Sidik Painting, Sapuan Baru Kuas Sidik Martowidjojo

Sidik Martowidjojo, Ma Yong Qiang

Sidik W. Martowidjojo mengoreksi label yang disematkan orang lain terhadap teknik lukisnya. Bukan lagi chinese painting, melainkan “Sidik painting”.

Oleh Silvia Galikano

Walau ucapan itu disusul dengan tawa terkekeh-kekeh, tetapi Sidik punya alasan. Dia melukis chinese painting hingga tahun 2000. Sejak 2000 dia mulai mencari formula baru, menggabungkan teknik lukis Barat dan Timur. Karyanya spontan dengan irama, gerak, dan kedalaman rasa yang terkontrol.

“Kalau saya tetap di chinese painting, saya mandek. Saya tidak mau mandek. Di dunia internasional, pelukis asal Tiongkok jauh lebih jago urusan chinese painting tradisional dan jumlahnya banyak,” ujar Sidik lewat sambungan telepon, Senin 21 Mei 2018.

Sidik W. Martowidjojo, 81 tahun, dikenal sebagai pelukis dengan spesialisasi chinese painting atau lukisan gaya Tiongkok, yang digabung dengan teknik lukis Barat. Dialah pelukis Indonesia pertama yang berhasil memamerkan karya sekaligus memperoleh dua penghargaan dari Louvre International Art di Carrousel du Louvre, Paris, Prancis pada 11-14 Desember 2014.

Yang pertama adalah penghargaan Medaille d’Orc Peinture untuk karya lukisan pemandangan dan Medaille d’Orc sebagai juara umum (pertama kali dikeluarkan lagi setelah 126 tahun), serta karyanya yang berjudul Jalan dinugerahi Painting Gold Prize.

Pria kelahiran Malang, 24 September 1937 ini juga pelukis yang berhasil membawa karya dengan jumlah terbanyak untuk gelaran tersebut, yakni 21 lukisan (20 lukisan dipajang, satu hilang) bahkan mendapat ruang khusus. Bandingkan dengan pelukis dari 58 negara lain yang hanya boleh menampilkan 1-5 karya.

Lukisannya banyak tentang pemandangan alam. Pemandangan yang dia simpan dalam ingatan saat pergi ke perbukitan sejauh 31.000 km di penjuru Tiongkok atau ketika jalan-jalan ke pegunungan di Nusantara. Dari ingatan yang sangat kuat itulah lantas ide-ide atau imajinasi ia tuangkan pada lukisan cat air di atas kertas.

Sidik Martowidjojo, Ma Yong Qiang
Sidik W. Martowidjojo, THE GOLDEN SEA, ink and color on rice paper 68 x 136 cm, 2015 (Foto: Riski Januar/Sarasvati)

 

Chinese Painting

Pemilik nama Tionghoa Ma Yong Qiang ini mulai belajar kaligrafi Tiongkok pada usia sembilan tahun. Xiau Baixin Laushi, kepala sekolahnya di sebuah SD Tionghoa di Malang yang mengajari.

“Tulisan tangan saya dulu seperti cakar ayam. Jadi saya wajib ke rumah kepala sekolah untuk belajar secara privat. Setiap pertemuan saya ditugaskan menulis satu kalimat diulang sampai 300 kali,” tutur Sidik.

Pelajaran intensif kaligrafi Tiongkok ini membentuk karakter kuat dalam kaligrafi Sidik sekaligus gerbang perkenalannya pada chinese painting.

Chinese painting berbeda dengan lukisan Barat. Jika lukisan Barat menggunakan medium kanvas, medium chinese painting adalah kertas khusus tipis bernama shien tze.

Media kertas ini punya kelebihan dibanding kanvas. Shien tze dapat bertahan hingga ribuan tahun tanpa direstorasi hanya dengan penyimpanan yang benar. Ini dibuktikan di negeri Tiongkok yang sampai sekarang masih menyimpan lukisan berumur ribuan tahun.

