Tak Selalu Manis, Indonesia dalam Karya Potret

Supar Madiyanto, WAJAH MATAHARI

Pameran ini bukan hanya memaparkan keindahan Indonesia, melainkan mendedah wajah Indonesia sebenarnya.

Oleh Silvia Galikano

Di antara deretan lukisan seri Self Portrait karya Affandi, terselip satu yang bukan karya Affandi, juga bukan lukisan, namun sangat mirip, bahkan sampai ke tekstur tebal yang membentuk garis-garis kuat. Karya mirip Self Portrait itu berjudul Wajah Matahari (2018), kolase (paper collage) yang dibuat pematung Supar Madiyanto.

Peletakan Wajah Matahari terbilang spesial dalam pameran “Celebrating Indonesian Portraiture”(Merayakan Potret Indonesia) di OHD Museum, Magelang, Jawa Tengah, 6 Mei hingga 8 Oktober 2018. Yakni di Room 1 (ruang terdepan) bersama lukisan-lukisan Self Portrait Affandi dan lukisan karya seniman lain yang didedikasikan untuk Affandi.

“Celebrating Indonesian Portraiture” menggambarkan sedikit tentang perkembangan portraiture di Indonesia. Karya-karya seni yang menekankan pada wajah/tubuh manusia di media patung, lukisan, drawing, print, fotografi, paper-cut, keramik, seni instalasi, dan seni video dari 66 seniman Indonesia. Pameran ini bagian rangkaian Jogja Art Weeks, pekan raya seni yang berlangsung pada April hingga Juni 2018.

Oei Hong Djien, OHD Museum, Grace Fu, Singapore
Oei Hong Djien, kolektor dan pemilik OHD Museum sedang menjelaskan koleksinya kepada Menteri Kebudayaan, Komunitas, dan Pemuda Singapura Grace Fu. (Foto: Silvia Galikano)

 

Supar Madiyanto (kelahiran 1963) adalah seniman patung lulusan Institut Seni Indonesia, Yogyakarta. Baru satu setengah tahun terakhir dia mengakrabi kolase, berawal dari membuat kolase foto diri Oei Hong Djien, kolektor seni dan juga pemilik OHD Museum.

“Ternyata pak Dokter (sebutan untuk Oei Hong Djien, red.) memberi respons baik. Sewaktu akan membuat pameran ‘Celebrating Indonesian Portraiture’, saya dihubungi, dan pak Dokter memilih potret Affandi untuk dipamerkan,” ujar Supar.

Penggemar karya kolase Derek Gores ini menyelesaikan Wajah Matahari dalam waktu satu bulan di studio milik pematung Yusman di Yogyakarta. Karyanya ini murni kolase, hanya guntingan majalah yang ditempel ke plat aluminium, tanpa tambahan cat. Tekstur didapat dengan memainkan warna gelap-terang serta menumpuk kertas, kadangkala sampai lima tumpuk, hingga membentuk tekstur yang diinginkan.

 

 

Karya lain yang menarik perhatian dalam pameran ini adalah karya surealis Lucia Hartini, Payung 59 (2017) dengan penggambaran langit yang jadi kekhasannya.

Perempuan kelahiran Temanggung, 10 Januari 1959 itu mengekspresikan perjuangannya mengatasi cobaan hidup, proses penyembuhan penyakit yang berkepanjangan, dan dia jalani sendirian. Namun demikian, proses yang berat itu dia ubah menjadi spirit, sebuah perjalanan relijius dan pencarian makna hidup.

Semua terefleksi dalam (karya-) karyanya. Payung dari batu kristal warna-warni mewakili keteguhan hati dan keyakinannya yang mantap. Payung yang dipegang erat melindungi dirinya dari serbuan meteor.

Meteor, simbolisasi teror yang menyerang Lucia, menjadi beku, mengkristal, dan hambar begitu menyentuh payung kristal. Sebagaimana catatan Lucia untuk lukisan ini, “Situasi yang tidak menyenangkan, tapi menjadikan jiwa raga semakin kuat.”

 

 

 

Di “Celebrating Indonesian Portraiture”dipamerkan satu karya maestro yang membuat pengunjung bisa berlama-lama di depannya. Portrait of R.A. Muning Kasari (1864) karya Raden Saleh yang pada 2012 pernah dipamerkan dalam “Raden Saleh dan Awal Seni Lukis Modern Indonesia” di Galeri Nasional, Jakarta.

Raden Saleh (1811 – 1880) melukiskan Raden Ayu Muning Kasari yang adik pujangga Ronggowarsito asal Solo, mengenakan sarung batik dan selop dengan motif demikian detail, juga perhiasan di jari dan manset bajunya.

Oei Hong Djien yang mendapat lukisan tersebut dari keturunan Muning Kasari, menceritakan, saat di Belanda, Raden Saleh pernah bertemu kakak dari Ronggowarsito. Ketika Raden Saleh kembali ke Batavia, kemudian bercerai dari istrinya yang orang Belanda, dia mencari istri dari kerabat keraton Yogyakarta.

Pada masa inilah Raden Saleh banyak membuat lukisan portrait kerabat keraton, antara lain Raden Ayu Muning Kasari.

Raden Saleh, RA MUNING KASARI
Raden Saleh (1811-1880), RA MUNING KASARI, 120×80 cm, oil on canvas, 1864. (Foto: Silvia Galikano)

 

 

 

“Celebrating Indonesian Portraiture” adalah pameran yang direncanakan dan dieksekusi secara baik. Meski demikian ada catatan yang patut disematkan.

Untuk pameran sebesar ini, sebaiknya ada panitia khusus yang menguasai cerita di balik tiap-tiap karya. Panitia ini yang menjelaskan ke pengunjung, atau setidaknya pengunjung tahu ke mana wajah diarahkan jika ada pertanyaan. Katakanlah panitia ini sebagai perpanjangan tangan Oei Hong Djien, sosok yang bisa bercerita panjang untuk tiap koleksinya.

Cara demikian sudah dijalankan di pameran besar di Galeri Nasional Jakarta. Akan sayang sekali jika karya maestro, katakanlah Potret Diri dan Wanita (1954) oleh Soedibio yang ada di poster dan undangan pameran dilihat sambil lalu oleh pengunjung hanya karena tidak tahu bahwa perempuan dalam lukisan itu adalah cinta sejati Soedibio. Malang, perempuan ini menikahi laki-laki lain, membuat Soedibio terpuruk dan mengurung diri.

 

 

Pameran ini bukan hanya memaparkan keindahan Indonesia, melainkan mendedah wajah Indonesia sebenarnya. Di sana ada bakat yang unik, ada kontemplasi, ada penghormatan kepada Bapak Bangsa, juga ada pahitnya impitan ekonomi yang memaksa keluarga wakil presiden menjual lukisan karya pelukis Istana.

***
Dimuat di sarasvati.co.id, 14 Mei 2018

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s