Maktuo Jatiasih

maktuo jatiasih, kianga, kia

Saya punya dua maktuo dan dua paktuo; yakni Maktuo Cengkareng, Maktuo Tangerang, Paktuo Pekanbaru, dan Paktuo Surabaya. Seluruhnya kakak papa.

Semua sebutan itu mengacu pada lokasi tinggal mereka; di Cengkareng, Tangerang, Pekanbaru, dan Surabaya.

Paktuo Surabaya lebih sering kami sebut Paktuo Uda Eri karena saya memanggil anak tunggal beliau Uda Eri.

Oom dan tante juga punya — seluruhnya saudara mama, tapi tanpa dilanjutkan dengan lokasi tinggal, melainkan nama.

Jangan tanya saya mengapa ada standar ganda. Sudah demikian yang saya terima dari orangtua saya.

Seperti halnya orangtua saya tidak pernah mengajarkan saya dan adik memanggil “nenek” untuk dua nenek kami, melainkan “umi” dan “biai” sebagaimana mama dan papa memanggil ibu mereka.

kianga gantari champa, kia
Bersama dua keponakan, Kia (5) dan Bhumi (4), November 2018.

Baru setelah pindah ke Bekasi dan berinteraksi langsung dengan banyak sepupu yang memanggil nenek kami dengan panggilan “nenek”, saya pun jadi membiasakan diri ikut memanggil “nenek”.

Sewaktu keponakan saya baru lahir, bapaknya (adik saya) mulai memperkenalkan saya sebagai “aunty” ke puterinya.

Bah! Dari garis mana pula bisa muncul “aunty”?

Saya minta dipanggil “maktuo”, salah satu cara saya menghormati tradisi leluhur.

Keponakan saya sekarang sudah TK, sudah bisa membaca dan menulis.

Tadi saya menemukan tulisan ini di dinding teras rumah dan segera saya potret: ❤️MAKTUO JATIASIH❤️

Seluruh maktuo–uwak, bude, ncang–pasti senang menemukan tulisan persembahan macam ini. Saya pun demikian, plus karena tradisi penamaan di keluarga kami ternyata masih berlanjut 😄

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.