Bentang Bagak Arsitek F. Silaban

istiqlal, silaban

Karya-karya puncaknya kebanyakan dihasilkan pada masa pemerintahan Presiden Sukarno, meliputi bangunan-bangunan institusi kenegaraan dan berbagai monumen publik.

Oleh Silvia Galikano

Tak banyak arsitek di dunia yang berkesempatan membentuk wajah sebuah bangsa. Friedrich Silaban adalah seorang di antara mereka.

Pusat Dokumentasi Arsitektur bekerja sama dengan arsitekturindonesia.org mengadakan pameran bertajuk “Friedrich Silaban, Arsitek 1912 – 1984” di Gedung D Galeri Nasional Indonesia, Jakarta, 8-24 November 2017.

Pameran yang dikurasi Setiadi Sopandi dan Avianti Armand ini menampilkan 243 objek yang terdiri dari gambar-gambar asli dari belasan karya arsitektur, foto-foto asli, berbagai dokumen dan objek asli dari arsip F.Silaban di rumahnya di Bogor.

Pameran ini merupakan puncak rangkaian kegiatan dalam mempelajari, melestarikan, dan menyiarkan pengetahuan yang terkandung dalam catatan kehidupan dan karier arsitek F. Silaban. Upaya ini telah dirintis sejak 7 November 2007, digagas jejaring modern Asian Architecture Network (mAAN), di mana Eko Alvares Z, Ahmad Djuhara, Setiadi Sopandi, dan Johannes Adiyanto menjadi Anggota Dewan Eksekutif.

 

Melalui inisiatif tersebut, Setiadi mempelajari sekaligus melestarikan arsip peninggalan Friedrich Silaban dengan mencatat dan menuliskannya ke dalam berbagai bentuk publikasi, menyusun katalog, hingga mengalihmediakan gambar-gambar dan dokumen F. Silaban ke dalam format digital.

“Setelah lima tahun menggali arsip, kami menemukan 1500 gambar yang dihasilkan Silaban, catatan, memoar, foto, dokumentasi, catatan perjalanan, hingga catatan dari Sukarno, karenanya ini harus dilestarikan dan dibagikan kepada masyarkat.”

Puncaknya pada 2017 ketika secara berturutan diluncurkan serngkaian produk dari kerja pengarsipan, penelitian, dan publikasi.

Pada April 2017, koleksi arsip digital F. Silaban diluncurkan situs arsitekturindonesia.org, sebuah inisiatif nirlaba yang bertujuan membuka akses informasi bersejarah Indonesia – khususnya arsitektur –  kepada khalayak secara cuma-cuma.

Sukarno, Hartini, Silaban
Kunjungan Sukarno dan Hartini ke kediaman Silaban di Jalan Gedung Sawah, Bogor, 1960.

Produk penting kedua adalah diluncurkannya buku riwayat hidup sang arsitek berjudul Friedrich Silaban (Gramedia Pustaka Utama, 2017) karya Setiadi Sopandi. Buku ini merangkai kisah hidup dan rentang karya arsitek F. Silaban dan menempatkannya dalam konteks sejarah dan wacana arsitektur di Indonesia.

Friedrich Silaban (1912 – 1984) adalah generasi awal arsitek Indonesia yang aktif berkarya sejak masa akhir penjajahan Belanda hingga akhir dekade 1970. Karya-karya puncaknya kebanyakan dihasilkan pada masa pemerintahan Presiden Sukarno, meliputi bangunan-bangunan institusi kenegaraan dan berbagai monumen publik di Jakarta dan di berbagai kota besar di Indonesia.

Pendidikan formal F. Silaban “hanya” setingkat STM (Sekolah Teknik Menengah), di Koningin Wilhelmina School te Batavia yang sekarang SMKN 1 (STM 1) di Jalan Budi Utomo, Jakarta Pusat, tamat pada 1931. Sejak 1939, setelah berpindah dari Batavia dan Pontianak, dia memulai karier di Kota Bogor.

Friedrich Silaban mendapatkan kepercayaan patronnya, Presiden Sukarno, setelah memenangi tiga sayembara arsitektur paling bergengsi nasional. Kesempatan itu menjadi titik tolak keterlibatannya dalam mewujudkan impian-impian akan wajah arsitektur bangsa yang baru merdeka, lepas dari citra terjajah dan masa lalu, serta dapat mewakili gagasan luhur bernama Indonesia.

Pria Batak Kristen inilah yang mendirikan masjid Istiqlal, melewati rentang proses pembangunan yang panjang hingga dua rezim dan mengalami naik-turunnya kondisi perekonomian negara.

 

Rancangan F. Silaban dipilih melalui sayembara nasional pada 1954 – 1955. Pembangunan masjid ini dimulai pada 1961, mulai digunakan untuk shalat pada pertengahan 1970, dan diresmikan Presiden Soeharto pada 1978.  Namun saat peresmian, hanya daerah utama masjid yang rampung dibangun, belum keseluruhannya.

