Gereja Sion, Dari Rumah Ibadah Portugis Hitam

Asal mula Gereja Sion adalah pondok sebagai tempat belajar agama di tanah kuburan yang luas. Jemaat gereja ini adalah umat Portugis Hitam yang kebanyakan tinggal di sekitar.

Oleh Silvia Galikano

Inilah gereja tertua di Jakarta dan masuk dalam katagori bangunan cagar budaya. Berlanggam Eropa (langgam Indis belum dikenal) dan masih difungsikan sebagaimana asalnya dahulu, sebagai gereja.

Baca juga Warisan Ternama di Pecinan Jakarta

Gereja Sion namanya, berada di Jalan Pangeran Jayakarta 1, pertemuan Jalan Pangeran Jayakarta dan Mangga Dua Raya, Jakarta Barat, sekira 200 meter dari Stasiun Kereta Api Jakarta Kota (Beos).

gereja sion, gereja sion jakarta, Portugese Buitenkerk
Gereja Sion di Jalan Pangeran Jayakarta 1. (Foto Silvia Galikano, 2019)

Sebelumnya dikenal dengan nama Portugese Buitenkerk yang artinya “Gereja Portugis di Luar” (Tembok Kota) sebab berada di luar Benteng Batavia. Ini untuk membedakan dengan Gereja Portugis di Dalam Tembok Kota (dibangun 1673, habis terbakar 1808) di sudut Jalan Roa Malaka dan Jalan Kopi sekarang.

Portugese Buitenkerk termasuk gereja bangsal (hall church) yang membentuk satu ruang panjang berbentuk segi empat 24 x 32 meter. Tak kurang 1000 jemaat dapat ditampung di sini.

Baca juga Spiegel

Langit-langitnya dari kayu, terbagi menjadi tiga bagian sama tinggi dan melengkung seperti setengah tong. Langit-langit itu disangga enam tiang yang asalnya dari kayu, lantas dipertebal pada 1725 dengan batu bata yang diplester dan dicat putih.

Ada bangunan tambahan di bagian belakang, berukuran 6 x 18 meter persegi.

Gereja Portugis di Dalam
Gereja Portugis Dalam Kota (kanan) pada 1674 dilihat dari arah timur. Jalan ke barat disebut Utrechtsestraat (sekarang Jl Kopi). Lukisan E van Stade. (A. Heuken SJ, “Gereja-gereja Tua” di Jakarta, 2003)

Interior Gereja masih mempertahankan keasliannya, termasuk bangku dari ebony (kayu hitam), kursi majelis, cawan, kursi panjang, serta kandelar (chandelier) dari tembaga kuning yang dilengkapi pemantul cahaya berbentuk perisai dihiasi lambang Batavia.

Baca juga Karibnya Gereja dan Masyarakat Porelea

Mimbar gereja bergaya Barok karya H. Bruiyn juga termasuk perabotan asli Gereja. Bentuknya cawan besar, simbol umat Kristiani menyambut Yesus naik ke surga.

Kanopi yang menaungi mimbar ditopang dua tiang ulir dengan gaya Ionic serta tiga tonggak perunggu dari mimbar. A. Heuken SJ dalam buku Gereja-gereja Tua di Jakarta (2003) menuliskan, kanopi ini berasal dari Gereja Kubah (Koepelkerk) atau Gereja Belanda Baru di Dalam Kota (diberkati 1736, dibongkar 1808 setelah gempa) yang di atas reruntuhannya berdiri Museum Wayang.

gereja sion, gereja sion jakarta, Portugese Buitenkerk
Interior gereja dilihat dari balkon orgel ke arah altar. (Foto Silvia Galikano, 2019)

Selain mimbar dan kubah, orgel juga menjadi daya tarik Gereja Sion. Diletakkan di balkon seberang altar, tepat setelah foyer di pintu samping. Orgel pemberian putri Pendeta Maurits Mohr itu masih terpelihara dengan baik.

Baca juga Pekerjaan Besar untuk Puri Cikini

Di papannya tertulis, yang diterjemahkan, “Pada 1 Agustus 1860 orgel direparasi atas usaha sendiri (dan) diletakkan pada tempatnya yang lazim oleh E.F. Dijkmans, ahli orgel gereja kota ini.”

