Mengantar Ging Ginanjar (1)

ging ginanjar, bupati tubaba, rumah dinas,
Kami di Rumah Dinas Bupati Tubaba. Kang Ging duduk di tengah-atas kaos putih.

Walau kenal namanya sejauh saya jadi wartawan, tapi berinteraksi langsung dengan Ging Ginanjar (1964 – 2019) baru saat kami sama-sama dalam rombongan wartawan ke Tulang Bawang Barat (Tubaba), Provinsi Lampung pada Oktober 2016.

Dengan nama sebesar itu dan sesenior itu, ternyata Kang Ging rendah hati.  Belum lagi kalau ngabodor, ngga kira-kira. Selepas makan malam, kami berkumpul di teras belakang rumah Pak Puryanto tempat kami menginap, ngobrol, ngopi, dan tertawa terus sampai kantuk menjelang.

Baca juga Budaya dan Identitas Baru Tubaba

Keesokan paginya, saat pawai Selamatan Tubaba, ada warga yang bisik-bisik ke saya, “Itu turis?” sambil menunjuk Kang Ging yang lagi motret.
“Kok turis? Bukan.”
“Kirain turis. Bule begitu.”

Baru saya sadar, orang ini bukan cuma tinggi, tapi juga kebule-bulean. Bisa jadi ada darah bule mengalir di tubuhnya.

Setelah dari Lampung, saya sempat sekali bertemu, waktu pembukaan pameran sketsa Goenawan Mohammad di Plaza Senayan, Jakarta, tapi tidak sempat ngobrol, hanya bersalaman.

Dan ketika mendengar Kang Ging berpulang, Minggu 20 Januari 2019 di Jakarta, tak kurang terkejutnya saya. Orang baik ini pergi duluan, mendadak.

Selepas tujuh hari kepergiannya, saya berupaya mengumpulkan tulisan rekan-rekan Kang Ging yang saya bagi menjadi dua postingan sebab terlalu panjang. Siapa tahu suatu saat nanti saya ingin mengenang lagi orang kocak satu ini.

ging ginanjar
Dalam penerbangan pulang dari Bandar Lampung ke Jakarta. Kang Ging berdiri di belakang tangan saya.

***

GING GINANJAR YANG SAYA TEMUI DI RUMAH ITU

Oleh Heru Hikayat, 21 Januari 2019

Di tahun politik ini, tampaknya sebagian orang tidak tahu atau lupa, bahwa belum terlalu lama berlalu, di dekade 1990-an, terjadi penculikan aktifis pro-demokrasi. Di masa kini, orang bisa bawel mengkritik pemerintah dengan bahasa yang pedas, dan tak mendapati konsekuensi apa-apa. Di era Orde Baru, orang macam begini, hilang sudah, diculik Kopassus. Hingga kini, masih ada orang hilang korban Kopassus, tak kunjung jelas nasibnya. Entah sudah dibunuh, entah.

Sebagai mahasiswa culun, perantauan dari kampung, di tahun 1990-an saya juga tidak tahu menahu tentang hal ini. Sebagai mahasiswa junior, saya bahkan berkerut kening saat membaca sebuah ensiklopedi berbahasa Inggris, menyebutkan sistem pemerintahan Indonesia adalah “military dictatorship”. Bukankah Presiden Soeharto dipilih rakyat? Demikianlah pemikiran hasil indoktrinasi Orde Baru sejak usia SD.

Maka, saat pertama dibawa bertemu Ging Ginanjar, saya terheran-heran, kenapa orang ini bersembunyi? Kakak kelas saya, Titarubi, pada tahun-tahun itu suka tiba-tiba mengajak saya pergi. Tanpa banyak bertanya, saya ikut.

Kali itu, kami, bermobil, membawa makanan dan sejumlah kebutuhan lain, mendatangi sebuah rumah di pinggiran Bandung. Di rumah itulah saya pertama bertemu Ging Ginanjar. Saat itu, ia sedang disembunyikan dari kejaran aparat Orde Baru. Teman-temannya bergantian menjenguk di persembunyiannya, membawakannya makanan dan bertukar informasi terbaru.

jurnal Independen, ging ginanjar
Jurnal Independen yang diawaki Ging Ginanjar. (Foto: Istimewa)

Sampai momen itu pun, saya masih belum tahu, apa pentingnya sosok Ging Ginanjar. Sampai ketika saya dibawa Titarubi berjualan jurnal “Independen”, saya baru mulai kenal peran Ging (sambil saya tidak terlalu sadar bahwa saat berjualan Independen, saya pun bisa diculik aparat).

Di masa Orde Baru, media massa sangat dikontrol. Redaktur atau wartawan bisa tiba-tiba diinterogasi aparat militer, jika isi berita tidak sesuai maunya pemerintah. Tidak jarang, media yang dianggap pembangkang, dibredel. Majalah Tempo salah satunya, dibredel tahun 1994. Di luar kendali pemerintah, pembredelan ini justru memantik berbagai aksi penentangan.

Ging Ginanjar dan kawan-kawan menerbitkan jurnal Independen. Isi jurnal ini, tentu bikin gerah pemerintah. Terbit tanpa izin, diedarkan dari tangan ke tangan, dalam pertemuan-pertemuan terbatas.
Ging juga mendirikan Aliansi Jurnalis Independen (AJI). Organisasi ini, hingga kini aktif mengadvokasi kebebasan berpendapat, dan kesetaraan bagi semua.

