Mengantar Ging Ginanjar (2)

ging ginanjar, doa untuk ging

Bagian pertama ada di sini.

GING: CATATAN MORSE

Oleh Lea Pamungkas

(Ging, menulis tentang kamu itu susah. Jadi saya harus memilih. Satu dimensi dulu. Dimensi lain luar biasa fasetnya. Biar saya simpan, seperti banyak orang menyimpannya juga)

Ya, terima kasih Tita untuk mengingatkan bahwa ketika terjadi pembredelan 3 media : deTIK, Tempo, dan Editor, Ging harusnya masuk rumah sakit gara-gara problem paru-parunya. Dadanya sudah discan, dan adanya flek-flek yang butuh diobati. Saat itu kami baru saja selesai dengan hebohnya Pesta Topeng Cirebon di TIM Jakarta, kelelahan masih menggantung penuh.

Sementara sebulan sebelumnya bersama Alm Taufik Wibowo (Bowo), kami mencari rumah yang ‘pantas’, untuk dijadikan Kantor Biro deTIK di Bandung. Pemred deTik, Mas Eros Djarot baru saja menyepakati keberadaan kantor biro. Bowo sudah merancang perkakas apa saja yang dibutuhkan, dan menerima Maskur , yang saat itu masih berusia 18 tahun untuk menjadi tenaga office boy. Ging demikian excited .

Kantor biro tak pernah terealisasi karena adanya pembredelan. Dibredelnya deTIK –kedunguan luar biasa yang tidak dimaafkan, telah membuat Ging mengabaikan kondisi paru-parunya. Juga kehilangan pekerjaan, tidak adanya jaminan asuransi, dan utamanya kemarahan atas tindakan semena-mena tanpa prosedur hukum yang jelas dari Pemerintah Soeharto lewat Mentri Penerangan Harmoko.

ging ginanjar, FOWI, forum wartawan independen, tabloid independen
Buletin Forum Wartawan Independen (FOWI). (Foto: Lea Pamungkas)

Bersama Ahmad Taufik dan Lucky Rukminto –yang beberapa bulan sebelumnya bermaksud menghidupkan kembali FOWI (Forum Wartawan Independen) sebagai gerakan perlawanan terhadap PWI (Persatuan Wartawan Indonesia); kami mengundang sejumlah wartawan media lain, baik yang nasional maupun daerah. Rapat pertama dihadiri oleh banyak kawan antaranya Happy Sulistiadi, Yamin Pua Upa, Aa Sudirman, Tjahya Gunawan , Rinny Srihartini, Taufik Wibowo dan Alm. Patty Usman.

Kami masih bingung dengan alamat redaksi, akhirnya diputuskan, (kalau tidak salah), kamar kostnya Ahmad Taufik, Jl Ir Juanda no. 372, Bandung. Waktu itu selain jadi pemimpin redaksi, penata lay-out, Ging pun jadi koordinator kampanye melawan pembredelan dan hak kebebasan berekspresi. Terbitlah Buletin Perdana FOWI pada bulan Juli 1994. Pada saat bersamaan, dilakukan serangkaian diskusi nyaris tanpa henti dari kampus ke kampus, dengan dibantu antaranya Eros Djarot, Goenawan Mohammad, Aristides Katoppo, juga kawan-kawan deTIK , Tempo dan media lain.

Bergelap-gelap dalam Terang, Berterang-terang dalam Gelap

Begitu banyak enerji kami rasakan dengan sambutan Buletin FOWI perdana ini. Terutama enerji yang dihidupkan oleh kawan-kawan dari koran kampus : ITB, Unpad, Unpar, Unisba dan ASTI (sekarang STSI) Bandung.

“Kalau mau merdeka sampai tulang-tulangnya, kita musti berani transparan,” begitu kurang lebih kata Ging ketika kami merencanakan edisi kedua yang bakal terbit di bulan Kemerdekaan Agustus 1994. “Kita harus berterang-terang dalam gelap, dan bergelap-gelap dalam terang,” dengan senyumnya yang khas dan tidak pernah berganti baju atau mandi selama berhari-hari.

Kami yang duduk dalam rapat agak jengah. Paling tidak saya yang lahir di jaman Orde Baru, punya semacam kekuatiran untuk ‘main buka-bukaan’ kayak gitu. “Kantor redaksi musti,” tambahnya lantang. Hmm. “Apakah juga transparansi bagi pembuat laporan?” tanya saya. “Yang pengangguran silakan kalau mau, tapi yang masih bekerja repot atuhh, kami makan darimana nanti ?”

Dengan pertimbangan itu, akhirnya diputuskan penerbitan berikutnya Kantor Redaksi dicantumkan terang benderang di Jl Morse 12 Bandung. Saya tidak tahu persis, apakah ini dengan seijin Mas Eros atau tidak. Yang pasti Mas Eros, beberapa kali datang. Bahkan pernah dengan membawa satu truk rambutan untuk makan kami, dan beberapa celana jeans dari Jl Cihampelas supaya si Pemred dan para reporternya punya celana baru. Akhirnya disepakati, para penulis hanya mencantumkan inisial saja, misalnya saya hanya memakai LPC, atau Ahmad Taufik menjadi AT, dan seterusnya.

Pasca Deklarasi Sirnagalih 7 Agustus 1994 (lihat buku Semangat Sirnagalih: 20 Tahun Aliansi Jurnalis Independen), Buletin FOWI menjadi media resmi AJI. Oh ya edisi kedua ini pun, mau dibikin keren dikit. Kami memperluas keterlibatan dalam penerbitan, dengan meminta kawan-kawan seniman untuk menyumbangkan karyanya sebagai cover, Tisna Sanjaya dan Agus Suwage, antaranya. Jumlah halaman lebih tebal, dan tidak dalam bentuk foto kopian. Artinya butuh percetakan, dong.