Tusam, penjaga gereja yang saya temui pada Selasa, 11 Juni 2019 mengatakan orgel masih dimainkan, yakni pada hari Minggu pertama tiap bulan, atau saat pemberkatan perkawinan.

gereja sion, gereja sion jakarta, Portugese Buitenkerk
Interior gereja dilihat dari altar ke arah orgel. (Foto Silvia Galikano, 2019)Interior gereja dilihat dari altar ke arah orgel. (Foto Silvia Galikano, 2019)

Dahulu, lanjutnya, setidaknya diperlukan tiga orang untuk mengoperasikan orgel ini. Seorang memainkan tuts, dan dua orang lagi memutar tuas (engkol) roda dengan tali ban karet yang terhubung ke blower.

“Sekarang, tidak perlu diputar lagi karena sudah pakai listrik,” ujar Tusam.

Baca juga Langkah Awal Konservasi Rumah Raden Saleh di Cikini

Tepat di bawah balkon orgel terdapat tiga deret bangku gubernur jenderal dari pertengahan abad ke-17. Masing-masing deret memiliki tinggi berbeda, namun merupakan satu kesatuan. Bangku tertinggi dibuat pada 1660, dan terendah pada 1664.

Menurut Heuken, set bangku ini berasal dari Gereja Salib (Kruiskerk, dibangun 1640, dibongkar 1732 untuk dibangun Gereja Kubah), sebab hanya di Gereja Salib-lah gubernur jenderal menghadiri ibadat.

Di atas lahan kuburan

Asal mulanya adalah sebuah pondok sebagai tempat belajar agama yang dibangun pada 1669 di tanah kuburan yang luas (bahkan melewati rel kereta api yang sekarang melintang di utara gereja). Untuk memanggil orang menghadiri pelajaran katekismus, dipasanglah sebuah lonceng buatan Batavia 1675.

Jemaat gereja ini adalah umat Portugis Hitam yang kebanyakan tinggal di sekitar. Portugis Hitam atau kaum Mardijker adalah sebutan bagi para tawanan dan budak Portugis yang dibawa VOC ke Batavia bersamaan dengan jatuhnya wilayah kekuasaan Portugis di India, Malaya, Sri Lanka, dan Maluku ke tangan Belanda.

Baca juga OLVEH dan Jeniusnya Schoemaker

mardijker, mardijkers, portugis hitam
Pasangan Mardijker dengan latar belakang gereja, kemungkinan di Tugu, pertengahan abad ke-17. Lukisan karya F. Dancx (wafat 1703). (A. Heuken SJ, “Gereja-gereja Tua” di Jakarta, 2003)

Mereka dimerdekakan (Mardijker = orang yang dimeredekakan) setelah bersedia beralih agama dari Katolik menjadi Protestan.

Karena makin banyak yang mengikuti pelajaran dan kebaktian pada Jumat malam, dibangunlah gereja dari batu untuk menampung umat Portugis Hitam.

Sebagian biaya pembangunan diambil dari sisa kas diakoni di Formosa (Taiwan) yang terpaksa ditinggalkan Belanda beberapa tahun sebelumnya akibat serangan Cheng Cheng-kung atau Koxinga (1661/62).

Di atas tanah seluas 6.725 meter persegi gereja dibangun, dipimpin Presiden Gereja (Kerkmeester) Joan van Hoorn. Peletakan batu pertama dilakukan anggota Dewan Hindia Pieter van Hoorn pada 19 Oktober 1693.

Baca juga Dari Data, Bicara Sejarah

Pembangunan fisik gereja memakan waktu dua tahun. Perancangnya, Mr. E. Ewot Verhagen dari Rotterdam. Fondasi menggunakan 10.000 batang kayu dolken (balok silinder) guna meredam guncangan gempa bumi. Temboknya terbuat dari batu bata yang direkatkan dengan campuran pasir dan gula tahan panas.

Gereja yang diberi nama Portugese Buitenkerk itu diresmikan pada Minggu, 23 Oktober 1695 dengan pemberkatan oleh Pendeta Theodorus Zas.