Saat Ging Ginanjar menghembuskan nafas terakhirnya tadi malam, saya sedang menyetir, dari Jakarta menuju Bandung. Di tengah jalan, saya menerima panggilan telepon dari Dewi Noviami. Kabar duka itu…

Ging, pileuleuyan… Wilujeng angkat…
Saya tahu, banyak sekali yang kehilangan dirimu. Dan, hal-hal yang kau lakukan semasa hidupmu, berjejak panjang, pada kami.
Ging, pileuleuyan, sing ludeung…
(Cigadung, 21 Januari 2019)

***

Oleh Titarubi, 26 Januari 2019

Suatu hari di bulan Maret 1998, Ging minta ijin untuk tinggal di rumah kami. Aku dan Agus Suwage, tentu memersilahkan dia untuk tinggal dan bekerja. Ging bekerja dekat dengan telepon. Dia membuat pojoknya sendiri dan dia sibuk dengan sendirinya.

Kami, setidaknya aku, terlatih untuk tidak bertanya. Bahkan aku belajar untuk tidak mengingat orang. (Jadi kalau kita papasan dan lupa-gak nyapa, maafkanlah) itu demi keselamatan orang2. Tidak mengingat nama dan wajah. Sangat penting. Jaman itu semua mengerikan, jadi latihan diperlukan.

Ging berpesan, bahwa jika dia ditangkap, dia akan memberikan kode di mana dia berada. Waktu itu jaman penculikan, jadi siap sedia diculik diperlukan.

Ging menelepon bahwa dia ditangkap dan dibawa ke Polda Metro. Setiap saat aku berada dekat telepon. Menunggu.

Akhirnya dia berada di Polda dan masuk sel bagian ekonomi. Aku dan Nina menyiapkan segala pesannya: sarung, kolor, sikat gigi dan pasta, cukuran jenggot dan makanan. Ging sudah lama berhenti merokok.

Tiba di polda dg kardus mie instan, kami menengoknya. Sulit, tentu saja.

Di polda, saat itu, ada 11 orang yang tertangkap dan ada 7 orang SBSI yg ditangkap. Pertanyaannya: tegakah hanya mengurus Ging? Kalau gak tega, maka harus urus semuanya.

Fathom bilang, bahwa hari itu dia mendapatkan berkah: potongan kacang panjang sepanjang kira2 3 cm yg biasanya dapet 2, hari itu dapet 3. Itu kabar gembira!!!

Maka, aku memohon kepada pakDe Susilo Adinegoro membawa makan ke Polda, untuk semuanya. Bayarnya nanti aku ngencleng dulu di acara kesenian. Berkah, pakDe selalu bersedia aku berutang sampai uang kenclengan bisa melunasinya.

Terima kasih teman-teman semua 😘
Dengan kalian, dunia rasanya jauh lebih baik ❤️

***

MENGENANG SAHABAT SEMUA ORANG

Oleh Azuzan Jg, 27 Januari 2019

Namanya akrab disapa Ging. Ging Ginanjar. Dia baru saja berpulang. Banyak orang merasa kehilangan dia. Pejuang yang gigih. Konsisten memperjuangkan kebebasan pers dan HAM. Dia dikenal terutama sebagai salah seorang pendiri AJI, Aliansi Jurnalis Independen. Terakhir dia bekerja sebagai wartawan BBC perwakilan Indonesia. Sebelumnya?

Saat kebebasan berpendapat dikekang di masa represif dulu, Ging bisa berada di mana saja. Melesat bagai angin. Semasa dia kuliah di STSI Bandung, sesama mahasiswa teater sesekali kami bertemu.

Meski kampus kami berlainan – saya di Jakarta dan dia di Bandung, kami kerap bertegur sapa di berbagai forum diskusi tentang teater, tentang kebudayaan, entah tentang apa saja. Kadang dia mengabarkannya melalui pesan singkat di pesawat pager atau email. Bila ia mengabarkannya, saya yakin forum itu menarik. Saya berusaha menghadirinya meski hanya sebagai pendengar saja.

ging ginanjar
Komunikasi Azuzan Jg dan Ging Ginanjar lewat WA. (Foto: Azuzan Jg)

Melesat bagai angin. Ia bisa berada dimana saja dan menjadi sahabat bagi banyak orang. Tahun 1996 saya dan teman-teman Teater Lembaga mementaskan Lembah Dalam di auditorium STSI Bandung.

Ging datang menyemangati. Ikut menghimbau teman-teman di kampusnya untuk membantu pertunjukan itu. Dia juga mengutarakan keinginannya untuk mentas di Jakarta.

Satu bulan kemudian, dia bersama Iman Soleh I dan teman-temannya, bikin teater di pelataran galeri TIM. Kami kembali bertemu. Saya menghimbau teman-teman saya dari kampus saya untuk membantunya. Malu rasanya bila tidak membalas kebaikannya.

Tentang Ging, seperti semua orang yang pernah mengenalnya, banyak kenangan tak ternilai. Tidak sekedar kenangan. Tapi kerjasama, saling menyemangati. Tidak dengan puja-puji. Tapi melalui kritikan dan canda.

Bila ada suatu pertunjukan kesenian atau diskusi-diskusi tentang kebudayaan, dia selalu ada disana. Dan ia tak jemu berkirim kabar. “aku bisa datang” atau “maaf aku tidak bisa hadir, ada pekerjaan”

Tahun 2001, sesudah reformasi, situasi politik belum stabil. Tindakan main hakim sendiri sering terdengar dimana-mana. Kepercayaan masyarakat terhadap penegakan hukum masih rendah. Bila ada maling ketangkep, bisa langsung dihabisi beramai-ramai. Desas-desus sering bisa dipercayai sebagai kebenaran yang sebenarnya. Kebenaran terdistorsi oleh macam-macam kepentingan.

Saat itu Ging menghubungi saya. Kita bikin drama Radio, katanya. Kita coba bikin misi Resolusi konflik. Untuk membantu masyarakat dalam penanganan konflik lokal. Konflik yang sudah terjadi dan memakan korban, direkonstruksi kembali dengan solusi penegakan hukum atau musyawarah, sesuai nilai-nilai kemasyarakatan setempat. Begitu konsepnya. Kita kerjasama dengan Common Ground Indonesia, sebuah NGO yang berpusat di Amerika.