Dengan urunan, dan hasil sumbangan sana-sini, kami mendapatkan percetakan setengah gratis dari kawan-kawan Yayasan Budaya Indonesia (YBI), di Jl Purnawarman Bandung. Tempat mangkal kami, sebelum pembredelan. Kali ini akan dicetak sejumlah 1.000 eksemplar.

Lewat Tengah Malam, di Gang Gelap

Setelah beberapa edisi, kami menjadi sulit mencari percetakan yang berani mencetak INDEPENDEN. Saya harus mencari sana-sini, ke percetakan-percetakan yang tersembunyi di gang-gang gelap. Dan harus mengantar dan mengambilnya, dengan bantuan banyak orang karena, setelah lewat tengah malam. Gusti. Sementara, pendapatan dari distrubusi tak pernah menutupi ongkos pencetakan.

“Kita kudu progresif, mendekati orang, menawarkan, kalau perlu memaksa bahwa ini penting buat kehidupan,” kata Ging. Iya deh, dan saya sebagai koordinator kaki seribu, alias ngerjain apa saja dah yang perlu, mulai puyeng. Kami bekerja harus siap hulu jadi suku, suku jadi hulu (kepala jadi lutut, lutut jadi kepala). Bisa teu bisa, kudu bisa (bisa tak bisa harus bisa). Haduhh.

Seniman, jurnalis dan perlawanan
Buletin FOWI, yang kemudian secara perlahan berubah dalam tata perwajahan; awalnya beredar dari satu diskusi ke diskusi, atau di tiap pertunjukan, atau setiap pameran lukisan. Saya ingat, ada satu event kesenian di ITB (tolong dikasih info detil ya,Tita) Titarubi membakar karyanya, dan momen itu terus terpateri dalam benak saya. Ging tampak berkaca-kaca. Hasil kerja keras Tita Rubiati yang berbulan-bulan itu hangus. Jadi abu dalam sekejab.
Akankah apa yang kami kerjakan bernasib serupa ?

Saya menggenggam tangannya erat.

Tapi kami tidak sendirian. Tidak pernah sendirian. Setiap hari di Jl Morse, sekumpulan orang selalu ada dalam kebersamaan. Serangkaian event kesenian dibuat bersama sejumlah seniman, dari yang ‘jeprut’ sampai yang kontemporer. Hampir setiap hari Aa Sudirman, Dadang Rhs, atau Aing Sinuki (si pembuat ilustrasi) kawan-kawan dari pers mahasiswa antaranya Wishnu Brata, Aday, Valens, Maria Donna, Henri Ismail, Goliono datang bergantian. Dan Maskur, tidak habis-habis menjerang air untuk kopi.

Tak jarang Rinny Srihartini, datang dengan makanan ransum –begitu kami menyebutnya, atau sumbangan dari Emak Inne, ibunda Ging. Pokoknya siapa saja yang punya uang…
Memasuki edisi November 1994, Buletin Independen –begitu akhirnya disebut, dicetak sebanyak 2.000 eksemplar. Staf ‘kaki seribu’ makin banyak, mengutip Tita :

“Setelah itu aku disibukkan dengan menjual “majalah” yang terdiri dari selembar A3 dilipat jadi ukuran A4, 4 halaman ‘majalah’ itu bernama FOWI (Forum Wartawan Indonesia – Bandung) dijual dengan harga Rp 1.000,- (saat itu US$ senilai Rp 2.500,-). Aku menjualnya dengan penawaran minimum Rp 1000,- tapi jika memberikan jumlah lebih maka akan mendapat prioritas edisi berikutnya. Suatu hari saat Sari Asih dan Hene pentas tari Bali, aku dan Ging berlomba: dalam 10 menit siapa yang mendapatkan uang lebih banyak dari menjual FOWI. Entah dia bener ikutan lomba atau enggak, yang pasti aku menang telak dari Ging”

“Tapi semua orang boleh memperbanyak. Itu syaratnya. Heheuuu bae teu boga duit oge…,”kata Ging sambil cengegesan. Saya harus mengerjakan distribusi seluas mungkin. Dan begitu banyak insitiatif spontan menawarkan diri. Maaf, saya tak bisa menyebut satu persatu, staf kaki seribu ini. Begitu banyak, begitu berarti bak simphony. Yang satu tak pernah lebih penting dari yang lain.

ging ginanjar, tabloid suara independen
Tabloid Suara Independen. (Foto: Lea Pamungkas)

Pada suatu kali, kami memutuskan untuk langsung turun langsung, alias mengecer di simpang jalan. Saya ingat Nunung Kusmiati dan Euis Balebat, yang setelah menyebarkan di Simpang Kosambi, Bandung, menjual dari satu angkutan kota ke angkutan lain. Mereka datang dengan tergopoh-gopoh dan bersungut-sungut. “Kang Ging tidak kira-kira, kami tadi dikejar-kejar orang gila yang biasa nongkrong di situ”

Ging malah terbahak-bahak. “Wah jarang-jarang kalian dikejar-kejar orang gila kan heuheeuu. Kejar balik atuh, terus dikeleketek”. Sinting. Tapi untuk mengobati kepanikan, malam itu dia mentraktir Nung supaya lain kali bisa lari sama cepatnya.

