Rumah Dua Langgam di Lereng Sindoro-Sumbing

 

Bangunan ini jadi perhatian karena keindahannya terpelihara. Berdiri di kawasan Pecinan Parakan yang menyimpan banyak rumah lama dan cerita sepanjang jalan.

Oleh Silvia Galikano

“Wihara Gambiran” atau “Rumah Gambiran” jadi sebutan umum, mengacu lokasi jalannya di Jalan Gambiran, Parakan. Julukan lain, “Rumah Bhante”, karena sejak 2006 dimiliki Ekayana Buddhist Centre yang dikepalai Bhante Aryamaitri (bhante = biksu).

Rumah Gambiran adalah dua rumah dengan dua langgam dengan dua arah hadap saling berpunggungan. Keduanya dipisahkan courtyard. Rumah Indis menghadap selatan ke Jalan Demangan dan rumah Tionghoa menghadap utara ke Jalan Gambiran.

Di atas pintu utama rumah Tionghoa terpasang papan bertuliskan empat karakter, “Yuanfa Chanyuan”. Dua pertama, yakni “Yuanfa”, mengacu pada nama guru Bhante Aryamaitri, sedangkan “Chanyuan” berarti “Aula Meditasi”. Nyanyian Buddha dimainkan sepanjang hari sepanjang malam, memberi atmosfer tenang bagi yang berdoa.

 

Total ada 24 kamar tidur yang tersebar di rumah Indis, di rumah Tionghoa, sederet di sayap timur, dan sederet di sayap barat. Ada dua sumur timba yang terhubung ke dua kamar mandi (sekarang sudah dipasang pompa air berikut pemanas air) di courtyard dan satu sumur di halaman depan rumah Indis.

Kamar-kamar tidurnya dilengkapi tempat tidur kuno, lemari kuno, dan, ini yang unik, pispot kuno. Menurut Yenny, pengurus Rumah Gambiran, fungsinya semata-mata hiasan karena Bhante Aryamaitri punya perhatian besar pada barang-barang antik.

Walau begitu, bisa dibayangkan pada masa lalu ketika belum ada listrik, sebuah tantangan besar untuk keluar kamar pada tengah malam, pergi ke kamar mandi yang adanya di luar, menembus udara dingin Parakan, untuk buang air kecil. Sehingga keberadaan pispot di sudut kamar tentu sangat membantu.

 

Tak ada catatan tahun berapa rumah Indis dibangun, diperkirakan akhir 1800-an. “Yang jelas, tahun 1890 sudah ada,” ujar Sutrisno Murtiyoso pada awal Maret 2017 di Parakan. Sutrisno Murtiyoso adalah arsitek yang membuat kajian Rumah Gambiran untuk buku Chinese Houses of Southeast Asia (2010) yang ditulis Ronald G. Knapp.

Langgam Indis yang merupakan paduan gaya Belanda, Jawa, dan Tionghoa tampak dari langit-langit tinggi, ventilasi banyak, teras luas, dan kerai di teras. Walau kini kerai sudah tidak dipasang, namun besi tempat melilitkan tali kerai masih ada di kolom teras.

Yang menarik, rumah Indis menghadap Gunung Sumbing; serta pintu gerbang, pintu depan, dan pintu belakang rumah berada dalam satu garis lurus. Padahal menurut fengshui, membangun rumah menghadap gunung (membelakangi laut) adalah pantangan, juga meletakkan pintu belakang satu garis dengan pintu depan yang dipercaya membuat rezeki yang masuk bakal langsung lolos keluar.

“Karena generasi awal tidak paham benar fengshui, kecuali untuk pemakaman. Jadi yang diterapkan hanyalah mencontoh kebiasaan di kampung halaman,” ujar Sutrisno.

