Sehangat Sinar Keluarga Cemara

Judul: Keluarga Cemara

Sutradara: Yandy Laurens

Skenario: Gina S. Noer, Yandy Laurens

Produser: Anggia Kharisma, Gina S. Noer

Rumah Produksi: Visinema Pictures

Pemain:  Ringgo Agus Rahman, Nirina Zubir, Zara JKT 48, Widuri Puteri, Maudy Koesnaedi, Asri Welas, Yasamin Jasem, Kafin Sulthan, Ariyo Wahab

Oleh Silvia Galikano

DSC01521

Baru saja Euis (Zara JKT 48) meniup lilin saat perayaan ulang tahun di rumah yang tak dihadiri Abah, segerombolan laki-laki bermuka sangar masuk. Mereka menyita rumah, mengusir seluruh tamu undangan dan penghuni rumah.

Para pria itu tak menghiraukan ketika Emak (Nirina Zubir) meminta tunggu suaminya datang, bahkan membentak bahwa yang mereka lakukan adalah sesuai perjanjian. Ara (Widuri Puteri), si bungsu, menangis ketakutan.

Abah (Ringgo Agus Rahman) yang sejak pagi berjanji pulang cepat untuk hadir di acara ulang tahun Euis, hingga jelang malam tertahan di proyek. Dia dikerubuti karyawan yang sudah tiga bulan tidak digaji. Proyek perumahan yang sedang digarap tak berjalan sesuai rencana.

Tak ada yang dapat Abah lakukan sekarang. Terlebih dari siang, Fajar (Ariyo Wahab), berdua mereka pemilik perusahaan, sudah kabur bersama uang cadangan perusahaan yang disimpan di brankas. Ponselnya tak dapat dihubungi.

Emak, Euis, dan Ara sudah berkumpul di teras rumah yang kini disegel ketika Abah akhirnya pulang. Fajar dengan muka bengep digelandang gerombolan laki-laki tadi, dihadapkan ke Abah dan keluarga. Fajar yang juga adalah abang Emak, mengaku tanpa berunding dengan Abah, menggarap proyek penuh risiko dengan taruhan rumah tinggal Abah.

Abah, Emak, Euis, dan Ara mengumpulkan koper-koper, meninggalkan rumah, mengungsi ke proyek. Malam itu mereka tidur bersempit-sempit di ruangan yang terbuat dari peti kemas.

Abah memutuskan selesai urusan dengan proyek perumahan yang selama ini jadi bisnisnya. Aset yang tersisa dijual, upah sekaligus pesangon karyawan dibayarkan. Dia bawa keluarganya pindah ke rumah Aki di kampung dan memulai kehidupan yang sama sekali baru di sana.

DSC01596-2

Bagi yang pada 1996 hingga 2004 mengikuti serial Keluarga Cemara di RCTI dan berlanjut ke TV7, dari karakter Emak diperankan Novia Kolopaking hingga Lia Waroka, bisa menanam harapan untuk nostalgia menonton Keluarga Cemara versi layar lebar. Bukan lewat nama-nama yang sama, karena tak ada pemeran di serial televisi muncul di sini, melainkan lewat rasa hangat beriring dengan haru. Seperti dulu secara genial digarap Arswendo Atmowiloto.

Namun tidak sepenuhnya benar tidak ada pemeran lama yang bermain di film ini. “Bintang” lama diwakili becak milik Aki (dahulu Abah di televisi, diperankan Adi Kurdi) yang bertahun-tahun disimpan di gudang, hingga terjadi peristiwa penting, becak Aki jadi penyelamat keluarga ini.

DSC01430Setelah 14 tahun sejak serial televisinya terakhir tayang, Visinema Pictures mengangkat kembali cerita tentang keluarga yang selalu dapat melihat sisi terang dalam setiap peristiwa kelam. Dengan bahu membahu, keempatnya membuat terang yang sedikit itu menjadi semakin terang hingga mewujud cahaya yang menyinari sekeliling.

Di tangan sutradara Yandy Laurens, yang film pendeknya, Wan An (2012) mendapat Piala Citra 2013, Keluarga Cemara mengikuti perubahan zaman. Ponsel bukan lagi barang mewah, bermedia sosial, bahasa slang bertambah, dan munculnya profesi baru memanfaatkan kemudahan di era digital.

Euis sebagai nama yang pada masa lalu umum dipakai orang Sunda, sekarang susah ditemukan di daftar nama anak sekolah, tidak dilewatkan begitu saja oleh Yandy. Dia selipkan pernyataan berikut lewat seloroh teman sekolah Euis, “Hari gini masih ada ya yang namanya Euis.”

Coba bayangkan betapa ganjilnya kalau tidak ada kalimat itu dan Yandy memilih bersembunyi di balik perisai “toh hanya melanjutkan nama karakter yang sudah ada”.

Konflik remaja diramu secara pas di sini. Euis yang baru mendapatkan haid pertama, merasa kesal tanpa alasan pada Abah, yang kemudian setelah bicara dengan Emak, dia sadari itu karena PMS. Walau penonton boleh saja mengira konflik itu tak lepas dari keputusan Abah memindahkan keluarganya dari Jakarta ke kampung di Puncak.

Kepindahan itu memang bukan perkara enteng bagi Euis. Di Jakarta, Euis bersekolah di sekolah swasta, berbahasa campur aduk Indonesia-Inggris, jadi anggota tim modern dance yang aktif ikut lomba sana-sini; berangkat sekolah diantar mobil pribadi Abah, dan dipestakan tiap kali berulang tahun.

DSC03103Sekarang Euis bersekolah di sekolah negeri, naik angkot, teman-temannya berbahasa Sunda, dan dia harus membawa dagangan opak bikinan Emak ke sekolah setiap hari. Tentu sulit bagi Euis dihadapkan pada kenyataan yang mendadak seperti ini.

Pindah ke kampung membuat keluarga ini mengenal satu perempuan unik, Ceu Salmah (Asri Welas) yang berprofesi, kata dia, sebagai loan woman. Apa itu? Rentenir.

Di satu sisi, Ceu Salmah adalah raja tega saat menagih utang ke orang kampung. Namun di sisi lain, dia cengeng betul tiap mendengar cerita Emak dan Abah dengan masalah yang susul menyusul.  Ceu Salmah selalu menangis walau sambil makan. Di rumah Emak. Nambah pula.

Keluarga Cemara versi layar lebar memberi kejutan lewat pemeran Ara, Widuri Puteri yang berakting natural, tawanya menggemaskan, suaranya bagus saat menyanyi, dan pandai memainkan gitar. Rasanya semua yang keluar bioskop akan kompak jatuh cinta pada Widuri dan sepakat bahwa Ara adalah sinar terang Keluarga Cemara.

***
Dimuat di Detikcom, Rabu, 26 Desember 2018

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s