Oleh kenekadan staf kaki seribu ini, dengan janji setiap orang adalah paling tidak adalah distributor; Independen tersebar bukan hanya di kalangan tertentu. Beberapa supir angkot, kerap datang untuk membawa Independen sebelum nge-tem cari penumpang. Tak jarang, pagi-pagi sekali seorang tukang sayur mengetuk pintu untuk menawarkan diri mendistribusi Independen.

Eh, tahun itu kita tak punya segala kemudahan teknologi komunikasi macam internet sekarang. Jadi ketika ada laporan masuk dari Jakarta, kami harus menggunakan fax. Karena Ging kalau sudah duduk di depan komputer, susah berdiri lagi; saya atau Maskur yang diminta mengambil fax di kantor telkom di Jl Tamblong.

Karena uang kami tak cukup untuk membayar ongkos fax, akhirnya kami membayarnya dengan Independen. Dan saya percaya, si pegawai telkom bagian fax itu, tidak membacanya sendirian. “Biarkan dia tersesat di jalan lurus,” seloroh Ging si Almukarom.

Independen di Kaleng Biskuit Khong Guan
Ketika tengah mengepak Independen (sekarang harus dimasukan ke dalam doos, karena pesanannya sudah banyak) yang harus dikirim ke Bali, Pontianak, Yogyakarta, dan Surabaya, kami mendapatkan kunjungan pater-pater dari Larantuka.

Waktu Ging sedikit punya saat luang. Sedikit basa-basilah dengan para pater: “ Pakai apa pater ke sini ?” Dengan Bahasa Indonesia logat Flores, si Pater menjawab, “Kami tak punya cukup, Bapak. Kami berjalanlah ke sini””

Saya tidak tahu, pikiran Ging ada dimana waktu itu. Dengan selorohnya dia menjawab, “Bagus itu, Bapak. Kaki memang buat berjalan, biar sehat”

Setelah cerita ngalor-ngidul, si Pater ingin membawa Independen ke beberapa kota yang ingin ia singgahi, namun dengan syarat ‘tidak kelihatan’. Saya dan Maskur, agak bingung dengan permintaan ini. Akhirnya, karena kami punya beberapa kaleng bekas biskuit Khong Guan, kami gulung majalah-majalah itu dan dimasukan ke dalamnya.

Para pater ke luar melenggang dengan wajah puas ke luar dari Morse. “ Kalian pakai kaleng Khong Guan? Itu mereka jadi kayak pedagang kelontong. Tanya ke toko sebelah kagak ada barang seperti ay punya,” kata Ging sambil kembali duduk di meja komputernya.

Pernah juga suatu hari, kami didatangi Intel yang menyamar jadi mahasiswa (yang dengan segera bisa kami baui dari sikap dan isi bicaranya). Saya tidak ingat lagi, siapa-siapa saja yang ada di Morse kala itu. Tapi Ging mengatakan, biarlah itu jadi urusannya.

“Jadi Bapak mau kenal pemred-nya?” begitu kata-kata Ging. “Dia lagi tugas ke luar kota. Bapak tunggu saja, sembari ngopi dan baca-baca. Silakan Pak,” tambahnya lagi sambil menyodorkan Independen. Si Intel duduk menunggu, dan tidak pilihan selain membaca dan ngopi. “Silakan, silakan Pak. Juga kalau Bapak mau fotocopy, mungkin buat teman-teman Bapak yang tertarik.”

Tidak hampir sejam, si Intel pergi dengan membawa beberapa eksemplar. Ging tertawa lebar. “Rasain lo, kena racun,” sergahnya.

Jika sudah bekerja, seperti cerita Titarubi, Ging bisa melakukan tanpa jeda. Selain lupa makan, juga lupa tidur. Dan inilah hasilnya: suatu hari ketika tengah berjalan ke ruangan lain Ging menabrak tembok, sampai tubuhnya terhuyung. Dan komentarnya ?

“Siapa yang meletakkan tembok di sini ?”

(Ya, Ging, jadi ‘ tembok-tembok’ itu yang musti diruntuhkan, kita jangan bergeser).

***

AKTIVIS BAWAH TANAH MILITAN, PELAWAN REZIM SOEHARTO

Oleh P Hasudungan Sirait

Ging Ginanjar! Dia adalah persahabatan, keriangan, dan kemeriahaan perhelatan. Sungguh ia kebebasan, kesetaraan, dan persaudaraan (liberte, egalite, fraternite) yang merupakan roh Revolusi Perancis. Lihatlah: perkabungan untuk melepaskan kepergiannya dari kefanaan pun menjadi reuni yang luar biasa lintas-generasi dan lintas-afiliasi. Kubu Prabowo dan kutub Jokowi tak bisa menghindar agar tak bermuka-muka di sana.

Lantai 15 Rumah Sakit Siloam, Semanggi, kemarin, hingga malam, menjadi ajang pertemuan rupa-rupa manusia mulai dari yang bernama besar hingga yang bukan siapa-siapa. Wartawan, seniman, bintang film, akademisi, pegiat demokrasi-HAM—yang masih setia di jalurnya maupun yang sudah menjadi politisi-bagian dari kekuasaan-broker politik-tim sukses-pengusaha—mahasiswa, dan penganggur sejati, antara lain mereka. Datang dari mana-mana, unsur kesamaannya adalah: bagian dari lingkup pergaulan yang maha luas anak Bandung bernama asli Gin Gin Ginanjar.

Hujan yang mengguyur dan membekukan Ibukota seharian kemarin tak menjadi perintang bagi mereka untuk mendekat ke jenazah sang sahabat yang ditempatkan di sebuah ruangan pendingin. Di bilik lapang yang sepelemparan batu dari jasad itu mereka menyampaikan atau menyimak testimoni ihwal lelaki jangkung yang gemar mengolokkan apa pun—termasuk dirinya sendiri dan yang tersakral sekalipun—sebagai guyonan.