Mulanya saya enggan bekerjasama dengan NGO manapun. Sebab sering saya dengar, NGO itu perpanjangan tangan dari kepentingan-kepentingan yang tersembunyi. Tapi sebab Ging saya percaya. Dia tidak pernah main-main meski sering bercanda. Kita bisa tahu darinya mana canda dan mana seriusnya.

Demikianlah, Drama Radio dibawah judul Menteng Pangkalan itu kemudian jadi kami kerjakan bersama. Ging dan Edith Koesoemawiria sebagai pimpinan produksinya. Drama Radio itu disiarkan sepanjang 2002-2003 di hampir 200 stasiun radio di seluruh Indonesia.

Dan Ging, setia mengawal produksi itu dari pembuatan skenario, proses rekaman, editing, dan distribusi. Saya tidak bisa membayangkan apakah drama radio dengan konsep “resolusi konflik” itu bisa berjalan tanpa dia.

Dia melesat bagai angin. Tahun 2005 saya pindah ke Belanda. Beberapa tahun kemudian dia berkabar: “Saya sekarang bekerja di Deutche Welle, broadcast radio di Jerman. Saya akan mampir ke rumahmu suatu saat nanti, demikian dia berkabar.

Tahun 2012 dia kirim pesan: saya dengar ada forum film menarik di Rotterdam. Paul Agusta bikin film menarik, dan filmnya diputar di sana. Kita harus kesana. Dan kamipun bertemu di Rotterdam, bersama Felencia Hutabarat. Sehabis nonton dan diskusi, ia menginap di rumah kami, di Gouda.

Waktu sarapan dia memilih Indomie, tak mau roti. Sehabis sarapan dia minta diantar ke stasiun kereta. Kamu mau kemana lagi Ging? tanyaku. Mungkin ke Rotterdam lagi, atau balik ke Jerman.

Dan tahun berikutnya dia berkabar lagi: Lena Simanjuntak akan mentas di Jerman. Lalu kami pun bertemu lagi di Koln. Di sana dia menceritakan, dia ingin pindah lagi ke London dan mungkin berikutnya akan kembali ke Indonesia.

Pagi tadi saya buka kembali sebaris pesan di WA saya 9 januari 2019. Dari Ging: “…Seru tulisan Tunggal Pawestri – agak panjang tapinya..”

Ach Ging.

Gouda 27-01-2019

Oleh Suci Mayang, 24 Januari 2019

Empat hari berlalu sejak kepergian sahabat tersayang, Gin Gin Ginanjar. Tapi rasanya Ging masih belum pergi. Dia masih ada di sekitaran. Dalam perbincangan di telpon, di WA, di medsos. Dan yang pasti juga dalam ingatan yang sekelebat muncul tiba2. Tanpa permisi. Membikin kesedihan kembali menyeruap.

Ging adalah sahabat yang hangat dan jenaka. Kami berteman sejak 19 tahun yg lalu. Tahun 2000, saya menjadi reporter baru di KBR 68H Komunitas Utan Kayu. Kala itu Ging sudah menjadi jurnalis kawakan. Sebagai senior dia tak menjaga jarak dng para juniornya. Dia akrab, jenaka, juga murah hati berbagi kecerdasannya dalam melihat setiap persoalan dalam peliputan.

Ging dikenal suka iseng dan jahil. Suatu hari dia pernah menelpon ke kantor, mengatakan telah terjadi penculikan dua orang aktivis gerakan, di Rengas Dengklok. Koordinator Reporter (KR) yang bertugas saat itu langsung sigap mengirim reporter daerah ke Rengas Dengklok. Tak lupa KR juga mengontak kapolres setempat. Dalam wawancara live, Kapolres mengatakan, belum tahu soal info ini, tapi akan segera menindak lanjuti.

Selang beberapa waktu, KR sadar bahwa itu ulah Ging. Saat itu tanggal 16 Agustus. Memang benar terjadi penculikan, tapi itu beberapa puluh tahun lalu. Tahun 1945, Sukarno dan Hatta diculik ke Rengas Dengklok.

Ging juga amat sering menelpon ke kantor berpura-pura jadi kaum radikal, yang komplen terhadap pemberitaan KBR. Dengan logat tertentu dia mengatakan akan mendatangi kantor kami dengan ratusan orang. Banyak kawan yang kena dia dijahilin. Saya juga pernah mengangkat telpon Ging yang semacam ini, tapi kamu gagal jahilin saya Ging. Saya hafal suaramu hehehe..

Begitu seringnya Ging jahil sampai dia kawatir dijahilin balik. Suatu ketika Ging tugas siaran. Produser mengatakan sudah tersambung dengan seorang Kapolres untuk wawancara live tentang satu kasus. Dari luar ruang siaran, Produser berkata, “Nama kapolresnya Napoleon Bonaparte, Ging”.

Sontak Ging berusaha menahan tawa, dia tak percaya. Jadi selama wawancara live itu, Ging hanya memanggil, “Jadi bagaimana Pak kapolres… Apa tindakan pak Kapolres.. Terimakasih pak kapolres”. Sampai selesai, Ging tak pernah menyebut nama Kapolres Napoleon Bonaparte. Padahal itu benar nama sang kapolres.

Di Eropa bersama Ging
Ging lah yang membukakan jalur bagi saya dan Andy untuk bisa tinggal di Jerman. Dia merekomendasikan Andy mengisi posisi tertentu di Deutsch Welle, kantor pemberitaan Jerman. Sepertinya Ging juga yang menyarankan Andy menikahi saya. Alasan pragmatis, agar pajak cukup satu untuk sepasang suami istri. Entahlah.

Ging dan Laurence pasangannya, tahu bagaimana hubungan saya dengan Andy. Dia tahu bahwa saya cuma mau ikut ke Jerman bila saya dinikahi. Kalau tidak, saya memilih tetap tinggal di Indonesia saja. Saya punya karir dan tanggung-jawab di Indonesia yang tak bisa saya tinggalkan tanpa kepastian. Akhirnya, terjadi pernikahan itu dan saya menyusul Andy ke Jerman.

