangkrut, semua hartanya disita untuk kemudian dilelang pada 1883, termasuk rumah besar di daerah Gergaji. Oei Tjie Sien membeli Gedong Gergaji setidaknya lima tahun setelah dia membeli dan menempati landhuis milik Johannes di bukit Penggiling, Simongan, namun Sarang Garuda belum dibangun.

Saat  berumur 18 tahun, Oei Tiong Ham dinikahkan dengan Goei Bing Nio, 15 tahun, putri  keluarga  Goei, opsir   Tionghoa dan pemegang pachter  pajak. Saat Oei Tiong Ham mulai menempati Gedong Gergaji pada 1890, atau sekitar lima tahun setelah pernikahannya.

Oei  Tiong  Ham  mulai  menerima  tanggung  jawab menjalankan usaha  dagang  Kian Gwan ketika  telah besar  dan kuat, setelah sebelumnya dilatih. Sebenarnya dia sudah  memiliki  bisnis  sendiri, yakni  pabrik  gula dan usaha perkebunan.

Pada 1885-an Oei Tiong Ham menjadi Letnan Tionghoa. Pada masa ini dia memenangkan pachter candu untuk daerah Semarang, dan wilayahnya terus meluas sampai 1904 ketika penjualan candu diambil alih oleh Opium Regie (monopoli penjualan candu oleh pemerintah kolonial, mulai dari impor hingga candu sampai ke tangan pembeli). Konon, keuntungan Tiong Ham selama menjadi pachter candu mencapai 18 juta gulden (sekarang setara Rp1,38 triliun).

Selama10 tahun kemudian, dia diangkat menjadi kapten, lalu mayor Tionghoa. Pabrik gulanya bertambah menjadi lima pabrik yang di pos-pos pentingnya dipegang profesional lulusan Delft dan Wagenigen (Insinyur)  serta Rotterdam (Ekonom). Mereka orang Tionghoa dan orang Belanda.

Oei Tiong Ham, seperti juga ayahnya, menerapkan manajemen modern dengan memberlakukan kontrak dalam bisnis dengan  siapapun, dan tidak  ragu-ragu menyita barang  atau jaminan yang diberikan. Secara berkala dia mengirimkan karyawannya ke luar negeri untuk mempelajari metode produksi baru.

Mesin-mesin selalu ditingkatkan, teknologi dan laboratorium pun paling mutakhir. Pabrik  gula  Redjoagung, contohnya, menjadi  pabrik  pertama  di Hindia-Belanda yang menggunakan tenaga listrik, dan menyandang gelar pabrik gula karbonasi terbesar di dunia. Ahli keuangan, selain menangani keuangan, juga melakukan riset, analisis, dan alokasi keuangan, bahkan ekspansi usaha.

Kompleks Istana Oei Tiong Ham yang seluas 81 hektare (sama luasnya dengan Kelurahan Senen, Jakarta) terdiri dari rumah, kebun, dan beberapa bukit kecil. Dari perbukitan di taman, terlihat pemandangan kota bawah Semarang.

Terdapat pula gua-gua dan ratusan patung yang didatangkan dari Cina, gunung buatan dari batu karang, serta tempat-tempat khusus bagi pemain musik. Berbatasan dengan kompleks istana, membentang tanah miliknya sepanjang Oei Tiong Ham weg (Jalan Pahlawan sekarang), terus ke daerah Pandanaran, sampai Randusari.

Di antara kebun bunga dan kolam-kolam ikan, gazebo dibangun di salah satu permukaan yang tinggi untuk pengunjung beristirahat. Dari sinilah asal nama lain tempat ini, Bale Kambang, yakni dari “bale” (tempat) dan “kambang” (mengambang di atas air).

Kebun binatang mini juga sangat menarik perhatian masyarakat waktu itu karena terdapat aneka macam binatang langka. Dan saat malam tiba, lampion yang didatangkan dari Cina, dinyalakan; burung-burung merak dilepaskan sebagai penjaga keamanan. Pada hari-hari raya Lebaran dan Sincia atau saat liburan, tempat ini selalu jadi tempat rekreasi masyarakat Semarang.

Oei Tiong Ham tak memperindah istananya dengan gaya arsitektur Cina seperti layaknya orang-orang Tionghoa kaya pada waktu itu. Dia tetap mempertahankan arsitektur kolonial, bangunan besar dengan kolom-kolom besar di teras; serta pintu, jendela, dan langit-langit tinggi, juga pintu gerbang indah dari besi.

“Langgam bangunan ini sangat disukai tuan-tuan tanah Eropa kala itu dan dikenal dengan sebutan landhuis. Oei Tiong Ham tak mengubah langgamnya, kecuali mempercantik, misal lantai diganti marmer tebal kualitas wahid dari Italia sehingga menyejukkan udara ruangan,” ujar Jongkie.

Gedong Gergaji terdiri dari satu rumah induk dan dua paviliun di kiri-kanan gedung utama yang dihubungkan lorong beratap. Dua paviliun masing-masing digunakan sebagai ruang makan dan untuk menjamu tamu. Tamu yang menginap ditempatkan di kamar-kamar berberanda luas yang ada di sekeliling rumah.