Kalau merasa sesak di sana, mereka bisa berpaling ke luar untuk menjambangi para kawan lama sembari menyeruput kopi dan menikmati sekoteng yang tersedia secara cuma-cuma. Perkabungan yang tak ghalib, bukan?

Ya, di saat berpulang pun Ging masih saja menjadi magnit yang luar biasa. Dia memang sosok yang spesial. Kerendahan hatinya yang berbanding terbalik dengan kejangkungan tubuhnya, ketulusannya, kehangatannya, rasa setia kawannya, dan sifat egeliternya, merupakan daya tariknya yang menyihir, selain kejenakaannya.

Di mata kaum perempuan masih ada tambahan kelebihannya, yakni ke-‘gentlement’-annya. Yang satu ini merupakan faktor yang membuat dirinya acap dibelit jerat asmara, sejak ‘baheula’. Sebagai gambaran, dengan seorang sri panggung-pesohor politik yang belum lama ini menjadi sensasi akbar karena mengaku wajah bengapnya akibat dianiaya orang padahal karena operasi plastik, pun dia pernah berikatan khusus meski bertaut umur.

Militan
Ging Ginanjar awalnya kukenal lewat sumbangan tulisannya di Detik, tabloid politik terkemuka yang dikomandani Mas Eros Djarot. Ia masih koresponden di Bandung kala itu dan belum setenar AS Laksana (Sulak) yang sudah menulis kolom di media yang sama meski serupa reporter.

Kami bertemu muka untuk kali pertama dalam rapat gelap di sebuah tempat di bilangan Palmerah, Jakarta, tak lama setelah Tempo, Detik, dan Editor dibredel pada 21 Juni 1994. Menyusun barisan untuk melawan tirani kekuasaan, itu agenda utama kami, kaum pewarta.

Aku terkesan melihatnya dalam persuaan perdana itu sebab pembawaannya lain dari yang lain. Kalau hanya berkaos oblong hitam bergambar depan, bercelana cingklang, bersepatu sendal, dan gondrong itu biasa untuk ukuran wartawan lapangan di zaman itu; yang lain pun kurang lebih demikian. Keteatrikalan gayanya pembeda dirinya.

Aksen sundanya yang kental, kalimatnya yang panjang-panjang dengan pelafalan yang dilambat-lambatkan, bahasa tubuh—terutama tolehan kepala ke kanan-kiri dan kedua tangan yang selalu dimainkan—humor yang diselipkan di sana-sini meski terkadang terlalu dipaksakan, serta argumentasinya yang bisa tak nyambung sehingga dihentikan sendiri sebelum lebih melenceng, merupakan kekhasannya tatkala berkata-kata.

Setelah pertemuan itu kami lebih kerap berhimpun. Ia datang dari Bandung bersama gengnya untuk membicarakan agenda perlawanan. Kami juga pernah menjambangi mereka di markasnya di Bandung. Tempatnya di Jl. Morse No.12, rumah lama tersebut baru saja dikontrak Detik untuk menjadi kantornya, tatkala pembredelan terjadi. Selanjutnya, di sanalah para wartawan, aktifis mahasiswa, dan seniman Bandung berkonsolidasi untuk menyahuti pemberangusan 3 media.

Malamnya rombongan kecil kami yang dari Jakarta menginap di kontrakan Ging yang tak jauh dari kampus Universitas Parahyangan, Ciumbeleuit. Di rumah kayu yang mungil tapi bertingkat dan berpekarangan lapang kami melanjutkan percakapan disertai kekasihnya, Lea Pamungkas. Kesanku saat itu, mereka pasangan yang sepadan. Ging bohemian, sedangkan Lea yang penulis-jurnalis sabar dan penuh perhatian. Kami senang melihat keklopan mereka.

Di kantor Detik di Jl. Bhakti, Blok S, Jakarta, kami juga pernah menjambangi Ging dan para koleganya. Dari Mas Eros kami mendapatkan penjelasan saat itu bahwa segenap awak Detik pada dasarnya mendukung gerakan perlawanan terhadap rezim pemberangus pers yang kami lancarkan, hanya saja agar taktis tak semua orang perlu tampil di permukaan.

Mafhumlah kami jadinya mengapa setelah sekian jauh, hanya Dadang Rachmat Haji Sanusi (RHS), TJ Wibowo (Bowo, almarhum), Idon Haryana, Didik Supryanto, dan Ging Ginanjar dari mereka yang giat di gerakan kami yang kelak mengkristal menjadi Aliansi Jurnalis Independen (AJI). Mas Eros sendiri aktif berkoordinasi lewat mereka ini dan melalui ‘duet maut Kompas: Dhia Prekasha Yoedha-Satrio Arismunandar.

Dunia Pergerakan, Bir, dan Proyek Misterius

Kawan kami sesama pendiri Aliansi Jurnalis Indepeden (AJI), Liston Siregar, sedang berada di Jakarta. Ia mengundang kami untuk ‘nge’-bir sembari melepas rindu. Tentu saja kami menyahutinya dengan penuh sukacita. Malam itu kami, beberapa orang termasuk Ging Ginanjar, berhimpun di sebuah ‘pub’ di bilangan Kemang, Jakarta.

ging ginanjar
Ging Ginanjar, ke-3 dari kiri saat sidang pada 20 Mei 1998. (Foto: Erik Prasetya)

Liston anak Medan. Tegas dan pekerja keras, ia salah satu motor utama AJI di masa rintisan. Selulus dari Universitas Diponegoro, Semarang, ia menjadi wartawan ‘Tempo’. Ternyata mingguan terkemuka ini dibredel (21 Juni 1994). Ia lantas berpaling ke Neraca; kemungkinan Bang Masmimar Mangiang yang mengajaknya. Sebentar saja ia di harian ekonomi ini sebab masih di tahun 1995 ia sudah bergabung dengan ‘BBC’ Siaran Indonesia, London (sampai sekarang ia setia di sana).