Di Eropa kami semakin dekat. Banyak kisah lucu yang terjadi. Lagi-lagi ulah Ging.

Di Jerman, bila pindahan rumah, pemilik lama harus mengecat rumah sebelum diserahterimakan ke penghuni baru. Rumah Ging akan ditempati Andy, maka Ging mengecat rumah itu. Selesai mengecat dia harus kembali ke Brussel. Agar tidak tertinggal kereta, Ging datang lebih awal ke stasiun.

Sayangnya ketika kereta datang Ging tertidur di bangku stasiun. Walhasil Ging harus menunggu kereta terakhir yang tujuannya jauh dari kota Brussel. Ging terkenal suka ngaret. Kali ini dia tidak ngaret tapi tetap tertinggal kereta.

Ging juga pernah terkunci di toilet TKmax sebuah toko besar di kota Bonn. Ging berniat ke toilet, entah bagaimana petugas mengunci toko dan pergi makan. Meninggalkan Ging di dalam Toko. Kami kawan2nya yang menunggu Ging di taman, menerima telpon Ging, dan berusaha mencari petugas TKmax yang membawa kunci toilet.

Kami juga pernah terperangkap di Lift, di apartemen Laurence di Brussel. Ini sedikitnya ulah Ging. Lift berbunyi menandakan kuota penuh. Tapi Ging dengan yakin mengajak sisa kawan untuk masuk saja. Ala Indonesia, cuma 1 orang lagi tentu bisalah. Ternyata lift berhenti, stuck di antara lantai.

Saya memegang erat pegangan di dinding lift, sambil mengangkat kaki, membayangkan kalau lift itu lepas, kaki saya bisa terselamatkan. Suasana mencekam banget. Salah seorang kawan asmanya kumat. Butuh 2 mobil pemadam untuk bisa mengeluarkan kami dari lift. Haha.. kami selamat. Laurence misuh-misuh karena di situ ada Luan, anak mereka. Moral cerita, pemadam kebakaran Brussel, cakep cakep hehe.

Tak terhitunglah kisah-kisah unik tentang Ging.

Ging Pergi
Minggu sore 20 Januari 2019. Saya dalam perjalanan Cianjur-Jakarta, usai kampanye 4 hari di Dapil. Masih dengan koper penuh baju kotor, saya hadiri satu lagi undangan acara. Di tengah acara, hp berdering dari Andy. Saya matikan. Tapi berdering lagi. Begitu terus berkali-kali.

Biasanya bila saya matikan hp, Andy paham bahwa saya sedang dalam situasi tak bisa angkat telpon. Ini di luar kebiasaan.

Maka saya angkat, terdengar suara Andy menangis meraung. “Ging sudah pergi”. Hati saya remuk. Lemas. Gelap. Mau ambruk. Mungkin karena lelah badan dari dapil bercampur dengan kesedihan hebat. Di tengah acara saya pamit kepada panitia.

Masih berharap Ging hanya koma, saya meluncur ke Ciputat. Perjalanan Pasar baru ke Ciputat terasa jauuh sekali. Tak kunjung sampai. Dalam perjalanan banyak telepon masuk dari kawan-kawan. Bertanya tentang Ging. Saya tak bisa jawab semua, saya hanya menangis.

Saya sempat telepon Laurence, ketika tersambung kami hanya saling menangis meraung. Laurence sempat berkata, “Luan tidak percaya Ging meninggal. Luan bilang “Bapak saya kuat, dia tidak meninggal”.

Sampai di Ciputat, Ging terbujur kaku. Seperti tertidur dengan senyum. It was indeed gloomy sunday. Seperti ada yang hilang di dada. Rasa yang sama ketika Bapakku meninggal. Ketika Bapak meninggal, saya sedang dalam perjalanan antar negara di Eropa. Ketika Ging meninggal, saya sedang dalam perjalanan antar kota di Indonesia. Ging, sahabat terbaik yang pernah saya punya.

Hati saya sakit, remuk.

Tapi kita tak boleh berdiam saja dalam kesedihan. Banyak yang harus disiapkan. Bersama sahabat yang lain kami menyiapkan segala yang diperlukan. Dari tempat duka untuk Ging di Siloam, proses acara penghormatan terakhir, proses penjemputan Laurence dan Luan dari Brussel, dll. Ging, kamu berhasil bikin para sahabat kurang tidur. Dari pagi ke pagi lagi mengurus prosesi kamu.

Laurence dan Luan

ging ginanjar, laurence, luan
Laurence dan Luan. (Foto: Suci Mayang)

Laurence dan Luan datang selasa pagi. Kami menjemput mereka di Bandara lalu ke Siloam, lalu bersama jenasah berangkat ke Cimahi. Proses ini sedih sekali. Saya memikirkan Luan.

Di dalam mobil Luan memotret mobil patwal yang mengawal kami di depan. Dia bilang ini cool. Dia mau foto dan tunjukan ke kawan-kawannya di Brussel. Kami katakan ke Luan, Bapak kamu orang hebat, sampai dikawal patwal.

Luan memang anak yang kuat. Di dalam mobil, Laurence dan Luan menyiapkan kartu-kartu ucapan untuk Ging. Salah satu kartu bergambar hati. Luan menuliskan sesuatu di dalam kartu.

Dia bertanya kepada saya, “Mayang, extraordinary itu apa?”. Saya jawab” Luar biasa”. Luan kembali melanjutkan menulis, dia menulis dengan bahasa Indonesia. Sekilas saya curi membaca : “Selamat jalan Ging, kamu bapak yang luar biasa…”

Setelah itu Luan tertidur meringkuk di samping saya, di mobil. Mukanya lelah dengan mata basah. Wajahnya cakep, perpaduan antara Ging dan Laurence. Malaikat cilik.

