Ashadi, Artisan Pisau dari Parakan

Oleh Silvia Galikano

Parakan memiliki seorang artisan pisau bernama Ashadi, 64 tahun, berumah di Jalan K.H. Subkhi, Kauman, Parakan.

Kekhasan karyanya adalah rapi dengan pertemuan tiap bagian kayu presisi, rapat, nyaris tampak seperti satu bagian. Kayu berbahan jati londo, kayu mangga, hingga tigerwood dia potong dengan rancangan yang muncul begitu melihat rupa kayu dan alur seratnya.

Untitled
Ashadi. (Foto: Silvia Galikano)

Berangkat dari hobi, juga diinspirasi komik favoritnya dari tahun 1950-an, Wiro Anak Rimba Indonesia yang ditulis Kwik Ing Hoo (1931-2010) dengan karakter utama Wiro yang selalu menyelipkan pisau di pinggang. “Pisau Wiro itu kan bagus. Saya suka.”

Baca juga Tapak Pendekar Kunthaw di Parakan

Ashadi pertama membuat pisau saat di bangku SD bersamaan dengan pecah peristiwa G30S. Hal yang umum ketika itu laki-laki bergantian jaga malam, dan tiap yang berjaga perlu mempersenjatai diri. Ashadi pun mengikir ulang sebilah pisau kecil berkarat, lalu dia beri gagang dan sarung. Pisau ini sekarang sudah hilang.

Baru pada 1970 Ashadi membuat pisau ke-2, sepanjang 20 cm. Sejak itu dia terus memproduksi pisau hingga pada 1990-an, mulai banyak orang tahu pisau buatan Ashadi dan memesan.

Tidak seluruh bagian pisau dia buat sendiri. Ashadi memesan mata pisau ke pandai besi dengan desain yang dia tentukan. Dia punya beberapa langganan pandai besi di Magelang dengan spesialisasi masing-masing, yakni dalam hal membentuk besi dan membuat sepuhan.

Umumnya bilah pisau dibuat dari per mobil, lakher, pernah juga dari bom peninggalan Jepang. Ashadi menggambar sendiri di bilah besi, tanpa pola. Baru kemudian dia membuat gagang dan sarung pisau yang sesuai dari tumpukan kayu yang ada di bengkel kerjanya.

 

Baca juga Rumah Dua Langgam di Lereng Sindoro-Sumbing

Kemampuannya bertukang diasah saat muda bekerja di perusahaan pengolahan kayu di Kalimantan. Sekembalinya ke Parakan, dia mengerjakan pesanan mebel, seperti lemari, tempat tidur, dan yang paling sering adalah pintu. Namun sekarang dia sudah tidak lagi mengerjakan mebel, hanya membuat pisau.

“Sudah tidak kuat ‘masrah (mengetam, menyerut). Walau ada mesin, tapi kan bagian yang kecil tetap di-pasrah,” ujar Ashadi.

Dia membuat pisau besar hingga kecil. Dari pedang untuk memotong sapi atau kambing hingga pisau taji ayam jantan aduan sepanjang 3 cm. Lama pengerjaan tiga hari untuk pisau besar, dan satu hari untuk pisau kecil. Semua dikerjakan tanpa perlu laku khusus.

IMG_1615
Ashadi di bengkel kerjanya. (Foto: Silvia Galikano)

1 Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s