Bersua kembali dengan kawan baik yang istimewa membuat kami larut dalam atmosfir kegembiraan, malam itu. Bernostalgia dan berbagi cerita, terutama tentang rezim Soeharto yang kian menindas siapa pun yang tak disukainya (termasuk kami), hakekatnya. Pelengkapnya adalah minuman, cemilan, dan tentu saja: canda-tawa.

Aksi teatrikal Ging yang sudah semakin didekap alkohol kian seru saja. Dengan jenaka ia menirukan goyangan A. Rafik saat membawakan ‘Pengalaman Pertama’ [Lirikan matamu…] dan ‘Pandangan Pertama’. Pun lagak bergitar Rhoma Irama ketika melantunkan ‘Berkelana’ serta gaya berkhotbah ‘Dai Sejuta Ummat’ Zainuddin MZ. Sungguh hiburan gratis yang menyegarkan!

Cengkerama yang sekaligus kesempatan untuk melepaskan segala beban pikiran itu masih asyik. Begitupun, kami harus angkat kaki karena pelayan sudah memberitahu: pub akan segera tutup. Roy Pakpahan (saat itu masih wartawan ‘Suara Pembaruan’) menawari agar kami ikut dia saja naik mobilnya. Ging Ginanjar, Meirizal, M. Hatta, dan aku mengikuti dia dengan langkah gontai dan sempoyongan.

Roy, tak seperti Ging dan aku, bukan penyuka minuman beralkohol. Pun Meirizal dan Hatta yang sama-sama lulusan IAIN Ciputat dan sempat berduet sebagai wartawan ‘Bisnis Indonesia’. Begitupun, kondisi kami semua payah sudah malam menjelang subuh itu.

Di saat rasa pusing bertambah dan isi perut laksana lahar yang akan menyembur pun aku masih merasakan mobil kami yang zig-zag di jalanan lengang.
“Roy, stop dulu..stop dulu…’gua’ udah nggak tahan,” pinta Meirizal.

Begitu kendaraan berhenti di sisi selokan, kami semua berhamburan turun. Suara orang sedang muntah terdengar. Awalnya dari Meirizal; lantas merembet seperti efek domino. Tidak satu pun dari kami yang tak menumpahkan isi perut. Ging bukan kekecualian. Ia bahkan berjongkok kemudian di dalam got yang bertinggi sekitar 1,5 meter sembari merebahkan kening di atas kedua lutut. Beberapa menit ia di sana. kelihatannya sampai tertidur.

“Kita cari penginapan ‘aja’…Nggak mungkin pulang dalam kondisi kayak ‘gini’. Juga masih gelap,” kata Roy.
Kami semua manut saja seperti kerbau dicucuk hidung.
Mobil kembali bergerak. Lajunya belum stabil.
Aku dan yang lain sedang lelap ketika Roy berujar, “Di depan ada penginapan. Kita ke sana ‘aja’.”

Hanya ada beberapa kendaraan di halamannya yang luas saat kami merapat ke depan pintu masuk hotel melati yang lokasinya sudah tak kuingat. Seorang satpam berlari dari pos depan untuk menghentikan kami yang menapak ke arah meja resepsionis.

“Mau ke mana, Pak?”

“Mau menginap ‘dooong’,” jawab Ging dengan menirukan gaya genit Tessy Srimulat (Kabul Basuki).

“Kamarnya habis! Sudah diborong semua. ‘Nginap’ di tempat lain aja,” lanjut Satpam. Wajahnya jauh dari bersahabat.

Aku menelan ludah. Meirizal memberi isyarat agar kami angkat kaki saja.

Satpam itu tentu melihat mobil kami yang seperti dikemudikan orang yang baru belajar nyetir serta memerhatikan langkah kami yang serba belum stabil. Pasti juga ia membaui aroma alkohol yang keluar dari mulut kami. Sebab itulah ia menghalau dengan agak meradang.

Di dalam mobil kami mendiskusikan tempat merebahkan badan. Percuma saja mencari hotel atau losmen sebab akan ditampik karena keadaan kami semua acak-acakan tak karuanan.

“Kita ke tempat kami saja,” usul Ging.

Tak satu pun kami yang menampik sebab tubuh sudah mendesak untuk distirahatkan. Ging menjadi pemandu untuk mencapai tempat yang alamatnya dirahasiakannya.
Letaknya rupanya tak dekat. Persisnya di mana, aku tak tahu sebab lelap dalam perjalanan (saat kutanya kemarin seusai melayat Ging, Roy Pakpahan memperkirakan di kitaran Ciganjur).

Bangunan itu seperti apartemen model lama. Agak kusam meski bercat putih, kalau bukan krem, dengan lis biru. Dibimbing Ging, kami menapak lewat tangga darurat ke lantai 4 kalau bukan 5.

Ging mengetuk pintu dengan pelan sampai 3 kali sebelum sahutan “Siapa…” terdengar dari dalam.

