Rumah Ungaran

Dalam diskusi via WA selama masa penulisan Jalan Leluhur Rumah Kopi Semarang, saya dan Basuki Dharmowiyono juga membahas tentang Liem Bwan Tjie (LBT), arsitek yang merenovasi Rumah Kopi/ pabrik Margo Redjo.

Salah satunya, saya mengkonfirmasi tulisan di internet, apakah Tan Tiong Ie pemilik rumah di Ungaran yang dirancang LBT, adalah Tan Tiong Ie kakek Basuki? Maka kiriman foto pada 15 November 2017 ini jawabannya, berikut penjelasan panjangnya:

 

Yang berdiri di pintu masuk adalah nenek saya, Ny Tan Tiong Ie (Kwee Sik Yang). Rumah ini sudah lama dijual.

Setelah Jepang menyerah, akhir Perang Dunia II, Inggris masuk untuk kembali menduduki Indonesia dan Belanda. Kapal perang Inggris, HMS Sussex, mengebom/menembaki rumah-rumah di tepi jalan Semarang-Ungaran, termasuk rumah ini, yang mereka perkirakan sebagai kantong-kantong pertahanan pemuda gerilya Indonesia.

Tujuannya untuk mengamankan jalur logistik mereka dari Semarang sampai Yogya/ Solo.

Walau di zaman itu belum ada rudal, ternyata tembakan dari lepas pantai Semarang (pelabuhan Tanjung Mas belum ada) sangat akurat. Rumah-rumahnya kena, tapi jalan rayanya utuh!

Rumah ini terkena persis di kamar mandinya. Pelurunya gede, pas masuk di bak mandinya. Mungkin yang mereka gunakan adalah peluru yang tidak punya hulu ledak, karena rumah-rumah yang terkena, kebanyakan relatif utuh. Sebagai deterrent saja barangkali.

Setelah perang, ayah saya diberi pilihan oleh penguasa waktu itu. Yang mau ditinggali rumah yang mana? Wotgandul atau Ungaran? Yang tidak dipilih akan “dipinjam” untuk keperluan negara. Tentu saja ayah saya memilih Wotgandul.

Maka rumah ini  (Ungaran) puluhan tahun dijadikan markas militer. Sangat susah untuk membebaskannya.

Maka ayah saya sering mengatakan, bahwa tidak hanya manusia, rumah pun mempunyai nasib. Rumah Ungaran nasibnya not happy. Yang nasibnya baik itu rumah Wotgandul.

Setelah dimiliki Tan Ing Tjong dan generasi-generasi sesudahnya, sebenarnya beberapa kali rumah itu (Wotgandul) disita sebagai jaminan utang yang tak terlunasi, namun setiap kali ada saja yang menyebabkan  rumah kembali kepada keluarga.

Ketika tulisan dan foto ini saya upload ke Facebook, Widjajanti Dharmowijono, yang adalah adik Basuki, memberi komentar sebagai berikut:

Saya hanya kenal rumah Opa dan Oma ini dari cerita-cerita kedua kakak saya. Di belakang rumah, kata mereka, ada sungai kecil yang airnya sangat jernih dan mereka sering main di situ. Tak terbayangkan buat saya.

Saya sendiri belum pernah masuk rumah ini. Letaknya di pinggir jalan besar, kanan jalan kalau kita ke selatan. Terakhir kami lewat, rupanya masih sama kok seperti di foto.

Perkembangan terakhir yang saya ketahui (dan itu sudah beberapa tahun y.l.) keluarga kami memberi uang kepada yang waktu itu memakai rumah tsb (entah sebagai kantor atau rumah) untuk membebaskannya. Tapi nasib rumah Opa dan Oma selanjutnya, saya tidak tahu. Yang jelas sudah bukan merupakan milik keluarga kami.

***
Advertisements

1 Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s