Di Siloam, untuk sesuatu hal, Laurence mengurus Ging dan meninggalkan Luan di luar kamar jenazah. Anak yang hebat, dia mau bersabar menunggu, sambil mata nya terus menatap ke pintu ruang jenazah.

Luan menangis lirih, sambil berucap pelan “Bapak..bapak..” Hati saya remuk. Sejauh yang saya kenal, Luan tidak pernah memanggil ayahnya seperti itu. Luan selalu menyapa ayahnya dengan nama saja : Ging.

Perjalanan penuh kesedihan masih belum usai. Jakarta – Cimahi mesti ditempuh beberapa jam. Sampai di Cimahi. Hujan deras. Rumah orang tua Ging penuh orang. Hujan tak kunjung reda. Tanah pekuburan basah. Semua mata pelayat basah.

Selesai semua prosesi. Kami kembali ke Jakarta. Laurence dan Luan tetap tinggal di Cimahi bersama keluarga Ging. Di rumah itu, Luan meladeni bercandaan para sepupunya. Dengan ulah dan jogetnya. Ini Ging banget. Meski sedang sedih tetap bisa menghibur yang lain.

Selamat jalan Ging, sahabat tersayang. Bayanganmu akan tetap tinggal bersama kami. Kami akan terus mengingatmu, di taman, di pojok cafe, di Jaya pub, di ruang-ruang diskusi. Semua tak akan sama lagi memang. Tapi jejakmu akan selalu ada di setiap belokan jalan yang pernah kita lalui bersama sahabat2.

We’ll be seing you, always..

Kisanak Ging, Yang Ku (dan Banyak Orang ) Kenang
Oleh Liston P Siregar

Malam pada hari  Ging Ginanjar wafat, ada media online yang meminta saya untuk menulis obituari. Mereka tahu saya pernah bekerja sekantor dengan Ging namun juga sudah berteman lama sebelum jadi rekan kerja. Ingin saya iyakan, namun yakin sekali kalau obituari itu akan jadi amat personal, jadi –saya yakin- tak layak dimuat di media massa dan lebih cocok untuk blog yang dibaca sesama kawan saja.

Tapi saya bayangkan, jika situasinya dibalik, maka kemungkinan besar Ging akan bersedia menulis obituari saya, karena Ging berani untuk menerobos batas-batas lumrah, tembok-tembok prosedur standard, atau garis-garis wajar. Ging berani dan juga kreatif.

Sekitar 15 tahun lalu, ketika ceritanet menerbitkan buku Keping Kenangan, Kumpulan Memoar Orang Biasa, pilihan potongan kisah hidup yang ditulisnya istimewa: tentang masa kecil yang berupaya memenuhi rasa ingin tahu tentang seks. Setelah bukunya  terbit, ada beberapa kawan yang mempertanyakan kelayakan kisah itu, tapi saya malah bangga bisa memberi  ruang kepada Ging, yang sepenuhnya jujur saat mengenang masa kecilnya.

Jelas kehidupan anak kecil bukan cuma main layang-layang, mandi di got, memanjat pohon jambu, ke sekolah, sembahyang di langgar atau berdoa di sekolah Minggu, maupun bikin PR. Benak dan perilaku anak kecil tak terbatas, termasuk rasa ingin tahu terkait seksualitas –walau memang bisa ditekan oleh norma sosial sehingga ada yang harus ditutupi- dan Ging mengungkap seadanya walau tidak biasa. Dia memang selalu berani melawan arus secara alamiah, bukan dibuat-buat.

Begitulah karakter hakiki Kisanak -salah satu gayanya saat menyapa- Ging, yang meninggal dunia pada usia 54 tahun, Minggu 20 Januari 2019 di Jakarta.

Sekitar tahun 1990-an, saya masih jadi reporter ingusan di Tempo dan mendapat penugasan rubrik seni tentang penari topeng Cirebon yang akan mentas ke Eropa. Ibu penari itu, saya lupa namanya, amat terkenal di kalangan seni tari topeng Cirebon namun seni masih merupakan ruang yang amat asing buat saya. Cilakanya di Tempo, waktu itu, reporter harus mampu meliput apapun dan kalau tidak tahu, maka belajarlah kau. Dan penugasan itu tergolong yang berat: tari saja saya tidak paham apalagi tari topeng Cirebon. Matilah awak!

Untunglah di tempat persiapan di kawasan Jakarta Selatan, ada sepasang anak muda yang sabar sekali menjelaskan tari  topeng Cirebon, yang bukan amat menolong saat wawancara, juga ketika menulis laporannya belakangan. Keduanya, Mas Ging Ginanjar dan Mbak Lea Pamungkas, berjanji pula kelak akan mengirim foto-foto. Kami sempat ngobrol lepas sebentar dan berjanji akan terus menjalin kontak. Sarana komunikasi masa itu yang tak semudah sekarang, ditambah ternyata tak ada alasan yang amat kuat dari kedua belah pihak- membuat kontak non-kerja itu tidak pernah terjalin.

Bulan Juni 1994, ketika rezim Soeharto membredel Tempo, Editor, dan Detik, saya ikut meramaikan unjuk rasa di Gondangdia, Jakarta Pusat, dan tiba-tiba, pundak saya ditepuk lembut dari belakang. Rupanya ‘Mas Ging’ yang selain pegiat seni ternyata juga koresponden Tabloid Detik di Bandung.