Beranda bangunan utama berisi meja-kursi, pot-pot bunga di atas kaki yang semua terbuat dari porselen Eropa dan Cina, serta patung-patung Eropa menempel di kiri kanan dinding teras. Setelah melewati pintu, terdapat sebuah ruangan luas dengan empat kamar  besar saling berhadapan. Di belakang ruang tersebut ada satu ruang luas dengan meja kursi dari bambu dan rotan tempat Oei Tiong Ham menerima tamu.

Di belakangnya lagi, terbentang kebun dan beberapa bangunan, yakni dapur dan ruang-ruang khusus untuk menyimpan bahan makanan, seperti daging, sayur mayur, dan ikan yang memerlukan pendingin agar dapat disimpan untuk beberapa waktu. Saat itu kulkas belum dikenal di Semarang, maka digunakanlah balok-balok es yang harus sering diganti. Di ruang tersebut dibuat pula saluran-saluran khusus untuk mengalirkan air lelehan es.

Perselisihan dengan pemerintah Hindia Belanda mengenai aturan pajak ganda serta hukum waris membuat Oei Tiong Ham meninggalkan Semarang pada 1921, pindah ke Singapura dan meninggal di sana tiga tahun kemudian setelah terkena serangan jantung. Dia dimakamkan di kawasan Simongan, Semarang, bersama ayahnya.

Setelah hampir 100 tahun berdirinya Oei Tiong Ham – Concern, pengadilan ekonomi di Semarang pada 10 Juli 1961 menyita seluruh aset kekayaan milik Oei Tiong Ham, termasuk istananya, dengan dakwaan melakukan praktik kejahatan ekonomi.

Sejak itulah, tanah luas bekas taman berubah menjadi perkampungan penduduk yang padat, diiris-iris jadi Jalan Kampung Balekambang gang I, gang II, dan seterusnya. Bukit-bukit di halaman sekarang masih tampak sebagian, berada di belakang kantor Polda di Jalan Pahlawan, sudah penuh dengan rumah rakyat.

Gedung utama, bangunan di sekitarnya, serta pekarangan sempat dijadikan Balai Prajurit dan asrama milik Kodam Diponegoro.  Selama bertahun-tahun itulah estate ini merana dan tak terurus hingga banyak bagian gedung yang rubuh, bahkan ubin marmer Italia yang terkenal pun lenyap dicongkel. Seluruh patung, hiasan, dan perabot antik di dalam istana hilang.

Pada 1980-an, keluarga Oei Tiong Ham datang ke gubernur Jawa Tengah saat itu, Soepardjo Rustam (periode 1974-1982), minta izin makam Tiong Ham dibongkar untuk dipindahkan ke Singapura.

Kini, kepemilikan bekas istana Oei Tiong Ham beralih ke pengusaha kelahiran Semarang, Budi Poernomo (Hoo Liem). Hanya saja, kompleks yang semula seluas 81 hektare, sekarang tersisa 8000 meter persegi, termasuk di dalamnya Rumah Gergaji. Oleh Budi Poernomo, Istana Oei Tiong Ham dipugar, difungsikan sebagai kampus Sekolah Tinggi Manajemen Informatika dan Komputer (STMIK) Provisi dan laboratorium bahasa Study World.

Gedung utama yang sekarang disewakan untuk pertemuan atau resepsi pernikahan sudah berubah bentuk bagian dalamnya, jadi bergaya Versailles. “Dulu, waktu masih rusak, masih ada sisa-sisa peninggalan Oei Tiong Ham, masih ada karakter Cina besar-besar dari kayu di dinding ruang utama, tapi terus dijarah habis sebelum renovasi,” kata Jongkie.

Yang masih relatif sama adalah ruang belakang bangunan utama dengan daun jendela khas yang sekarang jadi tempat les balet; serta kamar mandi dengan bak yang konon dahulu di dasarnya tempat Oei Tiong Ham menimbun emas, perhiasan, dan hartanya.

Jongkie menunjukkan bagian unik lain, yakni talang air di atap belakang bangunan utama yang membentuk wajah manusia. Ada mata, hidung, dan mulut. Dari dulu sudah demikian bentuknya, hanya saja kerap luput dari perhatian.

***
Dimuat di majalah SARASVATI edisi Maret 2017

Sarasvati_Edisi_40

4 Comments

  1. periode tahun 2007 sampai 2011, saya kuliah fi semarang, sering lewat dari depan rumah ini namun saat itu hanya tau ini gedung pesta atau tempat orang prewedding. Kemudian tahun 2012 saya pertama sekali masuk gedung ini untuk sesi pemotretan untuk company profile kantor. Saat itu saya sudah hijrah ke Jakarta. Ketika pertama kali masuk ke dalam, saya mengagumi interior bangunan ini, namun tak pernah tau apa nama gedung ini dan bagaimana sejarahnya.
    Terimakasih mbak, tulisannya sangat informatif.

  2. terima kasih juga sudah singgah.
    saya justru lebih dulu tau cerita versi mistiknya, dulu sekali tahun 80-an, baca di majalah intisari, kalo ngga salah laporan mayong suryo laksono (istrinya nurul arifin).
    sejak itu penasaran.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s