Pintu terkuak setengah setelah Ging menyebut nama yang jelas bukan dirinya. Wiratmo Probo—kami menyebutnya Bimo Gendut untuk membedakannya dari Bimo SMID (Bimo Nugroho, almarhum) yang jangkung—tampak. Ia menggosok-gosok mata dengan tangan. Entah karena dirinya tak percaya pada yang tampak di depan mata atau terpaksa terjaga karena kami datang tanpa berkabar sebelumnya.

Bimo Gendut kaget begitu menyadari bahwa Ging tak sendirian. Tak seperti biasanya, sapaan kami dijawabnya dengan dingin. Senyumnya yang acap mengembang, kali itu hilang total. Pintu tetap dipegangnya agar setengah terbuka saja.

“’Ngapain’ bawa orang ke sini?” ucapnya dengan nada tak senang.

“Tadi sebenarnya mau ‘nginap’ di hotel tapi diusir satpam. Jadi, aku pikir kami ke sini saja,” jawab Ging.

Seperti mengabaikan kami yang masih di depan pintu, Bimo Gendut mendekat dan berbisik ke telinga lelaki jangkung yang konon berdarah Yaman. Aku memerhatikannya. Ging manggut-manggut.

Ging lantas berpaling ke arah kami. “Kawan-kawan…kalian ternyata harus kembali berkeeelaaana,” ucapnya dengan meniru gaya Rhoma Irama. “Akibat pengaruh bir, aku lupa: sesungguhnya tempat ini sangat rahasia. Sumpah!”

Tanpa berucap sepatah kata pun Bimo Gendut masuk dan meninggalkan kami begitu saja. Pintu yang masih setengah terbuka dibiarkannya.

Ging bilang ia menginap di sana saja. Dia minta ma’af karena merasa telah membuat waktu kami terbuang percuma.
Kami membesarkan hatinya dengan mengatakan “Nggak apa.”

Setelah melambai ke dia, kami ber-4 beranjak dengan menuruni tangga darurat yang sama.

Kesadaranku sudah semakin pulih. Kawan yang lain pun, kupikir, sama. Di dalam mobil kami sempat mengungkapkan kedongkolan dan ketakhabispikiran melihat lagak-laku ganjil Bimo Gendut.

Bagaimana dia, kawan seiring-sejalan sejak pembredelan ‘Tempo’, ‘Editor’, ‘Detik’ tega betul menampik kami yang sedang membutuhkan tempat untuk sekadar merebahkan badan? Seperti bunyi lirik lagu dangdut ‘Senyum Membawa Luka’-nya Meggy Meggy Z yang disukai Ging, sungguh teganya, teganya, teganya….

Proyek Misterius
Hari masih gelap. Mungkin masih sekitar pk.02.30. Kemana lagi kami akan menuju? Serba tanggung kalau mau ke mana pun.
“Tenang ‘aja’. Gua ada tempat,” kata Roy sembari mengemudi. Seperti sebelumnya, kami berserah saja sebab otak dan tubuh belum sinkron.

Mobil memasuki halaman sebuah bangunan bertingkat yang terbilang mewah. Entah di mana lokasinya, sampai sekarang pun aku tak tahu.

Satpam yang di pos terjaga mengangguk dan tersenyum ramah sebaik Roy menurunkan kaca jendela. Palang pintu dinaikkannya. Jelas, keduanya saling kenal.

Roy rupanya mengantongi kuncinya yang berupa kartu elektronik. Di dalam apartemen yang lapang itu kami akhirnya merebahkan badan hingga siang. Sedap betul, rasanya.

Saat bersantap seusai membilas tubuh di sana pertanyaan “Siapa pemilik tempat yang asyik ini’’ kuajukan ke Roy.

“Kawan kita juga…Rudi Singgih.” Jawaban singkatnya tak urung membuatku takjub. Tak seperti sekarang, kala itu apartemen, terlebih yang mewah, masih sesuatu yang wah di negeri kita termasuk di Jakarta pun. Hebat juga kawan kami yang satu itu, kataku dalam hati.

Sedikit ihwal Rudi Singgih. Merupakan fotografer ‘Tempo’ sebelum majalah itu diberangus, dia pegiat AJI yang bersemangat sejak semula. Lulusan arkeologi UI, ia sosok yang lembut dan humoris. Begitupun, akhir hidupnya nanti maha-tragis.

Sekawanan polisi mencokoknya di kediamannya di Buah Batu, Bandung di malam 22 April 2001. Subuhnya, mereka memberondong hingga lelaki bertubuh agak kecil itu meregang nyawa. Alasannya? Rudi mencoba melawan dan kabur. Sebuah penjelasan ia tak kupercaya hingga detik ini. Soalnya, aku tahu persis: keponakan pengacara terkenal-tokoh pers terkemuka Suardi Tasrif tersebut bukan tipe manusia yang bringasan.

Kejadian yang menjadi duka dalam bagi kami, orang-orang AJI angkatan perdana, sampai kini. Ia pendiri AJI yang ke-2 berpulang; yang pertama adalah TJ Wibowo (Bowo), anak ‘Detik’ yang juga seniman berambut sepinggang. Togi Simanjuntak yang ke-3 (sejarawan lulusan UI ini korban dalam kecelakaan mobil saat bertugas di Sulawesi sebagai konsultan NGO), Ahmad Taufik (Opik) yang ke-4, dan kini, Ging Ginanjar yang ke-5.

Dua hari setelah setelah Bimo Gendut menolak kehadiran kami di tempat rahasia mereka, Irawan Saptono bercerita ke aku. Ia temanku sesama redaktur majalah ‘D&R’.

