Rumah di Genteng Candirejo Surabaya

 

Saya menemukan roh Surabaya saat melihat rumah di Jalan Genteng Candirejo Surabaya ini. Ada kehidupan khas perkampungan Surabaya seperti dulu saya temukan ketika bertandang ke rumah kawan di daerah Gubeng, Baba’an, dan di Jalan Demak Timur. Lingkungan tempat saya tumbuh, Pangkalan AL Ujung yang homogen, tidak bisa mewakili Surabaya yang sesungguhnya.

IMG_3120
Jalan Genteng Candirejo, Kampung Genteng, Surabaya. Hijau dan bersih. (Foto: Silvia Galikano)

Sulit menjelaskan roh Surabaya seperti apa yang saya maksud. Yah seperti itulah. Di siang bolong yang terik, melihat rumah dengan pohon di depan, teras adem, dan pintu terbuka (makin lengkap kalau terdengar sandiwara radio dari dalam). Begitu sampai di pintu, tercium pula wangi tempe sedang digoreng. Aduh, jadi makin banyak kenangan yang melesat di kepala.

Seorang perempuan menyahut salam saya. Dia sedang berada jauh di dalam, di dapur, sedang menggoreng tempe. Setelah mematikan kompor (katanya, kebetulan memang sudah selesai), kami ngobrol.

Namanya Nuril, 43 tahun. Rumah ini sudah dimiliki keluarga sejak kakek-neneknya dari garis ibu. Sekarang tinggal Nuril berdua adiknya laki-laki yang menghuni rumah setelah sang suami berpulang setahun sebelumnya.

Menurut Nuril, rumah ini masih asli sebagaimana dulu dihuni kakek-nenek.  Dia hanya menambahkan talang air. Lantai rumah yang ditutup karpet plastik, katanya berubin polos.

MASTER LANDSCAPE
Bocah di tengah adalah ibunda Nuril, Nurhayati (1951-2013); diapit orangtua Nurhayati, Soetiani dan Muchammad Ali. (Dokpri).

Nuril menunjukkan kamar yang tidak dihuni, dijadikan tempat menyimpan barang-barang lama berupa tempat tidur besi, bufet, dan koleksi cangkir teh. Barang-barang itu diamanatkan ibunya untuk tidak dijual.

Dia juga memperlihatkan catatan lama, milik nenek dan diteruskan ke ibunya, buku yang berisi kejadian-kejadian penting keluarga. Berikut saya kutipkan:

 

* Tgl: 17 Maret 1963 (tgl 21 Sjawal 1382) Hari Minggu paing djam 8 pagi. Lahar Gunung Agung Bali (**)

* A. Somad – Saptu wage

* Mu’awanah Muhadjir. Djl. Keradjinan Bandung gg. V/96 Lamongan

* Molai kerdja di PUSKOPAL Hari Senen tgl 8 Djuli 1968.

* Pindah ke Djl. Patjarkembang tgl 1 September 1970.

* Lahire Nurchanifah dino malem Djum’ah Kliwon dj. 1.30 tgl 8 October 1954. Djawa tgl 10 Sapar 1886. Pupak pusere dina Rebo Kliwon tgl 13 October 1954 (tgl 15 Sapar 1886).

* Lahire Abd. Chalik, dino malem Minggu Legi djam 3 tgl 30 Djuni 1957. Djawa tgl 2 Besar 1888. Pupak pusere dino Sloso Kliwon.

* Lahire Alijah dino Djum’ah Pon sore djam 18.00 (djam 6) tgl 25 September 1959 atau tgl 22 Maulud 1891. Pupak pusere dino Minggu Legi.

* Lahire Nurul Asifah hari Kamis Kliwon tgl 18 Djuli 1963. Djawa tgl 26 Sapar 1895. Pupak puser hari Rebo Legi.

* Tgl 3 Desember 1957 (DARODJAH).

* Hari wafat anak tercinta. Senen Paing jam 4.45 pagi tangal 13 Mei 1974 atau tgl 17 Bagda Mulut 1394. Nama: Syaiful Anam dalam usia 14 bulan. Pemakaman hari Senen tgl 13/5/74 jam 10.00 pagi di Pekuburan Tambak.

** Hujan abu menyebabkan kota Surabaya gelap gulita sejak pukul 13 hingga esok harinya dan tumpukan abu di genting-genting rumah.

***
Dari perjalanan ke Surabaya, 15 Agustus 2015

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s