Masa-masa itu pulalah, beberapa wartawan memutuskan berkumpul rutin setiap malam -yang merupakan kontak pertama saya dalam perjuangan demokrasi- yang menjadi cikal bakal Aliansi Jurnalis Independen AJI. Dan jika Ging datang -bukan Mas Ging lagi- pasti dia bersama Lea -juga sudah bukan Mbak Lea lagi. Pasangan asyik itu – sama dengan yang lainnya- sudah menjadi kamerad-kamerad.

ging ginanjar, AJI
Formulir pendataan anggota AJI atas nama Ging Ginanjar. (Foto: Hasudungan P. Sirait)

Di AJI –sebelum dan setelah resmi berdiri- saya bisalah dibilang masuk kubu Ging. Waktu itu ada beragam jenis wartawan yang bergabung dalam cikal bakal AJI, antara lain kelompok pegiat, kelompok politisi, kelompok pragmatis, dan kelompok wartawan naïf yang sok-sok ikut berjuang -seperti saya- maupun kelompok penggembira yang ‘okelah asal kumpul-kumpul’.

Keragaman itu membuat rapat-rapat malam di AJI selalu panjang dan bertele-tele karena semuanya anak-anak muda yang punya banyak energi dan gagasan, plus keras kepala pula. Soal pemilihan satu kata untuk pernyataan pers saja perlu perdebatan serius dari berbagai aspek, biarpun tak bakal dimuat di media nasional selain kantor berita asing.

Saya rasanya cocok, antara lain dengan Ging, Item, Heru, dan Hasudungan, yang langsung-langsung saja tanpa harus rumit mikir sana-sini. Ada yang mau disampaikan atau dicapai maka mari dikerjakan dan kalaupun ada risiko maka itu sudah jadi bagian melekat.

Ging, Item, Heru , dan Has juga lucu, bukan seperti mendiang Ahmad Taufik atau Opik dan Dadang maupun Roy yang maunya kami semua langsung ‘berjihad’ unjuk rasa di depan Istana Negara memekik ‘Suharto turun’, atau Santoso dan Stanley yang serius dan hati-hati, maupun Ati dan Titi yang ngayomi, sedangkan Yudha dan Satrio selalu njelimet mengkaitkan semua hal dengan politik koran tempat kerjanya atau bahkan politik tingkat nasional.

Sekarang saja masih bisa terbayangkan dengan mudah rapat-rapat AJI di flat Tanah Abang yang rumit, repot,  bising, heboh, dan panjang lebar.

Buat anak baru seperti saya di medan perjuangan, maka Ging, Item, Heru, dan Hasudungan jadi semacam penyemangat bahwa melawan rezim otoriter tak selalu harus was-was, cemas, dan curiga. Walau rasanya kami semua sadar sepenuhnya bakal kelak digrebek dan bakal ada yang masuk penjara,  bukan berarti tak boleh ketawa-ketawa. Dan belakangan makin cocok lagi karena kami sama-sama doyan bir.

Jelas bukan cuma lucu dan bir yang belakangan membuat saya terus menjalin kontak rutin dengan Ging – yang punya amat banyak teman dekat- ketika saya sudah tinggal di London sementara dia pindah dari Jakarta, ke Jerman, dan Belgia. Keberaniannya untuk menjadi tidak biasa adalah satu alasan lain yang tak kalah kuatnya, ketika di Indonesia -pada era Soeharto- menjadi tidak biasa saja bisa membuat orang dikucilkan, dibuli, tidak mendapat kerja, dipenjara (belakangan mendiang Opik, Item, dan Danang, yang ditangkap dan masuk penjara), diculik, atau bahkan hilang.

Ging juga berani menantang orang-orang yang munafik –yang di zaman Orde Baru justru banyak yang berkuasa- dan secara terus terang serta keras mengungkapkan pandangannya. Alasan lainnya, dia suka membela kaum yang lemah, yang tersingkirkan, atau minoritas yang tertekan, maupun sekedar orang lugu yang pemalu. Dalam banyak hal, Ging menjadi semacam juru bicara untuk pandangan-pandangan saya, yang saat itu memang belum terbiasa memekik keras berhubung bergabung ke dalam perjuangan demokrasi karena cuma emosi semata: mimpi lama jadi wartawan yang sudah terwujud malah dimusnahkan dengan amat mudah oleh Soeharto.

Di grup email AJI –masa ketika grup WA belum ada- Ging yang sudah pindah ke Jerman dan Brussels, misalnya, sering mengingatkan supaya wartawan dan media tidak begitu saja takut sama gertakan FPI dan kelompok-kelompok konservatif lain.  Dia juga yang mengkampanyekan militansi wartawan dalam liputan peristiwa-peristiwa tentang Papua, Aceh, dan isu-isu HAM lain dengan mengutip arti militansi sebagai ‘ketangguhan dalam berjuang’, walau sempat juga memicu kontroversi karena ada yang menganggapnya cuma berani memanas-manasi dari jauh tanpa harus ikut menanggung risiko.

Saya yakin sama sekali bukan memanas-manasi tapi begitulah Ging: lantang mengungkapkan keyakinannya.

Sekitar awal 2014, tidak biasa dia menelepon karena biasanya cuma beremail saja. Rupanya dia mau melamar untuk posisi produser BBC Indonesia di Jakarta, sekaligus ada pula peluang pasangan tetapnya saat itu, yang asal Prancis, untuk mendapat pekerjaan di Indonesia.  Saya dengar-dengar dia memang pingin pulang ke Indonesia –setelah setahun sebelumnya sempat ikut jadi tim sukses Rieke Diah Pitaloka/Teten Masduki di Pilgub Jabar.

Walau sibuk menjadi koresponden beberapa media Indonesia untuk Belgia, termasuk Tempo, dia sepertinya tak terlalu betah berada jauh dari aksi-aksi di lapangan. Seorang kawan yang pernah amat dekat dengan dia di Belanda, menyebut ‘Ging selalu perlu pentas, perlu khalayak’ dan di Brussel -walau hidup tenang, nyaman, dan teratur dengan pasangannya dan seorang putra- tampaknya terlalu hening buatnya.