 

 

Parakan adalah kota kecamatan di Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah di lereng gunung Sindoro-Sumbing. Ketika pecah Perang Jawa pada 1825, penduduk Kadipaten Menoreh yang dibumihanguskan Belanda dan adipatinya terbunuh, menyelamatkan diri ke Temanggung yang berjarak 10 kilometer.

Seusai perang, Parakan menjadi pusat kegiatan perdagangan kembali. Masa inilah terbentuknya Parakan sebagai kota, yakni tempat konsentrasi penduduk, kekuasaan, dan ekonomi.

Kaum Tionghoa, para bekas pengikut Pangeran Diponegoro (kaum pendherek), warga asli desa Parakan, dan warga sekitarnya jadi empat kelompok pendiri Kota Parakan. Semua di bawah kekuasaan dan pengawasan pemerintah jajahan Belanda.

 

Kelompok Tionghoa menghuni kawasan di sekeliling penguasa tertinggi setempat, yaitu Demang Parakan, sedangkan bekas pasukan Diponegoro memilih kawasan di sebelah baratnya. Sebagai pendatang, kedua kelompok ini mengisi lahan-lahan kosong di antara desa-desa lama, dan dalam waktu singkat dapat menyatukan beberapa desa lama itu menjadi satu kawasan perkotaan yang utuh.

Di antara generasi awal Tionghoa Parakan adalah Siek Hwie Soe dari Provinsi Shanxi, Tiongkok, yang mendarat di Parakan pada 1821, empat tahun sebelum pecah Perang Jawa. Pemuda energetik ini jadi anak buah pengusaha kaya Loe Tjiat Djie, lalu menikahi puterinya. Bisnis Loe Tjiat Djie adalah impor gambir sebagai salah satu perlengkapan mengunyah sirih.

Baca juga Candu Rokok Berawal dari Teman Makan Sirih

 

 

Saat pulang kampung ke Tiongkok pada 1840, Siek Hwie Soe mengajak keponakannya, Siek Hwie Kie, untuk bergabung dengannya mengelola usaha yang sedang berkembang di Parakan. Siek Hwie Soe pada akhirnya menggantikan kedudukan sang ayah mertua.

Siek Hwie Soe wafat pada 1882 dan mewariskan banyak rumah yang saling berdekatan di Jalan Gambiran. Perusahaan pun dibagi dua, Hoo Tong Seng Kie di Semarang dan Hoo Tong Kiem Kie di Parakan. Perusahaan Semarang ditangani Siek Tjing Liong, putra Siek Hwie Soe. Perusahaan Parakan dikelola Siek Tiauw Kie yang diajak ke Parakan pada 1840 dalam usia 19 tahun, untuk membantu pamannya.

Siek Tiauw Kie punya beberapa istri orang Tionghoa di Parakan, dan punya tiga putra kelahiran 1860-an, yakni Siek Kiem Tan, Siek Oen Soei, dan Siek Kiem Ing. Ada yang mengatakan dia juga punya satu-dua istri di Tiongkok. Putra-putranya juga semua bersekolah di Tiongkok dan lebih lancar bicara bahasa Hokkien dibanding Bahasa Melayu yang umum digunakan di Parakan.

 

Siek Tiauw Kie wafat di laut pada 1890-an dalam perjalanan kembali dari Tiongkok ke Parakan. Keluarganya kemudian mengembangkan bisnis ke perdagangan beras dan tembakau.

Dalam Chinese Houses of Southeast Asia dituliskan, ketika Tiauw Kie meninggal, kemungkinan rumah Indis sudah dibangun untuk memenuhi kebutuhan keluarga besar keluarga Siek. Dan seperti umumnya rumah Indis, selain bangunan utama terdapat pula service area di rusuk rumah.

Rumah baru bergaya Tionghoa, menghadap utara, dibangun kemudian oleh tiga bersaudara Siek pada 1905, berpunggungan dengan rumah Indis. Saat membangun rumah Tionghoa inilah, service area yang sebelumnya ada di rusuk rumah diganti jadi kamar-kamar tidur, merentang dari ujung halaman depan rumah Indis hingga ke ujung halaman depan rumah Tionghoa.