“Ging mendapat tegoran keras gara-gara kalian,” katanya ke aku sambil tersenyum, pada suatu siang di kantor kami di Jl. Iskandarsjah (tak jauh dari Blok M).

Tak begitu mengerti duduk masalahnya, aku pun meminta penjelasan.

Sehari sebelumnya Ging telah disidang para petinggi yang menjadi otak Proyek Blok M. Ia dianggap melakukan kesalahan fatal yakni membawa orang luar ke tempat yang seharusnya steril betul. “Ia diberi peringatan keras,” Irawan Saptono menjelaskan. Dia ikut menyidang.

Sempat bingung aku sebaik mendengarkan cerita Irawan. Sejurus kemudian sadarlah aku betapa naifnya diri ini. Dengan semua orang AJI, termasuk Bimo Gendut, sekian lama aku merasa bukan sekadar sebagai kawan lagi melainkan saudara senasib-sepenanggungan juga. Aku menyayangi mereka semua tanpa syarat apa pun.

Sebelum beroleh sepotong informasi dari Irawan itu tak pernah kubayangkan adanya garis demarkasi yang membedakan kami. Rupanya, Proyek Blok M yang sedang mereka jalankan salah satu yang mensyaratkan tegaknya bentangan garis pemisah itu. Aku menelan ludah yang lebih kelu…

Proyek Blok M itu apa sesungguhnya sehingga begitu penting dan sangat bersaputkan misteri—hingga hari ini— termasuk bagi kami sebagian besar anak AJI? Bagaimana sebenarnya peranan seorang Ging Ginanjar dan yang lain—terlebih sang ‘master mind’: Mas Goen (Goenawan Mohamad)—di sana?

Penasaran, aku mencoba menemukan jawabannya dengan cara bertanya secara tak langsung ke mereka yang kuduga menjadi bagiannya. Kebetulan, sebagai pengajar tamu yang acap dilibatkan di workshop yang rutin diadakan Institut Studi Arus Informasi (ISAI) di pelbagai kota, aku berkesempatan berinteraksi dengan mereka. ISAI dan Proyek Blok M bertaut.

Di acara perkabungan untuk Ging di Rumah Sakit Siloam, Semanggi, kemarin dulu pun aku masih menghimpun jawabannya. Alhasil, gambarannya kini lebih benderang bagiku. Mau tahu? Jangan tanya ke Ging Ginanjar sebab ia sudah tak bisa bersuara lagi.

***

GING YANG GEMBIRA

Oleh Hawe Setiawan

BANGUN tidur, dalam sebuah bus turis dari Pangandaran ke Bandung, saya membuka ponsel. Ada missed calls dari Teten Masduki, dua kali. Lewat WA, dia pun mengirim chat yang singkat sekali: “Ging meninggal.”

Lewat kaca jendela terlihat pemandangan malam yang suram. Hujan deras, jalan basah, dan mobil-mobil merayap menjelang tanjakan Gentong. Saya mengontak adik Ging, Dewi Ratna Damayanti. Ia membenarkan berita itu.

Maut, pada 20 Januari malam itu, memperlihatkan diri dalam puluhan bahkan ratusan pesan medsos yang cepat merambat. Dari menit ke menit kian banyak kabar tentang Ging. Ya, Ging — sapaan yang mudah diucapkan dan enak didengar, seperti bunyi genta, buat Gin Gin Ginanjar.

Belum lama saya kebetulan bertemu dengan Ging di sebuah kedai di Cikini, Jakarta. Dia sedang memesan makan siang bersama seorang temannya. Kami berpelukan, lalu mencoba berbahasa Indonesia buat menghargai teman. “Sudahlah, kalian pakai bahasa Sunda aja,” ujar temannya seraya tersenyum.

Dengan Ging, saya memang selalu bercakap dalam bahasa Sunda. Kalaupun sesekali ada rembesan bahasa lain, yang muncul adalah ungkapan-ungkapan ajaib semacam “neither hir nor walahir” yang maksudnya, tentu, “teu hir teu walahir” .

Ging berusia 55 tahun, terlalu muda untuk meninggalkan begitu banyak teman. Ia sahabat yang enak diajak bicara, piawai bercerita, bodor pisan. Rautnya kasép, sosoknya jangkung. Sering saya menyebutnya “petinggi” atau “pembesar” dengan mengingat tinggi badan atau nomor sepatunya. Ada kalanya saya menyapanya “Aa Ging” sebab tak jarang ia mencairkan percakapan dengan ucapan-ucapan yang dia parodikan dari para penceramah.

Saya kenal dia sejak tahun 1990-an. Waktu itu, sebagai mahasiswa jurnalistik yang naif, saya sedang belajar menulis dan menyiarkan berita. Tulisan Ging, terutama ulasan teater dalam Pikiran Rakyat, sering saya baca. Sering pula saya lihat dia menenteng kamera sambil mengumpulkan bahan tulisan. Ia memang jago memotret selain piawai menulis. Tulisannya jujur, sikapnya merdeka.

Waktu pers Indonesia mulai mengalami konglomerasi, Ging bekerja untuk suratkabar Gala di Bandung. Tidak lama, dia keluar dari situ. Kemudian dia jadi koresponden Bandung buat tabloid politik DeTIK terbitan Jakarta. Pada 21 Juni 1994 DeTIK diberangus oleh pemerintah Soeharto sebagaimana majalah Editor dan Tempo. Gelombang demonstrasi anti-Soeharto menguat di sejumlah kota.