Sebelas nisan

Dari ribuan jenazah yang dimakamkan di sini (pada 1790 ada 2.381 jenazah dimakamkan di area Gereja), sekarang tersisa 11 nisan. Jenazahnya sudah dipindahkan.

Salah satunya adalah makam Gubernur Jendral Henric Zwaardecroon (Rotterdam, 1667 – Batavia, 1728) dengan batu nisan paling bagus, terbuat dari batu gunung (blauwsteen) yang didatangkan dari Koromandel, India.

Baca juga Rumah Jenderal di Jatinegara

Zwaardecroon yang menyumbangkan sebidang taman luas, terletak di belakang gereja sekarang. Tak heran, walau dikubur di muka pintu gereja karena ingin dikebumikan di antara orang biasa, tetap saja dengan upacara megah.

Di sebelah makam Zwaardecroon, ada nisan Ragel Titise (wafat 1701) dan suaminya, Titis Anthonyse (wafat 1720), sepasang “pribumi” pedagang asal India. Mereka bukan orang kaya, tapi mau mengeluarkan banyak uang agar nama mereka menjadi nama jalan (sebelah utara Jalan Lodan, Jakarta Utara, sekarang), supaya dikuburkan dekat pintu gereja, dan agar diizinkan mengukirkan mahkota di nisan mereka.

Baca juga Melihat Kecerdasan Arsitektur Lawang Sewu

Di dalam gereja terdapat dua nisan, yakni nisan Gubernur Jenderal Carel Reniersz (menjabat 1650 – 1653) dan istrinya, Nyonya Judith Barra van Amstel Dam (wafat  21 Juli 1656 dalam usia 25 tahun).

gereja sion, gereja sion jakarta, Portugese Buitenkerk
Nisan Gubernur Jenderal Carel Reniersz dan istrinya, Nyonya Judith Barra van Amstel Dam di dalam Gereja. (Foto Silvia Galikano, 2019)

Merekalah yang menyumbangkan tanah untuk membangun gereja ini dan meninggal sebelum gereja berdiri. Batu nisan tersebut ditemukan kembali di Surabaya dan dipindahkan ke tempat ini pada 1922.

Menjadi Gereja Sion

Sebelum Perang Dunia II, Portugeesche Buitenkerk hanya digunakan sekali setahun untuk menyambut Tahun Baru. Pada 1942 Pendeta Poire menghidupkan Gereja, dan umat mulai memakai gedung ini secara teratur.

Baca juga Melihat Kecerdasan Arsitektur Lawang Sewu

Setelah Indonesia merdeka, Portugeesche Buitenkerk berganti nama menjadi Gereja Portugis. Dalam masa peralihan kekuasaan, Pemerintah Belanda memberikan kepercayaan pengelolaan asset peninggalannya kepada Gereja-gereja Protestan di Indonesia (GPI), yang diemban oleh Gereja Protestan Indonesia di bagian Barat (GPIB).

gereja sion, gereja sion jakarta, Portugese Buitenkerk
Gereja Sion di Jalan Pangeran Jayakarta 1. (Foto Silvia Galikano, 2019)

Pada persidangan Sinode GPIB tahun 1957, diputuskan Gereja Portugis bernama GPIB Jemaat Sion. Sion berasal dari nama sebuah bukit di daerah Palestina. Asalnya dari kata “Zion”, yang umumnya diartikan sebagai “kesucian dalam hati”.

Gereja ini pernah dipugar pada 1920 dan 1978 yang berimbas banyak kehilangan perabot antiknya.

Sejumlah peristiwa pernah terjadi yang mengancam keberadaan Gereja Sion, antara lain Jepang ingin menjadikannya tempat abu tentara Jepang yang gugur (1943), tapi ditolak. Pada 1945 gereja diancam gerombolan yang melihat lambang Batavia pada reflektor kandelabar.

Karena umat miskin, sinode hampir menjual gereja ini pada 1953 untuk dijadikan pabrik. Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Mohammad Yamin mencegahnya. Pelebaran jalan pada 1984 yang memangkas halaman gereja, dan massa pernah hampir merusak gereja saat kerusuhan Mei 1998.

***

gereja sion, gereja sion jakarta, Portugese Buitenkerk
Bersama Sally Piri di dalam Gereja Sion. (Foto: Pak Tusam)

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.