 

 

Di bagian timur rumah hingga kini masih ada kolam dengan tangga turun yang dulunya adalah kolam untuk memandikan kuda, karenanya tentu dahulu ada pula istal kuda di sini. “Tapi tidak tahu istal itu letaknya di mana. Bisa saja yang sekarang jadi kamar-kamar tidur,” kata Sutrisno.

Rumah Tionghoa dibangun pada masa kebangkitan identitas Tionghoa. Orang-orang sukses memamerkan kekayaan mereka secara mencolok dengan membangun rumah megah, berpakaian mewah, punya kendaraan, aktif berkesenian, serta menyumbang dalam jumlah banyak saat menghadiri pernikahan, kematian, dan perayaan Sincia.

Pada masa inilah fengshui mulai diterapkan. Rumah baru dibangun membelakangi gunung dan menghadap utara ke arah laut, walau tak tertutup kemungkinan menghadap Tiongkok di kejauhan. Pintu pagar depan rumah Indis pun digeser sedikit ke barat sehingga tak lagi segaris dengan pintu rumah.

 

Walau awalnya dua rumah itu milik tiga putra Siek, namun akhirnya cuma ditempati Siek Oen Soei (1861 – 1948), empat istrinya, serta anak-anak dan cucu-cucu. Dua saudaranya membangun rumah sendiri, satu di seberang jalan dan satu lagi agak jauh, di Jalan Sebokarang, Parakan.

Pada masa tuanya, Siek Oen Soei bersama istri termuda dan paling dia favoritkan, Soen Hae Yong, dan seorang cucu perempuan pindah ke sayap barat. “Di sini kita lihat pengaruh Jawa,” kata Sutrisno. “Orang sepuh tidak lagi tinggal di bagian utama rumah, pindah ke bagian barat mendekati matahari terbenam. Budaya Tionghoa tidak mengenal ini.”

IMG_20170303_165809
Ruang tengah rumah Indis. (Foto: Silvia Galikano)

 

Setelah Siek Oen Soei wafat di Yogyakarta, rumah itu diberikan kepada putra bungsunya, Siek Bien Bie. Namun keluarga Ben Bie kemudian boyongan ke Batavia saat negeri kacau akibat agresi militer Belanda, 1947 dan 1948.

Dalam keadaan kosong, rumah ini serta 2-3 rumah lain di Parakan jadi tempat pengungsian ketika kota-kota di sekitarnya dibumihanguskan Belanda. Menurut Sutrisno, Parakan relatif aman hingga dapat dijadikan kamp pengungsian berkat eratnya hubungan Tionghoa Parakan dan TNI sejak zaman perjuangan, dalam bentuk, antara lain, mengirim obat-obatan dan uang.

 

Selama setengah abad kemudian, rumah keluarga Siek tidak ditempati, hanya diurus orang yang dipercaya untuk merawat. Pada 2006, rumah ini dibeli Ekayana Buddhist Centre, mengalami renovasi hingga akhir 2007 dan diresmikan sebagai Prasada Mandala Dharma saat Sincia pada Februari 2008.

Prasada Mandala Dharma kini digunakan sebagai tempat pelatihan dan retret jemaat wihara dari berbagai kota, bahkan luar negeri. Thích Nhất Hạnh, bhiksu Prancis kelahiran Vietnam, pernah datang, bahkan membuat dua kaligrafi yang dapat dilihat di dinding di belakang altar rumah Tionghoa, bertuliskan “Enjoy your walk” dan “Be still and know”.

***
Dimuat di majalah SARASVATI edisi April 2017

Video dari ponsel ada di https://www.youtube.com/watch?v=9XvXB-xEAwU&t=84s

Cover Edisi 41

IMG_1968
Guru (duduk, baju hitam) dan murid-muridnya.

4 Comments

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s