Tentang Jalan Sagan 9 Jogja

jalan sagan yogyakarta
Jalan Sagan 1/9 Yogyakarta. (Foto: Silvia Galikano)

Oleh Silvia Galikano

Didorong “penyakit” doyan napak tilas, sebenarnya ini. Puisi Rendra berjudul Jalan Sagan 9 Jogja  sudah memunculkan penasaran begitu saya tahu judulnya.

Berawal dari kenal dua bait terakhir saja, dikutip Nh Dini di halaman depan bukunya, Kuncup Berseri (1979), sekitar 15-17 tahun lalu. Begitu tahu versi lengkap puisi ini, jatuh cintalah saya, hingga kemudian saya salin di blog.

Lihat Jalan Sagan 9 Jogja

Puisi Jalan Sagan 9 Jogja ada dalam buku kumpulan puisi Sajak-sajak Sepatu Tua (1972) karya WS Rendra yang diterbitkan Pustaka Jaya. Sajak-sajak Sepatu Tua diciptakan dalam rentang April 1959 – April 1960, saat Rendra kost di Jalan Sagan 1/9, Yogyakarta.

Mengutip Ensiklopedia Sastra Indonesia, Jalan Sagan 9 Jogja dan Sawojajar 5 Jogja—juga dari Sajak-sajak Sepatu Tua, menggambarkan kenangan Rendra terhadap mantan-mantan kekasih yang tinggal di Jalan Sagan 9 dan Jalan Sawojajar 5, Yogyakarta.

Baca juga Misinya Menulis

jalan sagan yogyakarta
Jalan Sagan 1/9 Yogyakarta. (Foto: Silvia Galikano)

Selepas posting di blog, saya lupa dengan penasaran lama akan Jalan Sagan walau beberapa kali ke Jogja.

Baru tempo hari ingat. Selepas liputan di Kasongan, menumpang ojek online dari SDN Pujokusuman, sampai saya ke Jalan Sagan. Ternyata hanya nomor genap di sana.

Baca juga Hentikan Tragedi Nol Buku

Tanya petugas parkir. Nomor ganjil ada di punggung deretan nomor genap, di dalam gang yang hanya dapat dilewati kendaraan roda dua.

Singkat cerita, nomor 9 itu saya temukan. Rumah berlantai dua, bercat putih, dalam kondisi tertutup. Di balik pagar terparkir banyak sepeda motor. Lima atau lebih. Saya asumsikan ini rumah kost.

Baca juga Merangkul Keragaman lewat Seni

Jalan Sagan 8, Yogyakarta. (Foto: Silvia Galikano)
Jalan Sagan 8, Yogyakarta. (Foto: Silvia Galikano)

Saya kembali ke jalan raya, menuju rumah nomor 8 yang bentuknya khas rumah lama. Pemiliknya pasti orang lama, begitu pikir saya, semoga tahu ceritanya.

Ada laki-laki usia 30-an sedang duduk di teras. Dia panggil bapaknya, berusia kira-kira 70 tahun. Bapaknya tak tahu bahwa Rendra pernah kost di gang belakang itu.

Wajar sih, tahun 1959-1960, si bapak masih remaja, mungkin belum tinggal di rumah ini.

Baca juga Tari, dari Tradisi hingga Mengindonesia

Namun beliau mengenal pemilik sebelumnya, rumah nomor 9 itu. Pak Mulyono namanya, sekarang sudah berpulang. Rumah itu diteruskan puteranya, Pak Kirman, hingga kemudian pindah ke daerah Pakem di Sleman. Sekarang sudah dimiliki orang lain.

Sejak dulu rumah itu memang menerima anak kost. Bisa jadi Rendra kost di masa rumah dimiliki orangtua Pak Mulyono.

Fixed sudah.

***
Dari perjalanan ke Yogyakarta, 9 September 2017

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.