Silaban berperan sentral dalam pembangunan masjid Istiqlal, dimulai dari gagasan awal, eksekusi, hingga ke berbagai penyelesaian konstruksinya. Setiadi Sopandi menambahkan, “Bisa dibilang, setengah masa karier Silaban dia habiskan untuk Istiqlal. Pernah dia sudah di kursi roda masih ke Istiqlal untuk inspeksi.”

Ada cerita tentang marmer yang kini menutup seluruh lantai dan dinding masjid Istiqlal. Ada surat dari Sekretariat Negara yang ditujukan kepada panitia pembangunan Istiqlal berisi arahan agar menggunakan sebagai pelapis lantai dan dinding masjid Istiqlal.

Tentu F. Silaban keberatan. Pasalnya, menurut spesifikasi yang dia bikin, penutup lantai adalah teraso. Sedangkan sifat marmer mudah kusam, apalagi setiap hari ada ratusan orang yang keluar masuk masjid.

Kalau sudah kusam, marmer harus dipoles berulang-ulang agar cemerlang kembali, dan proses ini mahal. Sementara kalau menggunakan teraso, risiko semacam ini tidak terjadi.

“Walau pada akhirnya tetap marmer yang digunakan sebagai pelapis, sikap Silaban membuktikan bahwa dia bukan orang yang gampang di-pushed oleh siapa saja, walau oleh The Smiling General,” ujar Setiadi Sopandi.

Karena besarnya bangunan Istiqlal dan kebutuhan marmer demikian banyak sampai ratusan meter persegi, apalagi ketebalan marmer 3-4 cm (bandingkan marmer sekarang yang hanya 18 mm) hal ini mendorong pendirian industri marmer di Indonesia, seperti di Citatah, Tulungagung, dan Makassar.

Selain Istiqlal, F. Silaban juga merancang gedung Bank Indonesia di Jalan Thamrin, Gedung Pola di Jalan Perintis Kemerdekaan, BNI 46 Jalan Lada di Kotatua, dan Monumen Pembebasan Irian Barat di Lapangan Banteng.

Banyak juga karyanya yang tidak selesai maupun tidak terbangun, seperti Tugu Nasional, Kementerian Luar Negeri di Jalan Medan Merdeka Timur, Teater Nasional di Jalan Medan Merdeka Barat, Kejaksaan Agung di Blok M, Markas Besar Angkatan Udara di Pancoran. Semua contoh tersebut ada di Jakarta.

Isi pameran “Friedrich Silaban, Arsitek 1912 – 1984” didasarkan pada buku F. Silaban dengan menampilkan lima narasi babak kehidupan sang arsitek. Babak pertama “Menjadi Silaban” yang menampilkan Silaban dalam sebuah figur yang ditempa melalui pendidikan, keluarga, serta pengalaman yang kaya.

Fragmen kedua, “Sukarno dan Silaban”, menampilkan kedekatan dan hubungan profesional di antara dua tokoh besar Indonesa itu serta peran mereka dalam memberikan wajah baru bagi Jakarta.

silaban
Foto keluarga F. Silaban. (Foto Silvia Galikano)

“Monumen” menjadi fragmen ketiga, menampilkan gambar-gambar dari proyek-proyek institusional kenegaraan yang ditugaskan kepada Silaban pada kurun 1958 – 1965.

Fragmen keempat, “Istiqlal” menampilkan peran dan berbagai upaya F. Silaban dalam perjalanan mewujudkan masjid nasional selama lebih dari dua dekade. Fragmen yang menjadi fragmen puncak Silaban ini menampilkan perencanaan dan proses pembangunan Istiqlal.

Fragmen kelima, “Akhir” merupakan penggambaran suasana kehidupan dan profesional F. Silaban selepas revolusi kepemimpinan nasional pada 1965 – 1966 yang diawali dengan berbagai kesukaran. Inilah fragmen antiklimaks kehidupan Silaban, ketika Bung Karno jadi tahanan rumah dan mendadak tak ada proyek untuk Silaban sampai-sampai dia melamar kerja, hal yang puluhan tahun tak dia lakukan (bahkan mungkin tak pernah).

Pameran ini menegaskan banyaknya persinggungan antara tempat, peristiwa, dan wacana (kebudayaan dan arsitektur) di Indonesia dengan sosok F. Silaban yang saat ini tidak kita sadari, terutama melalui beberapa peristiwa dan gejolak sosial politik.

Friedrich Silaban menikah dengan Letty Keivits pada 1946, ketika masih berada dalam kamp tahanan pejuang nasionalis karena termasuk orang yang “dekat dengan Belanda”. Mereka dikaruniai 10 anak.

Keluarga ini menempati rumah sederhana dengan dinding gedek di Bogor hingga 1958 sebelum akhirnya memutuskan untuk memperluas lahan dan mengganti rumah lamanya dengan rumah yang benar-benar baru.

Pada 1959 – 1960 F. Silaban membangun dan memperbesar rumah keluarga dilengkapi sebuah studio arsitektur dan ruang-ruang yang cukup untuk menampung keluarga besar serta berbagai aktivitas sosial dan profesionalnya. Letty tetap bersama Friedrich hingga Friedrich meninggal pada 1984.

***
Dimuat di majalah SARASVATI edisi Desember 2017 dan sarasvati.co.id

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s