Cat yang digoreskan pun akan menyatu pada kertas dan meresap. Tentu ini beda dengan kanvas yang bersifat hanya menempelkan cat pada kanvas yang akan terkelupas dalam waktu tertentu.

Teknik chinese painting, walau tampak sederhana, memerlukan kontrol diri yang kuat. Setelah kuas (pit) dicelupkan ke cat air atau tinta cina, disapukan ke atas shien tze sekali “sabet”, tak bisa diulang atau ditumpuk. Tenaga yang dikerahkan juga mesti terukur agar tak merobek shien tze. Demikian tangkasnya Sidik memainkan pit hingga dia dijuluki “Pit Mabuk”.

Sidik Martowidjojo, Ma Yong Qiang
Sidik Martowidjojo. (Dok. Wikipedia)

Pada 1960 Sidik mengajar di sebuah SD Tionghoa di Malang untuk mata pelajaran sejarah, lukis, dan bahasa Indonesia. Setelah pecah peristiwa G30S 1965, pemerintah melarang segala hal tentang Tionghoa dan Tiongkok, dan sekolah tempat dia mengajar ditutup.

Seluruh lukisan, buku, bahkan ijazah Sidik sejak TK hingga kuliah dibakar dan dihancurkan keluarga sebelum tentara sampai ke rumahnya. Dia berhenti total melukis.

Sidik kemudian pindah dari Malang ke Jakarta, kerja di bank sampai 1968, lalu memulai usaha sendiri di bidang perdagangan estate di Jakarta.

Pada 1993, Sidik berkunjung ke Tiongkok untuk melihat dan mempelajari secara langsung berbagai karya lukis dari para maestro lukis Tiongkok. Perjalanan ini menginspirasi Sidik untuk suatu hari memperkenalkan karya-karyanya kepada publik.

Keinginan itu baru tercapai sesudah Reformasi. Pameran tunggalnya yang pertama di Griya Kencana, Yogyakarta pada 1998 dinilai berhasil membangkitkan kembali semangat Sidik berkarya.

Mulai tahun 2000, Sidik mencari gaya sendiri. Dia pelajari teknik lukis Barat yang memperhatikan benar visual dan arah datangnya sinar, berbeda dengan teknik lukis Timur (diwakili chinese painting) yang menekankan ketenangan, sepi, dan harmoni.

Pencarian itu dia jalankan selama empat tahun, hingga pada 2004 Sidik menemukan gaya lukisnya sendiri, ditandai dengan pameran di Langgeng Gallery, Magelang (2004); lalu diundang berpameran di Galeri Nasional Indonesia (2005), Jakarta.

“Semesta ini dibuat Allah abstrak adanya, tanpa blue print, tapi tidak saling bertubrukan. Bergesekan boleh, karena dari sana timbullah tenaga. Di dalam lukisan juga ada tenaga, ada kehidupan. Jadi kalau manusia ingin melakukan sesuatu, kedepankanlah rasa dibanding pikiran,” ujar Sidik.

Sidik telah menggelar lebih dari 20 pameran tunggal dan pameran bersama, di antaranya di Millenium Gallery, Beijing, Tiongkok (2006). Setahun kemudian berpameran di National Art Museum of China (NAMoC) di Beijing, selanjutnya Shanghai, Fuzhou, dan galeri-galeri lain di Tiongkok.

Sidik dinobatkan sebagai pelukis pertama dari Indonesia yang mampu menembus kurasi NAMoC dengan karya berbasis chinese painting. Karya-karyanya di pameran itu mengingatkan pada karya dua maestro seni lukis Tiongkok, Zhang Da Qian (1899-1983) dan Zao Wou Ki (1921-2013).

Dedikasi Sidik terhadap dunia seni rupa mengantarkan namanya menjadi nama museum di Yogyakarta, Museum Sidik W. Martowidjojo di Jalan Magangan Kulon nomor 1, Kompleks Resto Bale Raos, Panembahan, Kraton Yogyakarta yang didirikan pada 2016, tempat karya-karyanya bisa dinikmati publik.

***
Dimuat di sarasvati.co.id, 23 Mei 2018

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s