Karena saya tidak masuk tim seleksi, jadi sah-sah saja bagi saya untuk memberi saran saat menyusun lamaran, persiapan tes awal, dan belakangan semacam latihan kecil untuk wawancara setelah lolos tes tertulis. Dia diterima dan selama tiga bulan bekerja sambil latihan di London sebelum tugas tetap di Jakarta. Maka untuk pertama kalinya kami berdua bekerja sama di dunia jurnalis di media yang sama, selain di majalah perjuangan berani mati, Independen, pada masa-masa AJI dulu.

Selama tiga bulan di London, saya terpukau dengan kehandalannya sebagai presenter radio. Dia punya aura yang kuat, suaranya juga bagus dan jelas, dengan pengucapan lafal yang terang, serta intonasi yang terasa. Dan karena berani untuk tidak biasa maka tidak ragu-ragu pula dengan pertanyaan singkat dan telak, jadi bukan seperti kebanyakan presenter yang suka berpanjang-panjang saat bertanya agar berkesan ‘pintar’. Berita internasional yang kalau saya baca terdengar datar-datar saja karena ‘konten penting dan serius’, jadi amat berbeda jika dibaca Ging, yang memainkan intonasi dengan tepat dan warna suara yang renyah.

Dia adalah bukti presenter yang berkarakter. Pernah terbayang kami menjadi duet kerja yang hebat: saya sebagai produser yang suka persiapan dengan kehati-hatian dalam memilih sumber demi keseimbangan maupun menentukan peristiwa yang akan diliput dan angle-nya sementara Ging menghidupkannya menjadi siaran yang meriah, nakal, dan sekaligus bisa juga jenaka. Dan saya yakin bukan hanya di radio, tapi juga untuk siaran TV karena Ging adalah pria yang tampan dan tinggi pula –terbukti dengan pacarnya yang amat banyak.

Cilakanya saya ternyata cuma pegawai ‘penakut’ sehingga bayang-bayang itu tak pernah ke luar dari benak saya, yang tetap bekerja sebagai presenter ‘sok serius’ di London sementara Ging malah menjadi produser yang penuh semangat turun ke lapangan. Jika ada liputan, dia tak terlalu pusing dengan kesepakatan rapat redaksi yang sudah mereka-reka angle tertentu. Semangat pejuang dan senimannya sepertinya lebih mengemuka dengan mengamati hal yang nyata dan mengolah langsung hal yang nyata itu pula.

Turun langsung ke medan liputan, juga membuat dia seperti ‘ikan yang kembali masuk ke kolam’: bukan hanya menjalin kontak kembali dengan kawan-kawan seperjuangan dulu, juga berkenalan dengan anak-anak muda tanpa menjaga jarak. Dan di grup WA AJI, sama seperti di grup email jaman dulu, dia masih saja punya banyak energi untuk berdebat atau bersepakat dengan wartawan-wartawan muda, yang kalau menurut saya tak perlu capek-capek kalilah. Tapi bagi Ging, itu semua adalah bagian dari sebuah perjuangan demi keragaman dan kesetaraan, yang di Indonesia hingga sekarang masih belum saatnya dihentikan.

“Biar kaum-kaum sempit pandangan tak merasa benar terus,” begitulah kira-kira jawabannya ketika saya pernah menulis pesan ‘apa perlu kau tanggapi si A yang kolot itu’. Dia agaknya mendapat kembali panggung dan khalayaknya.

SUATU kali, kantor YLBHI dikepung sekelompok orang yang menentang diskusi tentang PKI dan sekitar 100 orang terkurung di dalam sampai selepas tengah malam. Kami di London sudah berupaya menghubungi para pegiat dan peserta diskusi yang dikepung namun tak berhasil. Foto-foto untuk berita online juga belum ada, karena jelas tak bisa mencaplok begitu saja foto dari media lain. Meminta kawan di Jakarta untuk meliput rasanya tidak enak karena mereka sudah kerja seharian. Kamipun hanya bisa terus mencoba menelepon.

Tiba-tiba masuk pesan WA dari Ging –yang sudah naik pangkat jadi Desk Editor di Jakarta- bahwa dia ternyata sedang berada di sana. ‘Haleluya’ kadang celutuknya kalau lagi senang. Maka laporan utama siaran subuh itupun beres: ada suara para pengunjuk rasa, pegiat HAM yang meggelar diskusi, dan aparat polisi, plus foto-foto untuk berita internet. Saya membayangkan dia mendapat info dari jaringan pejuangnya dan langsung meluncur, dengan semangat perjuangannya.

Kebanyakan editor, rasanya termasuk saya, besar kemungkinan akan menimbang-nimbang dulu reporter mana yang akan ditugaskan, dan kemudian ‘berkoordinasi’ dengan reporter peliput yang terpilih, entah itu tentang angle liputan, pertanyaan yang layak untuk masing-masing kubu, sambil mengingatkan standar keselamatan meliput aksi massa, serta meyakinkan satu hari ekstra untuk istirahat. Bukan karena malas –karena editor juga pingin ke lapangan- tapi begitulah biasanya.

Namun pada saat itu –dan dalam beberapa liputan lain- instink jurnalis dan pejuang Ging yang langsung terpicu dan lebih mengemuka dibanding jabatannya. Urusannya memang jadi bukan ‘biasanya’ tapi ‘hasilnya’.

Kisanak Ging, rasanya memang bukan editor yang rapi tapi lebih banyak sebagai orang lapangan handal yang berdedikasi sepenuh hati, jiwa, dan raga. Dia adalah pejuang dengan kobaran semangat tinggi walau -mungkin sejalan dengan bertambahnya usia- tenaganya tidak sebanyak dulu lagi. Dia pernah mengeluh sakit pinggang sewaktu di London dan karena saya –yang seusia- juga pernah menderita sakit serupa dan bisalah dikatakan sembuh karena rutin berenang, maka saya yakinkan ‘terapi air’ itu kepadanya.

