Tampak Bahagia Itu Melelahkan

 

Bagaimana Alam yang banyak membuat drawing dan merchandise, hal-hal yang rapi, bisa sampai berkarya dengan kardus, benda yang identik dengan berantakan dan segala sesuatu yang bekas.

Oleh Silvia Galikano

Berbagai hal instan mengepung kehidupan perkotaan saat ini dengan sekian banyak tawaran kenikmatan. Pada akhirnya tak jelas mana yang benar dan salah, baik dan buruk, hingga berujung pada fakta hidup yang miris namun “lucu”.

Pelukis Alam Taslim mengangkat garis besar fenomena tersebut lewat pameran tunggal “Igor: Nyaamm!!” sepanjang 26 Agustus hingga 9 September 2017 di Paviliun 28, Jakarta. Ini merupakan pameran tunggal ketiga bagi Alam, dikurasi Bintang Gemilang.

Alam mengkritisi dan menyindir berbagai kenikmatan instan yang seolah tak terelakkan, semata-mata demi eksis di media sosial. Misalnya It’s All About Me yang mengkritisi kecantikan instan melalu filter kamera untuk selfie.  Atau Yang Sok Imut Itu Biasanya ANJING!, Ku Cantik Tak Nyata, serta This Façade of Deliciousness is Exhausting tentang upaya keras agar tampak cantik dan tampak bahagia di media sosial, sebuah upaya yang melelahkan dan, itu tadi, sekadar “tampak”.

Alam juga berwacana tentang pengolahan material dan bentuk melalui karya Sadar, Gak Sadar, Mekar dengan media kardus mi instan, cat air, cat akrilik, dan pulpen. Kardus identik sebagai cara yang mudah untuk mengemas barang atau untuk dijadikan tempat sampah darurat.  Karya ini tentang bagaimana Alam yang banyak membuat drawing dan merchandise, hal-hal yang rapi, bisa sampai berkarya dengan kardus, benda yang identik dengan berantakan dan segala sesuatu yang bekas. Bahkan sengaja dia mengangkat unsur kebekasannya.

Chandelier pembuka botol bertajuk Nyaamm!! menjadi satu dari tiga instalasi yang menonjol di antara karya-karya yang dipamerkan kali ini. Chandelier ini dibuat dari pembuka botol yang gagangnya berbahan kayu berbentuk penis, banyak dijual di Bali. Gagang pembuka botol itu dilukis membentuk mi goreng dan telur ceplok, sedangkan ujungnya membentuk mangkuk ayam jago.

“Saya ingin mengangkat unsur ke-Bali-an setelah beberapa tahun ini tinggal di Bali,” tutur Alam saat pembukaan pameran. “Ini fenomena menarik, kemaluan dijadikan merchandise yang banyak di jalan. Menurut saya, Bali secara seksual lebih terbuka, tidak sekaku di luar Bali.”

Sosok Indomie Goreng (Igor) Satu Mangkok mulai muncul dan menjadi karakter sendiri sejak 2015. Waktu itu Alam bekerja di agency dengan jam kerja tak teratur. Makan pun lebih sering mi instan karena murah dan enak yang berasal dari MSG. Hingga akhirnya dia jatuh sakit.

Kejadian sakitnya itu menjadi titik balik bagi Alam untuk mempertanyakan kembali apakah semua hal instan yang begitu menggiurkan, mudah, dan murah, menjawab kebutuhan hidup?

“Kita sudah sangat tergantung pada kehidupan instan, pencapaian instan. Teknologi sangat mendukung itu. Saya menerima dan menikmati apa yang terjadi sekarang karena kita ada di dunia itu,” kata Alam.

Kontemplasinya pada dinamika kehidupan metropolitan yang pernah dia alami kemudian melahirkan Monster Igor, sebuah karakter ilustratif-sureal yang meminjam gambaran mi instan sebagai alat representasi gagasannya akan kenikmatan instan.

Maka “Igor: Nyaamm!!” menjadi manifestasi akan satu generasi yang ingin bermandikan penyedap rasa demi tampil lebih lezat menggigit lidah, diwakili sosok Igor dalam balutan bahasa visual yang jenaka, skeptis, sekaligus ngawur.

Tapi, omong-omong, sebenarnya kapan terakhir kali Alam makan mi instan? “Baru tadi malam hehehe….”

***
Dimuat di majalah SARASVATI edisi Oktober 2017

Covr_Edisi_47

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s