Ging ikut melawan. Dia bergiat dalam Forum Wartawan Independen (FOWI), kemudian jadi presidium Aliansi Jurnalis Independen (AJI). AJI menandingi Persatuan Wartawan Indonesia (PWI), satu-satunya asosiasi jurnalis yang diamini oleh penguasa waktu itu. Ging dan sekian wartawan lain melawan lewat publikasi majalah bawah tanah. Ia antara lain memimpin Suara Independen, Cibeureum Pos, dan berkala lainnya.

Bukan hanya jurnalisme yang dia andalkan sebagai medium perlawanan. Ia pun bergerak lewat seni, tentu. Dia kan pernah kuliah di Akademi Seni Tari Indonesia (ASTI yang kini jadi ISBI). Salah satu hasil kerjanya adalah lakon teater “Ruang Tunggu Bapak-bapak” yang dipentaskan di Bandung, Jakarta, dan kota lainnya.

Pada 1997, atas nama International Federation of Journalist (IFI), Ging ikut bicara tentang tirani di Indonesia dalam Sidang Komisaris Tinggi PBB untuk Hak Asasi Manusia di Jenewa.  Buat menandingi Sidang Umum MPR 1998, Ging turut memprakarsai Kongres Rakyat Indonesia di Ancol, Jakarta.

Pada 10 Maret 1998, sehari menjelang pelantikan kembali otokrat Soeharto sebagai presiden, Ging ditangkap dan ditahan. Namun, bui tidak menghalanginya untuk melancarkan jurnalisme. Dari ruang tahanan, untuk Radio SBS (Special Broadcasting Service) Australia, dia mewawancarai Andi Arief, salah seorang pentolan Partai Rakyat Demokratik (PRD). Kiprahnya turut terekam dalam film dokumenter, Tahanan-tahanan Politik Terakhir Soeharto, arahan sutradara Bernard Debord yang diproduksi oleh Amnesty International.

Setelah lebih dari 2 bulan, persisnya 70 hari, Ging dibebaskan. Esok harinya, 20 Juni 1998, Soeharto jatuh juga setelah 32 tahun berkuasa. Tirani berakhir, Indonesia lebih leluasa.

Sebagai jurnalis, juga sebagai seniman, Ging senantiasa menunjukkan kesanggupan untuk menempuh jalan yang tidak mudah. Dia menyiarkan kabar seraya memperjuangkan nilai-nilai yang dia yakini. Dia berkesenian bukan untuk seni itu sendiri.

Pada masa pasca-Soeharto, selama beberapa waktu, Ging bekerja di Jakarta buat mingguan politik DeTAK, reinkarnasi dari DeTIK. Saya sendiri ikut membantu tabloid itu, mula-mula di Bandung, kemudian di Jakarta.

Suatu hari, sewaktu dia masih membujang, saya berkunjung ke tempat tinggalnya di Jakarta. Seingat saya, tidak ada tata letak yang lebih kacau daripada ruangan tempat Ging tinggal. Laptop, kamera, tape recorder, tumpukan buku dan dokumen, pakaian, sepatu, cangkir, termos, asbak, dan entah apa lagi berserakan di atas lantai. Sulit sekali saya melangkah di ruangan itu.

Anjir, Ging, ieu mani kacow pisan,” komentar saya.

“Pokona mah, mun ilaing rék hirup di Jakarta, nu pangheulana kudu dipigawé téh meuli kulkas,” katanya seraya mengambil minuman dingin dari salah satu pojok ruangan.

Ketimbang membeli kulkas, saya sendiri lebih suka kembali ke Bandung. Ging orangnya bisa tahan, untuk bergiat bukan hanya di Jakarta melainkan juga di kota-kota besar lainnya, tak terkecuali di Eropa.

ging ginanjar
Makam Ging Ginanjar (Foto: Mmh Rizki)

Setelah mengundurkan diri dari DeTAK, Ging bekerja sebagai penulis lepas untuk sejumlah media. Sempat dia jadi editor untuk jaringan radio Kantor Berita 68 H. Pernah pula dia bekerja untuk Common Ground Indonesia, organisasi non-pemerintah yang berpusat di Belgia dan Amerika Serikat. Seterusnya, dia melanglang buana, mula-mula bekerja untuk Radio Deutsche Welle di Bonn, Jerman, kemudian untuk BBC Indonesia hingga akhir hayatnya.

Siapa pula yang tidak kaget dengan kepergian Ging? Sungguh peristiwa yang mengguncangkan hati di tengah suasana umum ketika sisa-sisa Orde Soeharto, rezim yang dia tentang sedemikian rupa, seperti sedang mendapat peluang buat bangkit lagi di tahun politik yang bising ini.

Yang pasti, kepergian Ging telah menghimpun berbagai kalangan, baik di Jakarta maupun di Bandung. Di Cimahi, pada saat jasadnya hendak dikebumikan, saya ikut melihat kelimun itu: para aktivis, jurnalis, seniman, dan banyak lagi, dari dalam dan luar negeri, bersama keluarga besar almarhum. Pak Yahya Ganda, ayahnya, tiada hentinya menangis seraya memegang peti jenasah. Bu Inne Badriani, ibunya, beserta anak dan cucu menerima ungkapan bela sungkawa dari hadirin. Anak almarhum semata wayang, Luan, bersama ibunya, Laurance, yang baru tiba dari Brussels, turut melepas jenasah.

Di Pekuburan Cipageran, 22 Januari petang, kami berkumpul, bukan untuk mengucapkan perpisahan dengan Ging, melainkan untuk memastikan bahwa Ging bakal abadi dalam ingatan.

***
Video: Ging bicara saat pemakaman Ahmad Taufik, 24 Mar 2017

Advertisements

1 Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s