Rupanya Kisanak Ging tak bisa berenang, dan masih belum putus asa saya tegaskan bahwa di London tak perlu ada rasa malu untuk belajar berenang walau sudah mencapai usia paruh baya sekalipun. Soalnya saya saksikan sendiri beberapa pria dan perempuan yang sudah beruban yang belajar renang di jalur pelan di kolam renang rutin saya. “Nanti cukup berenang gaya lonte atau gigolo,” saran saya lagi, merujuk perempuan dan pria yang berenang santai dengan kepala tetap di atas permukaan air. Kami tertawa dan sempat sepakat, namun tak pernah dilakukannya.

Ketika Pilkada 2018 lalu, saya bertugas di Jakarta dan sedikitnya dua kali dia minta izin istirahat karena, ‘badan tak enak’, ‘meriang’ atau di sekitar-sekitar situlah. Mungkin kebetulan dia merasa lebih ringan untuk istirahat karena saya bisa menutup tugas Desk Editor di Jakarta sehari-hari. Tak pernah kami bahas lebih lanjut soal ‘tak enak badan’ itu dan dia hanya perlu istirahat sehari lantas sudah merasa kuat lagi masuk kantor seperti biasa, mengemban tugas Desk Editor.

foto hasudungan p sirait (3)
Kartu anggota International Federation of Journalists (IFJ) atas nama Ging Ginanjar. (Foto: Hasudungan P. Sirait)

Penyebab kematiannya –yang disebut awalnya serangan jantung namun juga ada kemungkinan stroke batang otak- membuat saya mengenang-ngenang lagi ke belakang. Ada beberapa kali yang lain di pesan WA kalau dia tak masuk kantor atau pulang lebih cepat karena merasa kurang sehat –yang jelas bukan pula sakit pinggang- namun besoknya sudah balik kerja lagi.

Akhir tahun lalu dia ikut perlatihan di Delhi India, dan rencananya akan berlanjut dengan tugas singkat di London -plus acara minum bir bareng- sekalian membesuk putranya, Luan, di Brussel. Tapi dia terpaksa pulang langsung dari Delhi berhubung sakit saat pelatihan yang menurut dokter karena ada masalah di usus, dan belakangan menjawab di WA, “Iya eh, ini gua mau periksa lagi di Jakarta.”

Belakangan agak perih kembali rasanya hati, karena ada rencana otopsi untuk memastikan penyebab kematiannya. Agaknya Kisanak Ging masih juga harus bekerja keras ketika sudah wafat sekalipun. Apapun penyebabnya, saya hanya bisa membayang-bayangkan saja karena sejak Agustus 2018 kami sudah tidak berkerja di departemen yang sama- beratnya beban dalam beberapa bulan terakhir masa hidupnya.

Di penghujung 2018 ada beberapa bencana besar di Indonesia yang jadi berita utama di media internasional: dua gempa di Lombok, satu gempa dan tsunami di Donggala dan kawasan Anyer, serta ada juga beberapa peristiwa kekerasan berwarna separatisme di Papua, yang layak jadi berita dunia.

Sebagai Desk Editor BBC Indonesia di Jakarta, dia jelas mengemban tugas ujung tombak peliputan. Dia memang tidak langsung meliput ke lapangan, namun menjadi titik kunci dari keingintahuan berbagai program BBC News di London, dengan zona waktu tujuh jam di belakang Indonesia, sekaligus bertanggung jawab atas peliputan BBC Indonesia sendiri.

Seorang editor biasanya mengelola timnya dengan pembagian kerja yang merata namun karakter Ging lebih sebagai jurnalis lapangan dengan semangat pejuang yang hebat. Maka saya membayangkan dia, dengan nalurinya, siaga terus setiap saat, dari pagi waktu Indonesia sampai malam waktu London.

Ada kalanya -yang jelas bukan sekali dua kali- dia kerja sampai tengah malam di kantor Jakarta karena meliput acara pada satu malam untuk disiarkan di radio dan diterbitkan di internet subuh itu juga. Waktu yang lain, dia kerja sampai malam mengedit laporan reporter atau koresponden dan kalau saya lihat messenger-nya masih menyala, saya sapa dan dibalas ‘ini laporannya hancur’. Dia turun tangan langsung membereskannya, bukan, misalnya, mendelegasikan kepada editor harian.

Keaktifannya sehari-hari di sedikitnya tiga grup WA jurnalis –yang saya juga ikut- bisa pula menjadi petunjuk jelas bahwa dia belum meredakan semangatnya untuk berdebat, bersepakat, berbagi informasi, atau sekedar bercanda, pada waktu manapun. Kadang jika subuh-subuh dia masih berkomentar, saya japri, “baru pulang minum lu, kok masih belum tidur”. Pernah pula subuh-subuh dia mengirim WA ke London, menemukan satu salah ketik di satu laporan internet.

Terlintas dugaan kalau dia kerja amat berat dalam beberapa bulan atau sepanjang setahun terakhir: perpaduan antara naluri perjuangan, tekanan kuat di tengah persaingan media yang semakin ketat, dengan skala operasi liputan yang semakin besar, dan ditambah pula dengan bergabungnya jurnalis-jurnalis muda yang belum langsung masuk ke irama kerja dan standar baku editorial. Kombinasi itu mungkin tidak didukung lagi oleh energi seperti sekitar 20-an tahun lalu. Jadi amat mungkin semangat dan dedikasi yang berkobar-kobar itu yang mendorongnya untuk menyepelekan ‘meriang’, ‘tidak enak badan’, dan ‘lemas-lemas’ itu.

Tentu saya cuma membayang-bayangkan saja. Kenyataannya, saya menangis terisak-isak dipeluk istri dan putri di salah satu warung makan di kawasan London Bridge, Minggu 20 Januari 2019.

***

Video mengenang Ging Ginanjar di BBC Indonesia ada di sini.
Bersambung ke bagian ke-2

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.