Bertaruh Angka di ‘Anak Hoki’

Judul: Anak Hoki
Genre: drama komedi
Sutradara: Ginanti Rona
Produser: Harry Tjahaja Purnama
Rumah produksi: Le Moesiek Revole
Pemain: Kenny Austin, Nadine Waworuntu, Lolox, Chris Laurent, Maia Estianty, Tamara Geraldine, Tina Toon, Fero Walandouw, Edric Tjandra dan adik kandung Ahok Harry Tjahaja Purnama.

Oleh Silvia Galikano

anak hoki

Dari Belitung, Ahok (Kenny Austin) melanjutkan SMA di Jakarta. Dia kost bersama Daniel (Lolox) dan Bayu (Chris Laurent).

Ahok diharapkan keluarga untuk melanjutkan kuliah di Fakultas Kedokteran. Sementara Daniel yang asal Medan, disiapkan Mamak (Tamara Geraldine) untuk nanti kuliah Teologi.

Bayu, yang sejak kecil yatim piatu, menjalankan kehidupan bebas tanpa harus mengikuti kemauan siapa pun. Sehari-harinya lebih sering merayu cewek-cewek ketimbang belajar.

Ketiganya lulus SMA, dan melanjutkan kuliah di kampus yang sama. Ahok menuruti kemauan ayahnya yang ingin ada dokter di keluarganya.

Tanpa mengabarkan Mamak, Daniel masuk jurusan Kuliner, bukan mendaftar ke kampus Teologi seperti janjinya dulu ke Mamak.

Di kampus ini ketiganya mengenal Eva (Nadine Waworuntu), teman satu fakultas dengan Ahok di Kedokteran. Eva juga masuk fakultas ini karena keinginan sang ayah (Leroy Osmani), sedangkan passion-nya ada di musik.

Orang yang pertama kali curiga ada yang disembunyikan Daniel adalah namborunya (Dharty Manullang), yang mengundang Daniel ke acara Persekutuan Doa. Ketika diminta memimpin doa, Daniel salah fatal mengutip Alkitab.

Untunglah Ahok, yang datang bersama Bayu dan Eva menemani Daniel, segera mengambil alih memimpin doa sehingga Daniel tak perlu berlama-lama lagi jadi objek tatapan tajam jemaat dengan doa ajaibnya.

Agar “kecelakaan” yang dialami Daniel tak terjadi pada Ahok, kawan-kawannya mendorong Ahok minta izin ayahnya pindah ke jurusan Geologi sesuai keinginannya selama ini. Lagi pula, dengan berbekal ilmu geologi, Ahok dapat membantu usaha ayahnya sebagai tauke timah di Belitung.

Sebaliknya dengan Daniel, dia berkeras agar teman-temannya tak ikut campur mengurus permasalahan dirinya dengan Mamak. Begitu pula Eva yang selama ini menyimpan masalah sendiri dengan ayahnya, termasuk keberadaan ibunya.

anak hoki
Ide dan kerangka cerita Anak Hoki terbilang solid. Pemilihan pemain tepat, dengan akting yang baik. Sutradara Ginanti Rona berhasil menjahit semuanya dengan apik.

Duet Lolox dan Tamara Geraldine sebagai Daniel dan Mamak dengan lontaran kalimat-kalimat bahasa Batak, sangat menyegarkan dan kocak.

Karakter kuat Nadine Waworuntu, yang baru kali ini bermain film, mencuri perhatian penonton dengan akting natural. Kulit coklat khas Indonesia Timur menjadi kekayaan Nadine, menonjol di antara banyak aktris lain yang berwajah indo. Dia bersinar tanpa bayang-bayang nama besar ibu dan ayahnya, Ruth Sahanaya dan Jeffry Waworuntu.

Yang patut disayangkan justru mengapa cerita sekuat demikian harus dicantelkan ke nama Ahok, nama panggilan Basuki Tjahaja Purnama? Toh Harry Tjahaja Purnama, produser film ini dan adik Ahok, menyebut bahwa Anak Hoki adalah cerita fiksi. Inspirasinya saja yang dari kisah remaja sang kokoh.

Namun dengan mencantelkan nama Ahok, artinya film ini pasang badan bersaing langsung dengan A Man Called Ahok (2018) yang baru tiga bulan lalu tayang di bioskop.

Boleh saja ketika film digagas, Harry mengambil segmen usia penonton yang berbeda dari A Man Called Ahok. Remaja. Itu sebab Anak Hoki absen dari pidato-pidato yang lumayan bertebaran di A Man Called Ahok dan isu yang diangkat hanya seputar masalah remaja, yakni pencarian identitas.

Pun bisa jadi hingga film rampung digarap, Ahok belum tersandung masalah pribadi yang membuat reputasinya melorot sebagai laki-laki di mata banyak perempuan di negeri ini.

Bandingkan dengan A Man Called Ahok yang dirilis pada momen yang tepat, di tengah euforia menjelang Ahok bebas. Film tersebut tembus 1 juta penonton di pekan ke-2 pemutaran, angka yang berat untuk disaingi Anak Hoki, kecuali ada keajaiban.

Dengan cerita yang kuat dan didukung akting berkualitas seperti ini, semestinya Harry sejak awal pe-de menentukan karakter utama lain selain Ahok. Sosok bocah Belitung yang bergaul dengan beragam kalangan, setia kawan, dan siap membantu siapa pun, itu bisa siapa saja. Banyak pilihan.

***
Dimuat di detikcom, Selasa, 26 Februari 2019

 

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.