Tembang Lingsir dan Tuah Jelang Malam

Sutradara Rizal Mantovani dan penulis skenario Andhika Lazuardi mencoba memberi satu faset tentang Lingsir Wengi lewat film Tembang Lingsir.
 
Judul: Tembang Lingsir
Sutradara: Rizal Mantovani
Skenario: Andhika Lazuardi
Rumah produksi: MD Pictures dan Dee Company
Pemain: Marsha Aruan, Aisyah Aqilah, Jennifer Rochelle, Teuku Rifnu Wikana, Meisya Siregar
tembang lingsir, Marsha Aruan
Oleh Silvia Galikano
Sebuah peristiwa aneh munculnya akar yang dengan cepat menjalari seantero rumah Nawang  (Erlyn) membuat petaka. Akar itu mencengkeram kaki Nawang dan kemudian berusaha mengejar putrinya, Mala (Marsha Aruan).
Nawang tahu apa—atau siapa—sebenarnya akar itu. Segera dia melemparkan lampu semprong yang digantung di dinding ke arah akar yang sulurnya mulai melingkari kaki Mala, sekadar memperlambat lajunya. Api dari lampu semprong menyebar di lantai dan mulai menjilati dinding rumah yang terbuat dari kayu.
Di tengah perjuangannya menyelamatkan diri dan anaknya, Nawang membisikkan pesan ke Mala agar jika saatnya tiba kelak, nyanyikan Lingsir Wengi. Tembang ini yang akan menyelamatkan nyawanya.
Selesai berpesan, sebilah papan yang sudah bermantelkan api rubuh menimpa Nawang. Bersamaan dengan itu, akar melepaskan diri dari kaki Mala, namun ada ujung akar yang sudah mencapai kerongkongan yang membuat suara Mala kini “terkunci”.
Mala yang sudah yatim piatu dibawa adik Nawang,  Oom Gatot (Teuku Rifku Wikana) dan Tante Gladys (Meisya Siregar), untuk tinggal bersama mereka. Dia akan jadi teman bagi kakak beradik Desi (Aisyah Aqila) dan Rhonald (Farras Fatik), dua sepupu Mala yang sudah lama tidak bertemu.
Di rumah oomnya, Mala menemukan banyak keanehan, seperti pintu bergerak-gerak, gamelan berbunyi sendiri, munculnya sosok perempuan seram di kamarnya yang memanggil nama Mala, dan sesosok perempuan misterius di halaman.
Wajah perempuan di halaman itu mirip dengan wajah yang sering dia bikin sketsanya, wajah yang terasa dekat di hati walau dia tak tahu siapa perempuan itu. Tanpa Mala ketahui, Desi juga sering membuat sketsa serupa tanpa tahu siapa perempuan tersebut.
Keanehan lain dia jumpai di kamar kerja Oom Gatot yang menyimpan lukisan makhluk seram; serta tindak-tanduk Mbak Rahma (Ida Zein), pekerja rumah tangga yang sering memata-matainya.
Suatu malam, perempuan seram yang sering muncul di kamarnya akhirnya bukan cuma memanggil nama Mala, tapi juga menyodorkan sesobek kertas dengan tulisan tangan. Sobekan itu ternyata cocok dengan bagian yang hilang di satu halaman buku tebal milik Oom Gatot. Halaman itu bertuliskan lirik tembang Lingsir Wengi.
tembang lingsir
Ada beragam tafsir masyarakat terhadap Lingsir Wengi. Banyak yang meyakininya sebagai tembang pemanggil hantu (spesifik lagi, kuntilanak), ada yang menyebut sebagai pengusir hantu, dan ada juga yang berupaya meluruskan bahwa tembang Jawa ini tak ada sangkut pautnya dengan hantu.
Ke mana Tembang Lingsir berpihak, itu tidak terlalu penting. Sutradara Rizal Mantovani dan penulis skenario Andhika Lazuardi mencoba memberi satu faset tentang Lingsir Wengi lewat film ini.
Mengangkat mitos yang berkembang di masyarakat sebagai tema adalah resep generik film-film horor kita. Tanpa difilmkan pun sudah seram, apatah lagi ketika dikuatkan dengan visual dan audio serta dukungan narasi yang bagus. Termasuk dalam hal ini mitos tentang Lingsir Wengi.
Idealnya memang demikian. Namun apa daya film ini tidak lebih dulu membuat pondasi yang kokoh tentang apa itu Lingsir Wengi, liriknya tentang apa, dinyanyikan saat kapan, dan kegunaannya apa. Agar dari sana penonton dapat membuat “pola” juga di kepala tentang apa yang terjadi, bukan hanya dikagetkan dengan jump-scare (adegan kejut) demi jump-scare.
tembang lingsir, Marsha Aruan
Padahal kerangka ceritanya sudah kuat, sinematografinya meyakinkan, dan akting pemainnya tak mengecewakan. Teuku Rifnu Wikana yang biasanya di genre drama, juga Meisya Siregar yang baru kali ini mendapat porsi tampil banyak, berhasil memainkan perannya dengan baik. Tak lupa Ida Zein yang membawa atmosfer seram dan teror yang tak disangka-sangka di film ini.
Ide membuat karakter utama tidak bicara hampir sepanjang film sebenarnya patut diacungi jempol. Namun demikian semua juga tahu karakter begini rentan kejeblos jadi datar-datar saja jika eksekusinya tidak maksimal.
Bukan berarti akting Marsha Aruan tidak mumpuni. Hanya saja, porsi Marsha untuk melatih aktingnya harus dua kali lebih banyak dibanding pemain lain. Dan kembali lagi, dialah yang seharusnya paling tahu tentang apa itu Lingsir Wengi berikut kekuatan di baliknya guna memberi energi maksimal bagi karakter Mala yang hanya dapat berekspresi lewat mimik wajah.

***

Dimuat di detikcom, Sabtu, 2 Februari 2019

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.